Quality Love

Quality Love
Episode 66


__ADS_3

*Menghabiskan Waktu Bersama


Pagi ini, aku duduk di meja makan, dengan lamunan yang cukup lama, aku menatap mas Qiyas yang begitu sibuk menyiapkan sarapan pagi, ini adalah kali pertama ia menyentuh dapur, jauh sebelum kami menikah mas Qiyas memang satu-satunya anak yang paling dimanjakan mertuaku,terutama ibu mertuaku, jangankan untuk membuat sarapan pagi, bahkan hanya sekedar nyeplok telor saja dia tidak pernah melakukannya, sedikit cerita ini ku dengar dari bi Lijah.


Saat ini, tampak beberapa potongan roti, buah dan juga cemilan pagi yang sudah tersaji di atas meja, dengan tentengan panci mas Qiyas kemudian datang menghampiri lalu menuang beberapa buah bolu yang sangat lucu di dalam mangkuk bulat.


"Masih kurang apa lagi? biar aku yang siapin" ujarku sedikit tak enak hati padanya.


"Tidak perlu, ini sudah selesai kok" balasnya sambil tersenyum kecil padaku, setelah itu aku tak berani menanyakan apapun lagi, karena sejak tadi mas Qiyas seolah mengisyaratkan sarapan pagi ini spesial ia suguhkan hanya untukku, anggapku sedikit kepedean.


Tidak lama kemudian mas Qiyas lalu duduk sembari meraih gelas kosong lalu menuangkan susu putih di gelas tersebut, aku yang mulai mengambil piring tak begitu menyadari sikapnya, hingga tiba-tiba ia menyedorkan susu itu dihadapanku sembari bersuara pelan.


"Yuk sarapan" aku kemudian menatapnya penuh makna, melihatnya yang begitu kaku, aku tahu kalau mas Qiyas bukanlah tipe pria yang romantis, dan hampir semua wanita juga menyadari kalau tidak ada keromantisan dalam pria yang berjiwa introvert.


"Kamu kenapa hari ini?" ia mengabaikanku, lalu berganti topik pembicaraan.


"Entar ikut aku shopping ya!"


"Haah? shopping?" aku sedikit terkejut mendengar ajakannya barusan, bukan apa-apa sih, hanya saja naluri seorang perempuan mulai bergetar lagi saat mendengar kata "Shopping" (Wkwkwk termasuk Author dan yang baca 😜)


"Nemenin apa di belanjain?" tanyaku sedikit bersenda gurau, maksud hati ingin memecah suasana namun yang ada hanyalah obrolan garing antara aku dan mas Qiyas karena ia terus saja mengabaikan pertanyaanku.


*****


Aku dan mas Qiyas baru saja sampai di sebuah mall mewah, dari dalam mobil ku intip suasana di luar, kelihatannya pusat perbelanjaan ini di khususkan untuk orang-orang yang berasal dari kalangan atas, ini masih asumsiku saja karena berkaca dari beberapa pelanggan wanita yang baru saja keluar terlihat pakaian mereka begitu modis, dan para prianya juga terlihat mengenakan jas yang tentunya mereka bukanlah orang sembarangan.


Saat ini mas Qiyas tengah melepaskan seatbelnya lalu bersiap-siap untuk keluar, sementara aku yang tadinya bersemangat kini tiba-tiba menjadi lesuh dan mulai mengurungkan niat untuk keluar dari mobil, mas Qiyas yang sudah berada di luar keihatannya sangat buru-buru untuk masuk ke dalam ia lalu berjalan pergi tanpa ada kalimat ajakan yang ia utarakan padaku.


"Sudah ku tebak, dia pasti malu membawaku masuk kesana hum...tanpa kamu ajak juga aku gak maulah masuk ke dalam" gumamku sedikit kesal dengan mas Qiyas, tiba-tiba dering ponselku berbunyi, ku lihat nama Arief tertera di atasnya.


"Halo, assalamu'alaikum Rief?"


"Wa'alaikumsalam, Salwa dimana?"


"Ahm...lagi di luar nemenin mas Qiyas, kenapa Rief?"

__ADS_1


"Ow iya iya, ini aku cuman mau ngasih tau aja, besok ada rapat, kamu ikut ya wa?"


"Umm...bukannya kemaren baru aja rapat ya"


"Rapat besok, kita akan menyusun bagaimana strategi pemasarankita ke kanca internasional, dan kabar baiknya aku udah punya calon model untuk itu"


"Ow yah?" sontak dengan perasaan sangat senang aku menimpali ucapan Arief.


"Iya Wa..." tiba-tiba aku terkejut dengan suara ketukan kaca mobil, langsung saja ku arahkan pandangan ke luar terlihat mas Qiyas yang tengah berdiri disitu, karena takut di omelin, akupun langsung menurunkan kaca mobil.


"Bentar ya Rief" ujarku menjedah obrolan.


"Kamu ngapain sih masih disini? ayo keluar" tutur mas Qiyas.


"Haa? loh...bukannya..." berarti tadi aku hanya seudzon saja dengan mas Qiyas, kupikir ia berjalan seorang diri karena malu mengajakku masuk ke dalam, tiba-tiba mas Qiyas mengejutkanku lagi dengan suara tegasnya.


"Bengong lagi, ayo keluar"


"Ahm...gak apa-apa kamu aja deh yang pergi aku tunggu di mobil"


"Aku gak mau, aku malu" melihat aku yang masih tetap kekeuh di dalam mobil, tiba-tiba mas Qiyas membuka paksa pintu mobil, lalu melepas seatbel yang masih mengalung ditubuhku, setelah itu iapun menarik tubuhku keluar dari mobil, melihat wajahnya yang cukup kesal, tanpa pamitan aku langsung menyudahi obrolanku dengan Arief di telpon.


"Ngobrol sama siapa barusan? laki-laki itu?" tebakannya sama sekali tak meleset, sudah pasti satu-satunya pria yang tak suka ia sebut namanya ialah Arief, herannya aku kenapa setiap obrolanku dengan Arief selalu saja tertangkap mata oleh mas Qiyas, padahal obrolan kita hanya sekedar obrolan biasa-biasa saja, namun tampang mas Qiyas seolah-olah menyimpulkan kalau aku dan Arief seakan memiliki hubungan khusus, meski hanya sekedar tuduhan tetapi tetap saja aku tak suka melihat tampang mas Qiyas seperti itu.


Aku yang sudah terseret ke luar dari mobil, kini hanya bisa berwajah kesal di hadapannya, tanpa kata lagi mas Qiyas lalu bergegas masuk ke dalam mall, namun aku masih saja menegun disitu, sembari memerhatikan penampilanku, mas Qiyas yang sudah tiba di pintu utama tak sengaja ia berbalik badan lalu melihatku yang masih mematung disini, dengan segala kekesalan yang ia punya kini mas Qiyas terpaksa harus berjalan kembali menghampiriku.


"Ayo..." lirihnya seraya merapatkan gigi, namun ajakannya itu ku sahuti dengan gelengan kepala menandakan aku sungguh tak mau mengikutinya untuk masuk ke dalam, tak kehabisan cara mas Qiyas kemudian meraih pergelangan tanganku lalu memboyongku masuk ke dalam.


Tepat di loby utama, mas Qiyas kemudian mengeluarkan sebuah kartu pengenal untuk di tunjukkan pada satpam penjaga loby, setelah mengamati kartu tersebut satpam itupun lalu menyilahkan kita untuk masuk ke dalam.


Tempat pertama yang kita datangi ialah toko elit yang menyediakan semua kebutuhan wanita, saat kami akan masuk kedalam terlihat seorang pegawai toko menyambut kami dengan sopan.


"Hai pak bu...selamat datang di toko kami, boleh kami lihat kartu namanya?" sontak mas Qiyas lalu menunjukkan kartu nama yang tadi ia tunjukkan pada satpam depan loby.


"Ok silahkan masuk..."

__ADS_1


Aku dan mas Qiyas bergegas masuk ke dalam, ia kemudian membawaku pergi ke sekat sebelah, disana terlihat semua produk-produk luar negeri bergelantungan di semua sisi, seperti jacket-jacket tebal, jacket bulu, sepatu boots topi koboi dan semua pernak-pernik wanita khas ala negeri empat musim, selangkah aku berlalu tiba-tiba pandanganku beralih pada sebuah jacket tebal berwarna cokelat muda di ujung sana, sementara mas Qiyas berjalan tidak jauh dariku, ia lalu mengamati beberapa pakaian yang bergelantungan disitu.


"Kamu suka yang mana? pilih aja" pungkas mas Qiyas.


"Ahm...bentar yah" dengan segera aku berlari menghampiri jacket tersebut, lalu mencobanya, di hadapan cermin aku tak berhenti menyoroti penampilanku saat menggunakan jacket ini, dalam hati terbesit aku ingin segera memilikinya, tanpa aku sadari ternyata mas Qiyas menatapku dari kejauhan, setelah itu ku lepas jacket tersebut namun tak sengaja ku lihat prangko dari jacket itu bertuliskan harga Rp.45 juta, dengan perasaan double kaget akupun langsung menggantung kembali jacket itu.


Masih penasaran ku coba periksa lagi beberapa pakaian yang ada di dekatnya namun semua harga yang tetera tidak ada yang kurang dari empat puluh juta, lantas aku yang mulai keringat dingin langsung bergegas menghampiri mas Qiyas yang sejak tadi menungguku di sana.


"Kenapa gak di ambil bajunya?"


"Gak...gak jadi, kita ke toko lain aja yuk"


"Kenapa?"


"Aham...gak apa-apa" saat aku akan bergegas dari situ, tiba-tiba mas Qiyas meraih lenganku.


"Kenapa?"


"Ahm...pakaiannya disini mahal-mahal semua, kita cari yang murah-murah aja" sontak mas Qiyas tertawa kecil mendengar ucapanku, ia kemudian menggandeng tanganku lalu berjalan kembali ke tempat jacket tadi di gantung.


"Semua toko disini harganya gak jauh beda, soalnya produk yang mereka jual adalah produk-produk ternama (branded) jadi wajar-wajar saja kalo harganya segitu" tuturnya, seraya meminggirkan beberapa jacket yang tengah menghimpit jacket cokelat muda tadi, ia lalu mengambil jacket tersebut dan menyedorkannya padaku.


"Nih..." pun sebaliknya, aku hanya menatap mas Qiyas penuh ragu.


"Ahm...gak usahlah, kamu beli baju kamu aja dulu, aku nanti aja, banyak kok yang jual baju-baju kek gini di pasar" seketika itu juga aku bepindah sedikit jauh dari mas Qiyas, dengan berpura-pura mengalihkan pandanganku ke arah baju-baju yang lain, namun tidak lama kemudian mas Qiyas kembali berjalan menghampiriku.


"Aku kalo mau belanja barang-barang aku sendiri, aku gak perlu ngajak kamu kesini" kali ini aku cukup tersinggung dengan ucapannya, sontak aku yang mulai naik pitam langsung saja menindih ucapannya.


"Ya sudah...ngapain kamu ngajak aku kesini? ajak Kiran sana..." sesegera mungkin aku bergegas pergi dari situ, sialnya dengan cepat mas Qiyas berhasil meraih pergelangan tanganku.


"Ok...maaf" tuturnya sesingkat itu, aku hanya menatap kilas wajahnya, serasa begitu bias jika tatapan jengkel ini terus menyoroti wajahnya, melihatku yang masih saja terdiam, mas Qiyaspun kembali bersuara.


"Kamu kenapa sih marah-marah hanya karena masalah harga?" rupanya Mas Qiyas sedikit salah paham padaku.


"Kalo kamu suka dengan baju-baju yang ada disini ya kamu tinggal ambil aja berapapun kamu mau, bahkan bila perlu aku bisa beli seisi toko ini untuk kamu" seketika itu juga ku soroti tajam ke dua bola matanya, seraya terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Ternyata penilaian mas Qiyas tentangku selama ini tidak pernah berubah, masih saja sama, sebagaimana ia menganggapku sebagai "Wanita murahan" entahlah apa karena ucapannya yang terlalu runcing, atau karena hatiku yang terlalu sensitif.


__ADS_2