Quality Love

Quality Love
Episode 38


__ADS_3

*Kekesalan Yang Menjulang


"Saya tutup dengan ucapan wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warrohmatullahi wabarokatuh!" terdengar MC mulai menutup acara ini, satu demi satu para tamu undangan mulai beranjak dari tempat duduknya, tak terkecuali ayah dan ibu mertuaku.


"Pak Abdul kami pamit duluan ya!" cetuh ayah mertuaku pada Abi.


"Iya, terimakasih banyak ya pak Fahri dan bu Lela sudah mau menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ini" sahut Abi.


"I'ts ok, aam! Salwa, Nuge papah sama mamah pamit pulang ya, Nuge jangan lupa nanti anterin pulang Umi sama Abi kamu"


"Iya pah" sahut kompak aku dan mas Qiyas.


*****


Saat menunuju mobil, bu Lela yang tak habis-habisnya memendam kekesalan sejak tadi kini ia mulai meluahkan kekesalan itu pada suaminya (Pak Fahri).


"Betapa malunya saya tadi, harus mengakui dia sebagai menantu saya" ucap bu Lela, sembari menutup keras pintu mobil.


"Haiish, mamah nih ngomong apa sih" sahut pak Fahri, yang tengah menggunakan sit bel dan mulai bersiap-siap untuk menyetir mobil.


"Tuh..papah dengar sendiri kan tadi, betapa istimewahnya dulu menantu kesayangan papah itu" ucap bu Lela makin kesal sembari memijat-mijat ke dua sisi kepalanya yang hampir meledak itu.


"Nilai-nilai semester di bawah standar kelulusan? mamah hampir pingsan tau gak pah mendengar bu Giska ngomong kek begitu tadi!" tambahnya lagi.


"Itu kan zaman dia masih sekolah aja dulu, ya sekarang kondisinya kan berbeda mah"


"Gak pah, tetap aja, ya allah mamah gak bisa bayangin kalo nanti mereka punya anak gimana pah?"


"Kalo mereka punya anak ya baguslah, memangnya mamah gak mau menimang cucu? selama ini kan Bela dan Sheila gak bisa ngasih kita cucu"


"Iya bukan gitu maksud mamah pah, gimana nanti kalo anak mereka...." ia menyetop pembicaraannya sambil membayangkan betapa ngeri angan yang tengah terlintas di pikirannya saat ini, setelah itu iapun meneruskan ucapannya.


"Gak tau apa-apa kek mamahnya"


"Mah" bantah pak Fahri yang mulai kesal juga atas omelan isterinya itu.


"Pah, mamah tuh pernah baca sebuah penelitian bahwa 90% kecerdasan anak itu di turunkan dari gen ibunya, hwaah kasian Nuge jadi selama ini dia menikahi wanita yang gak ada bebet, bobot dan bibitnya sama sekali"

__ADS_1


"Sudahlah mah"


"Sudah gimana pah? mama tuh hampir gak punya muka di depan bu Giska tadi"


"Gak usah dipikirin omongan bu Giska tadi, mungkin aja dia masih sakit hati karena anaknya gak jodoh dengan Nuge"


"Maksud papah?"


"Iya dulu papah sempat minta tolong sama dia, untuk nyariin perempuan yang mau di jodohkan dengan Nuge, dan dia menyarankan anak perempuannya tapi papah tolak dan akhirnya papah bertemu dengan Salwa"


"Kok papah gak pernah cerita sih sama mamah"


"Gak penting juga, ngapain diceritain"


"Terus alasannya apa papah menolak anaknya bu Giska"


"Ya kalo papah terima dia, mending papah terima Kiran lah, tabiatnya gak baik pakaiannya juga gak sopan, itu alasan papah menolaknya, mah miskin ilmu masih bisa ditoleransi tapi kalau miskin adab sama sekali gak bisa ditoleransi"


*****


Setelah semua tamu elit berpamitan untuk pulang, segera saja Umi dan Arief menghampiri kami.


"Lumayan Umi" balasku.


"Maaf ya Umi gak bisa gabung dengan kalian tadi, terlalu banyak tamu elit yang dateng, jadinya ya gitu deh"


"Hehe..gak apa-apa kok Umi, ya udah ayo Umi, Abi kita pulang sekarang" sahutku.


"Gak apa-apa Umi sama Abi pulangnya bareng aku aja" sontak Arief berulah lagi hibgga memancing tatapan sinis mas Qiyas padanya.


"Ahham gak apa-apa kok rief, Umi sama Abi pulangnya bareng aku dan mas Qiyas aja, nanti malah merepotkan lagi" ujarku sedikit tak enak.


"Gak...gak merepotkan sama sekali kok!"


"Udah kalian pulang aja, toh rumah kalian dengan Umi kan beda jalur, gak apa-apa nanti Umi sama Abi di antar sama nak Arief aja" Umi turut menambahkan.


Tak berdebat panjang lagi, kamipun segera menuju mobil masing-masing, saat aku dan mas Qiyas sudah berada di dalam mobil tetap saja ia terus membungkam padaku, akupun rada sungkan untuk memulai pembicaraan, tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselnya, siapa lagi kalau bukan suster Kiran, namun mas Qiyas malah membiarkan panggilan itu terus berdering hingga tertulis dilayar handphonenya 15 kali panggilan tak terjawab.

__ADS_1


"Kenapa gak di angkat?" tanyaku sektika, sudah ku duga patung bernyawa ini gak akan mungkin menyahuti pertanyaanku barusan, tidak lama kemudian mas Qiyas mulai menepihkan mobilnya, lalu keluar dari mobil sepertinya ia akan menelpon seseorang, yang kucurigai orang yang akan ditelponnya itu ialah suster Kiran.


Hampir satu jam sudah aku menunggu didalam mobil, sementara mas Qiyas masih saja sibuk berbicara dengan orang yang tengah ditelponnya itu.


"Huuph lama banget sih, kalo tau gini mending aku pulang naik grab car aja tadi" gumamku sedikit kesal, tiba-tiba mas Qiyas mengetuk kaca mobil disampingku.


"Ada apa?"


"Minjam Hp kamu bentar, aku mau catet nomor ini" cetuhnya buru-buru.


"Tap..tapi Hp aku...." aku sedikit canggung untuk meminjamkannya Hp ini, lebih tepatnya aku sangat malu, karena jujur saja zaman dimana elektronik sudah secanggih ini aku masih saja menggunakan Hp Nokia mini tanpa kamera dan memory card, udah gitu casingnya pun sudah terlihat buluk di penuhi goresan dan bercak-bercak casing yang sudah mengelupas.


"Cepetan..." dengan segera ku tahan malu ini, lalu menyedorkannya handphone buluk itu padanya.


Setelah urusannya selesai iapun kembali masuk ke mobil, dengan segera ia mengembalikan Hp buluk itu padaku, tanpa ucapan terimakasih lagi ia kemudian melaju meninggalkan tempat ini, namun lagi-lagi ia kembali menepih di depan sebuah toko elektronik, ia kemudian keluar mobil seorang diri lalu memasuki toko tersebut, sekitar setengah jam lagi aku terpaku bosan seorang diri di dalam mobil, hingga akhirnya iapun keluar dengan membawa sebuah parsel.


"Nih" cetuhnya sembari menyedorkan parsel itu padaku, setelah ku perhatikan bberapa detik, ternyata ia hendak membelikanku sebuah Hp baru dengan label yang mahal lagi.


"I..ini untuk aku?" tanyaku sedikit memastikan, ia hanya terdiam dengan tangannya yang masih standby menyedorkan parsel itu.


"Aaam..tap..tapi....." melihatku yang tak kunjung meraih parsel itu, ia kemudian menawari seorang perempuan yang tengah berjalan melewatinya saat ini.


"Mbak?"


"Iya..." sahut wanita itu.


"Mau Hp gak?" tanya mas Qiyas pada wanita itu. yang benar saja, kali ini ia benar-benar membuatku merasa sangat kecewa, padahal jujur saja aku sangat menginginkan Hp itu, setidaknya dengan Hp yang memiliki kamera aku dan Umi nantinya kan bisa lebih mudah untuk vidio call-an.


"Ya mau lah mas, hehe!"


"Nih buat mbak!"


"Haah? yang bener nih mas, ini buat saya?"


"Iya buat mbak, ambil aja"


"Ya ampun makasih ya mas!" tutur wanita itu, segera saja mas Qiyas masuk ke dalam mobil, lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, aku yang tak habis-habis menyesalkan sikap mas Qiyas tadi mencoba untuk menenangkan diri dengan tidak memerhatikannya.

__ADS_1


Waduuuh Qiyas! kenapa Hpnya dikasih ke orang yang gak dikenal sih, sini..sini..mending kasih Author aja, padahal kan Author juga butuh Hp baru😭 ya Allah kok Author ikur nyesek ya😎


__ADS_2