Quality Love

Quality Love
Episode 58


__ADS_3

*Terjaga


Dengan langkah kaki yang mengendap-endap, Qiyas beralih ke kamar mandi menuju tempat tidur, ia berhenti sejenak seraya memerhatikan wajah Salwa yang tengah memeram itu, tak yakin kalau sang isteri sudah terlelap kini Qiyas mencoba melambai-lambaikan tangannya tepat dihadapan wajah Salwa, tampak tak ada reaksi apa-apa yang timbul setelahnya, Qiyas pun segera mematikan lampu lalu berbaring di sebelahnya namun masih dengan sikap yang hati-hati ia kemudian menarik pelan selimut lalu membaluti tubuhnya hingga ia mulai terlelap namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan tabokan tangan kanan Salwa yang tak sengaja mendarat tepat di wajahnya.


"Auuh...hiis...gila ya!" kesalnya sembari menghempas jauh tangan Salwa.


Tak beberapa lama Qiyas kembali terperanjat lalu menegap disisi tempat tidur, betapa makan hatinya ia menyoroti wajah Salwa yang tengah terlelap itu, tentunya makin di tatap bukannya malah berkabung kesal yang terjadi malah ia semakin terbuai dengan wajah mungil wanita cantik yang menjadi peneman foto berlatar birunya yang sudah tertata di buku nikah keduanya sejak 5 bulan yang lalu, tersadar tingkah anehnya itu Qiyas kemudian merefresh penglihatannya ke arah lain, dengan berulang-ulang kali ia menghembuskan nafas dalamnya.


Qiyas kemudian menatap lirih keramik yang saat ini ia pijaki, dengan menggaruk kepala ia mulai menggelar karpet mini dan mengambil beberapa bantal juga selimut yang ada di dalam lemari pakaiannya, setelah itu iapun merebah disitu, baru saja ia memejamkan mata namun tiba-tiba ia terbelalak lagi saat lantunan Adzan subuh mulai di kumandangkan.


"Allahu akbar...allahu akbar!"


"Huuuphh...." Qiyas menghembuskan nafas dengan ekspresi wajah yang sayu bercampur pasrah, ia kembali terperanjat lalu beralih ke sisi tempat tidur tepat dimana salwa merebahkan tubuhnya, dengan ragu-ragu ia menyentuh pelan bahu kiri Salwa seraya membangunkan isterinya itu untuk menunaikan sholat subuh.


"Hei...bangun udah subuh" tampak Salwa hanya menggaruk-garuk kepalanya, sesekali juga ia menggaruk-garuk bagian tubuh lainnya, setelah itu ia kembali terdiam seraya melanjutkan tidurnya.


"Bangun udah subuh!" tegas Qiyas sekali lagi.


"Uum...howaam!" lagi dan lagi Salwa hanya bererang dalam lelapnya, alih-alih membuka mata, yang ada Salwa malah berbalik memeluk guling sembari membelakangi Qiyas yang tengah menegap disisi tempat tidur kala itu.


Kehabisan akal untuk membangunkan "Si ratu lelap" ungkap Qiyas dalam benaknya, akhirnya iapun mulai mengaktifkan alarm lalu ia dekatkan di telinga kiri Salwa.


"Kring....kring...kring..." terdengar bunyi alarm mulai berdengung.


Mendengar bunyi tersebut sudah pasti Salwa dibuat terkejut karenanya, sontak ia terbangun kaget, lalu berlari sebisanya untuk turun dari tempat tidur namun tak sengaja sebelah kakinya tersangkut dalam lilitan bedcover hingga membuatnya terjatuh hebat di lantai, melihat hal itu Qiyas terbelalak lalu berlari menghampiri Salwa yang mulai meringis di bawah tempat tidur seraya mengusap-usap ke dua lututnya.


"Ka...kamu gak apa-apa?" tanyanya dengan tatapan mencemaskan, namun Salwa hanya bererang kesakitan tanpa perduli dengan bait-bait pertanyaan Qiyas yang baru saja terlontar itu, tak cukup lama Qiyas memaku di hadapan Salwa, tak sadar ia segera memeluk erat tubuh Salwa sembari mengusap-usap pelan pundak isterinya itu.


"Aku minta maaf ya!" dengan gamblangnya ia menuturkan kalimat itu, bahkan Salwa di buat berfikir berkali-kali atas sikapnya kali ini, rasanya ungkapan maafnya barusan benar-benar terdengar tulus di telinga Salwa hingga wanita yang tengah didekapnya itu membungkam cukup lama.


Menyadari bungkaman Salwa, Qiyas terkejut layaknya orang yang tersadar dari ngigauan, ia kemudian melepas pelukannya lalu mengusap-usap leher belakangnya seraya bersuara pelan.


"Aam...ma..maaf ya, aku...aku gak sengaja meluk kamu" tuturnya tanpa melihat wajah Salwa, sesegera itu juga ia pun bergegas masuk ke kamar mandi, rasanya dada bapak pilot itu mulai berdebar-debar lagi, kali ini ia menyoroti tajam wajahnya itu dihadapan cermin sembari menyentuh dadanya.


"Duuh...kamu kenapa sih Qiyas?" lirihnya bertanya-tanya.


"Tok..tok...tok...tok" tiba-tiba bahu Qiyas terangkat lagi saat Salwa mengetuk pintu kamar mandi.


"Bentar...bentar!"


"Kamu ngapain sih? lama amat, cepetan aku mau wudhu ni"


"Iya bentar, ini aku juga mau wudhu"


*****


"Assalamu'alaikum...warohmatullah!" terdengar ucapan salam dari mulut Qiyas seraya mengakhiri sholat subuh, di shaff belakangnya juga tampak Salwa yang turut memberikan salam dengan suara lirih.


Usai sholat subuh kini keduanya mulai terperanjat, terlihat Salwa dengan langkah yang terburu-buru berjalan ke arah lemari untuk menyusun kembali mukenahnya, setelah itu ia bergegas mengambil handuk dan sebuah tas sabun lalu berjalan menuju pintu kamar, Qiyas yang memerhatikan Salwa sejak tadi kini mulai menyuguhkan pertanyaan ringan pada isterinya itu.


"Mau kemana?"


"Mau mandi lah" tuturnya singkat.

__ADS_1


"Kamar mandi kan ini, kenapa mau keluar?"


"Gak apa-apa aku mandi di luar aja" sahutnya dengan langkah yang terburu-buru seraya memegang pegangan pintu maksud hati untuk segera keluar dari situ namun Qiyas yang mulai memahami jalan pikiran Salwa lagi-lagi ia masih saja bersuara padanya.


"Gak usah kamu mandi disini aja, biar aku yang keluar" sesegera mungkin Qiyas beralih dari kamar, sementara Salwa hanya menatap suaminya dengan tatapan bingung namun setelah Qiyas berada di luar, dengan cepat ia segera menutup pintu kamar lalu beranjak ke kamar mandi.


*****


Tepat pukul 06.00 pagi, Salwa sudah terlihat rapih dengan balutan busana kantoran layaknya seorang pegawai ia benar-benar terlihat lebih cantik dari biasanya, bahkan majas seakan berbicara kalau perabotan dapur yang ada disitu mulai tersenyum semringah melihat penampilan Salwa kali ini, jadi dengan penampilan yang se wow itu ia masih saja berkecimpung di ranah emak-emak, bisalah ranah emak-emak sudah pasti dapur.


Sebelum berangkat terlebih dulu ia menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya, saat ini ia tengah memanggang empat lembar roti tawar dan juga menyiapkan segelas susu di atas meja makan, setelah itu ia kembali menegap disisi kitchen set untuk menunggu roti panggangnya seraya berbalas pesan dengan Arief yang tengah dalam perjalanan menuju rumah bapak pilot itu.


Sesaat setelahnya Qiyaspun bergegas ke meja makan, saat tak sengaja ia mengarahkan pandangannya ke arah kitchen set tepat dimana Salwa yang masih berdiri menunggu roti panggang, saat itu juga Qiyas kembali tertegun tanpa suara melihat penampakan isterinya kali ini, bahkan ia hampir tak berkedip memandangi Salwa, tak lama kemudian Salwa mulai berbalik badan sontak ia sedikit terkejut melihat suaminya sudah ada di meja makan.


"Eh...mas!" tuturnya.


"Aam...maaf maksud aku Qiyas" ia mengulangi kembali ucapannya yang spontanitas itu, karena ia tau Qiyas paling tidak suka di panggil "Mas" olehnya.


"Rapih amat, mau kemana?" tanyanya dengan suara datar.


"Mau ke toko cake Umi, nih...kamu sarapan dulu!" sahutnya sembari menaruh roti panggang tadi di atas meja.


"Kamu gak sekalian?"


"Aku nanti aja, bareng Umi disana"


"Bareng Umi apa bareng laki-laki itu?"


"Non...?"


"Hmm...?"


"Tuan Arief udah dateng"


"Ow ya, bilangin ma Arief bentar lagi ya"


"Iya non!" bi Lijahpun segera beralih dari situ, sementara Salwa masih sibuk menyiapkan tissue makan di atas meja, setelah semuanya sudah dianggap beres oleh Salwa, kini niatnya akan berpamitan dengan Qiyas, namun yang terjadi malah Qiyas mendahului ucapannya.


"Nih...roti tawarnya tolong dong di panggang lagi" gamblangnya seraya mendorong pelan sajian roti itu di atas meja.


"Itu kan udah lumayan angus Qiyas, mau di panggang apanya lagi, nanti tambah angus loh?"


"Itu masih kurang mateng, di panggang lagi" tak berbantah lagi, segera saja Salwa manggang kembali roti-roti itu, setelah beberapa menit ia kembali menyajikannya di hadapan Qiyas.


"Nih...ya udah aku berangkat yah!" tuturnya namun baru selangkah ia berbalik badan, kini Qiyas kembali bersuara.


"Buah mana?"


"Buah? tumben sarapan pagi pake buah"


"Emang makan buah harus perlu alasan yea?"


"Ya gak sih...tapi...ya udahlah kamu mau buah apa?"

__ADS_1


"Buah apel, di potong kecil-kecil yah" lirihnya sangat datar.


Terpaksa Salwa harus menyimpan kembali tasnya di atas meja, lalu berjalan ke kulkas untuk menyipakan beberapa buah apel yang baru saja di minta oleh suaminya itu, setelah selesai memotong-motong buah apel iapun langsung menyajikannya lagi di atas meja.


"Tolong ganti susunya" kali ini Qiyas mendorong gelas susunya lagi.


"Ganti? bukannya biasa juga kamu minum susu kedelai?" sontak Qiyas menatap sinis wanita yang tengah berceloteh itu, melihat tatapan sinis suaminya Salwa langsung beralih pertanyaan.


"Ok...kamu mau minum susu apa?"


"Susu sapi aja"


"Loh, kamu kan alergi susu sapi!"


"Aam...susu murni ada gak?"


"Ada...ya udah bentar ya aku ambilin"


Dengan segera Salwa kembali berjalan menuju kulkas untuk menyiapkan susu, setelah dihangatkan selama 3 menit di microwave kini Salwa menyuguhkannya lagi di hadapan Qiyas, baru saja gelas itu menyudul diatas meja makan pun Qiyas lalu menyeruputnya, namun hanya sekali tegukan ia kembali bersuara pada Salwa.


"Aam...ganti lagi deh, gak enak susunya"


"Ganti pake apa lagi?" kali ini Salwa benar-benar kesal di buatnya.


"Yogurt ada gak?" Salwa hanya bisa menghela nafas untuk menenangkan kekesalannya.


"Huuftt..ada, mau yang rasa apa?"


"Yang melon aja"


Seperti biasa, iapun sudah menyiapkan sebotol yogurt rasa melon, namun setelah di seruput oleh Qiyas, kini ia mengajukan permintaan yang lain lagi.


"Aam...yogurt yang original ada gak?"


"Ada...kenapa lagi?" kali ini suara Salwa terdengar sedikit meninggi.


"Ahm...ganti deh sama yang original, yang ini terlalu asem!"


"Yang namanya yogurt ya asam lah!"


"Kamu tuh kenapa sih? kalo ngomong yang jelaslah aku tuh gak enak sama Arief tau gak? dia udah nungguin aku dari tadi"


"Ya udah suruh dia berangkat duluan aja"


"Kamu tuh..."Salwa seakan kehabisan kata-kata untuk menyahuti ucapan sang captain, hingga akhirnya ia segera memanggil bi Lijah.


"Ada apa non?"


"Tolong bi, siapin yogurt yang original ya, buat tuan Qiyas"


"Baik non"


Setelah itu Salwa pun segera bergegas menemui Arief, hingga ke duanya mulai melaju menuju toko cake, sementara Qiyas tak bisa berkata apa-apa lagi kini ia terpaksa memulai sarapannya dengan yogurt original, padahal ia sendiri tak begitu suka dengan minuman yogurt

__ADS_1


__ADS_2