Quality Love

Quality Love
Episode 36


__ADS_3

*Penuhi Syarat Ke 3


Setelah mengantarku tepat dihalam parkiran, Ariefpun berpamitan untuk pulang, sebenarnya ia masih tak tega jika harus meninggalkanku seorang diri betapa takutnya ia kalau-kalau mas Qiyas melampiaskan amarahnya lagi padaku, namun atas permintaanku yang kesekian kali akhirnya ia pun mengiyakan permintaanku secepatnya kembali, bukannya apa-apa, selain takut diliat sama tetangga aku juga tak ingin Arief terlalu jauh masuk ke dalam persamalaha rumah tanggaku.


Didepan teras tak kulihat lagi serakkan sendal suster Kiran dan teman-temannya, mungkin juga suasana didalam rumah sudah sangat sepi, dengan mengendap-endap kubuka pintu depan yang sudah jam segini belum terkunci sama sekali, ku sedikit heran namun tak mebghabiskan waktu untuk berfikir, akupun segera masuk ke dalam.


"Mas Qiyas?" aku sangat terkejut dengan beribu-ribu gebukan nyut-nyut dijantungku saat ini, ku pikir di jam segini mas Qiyas sudah tertidur pulas di kamarnya, namun nyatanya ia masih terjaga di sofa tamu dengan diatasnya terdapat wadah menengah yang berisi air.


Dengan ragu-ragu ku tatihkan langkahku menghampirinya, apapun yang akan ia lakukan padaku aku akan siap menerimanya sekalipun itu berupa kekerasan fisik, meski sejujurnya aku sangat takut, bahkan untuk menelan ludah saja aku hampir tak berani.


Saat aku beridiri di hadapannya, ia belum lagi melihat wajahku, mas Qiyas hanya terpaku menatap wadah air yang ada di atas meja saat ini, pun aku tak berani bersuara dihadapannya karena aku tau saat ini suasana hatinya sedang kacau.


Aku tak tau seperti apa akhir cerita dari pesta tadi sampai-sampai ia masih terlihat kacau seperti ini, tiba-tiba dering telponku mulai berbunyi, dengan terburu-buru ku gapai handphoneku yang entah tak tau ku selipkan dilaci tas yang mana, setelah berhasil kugenggam handphone itu tiba-tiba dengan sigap mas Qiyas berdiri lalu merampasnya dari tanganku tak tanggung-tanggung ia juga langsunh me-nonaktifkan Hpku, padahal sekilas ku lihat panggilan masuk itu dari Umi.


"Sejauh apa hubungan kamu dengan laki-laki ini?" ia sambil menunjukkan handphoneku, seolah-olah yang baru saja menelpon itu ialah Arief.


"Kamu pikir itu Arief? yang baru saja menelpon itu Umi dan kenapa kamu matiin telpon umi!" jawabku dengan santai bercampur kesal.


"Aku gak peduli, sekarang kamu jawab pertanyaanku, sejauh apa hubungan kamu dengan laki-laki itu?"


"Sejauh apapun hubungan ku dengan dia, kita tetaplah sahabat gak akan pernah lebih dari itu" segera saja ku rampas kembali handphoneku, lalu bergegas masuk ke dalam kamar, saat aku akan menutup pintu tiba-tiba ia bersuara lagi.


"Aku harap kamu tidak akan pernah lupa dengan syarat yang ke tiga" benar saja aku hampir lupa menjalankan syarat yang ke tiga, seketika itu akupun kembali dihadapannya, ia kemudian mengambil wadah yang berisi air tadi lalu menyedorkannya padaku.

__ADS_1


*****


Sementara itu akupun masuk ke dalam kamarnya, dia duduk diatas ranjang sementara aku duduk bersimpuh dibawahnya sambil memasukan ke dua kakinya ke dalam wadah yang berisi air tadi, dengan perlahan ku cuci ke dua kakinya sesekali juga ku pijat jari-jemarinya, entah ia sadar ataupun tengah mengigau tiba-tiba ia menyentuh ubun-ubunku


aku yang terkejut sontak menengadahkan wajahku menatapnya begitupun sebaliknya ia, pada saat mata kami bertatapan seketika itu pula aku sedikit salah tingkah dengan mengalihkan kembali pandanganku ke bawah telapak kakinya, cukup lama kami terdian menikmati suasana canggung ini, hingga akhirnya iapun memulai pembicaraan hangat padaku.


"Umm..Kenapa didalam rumah ini kamu gak pernah lepas kaos kaki dan hijab kamu?"


"Maaf, aku gak biasa kalau auratku di lihat sama orang asing"


"Maksud kamu, orang asing itu aku? apa kamu lupa kalau aku ini suami kamu?"


"Ya tetap aja kan? kita meski suami isteri tapi tak kalah seperti dua orang asing yang terperangkap dalam satu rumah" mendengar jawabanku barusan ia kemudian terdiam hingga akupun menyelesaikan tugasku ia tak lagi bersuara padaku.


*****


Kini sarapan pagi siap di sajikan, tepat dimana saat cahaya matahari pagi mulai bersinar hingga menembus celah ventilasi dapur, saat jam dinding mulai menunjukkan pukul 07.00 WIB, tanpa bersuara dan tanpa menunggu kini mas Qiyaspun mulai menghampiriku di meja makan.


Awalnya ku pikir sarapan pagi kalini keadaannya sedikit berbeda, namun ternyata sama saja dengan sebelum-sebelumnya, tak ada ucapan asslamu'alaikum, say halo, bahkan tak ada ucapan good morning layaknya rumah tangga orang-orang di sekitar rumah, kita berdua hanya asyik mengunyah roti sambil sesekali meneguk susu tanpa perbincangan apa-apa.


Setelah sarapan mas Qiyaspun kembali masuk kekamarnya, begitu juga denganku, untuk menghilangkan kejenuhanku, ku kerjakan berbagai aktifitas di kamar mulai dari bersih-bersih kamar, menata kembali miniatur yang ada dilemari, melipat kembali pakaian-pakaianku yang mulai terlihat berantakan dan mulai berencana untuk mencuci beberapa lemnar pakaian kotorku.


"Non ada tamu!" panggil bi Lijah seketika itu,

__ADS_1


"Siapa?" tanyaku sedikit penasaran


"Kurang tau non, bibi juga baru liat orangnya"


"Ow ya udah, bi tolong cuciin baju kotor aku ya!" dengan anggukannya, akupun langsung menyerahkan keranjang pakaian kotorku padanya, setelah itu ku hampiri tamu yang sedari tadi menungguku di ruang tamu.


Ternyata tamu yang di ceritakan bi Lijah itu ialah seorang wanita, yang saat ini tengah melihat-lihat beberapa foto nikahanku, ku perhatikan lagi mimik dan gerak-gerik wanita itu yang saat ini tengah membelakangiku.


"Fasya?" panggilku sangat girang, iapun berbalik arah sembari berlari memelukku.


"Ya allah Salwa aku kangen banget sama kamu, udah cukup lama loh kita gak ketemu"


"Sama, aku jug Sya, kemana aja kamu selama ini?"


"Aku gak kemana-mana cuman bulan-bulan kemaren tuh emang lagi sibuk-sibuknya perusahaan aku Salwa, makanya aku belum sempat berkunjung kemari"


"Ya allah! makin sukses sekarang ya!"


"Hehe gak juga sih Salwa"


"Hehe ya udah, ayo duduk dulu sya, ow ya mau minum apa biar aku buatin"


"Hehe seperti biasa, cofee!" cetuhnya sambil tersenyum semringah.

__ADS_1


Hari ini aku sangat senang sekali, Fasya datang disaat yang tepat, hampir seharian ia maen ke rumah, kita bercengkerama dengan berbagai topik pembicaraan, Pun Fasya meluangkan waktu tidur siangnya bersamaku karena ia juga tau kalau sampai saat ini aku dan mas Qiyas masih tidur pisah ranjang.


sementara mas Qiyas seharian ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, keluar bila waktunya jam makan siang, bahkan aku, Fasya dan mas Qiyas meluangkan waktu untuk makan siang bersama meski kenyataannya masih Qiyas masih saja membungkam, ia berbicara hanya pada saat Fasya melemparinya pertanyaan.


__ADS_2