
*Perkara Bulan Madu
Setelah drama pelukan yang tak disengaja tadi usai, pun keduanya mulai terkejut kompak, sembari melepaskan pelukan yang cukup lama memita sejak tadi, Qiyas kemudian membentuk sedikit jarak dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sungkan, sementara Salwa hanya bisa menarik nafas pelan seraya tertunduk malu, keduanya terlihat begitu salah tingkah atas tragedi itu.
Qiyas yang menegap di ujung sana seakan malu untuk melihat wajah Salwa, kini ia hanya bisa mengalihkan pandangannya kemana-mana, lalu mundur lagi beberapa langkah ke belakang sembari menggaruk-garuk pelan kepalanya, sesekali ia mencoba melirik ke arah Salwa namun saat Salwa mulai menggerakkan kepala Qiyaspun dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Ia kemudian berpura-pura mengamati suasana di luar jendela, namun jelas saja Qiyas hanya bisa menatap kosong gedung-gedung tinggi dan juga langit biru yang tengah menghiasi bingkai jendelanya kala itu, karena benaknya seolah tak ingin bersahabat dengan sorotan matanya.
Di sela-sela waktu secanggung ini tak ada yang bisa menjamin hal apa yang akan terjadi selanjutnya, dengan ragu-ragu Qiyas mulai melirik lagi ke arah Salwa namun sebaliknya Salwa pun melakukan hal yang sama, saat mata bertemu mata keduanya sangat terkejut lalu dengan cepat mereka saling mengalihkan pandangan ke arah yang lain.
Kini pandangan Qiyas kembali mengarah lagi ke jendela, terdengar ******* nafas yang mulai sulit di atur, secara perlahan ia mencoba menelan ludah yang sejak tadi membuih di dalam mulutnya, ia lalu mengatur kembali pola nafas seraya memejamkan mata cukup lama, ia tahu hal tersulit yang harus ia hadapinya saat ini ialah berdamai dengan rasa ego.
Kali ini tersorot dengan jelas wajah Qiyas begitu gugup saat melihat Salwa, iapun sampai tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya, hingga saat ini keduanya masih saja membungkam bahkan tak ada yang berani untuk membuka obrolan, sesekali Qiyas hanya bisa menghembuskan nafasnya lalu menatap langit-langit namun otaknya terus berfikir keras untuk menghancurkan suasana canggung ini.
Sekali lagi ia mengarahkan pandangannya pada Salwa yang saat itu tengah menunduk menatap lantai dengan tatapan kosong, namun lagi-lagi Qiyas hanya bisa menatap Salwa dengan beribu kata yang masih sulit diucapkannya, bahkan bibirnya terlihat hampir bergerak untuk berucap sesuatu namun saat Salwa mengangkat sedikit kepalanya Qiyas mulai terkejut lalu mengarahkan lagi pandangannya kearah langit-langit dengan gestur tubuh yang begitu kaku.
Hingga sesaat kemudian Qiyas mulai memberanikan diri berjalan sedikit lebih dekat ke arah Salwa, menyadari hal itu Salwa sama sekali tak berpindah posisi, melainkan ia memerhatikan suaminya hanya dari ujung pelupuk mata, Qiyas yang begitu sungkan pandangannya hampir tak bisa fokus ke arah Salwa, ia hanya bisa sekilas melihat wanita cantik yang tengah dudukĀ itu lalu bersuara pelan padanya.
"Ahm...ma..malam ini kita...kita nginap disini dulu yah?" tuturnya terbata-bata, Salwapun langsung mengangguk tanpa berani ia melihat wajah Qiyas.
"Tok...tok...tok..." tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, yang langsung di tanggapi oleh Qiyas.
"Ya...siapa?"
"Bibi tuan..."
"Kenapa Bi?"
"Tuan sama non Salwa di panggil bapak ke bawah buat makan malam tuan"
"Iya...iya bentar lagi aku sama Salwa ke bawah"
"Baik tuan"
*****
Saat keduanya berjalan menghampiri ruang makan, disana sudah terlihat anggota keluarga yang duduk di kursi masing-masing, tentunya Qiyas dan Salwa masih saja sungkan untuk membuka percakapan, dari kejauhan sudah terlihat pak Fahri dan Bela tersenyum lebar menyambut mereka, pak Fahri sampai terperanjat dari kursi, hingga Qiyas dan Salwa mulai menyalami punggung tangannya baru ia mulai duduk kembali.
"Gimana kabar kalian? sehat yah?" tanya pak Fahri, seraya menepuk pelan pundak Qiyas, seketika itu ke duanya kompak menyahuti pertanyaan pak Fahri dengan jawaban yang sama.
"Iya alhamdulillah sehat pah"
"Salwa? gimana kabar Umi dan Abi disana?"
__ADS_1
"Umi sama Abi alhamdulillah sehat pah" dari samping Bela langsung menimpali.
"Salwa kalian nginap disini kan malam ini?"
"Iya kak" sahut Salwa sangat pelan sembari ragu-ragu melirik ibu mertua dan juga Sheila yang sejak tadi tak menyuguhkan gestur sambutan padanya.
"Yes..." tambah Bela dengan girang, tentu hal ini mengundang tatapan sinis dari Sheila yang tak disadari oleh Bela dan yang lainnya.
Semetara bu Lela hanya bisa berwajah datar menyambut ke duanya, begitu juga dengan putri sulungnya, Sheila tampak membungkam sengaja ia tak memerhatikan kehebohan yang ada, melainkan ia hanya fokus menuang nasi sembari memasang wajah tak suka pada Salwa.
"Ahm...katanya Nuge mau ngomong sesuatu, apa itu?" pak Fahri mulai membuka obrolan, yang kala itu, tiba-tiba menarik tatapan bu Lela menjadi aneh menyoroti Qiyas seolah-olah ada sesuatu yang tengah di takutinya.
"Nuge mau gomong apa? kok gak bilang-bilang ke mamah sih?" tegasnya, dengan nada suara yang mulai panik, kali ini Sheila turut memasang ke dua telinganya, dalam hati sebenarnya ia juga menaruh rasa penasaran atas obrolan kecil itu.
"Ya makanya itu mah, aku sama Salwa kesini mau ngasih tau ke semuanya kalo..."
"Tiing...." dering pesan Qiyas berhasil menjedah ucapannya, sontak pandangan Qiyas langsung beralih ke handphone seraya membaca lirih isi chat yang baru saja di terimanya itu, tepat di hadapan Qiyas bu Lela duduk dengan tatapan gelisah menagih ucapan Qiyas yang belum sempurna tadi.
"Kalo apa?"
"Bentar ya mah..." Qiyas kemudian me reply chat tersebut, tanpa memerhatikan wajah-wajah penasaran yang saat ini terpampang di hadapannya.
"Nuge mau ngomong apa sih, jangan bikin mama dan semuanya penasaran deh" kali ini nada bicara bu Lela mulai terdengar kesal.
"Huum...katanya mau ngomong..." tambah Sheila sedikit julid.
"Kamu kenapa sih Shei? santai aja kali..." sahut Bela balas julid pada sang kakak, Sheila yang tak suka di bantah, pun langsung menindih ucapan Bela dengan tegas.
"Lah...kok jadi kamu yang sewot, kenapa?"
"Lah...siapa yang sewot, perasaan dari tadi situ yang sewot"
Kali ini hanya terdengar suara Bela dan Sheila yang paling mendominasi, sejak dulu memang ke duanya sudah sering terlibat adu mulut, melihat perdebatan kecil dari ke dua anak perempuannya itu pak Fahri langsung menengahi dengan kalimat membual.
"Jangan bilang kalo bentar lagi mamah sama papah akan jadi kakek nenek"
Terlihat mata pak Fahri seakan menyampul sedikit harapan atas kalimatnya barusan, sontak semua yang ada disitu menatap kaget pak Fahri, Sheila hampir tersedak dibuatnya, pun bu Lela yang mendengarkan ucapan pak Fahri tiba-tiba terbelalak tajam menatap Qiyas dan Salwa.
"Ap...apah...? cucu?" bukan main bu Lela terkejut mendengar simpulan pak Fahri, sampai-sampai ia tak berselera lagi untuk mengunyah makanan, dengan kasar bu Lela melepas sendok dan garpunya, lalu menatap Salwa dengan tatapan sinis, Qiyas yang tak menyimak pembicaraan sepihak pak Fahri dan bu Lela sejak tadi jelas saja ia tak mengerti apa yang sudah mereka simpulkan hingga meruncing ke kata "Cucu" iapun kembali bertanya dengan tatapan yang bingung.
"Maksudnya?"
Dari samping, Salwa yang melihat ekspresi kaget semua orang, sedikit tak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memberi tahu semuanya terkait rencana mereka, meski sejujurnya ia cukup menahan malu untuk mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Se..sebenarnya...aku dan mas Qiyas itu mau berbulan madu"
"What?" Bela hampir pingsan mendengar kata-kata itu, entahlah antara Happy dan shock, disisi lain tentu saja ia sangat senang jika Salwa dan Qiyas benar-benar akan berbulan madu, namun disisi yang lain ia masih bertanya-tanya, bahkan beberapa detik ia hampir tak berkedip, berulang kali ia meyakinkan dirinya bahwa saat ini ia sedang tidak mengigau.
Sementara yang lainnya pun turut suprising, ekspresi mereka sama kaget nya dengan Bela, antara percaya dan tidak percaya, terlebih lagi Sheila.
"Wah...papah sangat setuju, kalian memang harus punya waktu berdua untuk menenangkan diri, untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain" tutur pak Fahri dengan senyuman merekah-rekah.
"Bentar..bentar...mamah makin gak ngerti deh, apa sih sebenarnya yang mau kalian omongin?"
Qiyas yang juga hampir tak punya muka di hadapan keluarganya, mencoba menahan malu lalu memijat tulang pelipisnya, seraya menjelaskan kembali dengan bahasa yang pantas menurutnya.
"Ahm..sebenarnya kita mau ke Italy mah, pah,"
"Iya bulan madu kan namanya" tambah Bela dengan nada yang masih meledek, di sebelahnya, terlihat Sheila yang masih memasang wajah tak suka hingga dengan sengaja ia melirihkan sindirannya.
"Bhuwws..bulan madu? "
"Kenapa? emang kalo mereka bulan madu tenggorokan kamu jadi sempit gitu?" Bela menindih dengan julid.
"Yah gak, cuman lucu aja, dimana-mana tuh ya bulan madu seminggu setelah nikah, lah mereka?"
"Ya terserah mereka lah, maunya kapan, mau tiap hari bulan madu juga gak masalah"
"Stop...stop...stop" bu Lela berteriak jengkel atas perdebatan Bela dan Sheila, yang menurutnya semakin menambah angka tekanan darahnya saja.
"Kalian tuh ya, pinter banget ngomentarin urusan rumah tangga adek kalian, rumah tangga kalian aja gak ke urus kok, heran deh"
"Nih mamah mau tanya, udah berapa bulan Salwa hamil?" tutur bu Lela yang mulai salah kaprah.
"Hmm?" Salwa hanya bisa bererang tanpa penjelasan, di sisi lain Qiyas semakin sakit kepala mendengar pertanyaan mamahnya yang cukup tak karuan itu.
"Mah? Lagian yang ngomong Salwa hamil itu siapa sih?"
"Lah tadi papah ngomong..." pak Fahri langsung menindih dengan tawa kecilnya.
"Hehe...gak tadi tuh papah cuman nebak aja, eh ternyata tebakan papah salah"
"Gimana, Nuge udah dapat izin dari pihak maskapai?" lanjut pak Fahri.
"Iya pah, aku dikasih waktu cuti selama sebulan 5 hari"
"Umm...bagus, that's good idea"
__ADS_1