Quality Love

Quality Love
Episode 78


__ADS_3

*Happy Anniversary Sayang


"Non, itu...." dari kejauhan bi Lijah berlari menghampiri kamar tamu, dengan terburu-buru ia segera membuka daun pintu.


"Non? non itu..."


"Itu apa?"


"Di depan ada tamu"


"Hah? tamu siapa?" Bi Lijah hanya mengangkat ke dua bahunya, seraya berekspresi tak suka seolah ia tak sudi menyebut nama tamu tersebut.


Pun Salwa langsung melihat screen time nya yang sudah menunjukkan hampir pukul 1 midnight pikirnya siapa sih yang mau bertamu di jam segini, tak berlama-lama lagi segera saja Salwa beranjak menemui tamu tersebut.


Namun Saat matanya menatap ke arah pintu, langkah kakinya langsung terhenti saat melihat sesosok tamu yang tak mau di sebut namanya oleh bi Lijah barusan, bukan main hati Salwa berkecamuk melihat Kiran yang menegap di depan sana sambil memegang sebuah kotak bermotif kembang-kembang, Salwa bahkan tak tau harus menyapanya seperti apa, karena semenjak ia menikah dengan Qiyas komunikasi yang terjalin diantara ke duanya tak cukup baik.


Cukup lama Salwa dan Kiran membungkam disitu, hingga akhirnya Kiran sendri yang memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan.


"Qiyas ada?" tanyanya dengan wajah yang sangat datar,  jelas saja hati Salwa cukup ngilu saat wanita yang ada di hadapannya ini tengah menanyakan keberadaan suaminya.


"Ahm...di..dia lagi keluar"


"Aku boleh nunggu dia di dalem?"


"Ahm, Iya, bo...boleh, boleh" seketika itu juga Kiran berjalan masuk ke dalam, bi Lijah yang masih berdiri di situ langsung memanyunkan bibirnya seolah ia sangat membenci Kiran yang berlagak seperti ratu di rumah ini.


"Bi, tolong buatin dia minum ya" Salwa melirih pada bi Lijah.


"Iya non..."


"Setelah itu bibi tolong temenin dia sampai mas Qiyas dateng, boleh?"


"Yah sebenarnya sih, bibi males liat muka dia, tapi mau gimana lagi" Salwa tersenyum kecil,lalu mengusap-usap pundak bi Lijah, setelah itu ia pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar.


5 menit kemudian, bi Lijah datang dari dapur membawa segelas teh, iapun langsung menyuguhkanya di hadapan Kiran.


"Ini mbak, silahkan di minum"


"Iya, iya, makasih ya bi" bi Lijah hanya berpura-pura tersenyum kecil di hadapan Kiran, setelah itu ia pun duduk di sofa seraya menemani Kiran sampai pujaan hatinya pulang.


Detik berganti menit, ke duanya duduk tanpa percakapan, kelihatannya bi Lijah mulai risih, segala leher, rambut hingga telinganya terasa mulai gatal-gatal, ia menggaruk sembari mengutuk di dalam hati "Duh...kenapa sih, kagak pulang aja, ngapai coba nungguin suami orang, ganggu jam tidur aku aja!"


Saat Kiran tak memerhatikan terkadang bi Lijah menatapnya dari atas sampe bawah dengan tatapan penuh kebencian, namun saat Kiran menoleh ke arahnya segera saja ia berpura-pura untuk tersenyum kecil seolah ia menyukai kehadiran Kiran disini.


"Ahm...itu apa?" tanya bi Lijah seketika seraya menunjuk kotak kembang-kembang yang di taroh Kiran di atas meja.


"Ow ini cake, bi..."

__ADS_1


"Owh cake, buat tuan Qiyas ya?" Kiran hanya mengangguk sembari tersenyum kecil yang membuat bi Lijah hampir enek dibuatnya.


"Idiih...dikira aku suka apa, ngeliat dia senyum-senyum kek begitu" bi Lijah kembali mengutuk di dalam hatinya.


Hingga tidak lama kemudian suara mobil Qiyas sudah terdengar di ruang garasi, melihat Kiran yang semakin nyengingiran tentu saja bi Lijah semakin naik pitam hingga akhirnya ia memulai percakapan lagi dengan Kiran.


"Mbak?'


"Mmm..?"


"Emangnya Mbak kesini tengah malem gini gak di cariin apa sama orang tuanya?"


"Hehe..." Kiran hanya tersenyum malu, tanpa berani menjawab pertanyaan bi Lijah.


"Ya, bukan apa-apa sih, takut jadi bahan gunjingan tetangga-tetangga sini, taukan mulut tetangga kalo lagi bergosip pedasnya kek apa?" seketika Kiran berhenti tersenyum, kali ini ia menyadari kalau bi Lijah memang sengaja mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dirinya itu.


Belum puas bi Lijah menyerang Kiran, tiba-tiba munculah Qiyas di depan pintu.


"Nuge?"


"Kiran? Ngapain kamu disini?" sontak Kiran berlari ke arahnya, seraya merentangkan ke dua tangannya, niat hati mau memeluk Qiyas, namun langsung saja di tepis oleh Qiyas.


"Ya aku kangen sama kamu, udah seminggu loh kamu gak pernah angkat telpon aku, balas chat aku, kamu kenapa sih?"


"Kamu kenapa sih, gak mau aku peluk?"


"Kamu pulang sekarang" segera Qiyas menarik paksa tangan Kiran lalu diboyongnya ke luar dari rumah, namun dengan sekuat tenaga Kiran juga berusaha melawan kekangan Qiyas.


"Nuge lepasin, Nuge...kamu apa-apaan sih?"


"Kamu yang apa-apaan, dateng ke rumah aku tengah-tengah malem kek begini? gimana nanti kalau isteri aku tau?"


"Ya dia udah tau..." sontak Qiyas terdiam lalu melepaskan tangan Kiran, seraya berfikir sejenak.


"Apa kamu lupa hari ini tuh hari apa?"


"Aku kesini tuh jauh-jauh, bawa cake segede itu, nungguin kamu hampir sejam-an, cuman buat ngerayain Anniversary kita yang ke 8 tahun, tapi malah kamu buat aku kek begini?" Kiran bertutur dengan mata yang mulai berkaca-kaca,namun Qiyas masih saja membungkam.


Ia lalu berjalan mendekati Qiyas, lalu menggenggam ke dua tangannya seraya berkata "Happy Anniversary sayang!"


Lagi-lagi Qiyas hanya menatapnya dengan mulut yang terus membungkam, tingkahnya ini sontak membuat Kiran terdiam lalu kembali bersuara tegas di hadapannya.


"Kamu gak ngebalas aku?"


"Qiyas jawab aku...jawab..." dengan keras Kiran menghela jas Qiyas beberapa kali, hingga menarik Qiyas untuk bersuara.


"Kamu pulang sekarang" ia masuk ke dalam lalu mengambil box cake yang ada di atas meja, lalu di kasih ke Kiran dengan segera Qiyas kembali memboyong paksa Kiran ke mobilnya, meski sempat terjadi beberapa perdebatan namun Qiyas berhasil mengondusifkan suasana, ia cepat-cepat bergegas masuk ke dalam rumah lalu segera mengunci pintu rapat-rapat.

__ADS_1


Sesaat setelahnya ia kembali meneriaki bi Lijah yang arwahnya hampir berada di alam mimpi.


"Bi...bi Lijah?" mendengar teriakan yang memekik itu, bi Lijah segera terbangun dan berlari menghampiri Qiyas.


"Iya tuan? ada apa?"


"Kenapa bibi menyilahkan dia buat masuk ke dalam rumah?"


"Loh bukan bibi tuan, itu non Salwa yang nyuruh dia masuk kedalam soalnya kasian kalo dia nunggunya di luar" tak membantah, Qiyas pun segera mengakhiri obrolan itu, lalu bergegas masuk ke dalam kamar.


Saat ia membuka pintu kamar, Qiyas melihat Salwa yang tengah terlelap di atas tempat tidur, di tangannya masih menggenggam beberapa lembaran script, dengan hati-hati Qiyas mengambil script itu lalu menyimpannya di atas meja, ia kemudian berbaring di sebelahnya sembari mengusap pelan ubun-ubun Salwa, namun sesaat setelahnya Qiyas seolah tersadar apa yang baru saja ia lakukan, dengan cepat Qiyas menarik tangannya lalu berbalik badan membelakangi Salwa.


*****


Pagi ke dua, saat Salwa masih menghafalkan script, tiba-tiba Qiyas masuk ke dalam kamar sembari membawa segelas susu untuknya, sontak Salwa menatap bingung benaknya seolah bertanya "Kenapa pria es batu ini tiba-tiba memberinya susu?" setelah Qiyas lalu duduk di atas tempat tidur sembari memperhatikan Salwa yang tengah menghafal dari samping.


Mengetahui Qiyas yang terus memerhatikan dirinya, Salwa merasa sedikit tak nyaman, sesekali ia melirik ke arah suaminya dengan ekspresi sedikit malu-malu, namun tetap saja Qiyas sama sekali tak mengalihkan pandangannya, mendapati Salwa yang curi-curi pandang atas dirinya Qiyas hanya tersenyum kecil di buatnya, Qiyas sendiri menyaksikan betapa gugupnya Salwa saat ini.


"Kamu mau sarapan sekarang?" tutur Salwa tiba-tiba.


"Bhuws..." sontak Qiyas tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.


"Siapa yang mau sarapan di jam 5 subuh kek begini? udah gak apa-apa lanjutin bacaannya"


"Huuph..." Salwa menghela napas, namun tetap saja ia tak berani mempraktikkan isi script itu di hadapan suaminya, merasa belum puas Salwa kembali melemparinya pertanyaan.


"Ahmm...kamu...ngapain duduk disini?"


"Haah?" Qiyas cukup tercengang.


"Maksud aku...kamu...mau sarapan?"


"Bhuuws..." Qiyas kembali meluapkan tawa, kali ini Salwa benar-benar terlihat lucu baginya.


"Pertanyaan itu sudah kamu tanyakan sama saya barusan"


"Ow yah? ahm...ummm..." Salwa semakin gugup hingga di kepalanya seolah sudah tak tersisa lagi penggalan kata yang mau diucapkannya.


"Kamu...kamu..." Salwa kembali terbata-bata namun dengan cepat Qiyas langsung menindih ucapannya.


"Mas...."


"Hah?"


"Panggil aku mas..." Salwa langsung terdiam melihat keanehan ini, perlahan Qiyas mendekatinya lalu mengusap punggung tangan isterinya itu seraya berkata.


"Udah, kamu gak usah mikirin tentang sarapan, pagi ini biar aku yang nyiapin sarapan"

__ADS_1


Begitu saja, Qiyas langsung bergegas keluar untuk menyiapkan sarapan, sementara Salwa masih mematung sembari menatap punggung tangannya yang baru saja di sentuh oleh Qiyas suaminya, tiba-tiba ia tersenyum malu sembari menyembunyikan senyuman itu dengan telapak tangannya, bukan main senangnya Salwa saat ini.


__ADS_2