
*Kedatangan Umi
"Assalamualaikum!" terdengar suara wanita yang memberikan salam dari pintu depan, entah siapa yang bertamu siang-siang bolong seperti ini.
"Wa'alaikumussalam!" ucapku berjalan menghampiri, sembari membukakan pintu.
"Umi!" seketika ku peluk erat tubuh umi, rasanya tak terukur lagi betapa girangnya aku saat melihat sosok umi yang tiba-tiba mengunjungiku, tanpa berkabar telebih dahulu.
"Umi! ya allah aku kangen banget sama umi" pungkasku lagi, yang tak habis-habisnya dengan kegiranganku saat ini.
"Umi juga rindu sama kamu nak!" balasnya
"Haduuh! Umi kok repot-repot sampe kesini segala, harusnya Salwa yang mengunjungi Umi!" ujarku pelan sembari menggiring umi masuk ke dalam rumah.
"Gak apa-apa lagian Umi kesini juga sekalian mau lihat rumah kalian!"
"Hehe! ouw ya abi gimana kabarnya Umi?"
"Abi alhamdulillah sehat! nih nak Qiyas mana?"
"Ahm! mas Qiyas lagi fly umi"
"Ouw! Umi kesini mau nginap beberapa malam, sekalian Umi mau minta tolong sama Salwa!" ujarnya cukup bersemangat, seketika aku yang mendengarnya mulai panik.
Entahlah akan aku tidurkan Umi dikamar yang mana, dirumah ini hanya tersedia tiga kamar saja dan semua kamar itu sudah bertuan, dalam keadaan semepet ini sudah pasti umi akan tidur dikamarku, sangat jelas didepan pintu kamar itu tergantung sebuah label bertuliskan "kamar tamu" rasanya otak dan hatiku sudah tak sejalan lagi, pikiran jernihku saat ini tengah di kabuti oleh rasa panik yang bertubi-tubi, aku sangat takut kalau Umi sampai tau sandiwara pernikahanku dengan mas Qiyas.
"Te..terus abi gimana?" tanyaku yang mulai gelagapan.
"Abi kamu udah ngizinin kok Umi kesini, katanya sih abi bisa ngurus diri sendiri, hehe!"
"Ahm! iya Umi mau minum apa? biar salwa buatin ya?" terus saja omonganku terdengar kaku, mungkin dua dari 1000 manusia yang paling sulit bersandiwara dihadapan orang lain, salah satunya adalah aku.
"Iya, iya air putih aja Nak! kebetulan Umi haus"
"Ya udah Umi tunggu sini bentar ya?"
akupun melangkah terburu-buru menghampiri bi lijah yang ada di dapur, aku makin naik pitam saja saat mendapatinya sedang mengucek pakaian kotor mas Qiyas, sedari tadi tak ada selesai-selesainya ia mengurusi pakaian kotor itu.
"Bi, belum selesai juga nyucinya?" tegasku.
"Hehe! belum non, bibi emang kalo nyuci rada lambat"
"Huuftt! bi, mas Qiyas nitip kunci gak sama bibi?"
"Kunci? kunci apa non?"
"Kunci apa aja" kini suaraku terdengar sedikit membentak bi lijah.
"Gak ada non"
"Duuh! gimana nih" seketika ku coba tenangkan fikiran gabut ini, sambil memikir solusi lain.
"Bi? udah pakaiannya disimpan aja dulu"
__ADS_1
"Memangnya ada apa non?"
"Umi aku dateng, dan dia mau nginap disini, jadi aku mau minta tolong sama bibi, tolong pindahin semua barang-barang aku yang ada dikamar tamu, untuk sementara simpan aja dulu di kamar bibi, ok?"
"Ow gitu, iya baik non!"
Strategi sudah dirancang sebaik mungkin, segera saja ku antarkan segelas air putih untuk Umi, namun langkahku terhenti tiba-tiba, saat melihat umi yang tengah berdiri menatap foto pernikahanku dan beberapa foto mas Qiyas bersama keluarganya.
"Eheem! Umi, ini air putihnya" kejutku seketika.
"Iya, iya Nak!"
"Ahm, Umi? kita ke belakang yuk, Salwa udah nyiapin makan siang untuk Umi" ku coba alihkan perhatian Umi, dengan segera kurangkul tangannya menuju dapur, sembari berbalas kode pada bi lijah.
"Waduuh! Kamu kok repot-repot sih nak"
"Gak repot kok Umi!"
*****
"Um, enak banget! ini kamu yang masak Nak?" ku balas pertanyaan umi dengan anggukan kepala.
"Ouw ya, tadi Umi mau minta tolong apa?"
"Astaghfirullah! Umi sampe lupa, ini Umi mau minta tolong Salwa, bantuin umi membuat desain kemasan cake!"
"Kemasan cake?" tanyaku sangat heran
"Temen aku?"
"Iya temen kamu, udah cakep baik lagi"
"Temen aku itu siapa namanya Umi? terus kerja sama gimana maksud Umi?"
"Namanya..." aku yang sudah tak sabar menunggu jawaban Umi sambil kutatap ekspresi Umi yang terus mengingat-ngingat nama orang itu.
"Waduh! Umi lupa namanya, Intinya dia yang modalin Umi dagang cake hasilnya nanti di bagi dua ow ya minggu depan toko cake Umi udah mau diresmikan"
"Berapa modal yang dia kasih ke Umi?"
"50 juta, kalo bangunan toko di kasih gratis ama dia"
"Haah! sebanyak itu? terus uang itu Umi udah pake semuanya?"
"Masih ada setengahnya"
"Bentar, bentar Umi udah sejauh ini Umi gak pernah cerita ke aku?"
"Itulah Nak! Umi lupa, akhir-akhir ini Umi terlalu sibuk buat ngurusin persiapan semuanya"
"Umi! Kalau semua itu penipuan gimana?"
"Duh! Kamu kok ngoming kek begitu sih, buat Umi takut aja, tapi gak mungkin lah Nak, Umi yakin dia itu orang yang baik"
__ADS_1
"Umi! zaman sekarang tuh orang bisa ngelakuin apa aja, kita gak boleh gitu aja mudah percaya sama orang lain, udah Umi gak tau siapa namanya, jangan-jangan dia sengaja dateng ke Umi ngaku-ngaku sebagai temen aku, biar Umi bisa termakan semua omongannya"
"Udahlah Nak! kita berkhusnuzon saja sama allah, mudah-mudahan dia memang orang yang baik!"
"Umi? uang 50 juta itu gede loh Umi, kalo ternyata semua itu penipuan, kita mau nyari gantinya kek gimana Umi, mana Salwa udah gak kerja"
"Salwa! percaya sama Umi" dengan tenang Umi menggenggam ke dua telapak tanganku.
Wajah Umi yang terlihat serius itu, tetap saja tak mampu menguburkan rasa khawatir ini, aku hampir trauma jika harus berhubungan lagi dengan masalah utang-piutang.
*****
"Umi tidur disini ya!" dengan hati yang tergelut rasa was-was, ku tatihkan langkah ini menuju kamar tamu, umi yang berjalan di belakangku terlihat sesekali memerhatikan sudut kamar ini dengan senyuman lebar.
"Bagus yah rumah ini, kamarnya juga bikin nyaman" pujian Umi hanya mampu ku tepis dengan senyuman kecil.
"Ahm! tas Umi aku taroh disini ya"
"iya Nak!"
Saat aku akan melangkah keluar, tiba-tiba terdengar suara Umi.
"Salwa kesini Nak!"
"Ada apa Umi?"
"Ini sebenarnya kamar siapa?" pertanyaan Umi kali ini semakin menguatkan denyut jantungku, entah hal apa yang tiba-tiba membuat umi sampai bertanya seperti itu.
"Kamar tamu Umi, memangnya ada apa?"
"Kamar tamu tapi kok ada pakaian kamu disini?"
"Waduuh! kok bisa sih bi lijah sampai teledor gak mengambil semua pakaian-pakaian ini, apa yang harus aku katakan sama Umi, duuh!" gumamku sangat kesal
"Nih! sepatu-sepatu kamu" uajarnya lagi sembari mengeluarkan beberapa sepatu itu yang sudah ku susun rapih sebelumnya.
"Aaam! sebenarnya kamar ini tuh cadangan aja Umi!"
"Kamar cadangan gimana, semua barang-barang kamu ada disini kok"
"Umi, gak semuanya kok, sebagian barang-barang aku tuh dikamar mas Qiyas!"
"Kamar mas Qiyas?" Umi mengulangi perkataanku, yang mungkin saja terdengar sedikit mengganjal dipikirannya.
"Aam, maksudnya kamar aku dan mas Qiyas, ini kan rumah mas Qiyas"
"Kalian baik-baik aja kan?"
"Iya Umi, kami baik-baik aja kok, jadi gini Umi, sengaja Salwa nyimpan sebagian barang-barang Salwa disini, karena emang Salwa suka banget sama suasana kamar ini, bahkan Salwa sering menghabiskan waktu di kamar ini kok Umi" jelas ku, tak meyakinkan.
Aku mulai kehabisan ide untuk membentuk setiap moment semu dari drama sandiwara ini, ditambah lagi ekspresi Umi yang hanya mengangguk atas penjelasanku itu, semakin membuatku bertanya-tanya mungkinkah Umi benar-benar percaya atas ucapan ku barusan, atau hanya sekedar berpura-pura untuk percaya.
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗
__ADS_1