Quality Love

Quality Love
Episode 50


__ADS_3

*Mahligai Hati


"Ehei jeng maaf yah agak telat" tutur bu Mira, sembari cipika cipiki dengan bu Lela yang sedari tadi tengah menunggu kedatangannya, di sebuah restauran yang sangat melegend bagi ke duanya.


"Ini...?" seketika bu Lela pangling saat melihat sosok wanita muda berseragam rapih yang tengah berdiri di samping sahabat lamanya itu.


"Ini Elda anak saya"


"Ouw...Elda yang dulu pernah kamu bawa waktu umur 4 tahun itu?" bu mira menganggukan kepala sambil tersenyum pada bu Lela yang tengah kebingungan dibuatnya.


"Halo tante!" sambung Elda, ia lalu menyalami punggung tangan bu Lela.


"Halo sayang!"


"Waah...pasti smart kan?"


"Hehe biasa aja kok tante, gak se smart seperti Qiyas Fathir Anugerah" mendengar nama anaknya baru saja di sebut oleh Elda, maka semakin menggunung juga kegirangan bu Lela saat ini.


"Jadi kamu kenal dengan anak tante?"


"Ya kenal dong tante, siapa sih yang gak kenal sama dia, dulu kan dia sering nongol di TV perkara lomba ini dan itu"


"Hehe...terus Elda sekarang kerja dimana?" bu Lela semakin penasaran dibuatnya, hingga nyengingirannya berasa tak pernah luntur dari wajahnya, pertanyaan bu Lela barusan segera di sambut oleh bu Mira.


"Aam...sebenarnya Elda ini belum bekerja, dia baru saja lulus S2 di Newyork minggu lalu, rencananya sih dia mau lanjutin bisnis papahnya yang di semarang itu"


"Wah...tante bener-bener gak tau mau ngomong apa lagi, andaikan Qiyas belum menikah sudah pasti tante akan menjodohkan kalian berdua, kalian tuh bener-bener cocok banget, pas deh pokoknya" mendengar ungkapan bu Lela, dari samping Elda tampak senyum-senyum tak menentu berasa terkesima jika ia benar-benar berjodoh dengan Qiyas.


Sebelum melanjutkan obrolan, mereka menyempatkan waktu untuk memesan beberapa menu makanan, sempat terjadi beberapa obrolan basa-basi di luar topik pembicaraan mereka sebelumnya, hingga pesanan mereka tadi sudah di sajikan di atas meja oleh dua orang pelayan wanita, merasa masih penasaran tentang seorang Qiyas Fathir Anugerah, tiba-tiba Elda kembali melontarkan pertanyaan pada bu Lela


"Aam...tante kalau boleh tau Qiyas sekarang gimana?"


"Gimana apanya?"


"Ahm...maksud aku Qiyas sekarang kerja dimana?"


"Yaah gitulah, cuman nyopir!" bu Lela sedikit merendah.


"Haah..sopir?" betapa terkejutnya Elda saat mendengar profesi dari laki-laki yang pernah di kaguminya itu, namun tiba-tiba bu Mirna menindih ucapan Elda.


"Iya, sopir pesawat"


"Ough...kirain" tutur Elda sambil menghembuskan nafas leganya.


"Dulu waktu mamah pertama ngejenguk kamu di Newyork, pesawat yang mamah naikin di captain-nin sama nak Qiyas"


"Masa sih, bagaimana mamah bisa tau kalo itu mas Qiyas, jangan-jangan orang lain lagi"


"Gimana mamah gak ingat muka dia, di dalem kamar kamu kan banyak tuh tempelan poster-poster nak Qiyas, asal ada wajah nak Qiyas aja semuanya di koleksi"


"Hiiissh...mamah malu ah"


"Hahaaha!" seketika itu bu Mirna dan bu Lela kompak melepaskan tawanya, saat menyaksikan Elda yang sudah sedewasa itu tiba-tiba berulah gemash dihadapan mereka.


"Eh, ternyata anak kamu tuh aslinya cakep ya jeng?"

__ADS_1


"Hum..biasa aja kok jeng"


"Halaah, aku aja yang udah tua gini pangling liatnya apa lagi yang seumuran dia ya, umm bay the way isteri nak Qiyas kerja dimana?"


"Yaah itu dia, isterinya tuh gak kerja cuman ibu rumah tangga aja"


"Ya ampun sayang yah, sekolah tinggi-tinggi cuman jadi ibu rumah tangga, ya tapi gak apa-apa sih nak Qiyas kan sanggup ngehidupin dia"


"Sekolah tinggi-tinggi dari mana? dia itu cuman lulusan SMA, dinikahin paksa sama anak saya"


"Lah...kenapa bisa begitu jeng?"


"Ya itulah...gara-gara suami saya, sibuk ngejodohin anak, eh ujung-ujungnya sekarang mereka udah pisah ranjang"


"Ya allah...kasian nak Qiyas yah jeng!"


"Terus, mereka udah punya rencana buat cerai?" Lanjut bu Mirna dengan tatapan cukup serius ia mendengarkan curhatan sahabatnya itu.


"Yah kalo udah pisah ranjang begitu sudah pastilah ujung-ujungnya mereka akan bercerai"


"Wah..berarti Elda masih punya kesempatan dong"


"Hmmm...?" bu Lela bererang, sejauh ini ia belum mengerti maksud dari bu Mirna.


"Iya, kesempatan buat jadi mantu"


"Emangnya Elda mau, kalo nanti nikah ama duda?" pun seketika itu Elda menganggukan kepalanya seraya mengiyakan pertanyaan bu Lela yang sudah dinanti-nantinya itu.


*****


"Pah...lagi ngapain?" cetuhnya nyengingiran seorang diri, terlihat juga ada beberapa parsel belanjaan yang di bawanya.


"Biasa mah, lagi ngerampungin laporan"


"Ow..." ia kemudian duduk di hadapan suaminya, sambil sesekali ia membuka sampul beberapa dokumen yang sudah tersusun rapih di atas meja, seraya membaca beberapa kalimat yang di dokumen tersebut, sekilas pak Fahri kebingungan melihat tingkah isterinya yang agak aneh seperti orang yang tengah berbunga-bunga.


"Mamah kenapa sih, senyum-senyum gak jelas kek begitu"


"Gak kenapa-napa, mamah cuman lagi bahagia aja"


"Baguslah kalo mamah lagi bahagia, memangnya mamah habis darimana?"


"Umm...habis ketemu ama temen lama?"


"Temen lama? siapa?"


"Mira" seketika itu ekspresi pak Fahri langsung berubah menjadi datar, bagaimana tidak Mira yang diketahui sebagai sahabat isterinya itu pernah menjalin hubungan gelap dengan salah satu pegawai hotel yang sudah memiliki isteri dan 3 orang anak, setelah hubungan gelap itu terbongkar Mira kabur ke semarang hingga bepuluh-puluh tahun ia tak menjejakkan kakinya di kota ini lagi, tapi sekarang ia menganggap lupa kejadian itu sampai-sampai ia menyicil seuntai nyali untuk kembali lagi ke kota ini.


"Kenapa?"


"Jangan sering-sering ketemu sama dia"


"Lah...kenapa papah ngelarang mamah untuk ketemu ama dia?"


"Bukannya papah ngelarang, cuman jangan terus-terusan ketemu sama teman lama kamu itu"

__ADS_1


"Memangnya kenapa sih pah?"


"Mamah gak bisa berkaca dari pengalaman masa lalunya?"


"Semua orang bisa berubah pah!"


"Mah..." melihat sorotan mata pak Fahri, kini bu Lela mulai kehilangan moodnya.


"Papah kenapa sih, ini salah itu salah, pokoknya apa yang mamah lakuin semuanya serba salah, mamah gak ngerti deh dengan jalan fikiran papah"


Setelah puas menggerutu di hadapan suaminya, pun bu Lela segera beranjak keluar dari situ, saking kesalnya ia berjalan menuju kamar dengan menghentak-hentakan high healsnya, dari meja kerjanya pak Fahri hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kekesalan isterinya itu, hingga tiba di kamar bu Lela segera melempar dengan keras parsel belanjaanya itu di atas tempat tidur, sejenak ia terduduk sembari meredam emosinya yang tengah memuncak di kepalanya saat ini.


Selang beberapa waktu bu Lela yang masih bertemankan kegabutan, pun terlintas di fikirannya untuk menghubungi putra semata wayangnya itu, saat memikirkan Qiyas sang mamah mulai tersenyum semringah lagi dibuatnya.


"Halo mah?"


"Halo...Nuge lagi apa?"


"Lagi nonton mah, mamah lagi apa?"


"Gitulah...mamah masih kesal sama papah kamu" ujarnya dengan wajah yang mulai cemberut.


"Kesal? kesal kenapa?"


"Entahlah papah kamu tuh, akhir-akhir ini apa


yang mamah lakuin selalu aja salah, bikin tensi mamah makin meninggi aja"


"Udah...kalo masalah kek gitu gak usah dipikirin, ingat kesehatan mamah"


"Iya Nuge, kamu juga harus jaga kesehatan diasana, ow yah Nuge, ngomong-ngomong sejak kapan Nuge pisah ranjang ama Salwa? Nuge kok gak cerita-cerita sih sama mamah"


"Haaah?" sontak Qiyas terkejut mendengar pertanyaan mamahnya barusan, dengan terbata-bata ia kembali melontarkan pertanyaan.


"Ma...maksud mamah?"


"Lah...kok nanya maksud mamah, seharusnya mamah yang nanya maksud Nuge apa nidurin Salwa di kamar tamu, kalau bukan alasan pisah ranjang?"


"Terus papah tau masalah ini?"


"Ya taulah, orang kemaren mamah sama papah yang ngejenguk Salwa di rumah"


Seketika itu Qiyas hanya bisa menelan ludah dengan wajah yang tanpa ekspresi, kali ini Qiyas benar-benar tak punya nyali jika harus membayangkan bagaimana reaksi pak Fahri saat bertemu langsung dengannya, ia kemudian terduduk lemas di sofa, sembari berpikir keras alasan apa yang akan ia layangkan pada sang papah nantinya, mendengar Qiyas yang tak kunjung bersuara bu Lela kembali memecah keheningan itu dengan memperkenalkan sosok Elda yang baru saja di temuinya itu.


"Kalo mamah sih, setuju-setuju aja Nuge pisah sama Salwa, lagian juga mamah udah ketemu calon yang cocok buat Nuge, namanya Elda anak kawan lama mamah dulu, orangnya cantik, pinter, terus keliatan berwibawa, gimana Nuge suka gak? nanti kalo ada waktu mama akan nyusun rencana biar kalian bisa ketemu"


Nuge yang tak menyimak pembicaraan mamahnya, pun semakin mematik tanda tanya di benak bu Lela.


"Halo Nuge? kamu denger mamah gak?"


"Aam..mah nanti Nuge telpon lagi ya!" tuturnya sedikit terburu-buru.


"Nuge..halo Nuge..Nuge, yaaah nih anak kenapa sih, langsung maen matiin telpon aja"


*To be Continue

__ADS_1


__ADS_2