
*Rumah Mertua
Di dalam mobil aku dan mas Qiyas seperti orang bisu, tak ada percakapan yang terjadi meski itu hanya sekedar erangan, sesekali hanya terdengar suara hembusan nafas di antara kita, dari samping pelan-pelan ku coba perhatikan wajahnya dan aku masih mendapati simpulan yang sama kalau saat ini suasana hatinya sedang tidak baik.
"Kamu marah ya sama aku?" pertanyaan itu hanya terlontar tanpa berani ku tatap wajahnya, namun sebaliknya ia hanya terdiam dengan tatapan matanya yang terus menyoroti arah jalan raya seolah tak bertemankan manusia di sebelahnya, "Diam dan cuek" inilah dua kata yang membentuk sikap mas Qiyas yang paling aku tak sukai, harus berapa lama lagi aku akan bertahan dengan pria seperti ini, rasanya menggadaikan kondisi kak Hilwa untuk bercerai adalah keputusan yang salah sejak awal.
"Ayo kita bercerai?" Tuturku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tiba-tiba mas Qiyas langsung menatapku, namun lagi-lagi ia masih saja terdiam hingga menimbulkan banyak tanda tanya di kepala ini.
Aku tau ucapanku itu sangat berat untuk ku lontarkan, karena sampai saat ini aku masih saja mencintai mas Qiyas, bahkan aku tak bisa membayangkan jika harus kehilangan dia, namun aku sadar orang yang aku cintai ini sama sekali tak mencintaiku, kita sama-sama menderita dalam kekangan pernikahan yang mengharuskan kita berada di vase sepertI ini.
"Kita batalkan perjanjian kita sebelumnya, lalu ceraikan aku kapanpun kamu mau" ku tegaskan sekali lagi, namun tiba-tiba...
"Tuk...tuk...tuk.." aku sangat terkejut dengan ketukan kaca mobil barusan, ya itu kelakuan mas Qiyas, rupanya omongan tentang perceraian itu hanyalah hayalanku saja, karena sampai saat ini aku belum berani memulai percakapan dengan mas Qiyas.
Setelah itu aku dan mas Qiyas masuk ke dalam sana, yang aku sendiri tak tahu tempat apa ini namanya, namun kelihatan seperti sebuah kantor, sesampainya di dalam mas Qiyas lalu menyedorkan sebuah map yang di dalamnya berisi beberapa berkas kepunyaanku pada seorang petugas disitu.
"Silahkan mbak, wawancaranya di lantai dua" ucap pegawai tersebut, sontak aku melongo beberapa detik sambil menatap mas Qiyas, namun aku tak berani menanyakan apapun padanya.
"Wawancara apa?"
"Apa nanti aku akan bekerja disini?" Gumamku bertanya-tanya.
Setelah sampai di lantai dua, kulihat sangat banyak orang yang mengantri dengan memegang map mereka masing-masing, didepan sana terlihat tiga buah ruang kecil berbentuk kotak, masing-masing kotak terdapat satu buah kursi didalamnya yang langsung berhadapan dengan seorang petugas yang bertugas untuk mewawancarai.
Baru saja aku dan mas Qiyas duduk di kursi antri, tiba-tiba tampak seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan satu dengan ekspresi wajahnya yang sangat kesal bahkan ia sempat mengeluarkan beberapa kalimat makian pada petugas yang tadi mewawancarainya.
"Eh...bu mulutnya di jaga ya?" petugas tersebut sedikit memberi peringatan pada wanita itu, pun langsung di jawab lagi olehnya.
"Emang kan...kalian semua itu kampret" aku yang mulai ketakutan, hanya bisa curi-curi tatap dari perdebatan mereka, sampai wanita itu benar-benar berlalu dari ruang antrian.
"Houfth..." ku hembuskan nafas dalam, untuk mengusir sedikit rasa gugupku, namun tidak lama kemudian terdengar lagi teriakan keras seorang ibu-ibu yang tengah di wawancarai di ruang tiga.
"Pak apa sih susahnya tinggal di buatkan saja? padahal semua pertanyaan anda sudah saya jawab"
"Bu...berkas-berkas ibu gak sinkron dengan jawaban ibu, bagaimana bisa kita akan loloskan dengan data seperti itu, kalo ada apa-apa nanti besar tanggung jawabnya bagi kami!"
__ADS_1
Sesat kemudian ibu itupun keluar dengan ekspresi kompak seperti wanita sebelumnya sembari mengoceh lirih yang tentunya ocehannya itu masih didengar olehku dan beberapa pasang telinga pengantri lainnya.
"Kenapa sih petugas-petugas disini gak ada yang becus"
"Ini ada apa sih?" aku yang cukup ketakutan langsung saja membuka suara dengan mas Qiyas.
"Aku mau ngapain disini?" Aku yang bertambah panik hanya bisa terengap dan menggigit jari jemariku, sementara mas Qiyas hanya mentapku tanpa memberikan jawaban apa-apa, setelah itu ia kembali fokus dengan handphonenya.
Satu demi satu nomor antrian sudah di sebutkan hingga terdengar salah satu petugas menyebut nomor antrianku.
"Selanjutnya 302, atas nama ibu Salwa, segera menuju ruang 2"
Ku pastikan lagi angka yang disebutkan tadi benar-benar angka yang tertera pada secarik kertas yang saat ini ku pegangi, ternyata benar itu nomor antrianku saat itu juga jantungku mulai menguncup hebat.
Dengan perasaan dug-dug aku tetap percaya diri berjalan ke depan sana, selangkah dua langkah aku berjalan ke depan sambil beberapa kali berbalik badan menatap mas Qiyas namun ia hanya menunduk melihat handphonenya, tak menghiraukannya lagi akupun segera menghampiri petugas tersebut.
"Bu Salwa?" tanya petugas itu.
"Iya pak"
"Siapa nama lengkap ibu?" Petugas itu mulai mengajukan pertanyaan.
"Salwa Jannatun Adwiyah pak"
"Tanggal lahir?"
"26 Juni 1996"
"Nama suami?"
"Qiyas Fathir Anugerah"
"Tanggal lahir suami?"
"23 Agustus 1994"
__ADS_1
"Ok saya rasa cukup, kebetulan suami ibu Salwa seorang pilot jadi sedikit banyaknya informasi mengenai ibu sudah kami dapatkan melalui beliau, namun masih ada beberapa pertanyaan formalitas lagi yang harus ibu jawab sebelum kita mulai pemotretan dan sidik jari, tenang saja ibu hanya tinggal menjawab iya atau tidak atas pertanyaannya" papar pegawai tersebut, namun aku masih saja di rundung kebingungan dengan semua ini.
"Ini pertama kalinya ibu membuat passport kan?"
"Hah? passport?" Lirihku terkaget-kaget, namun dengan segera aku menjawab iya atas pertanyaan petugas tersebut.
"Tujuannya ke Italy untuk berbulan madu?"
"Haah? bulan madu?" Gumamku dalam hati, dengan kedua bola mata yang langsung memelototi petugas tersebut, namun secepatnya ku ikat seluruh penasaran ini hingga semua prosesnya terselesaikan.
"I..iya..." ku jawab pertanyaan itu dengan ragu-ragu, setelah itu akupun langsung diminta untuk melakukan pemotretan dan sidik jari, setelah semuanya selesai, petugas itu mengingatkan kembali passport akan selesai cetak 3 hari kedepan, jadi aku bisa mengambilnya setelah itu.
Setelah selesai aku langsung menghampiri mas Qiyas yang sejak tadi menungguku di kursi pojok, saat aku berhadapan denganya, entahlah aku sama sekali tak berani menanyakan beberapa pertanyaan yang sejak tadi kusimpan di kepala ini, ia lalu terperanjat dan segera menuruni anak tangga, dengan wajah yang sedikit cemberut akupun turut bergegas dari situ.
Sesampainya di parkiran akupun langsung menanyakan tujuan kita selanjutnya.
"Setelah ini kita akan kemana lagi?" sudah bisa ku bayangkan, pasti batang kayu ini akan mengabaikanku lagi, mas Qiyas terus saja berjalan lalu masuk ke dalam mobil, seolah tak ada suara yang baru saja mengejutkan telinganya, aku yang semakin kesal hanya bisa menebalkan hati, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
*****
Seharian kami naik turun mobil, berkelana sana-sini, enter dan exit beberapa pintu kantor, bahkan jam tangan kita masing-masing terus berdetak dan saat ini tengah menajam ke angka 13.20, mas Qiyas masih saja membungkam, sementara lambungku terus saja berteriak minta asupan di dalam sana, kucoba lirik beberapa laci mobil, namun hanya semakin membuatku lesuh saja, tak ada roti, tak ada cemilan, tak ada apapun yang bisa dimakan di dalam mobil ini.
Setelah 30 menit menghabiskan waktu di perjalanan, hal yang di luar dugaan mulai terjadi, ternyata saat ini kami tengah menepih di rumah mertuaku, ekspresiku langsung berubah seketika, melihat rumah ini seakan ada sesuatu yang mulai menghimpit paru-paruku.
"Kamu kok gak bilang sih kalo mau ke rumah mamah?"
"Memangnya kenapa?"
"Hum...setelah ini ada rencana apa lagi yang kamu sembunyikan dari aku?"
"Kamu kalo gak suka dateng ke sini kamu bisa pulang" tegasnya, saat itu juga mas Qiyas langsung turun dari mobil, lalu bergegas masuk ke dalam, sementara aku yang masih berkabung kesal hanya bisa menarik nafas dalam sembari menenangkan diri.
Mau tidak mau akupun terpaksa melepaskan seatbel, lalu bergegas turun dari mobil, namun saat aku akan turun tak sengaja kulihat beberapa parsel yang ia taroh di kursi belakang, aku yang mulai penasaran segera meraih parsel-parsel itu lalu mengecek isinya.
Tak ku sangka mas Qiyas membeli jacket cokelat muda tadi, aku langsung tersenyum bahagia, lalu kulihat lagi isi parsel ke dua dan ke tiga, yang berisi shall, penutup telinga dan sepatu, hal yang membuat hatiku tiba-tiba bergetar ialah mas Qiyas merobek semua prangko harga yang sebelumnya ku lihat terklip di masing-masing produk ini.
__ADS_1
"Mas..." ucapku tak bertenaga.