
*Tali Kerinduan
"Hacyu...hacyu...hacyu" terdengar suara bersinku berkali-kali yang aku sendiri mulai risih di buatnya, hidungku yang terasa gatal ditambah melernya yang tak kunjung berhenti sejak tadi siang semakin membuat tubuhku bertambah lelah, mataku yang mulai sayup-sayup di terpa semburan angin AC semakin mengundang rasa kantuk namun tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara ketukan pintu didepan sana, siapa lagi kalau bukan bi Lijah, segera saja ku silahkan dia untuk masuk.
"Ada apa bi?"
"Non sakit yah?"
"Cuman pilek doang kok bi, entar juga sembuh" jawabku santai, ia kemudian berjalan menghampiriku sambil memegang sebuah baki yang diatasnya tersaji segelas cangkir putih.
"Itu apa bi?"
"Ini non, bibi buatin jahe anget!" cetuhnya lalu menyedorkanku cangkir putih itu.
"Waduh makasih ya bi, repot-repot segala" ia hanya tersenyum menanggapi ucapanku barusan, segera saja ku ambil cangkir yang di sedorkan bi Lijah lalu secara perlahan ku teguk minuman jahe itu sambil sesekali ku meremkan mata ini.
"Gimana non? seger gak?"
"Aarrkkh...pekat amat bi" ujarku dengan ekpresi mengigil, berasa kapok dengan jejamuan bi Lijah akupun segera menaruhnya kembali di atas baki tersebut.
"Iyalah non namanya juga minuman jahe, tapi khasiatnya ampuh loh non" tiba-tiba ia mulai memerhatikan ke dua bola mataku,
"Matanya kenapa merah non?"
"Haaa?" erangku, ia kemudian menempelkan telapak tangannya ke dahiku, sontak ku lihat tatapannya mulai berubah menjadi tatapan kaget.
"Ya allah non, non panas banget, kita ke dokter sekarang ya?"
"Gak usah bi, nanti juga sembuh kok"
"Non...non gak boleh keras kepala, badan panas gini, nanti kalo terjadi apa-apa sama non Salwa pasti bibi yang bakal di salahin sama bapak"
Dengan paniknya bi Lijah kemudian mengambil baki cangkir tadi dengan niatan ia akan menaruhnya kembali di dapur lalu bersiap-siap ke rumah sakit, namun dari samping ku coba raih celananya sembari menggeleng-gelengkan kepala, dengan tatapan tak berdaya sorotan mata ini seakan memohon pada bi Lijah agar tidak membawaku ke rumah sakit, ia kemudian menatapku dengan tatapan dilema, terurung niat pun bi Lijah kembali terduduk lalu menyuguhkanku beberapa pertanyaan padaku.
"Memangnya kemaren subuh non Salwa habis darimana hujan-hujanan?"
"Dari apotek bi"
__ADS_1
"Non Salwa ngapain ke apotek subuh-subuh?" lanjutnya lagi, ku hela nafasku sedalam-dalamnya lalu ku coba ceritakan semuanya pada bi Lijah, dengan tenang iapun mulai menyimak alur demi alur cerita ini, hingga kemudian ia mengajukan satu pertanyaan lagi padaku.
"Kenapa non gak jujur sama tuan Qiyas?"
"Aku bukannya gak mau jujur bi, aku hanya gak punya kesempatan untuk menjelaskan, mas Qiyas selalu saja marah-marah hanya karena lantai yang aku kotori"
"Ya sudahlah semuanya sudah terjadi, non Salwa istirahat ya, bibi mau kebelakang dulu" ia pun segera terperanjat dari sini namun saat di depan pintu ku tegunkan lagi langkah bi Lijah sambil bersuara.
"Bi...tolong jangan bilang ke siapa-siapa yah kalo aku sedang sakit, terutama mas Qiyas dan keluarganya" bi Lijah kemudian mengagguk pelan sembari meneruskan langkahnya ke dapur.
*****
"Duk..duk..duk" terdengar suara detakan jam dinding yang menempel tepat di atas lemari TV, bagaikan ngiang-ngiangan risih menggema di telingaku, tersadar sudah selarut ini aku masih saja sulit untuk memejamkan mata, ku arahkan tubuhku ke kiri, sesaat setelahnya ku arahkan lagi ke sebelah kanan namun tetap saja kegelisahan ini tak kunjung menyurut layaknya kucing yang tengah kebasahan.
"Duuh...kenapa sih aku gak bisa tidur!" gumamku yang mulai kesal sambil menggaruk-garuk kepala hingga rambut ini mulai terlihat acak-acakan, ku turunkan lagi bedcover yang sudah menutup seluruh wajahku saat ini, dengan pandangan yang masih buram terlihat cahaya redup di sekelilingku yang tiba-tiba saja menarik fikiranku untuk membayangkan wajah mas Qiyas di ingatanku.
"Kok aku jadi kepikiran mas Qiyas ya?"
Perlahan pandangan ini ku arahkan ke sebuah bantal yang ada di sebelahku, sejenak ku tatap bantal itu penuh senyuman tak puas sebatas itu, ku rapatkan lagi telapak tangan ini di permukaan bantal yang sempat mengganjal kepala mas Qiyas semalam, berasa kurang percaya aja kalau semalam ia bisa merebah dikamar ini hingga menjejakkan wangi pomade yang masih menempel di bantal itu.
"Ya allah...kok panasnya belum turun-turun ya!" gumam bi Lijah yang semakin khawatir dengan keadaanku, tak banyak bicara lagi, bi Lijah pun segera mengompres tubuhku dengan selembaran handuk kecil tadi yang ia celupkan di air hangat.
Usai mengompres bi Lijah pun segera bergegas keluar, namun tiba-tiba di ruang tengah terdengar suara deringan telpon, dengan segera bi Lijah menjawab telopon itu.
"Halo, waalikumsalam!" jawab bi Lijah, hanya sebait itu yang masih jelas ku dengar, setelah itu akupun terfokus untuk meraih gelas yang berada sedikit jauh dari tubuhku setelah berhasil ke genggam gelas itu ternyata airnya hanya tersisa seteguk saja, berat hati harus merepotkan bi Lijah mau tidak mau akupun memaksakan diri harus ke dapur.
Dengan langkah yang tertatih-tatih kucoba berjalan sambil merapatkan tanganku ke dinding, dengan tangan yang satunya lagi terus menggenggam gelas kosong, aku berjalan selangkah demi selangkah hingga aku melintasi bi Lijah yang tengah berbicara dengan seseorang di balik telpon.
"E eh..non mau kemana?" tutur kaget bi Lijah dengan telpon rumah yang masih menempel di telinganya, saat mendapatiku yang tengah tertatih-tatih menuju dapur.
"Bentar ya tuan, bentar yah" dengan segera ia menjedah pembicaraannya, yang aku tau satu-satunya sebutan tuan dari bi Lijah hanyalah untuk mas Qiyas, ia kemudian berlari kecil menghampiriku, dengan sigap ia menggiringku menuju dapur namun hanya beberapa langkah aku kembali memintanya untuk segera berbicara dengan mas Qiyas.
"Tapi non"
"Udah aku gak apa-apa kok bi, cuman mau ngambil air putih aja, nanti mas Qiyas marah-marah lagi bibi kelamaan gara-gara aku"
"Non gak mau ngomong sama tuan?"
__ADS_1
"Gak ah, diakan hanya mau ngomong sama bibi" ia pun segera berbalik arah menuju meja telpon rumah lalu memulai pembicaraan dengan mas Qiyas yang sempat terjedah tadi.
"Halo tuan?" kali ini suara bi Lijah agak sedikit berbisik-bisik sambil matanya yang terus mengawasiku sampai ke dapur.
"Iya halo?" jawab mas Qiyas di balik telpon.
"Iya tuan, aam tuan?"
"Iya ada apa bi?"
"Apa tuan gak mau nanyain non Salwa?"
"Salwa? Halaah terserah dialah bi, dia mau kemana, mau ngapain aku gak peduli, udah ya aku tutup telponnya"
"Tapi tuan..."
"Apa lagi?"
"Sekarang non Salwa sedang sakit tuan, dan dia gak mau dibawa ke dokter, bibi takut kalo nanti terjadi apa-apa sama non Salwa gimana tuan?" ia terdiam sejenak, hanya terdengar suara hembusan nafasnya dibalik telpon, bi Lijah yang paniknya tak karuan kini bertambah panik saat tak mendengar respon apa-apa dari mas Qiyas.
"Halo..tuan?"
"Iya halo"
"Dari kemaren sampe hari ini non Salwa demam terus tuan, non Salwa juga nyuruh bibi supaya gak ngasih tau ke siapa-siapa kalo non Salwa sedang sakit tapi bibi gak tega ngeliatnya tuan, terus bibi liat di lutunya tuh ada memar-memar gitu tuan" terus saja bi Lijah mengadu sejadi-jadinya pada mas Qiyas.
"Memar? Memar kenapa?"
"Jadi kemaren subuh waktu hujan-hujan itu, ternyata non Salwa dari apotek katanya sih beliin obat-obatan untuk tuan, eh tau-taunya pas di tangga depan itu non Salwa jatoh jadinya ke dua lututnya itu memar gitu tuan"
"Kok dia gak cerita sama saya?"
"Mungkin non Salwa takut tuan, karena waktu itu tuan Qiyas sempat marah-marah ke non Salwa"
"Ya udah bi, nanti pagi aku suruh dr. Feynda ke rumah"
"Baik tuan...makasih tuan" pembicaraan mereka baru saja berakhir saat langkah kakiku mulai tertatih-tatih menuju kamar.
__ADS_1