Quality Love

Quality Love
Episode 51


__ADS_3

*Hati Yang Berdebar-debar


Hari ini merupakan jadwal penerbangan balik captain Qiyas Fathir Anugerah ke Indonesian, sekitar jam 07.35 pesawat yang dikemudinya mulai take off dari bandara internasional Istanbul Ataturk dan rencana akan landing nantinya di bandara internasional Soekarno-Hatta sekitar jam 22.30.


"Bismillah...." lirih Qiyas sangat gerogi, yang seketika itu ia tengah bersiap-siap untuk take off dari bandara.


"Pak? pak Capt. baik-baik aja kan?" tegur pak Reindra yang duduk di sebelahnya.


"Iya aku baik-baik aja...memangnya ada apa?"


"Ahm...gak seperti biasanya pak Capt. terlihat gerogi seperti ini, kalo kondisi pak Capt. kurang sehat, gak apa-apa kok kita bisa bertukar tempat duduk"


"Aku gak apa-apa kok, hanya saja akhir-akhir ini aku lagi banyak pikiran"


"Sekarang ini aku gak tau masalah pak Capt. apa, namun tuntutan profesional dalam bekerja itu di haruskan karena keselamatan 750 penumpang yang ada di belakang adalah tanggung jawab besar yang ada di genggaman pak Capt. sekarang"


"Iya saya tau"


Selang beberapa saat, ketika pesawat sudah melintas di permukaan awan, pak Reindra masih saja memerhatikan ekspresi wajah captainnya itu, dalam benaknya sedang bertanya-tanya "Ada apa dengan pak Captain Qiyas hari ini?"


"Mau minum pak?" pak Rendra mencoba menawarkan sebotol air mineral untuknya.


"Gak" tuturnya singkat sambil menggeleng-gelengkan kepala.


*****


Tepat di jam 10 malam dari atas sudah terlihat titik-titik cahaya lampu yang menyinari ibu kota, saat ini Qiyas tengah bersiap-siap untuk melakukan landing di bandara Soekarno-Hatta, namun entah apa yang tengah difikirkan sang Captain tiba-tiba ia bisa kelepas kontrol hingga seluruh penumpang pesawat berteriak histeris di buatnya.


"Pak jangan langsung lepas pak, perlahan aja" sebagai seorang partner kini pak Reindra kembali memberikan aba-aba pada Captain Qiyas.


"Iya sorry!" cetuhnya sambil terus menarik nfas dalam, sementara pak Reindra kembali berkomunikasi dengan beberapa pramugari yang tengah melaporkan keadaan yang sedang terjadi di ruang penumpang.


Pramugari lainnya juga terlihat turut memberikan peringatan kepada para penumpang agar tidak panik namun harus tetap waspada, serta tidak lupa ia menghimbau agar seluruh penumpang tidak melepaskan sitbel apalagi berpindah dari tempat duduknya, karena sebentar lagi pesawat akan segera landing di bandara tujuan.


15 menit setelahnya, pesawat mulai berjalan di permukaan aspal bandara hingga sampai ke tempat pemberhentian, setelah seluruh penumpang dan beberapa staff pramugari sudah mengosongi tempat duduk Qiyas masih saja mematung dikursinya dengan tatapan kosong ia memandangi langit-langit pesawat sambil sesekali membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi jika ia harus bertemu dengan papahnya malam ini.


Baru saja ia keluar dari pesawat tiba-tiba masuk whatsapp sang papah yang langsung dibacanya bertuliskan pesan di bawah ini :


"Sopir papah udah menunggu di depan"

__ADS_1


Sontak Qiyas hanya bisa menghela nafas saat membaca pesan papahnya tak tanggung-tanggung iapun menuruti permintaan papahnya, tepat di loby sudah terlihat pak Dirman sopir papahnya itu tengah melambaikan tangan padanya.


Pak Dirman kemudian turun dari mobil, seraya berlari kecil menghampiri Qiyas, ia lalu meraih kopernya dan di simpan di dalam bagasi mobil, setelah itu merekapun segera melaju ke kediaman pak Fahri, namun ditengah-tengah perjalanan sempat terjadi obrolan pendek antara Qiyas dan pak Dirman.


"Gimana hari ini penerbangannya tuan?" tanya pak Dirman sambil menatap wajah anak majikannya itu lewat kaca spion depan.


"Lumayanlah...."


"Papah ada di rumah?" lanjutnya.


"Ada tuan"


*****


Saat membuka pintu, tepat di ruang tamu sudah terlihat bu Lela dengan wajah yang penuh rasa khawatir ia terburu-buru menghampiri putra semata wayangnya itu, sementara dua saudari perempuannya lagi turut terperanjat dengan tampilan wajah yang juga mengkhawatirkan, tak melihat keberadaan sang papah segera saja Qiyas melontarkan pertanyaan.


"Mah...papah mana?" bu Lela mengelengkan kepalanya, dengan segera ia menyedorkan kunci mobil pada putra semata wayangnya itu.


"Nuge kamu langsung pulang aja di rumah kamu, nih pake mobil mamah"


"Mah aku nanya papah mana?"


"Di ruang kerjanya" sontak Bela menyahuti pertanyaan adiknya itu.


"Nuge, saran kakak sih, mending Nuge gak usah ketemu sama papah dulu deh, bener kata mamah, Nuge langsung pulang aja" Sheila turut bersuara, yang tiba-tiba langsung di tindih oleh kakak ke duanya Bela.


"Kalo menurut kakak, lari dari masalah bukan solusi, jadilah laki-laki yang gentle dan temui papah sekarang di ruang kerjanya" seketika itu bu Lela berteriak hebat di hadapan Bela.


"Bela...."


"Bukannya ngebelain adeknya, nih malah dia yang ngebeut nyuruh adiknya masuk ke dalem sana" Bela kemudian berjalan selangkah di hadapan sang mamah sembari menunjuk wajah adik bungsunya itu.


"Apah mah? ngebelain dia?"


"Aku tanya sama mamah...pantas gak papah nyuruh mamah tidur di kamar tamu?" tambah Bela, Sheila yang mulai geram melihat sikap Bela pada mamahnya yang menurutnya sangat tidak pantas itu, pun seketia ia menindih ucapan adik keduanya itu.


"Kamar tamu kan? bukan di kolong jembatan"


Melihat perdebatan demi perdebatan yang terjadi di hadapannya saat ini, tentu saja semakin membebani kepala Qiyas yang sejak kemaren sudah menggunung rasa khawatir di dalamnya, bahkan ia mulai ragu-ragu untuk melangkah menemui ayahnya.

__ADS_1


Akan tetapi tidak lama kemudian, ia pun memberanikan diri untuk bertemu sang papah, tiga wanita yang masih ricuh dengan perdebatan kecil mereka pun tiba-tiba suasananya teralihkan saat ke tiganya menatap sayu tatihan langkah kaki Qiyas yang hendak menuju ruang kerja pak Fahri.


"Nuge...? Nuge mau kemana?" bu Lela bersuara cemas di belakangnya, namun Qiyas sama sekali tak berbalik badan melainkan ia hanya mengangkat tangan kanannya seraya memberi isyarat pada sang mamah untuk berhenti menghalang-halanginya masuk ke dalam.


Tepat di depan pintu ruang kerja pak Fahri, Qiyas menegunkan langkahnya sejenak seraya menghela nafas, dengan pasrah iapun membuka pintu tersebut, tampak pak Fahri hanya menatapnya kilas wajah anak laki-lakinya itu, lalu terperanjat ia menegapkan tubuhnya di sisi meja kerjanya.


"Pah..." panggilnya ragu-ragu yang tak disahuti sama sekali oleh pak Fahri, pun Qiyas mulai menitih langkahnya, tatih demi tatih ia memaksakan kakinya untuk menghampiri sang papah.


"Tapraak...!" tepat di hadapannya, pak Fahri mendaratkan tamparan keras di pipi anak bungsunya itu, tubuh Qiyas yang seketika itu terhempas selangkah ke belakang dengan tangannya yang mulai menyentuh bekas tamparan tadi, pun ia kembali berdiri tegap lalu berjalan mendekati sang papah.


"Tau kesalahan kamu apa?" ia hanya terdiam menatap wajah geram pak Fahri.


"Kamu masih belum ingat apa kesalahan kamu? apa perlu papah gampar untuk ke dua kalinya?" terang saja pak Fahri melantangkan suaranya di hadapan Qiyas, dari luar bu Lela dan dua anak perempuanya tadi tengah standby di depan pintu dengan segala keresahan hati mereka sangat mengkwatirkan kondisi Qiyas didalam sini.


"Tega yah, papah menggampar Nuge sehebat ini!" ia bercetuh pelan kepada papahnya, pun Fahri semakin naik pitam atas ucapannya itu tak tanggung-tanggung ia kembali meninggikan suaranya.


"Papah yang tega atau kamu yang tega? berani-beraninya kamu nyiksa anak perempuan orang di rumah sana, kamu pikir Salwa itu apa? pajangan kamu?"


"Dia hanya tidur di kamar tamu pah, Nuge gak nyiksa dia"


"Keterlaluan kamu"


"Tapraak..." sekali lagi pak Fahri melayangkan tamparan ke dua di pipi Qiyas, ibunya yang mendengar suara tamparan itu, pun berteriak histeris di luar sana.


"Pernah gak, sekali aja kamu nanya ke Salwa, batinnya tersiksa gak selama menikah sama kamu?" pak Fahri kembali melontarkan ungkapan halus pada Qiyas.


"Pernah gak, sekali aja terlintas di fikiran kamu, bagaimana kalau Umi dan Abinya tau, kamu memperlakukan anak perempuannya seperti itu?"


"Salwa itu manusia Qiyas" lanjutnya lagi.


"Houuftt...papah selalu saja memikirkan perasaan dia, sementara aku papah gak peduli sama sekali, apa papah lupa waktu itu papah kan yang maksa aku untuk nikah sama dia, padahal papah tau kalau aku gak suka sama dia, dan sekarang terjadi seperti ini papah malah balik nyalahin aku?"


"Tapraaak..." langsung saja pak Fahri melambungkan tamparan ke tiga di pipi Qiyas, kulit wajahnya yang tadi berwarna putih kemerah-merahan kini seluruhnya sudah berubah warna menjadi memerah akibat tamparan demi tamparan yang baru saja diterimanya itu.


"Berhenti bicara yang lalu-lalu, kamu itu kepala rumah tangga, pemimpin di dalam keluarga, kamu pikir kecil tanggung jawab kamu menjadi seorang suami? kalau seperti ini terus tingkah laku kamu, apa yang akan kamu pertanggung jawabkan di akhirat nanti?"


"Berkali-kali papah tanya alasan Salwa kenapa dia tidur di kamar tamu, namun apa jawaban yang selalu dia ucapkan sama papah, dia selalu bilang kalau itu kemauan dia sendiri, padahal papah tau kalau saat itu dia sedang bohong sama papah, hanya untuk apa? hanya untuk menjaga marwah suami dia sendiri, seharusnya kamu malu Qiyas"


"Memang kamu gak pantes sama sekali untuk jadi suami dia" segera saja pak Fahri berlalu meninggalkan Qiyas di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2