
*Sebuah Party
Hari ini Qiyas pulang ke rumah lebih awal dari biasanya, saat ia masuk ke dalam rumah seperti biasa, terlihat suasana rumah begitu sepi, ia langsung menuju ke dapur mungkin hanya ingin sekedar memastikan apakah permintaannya terkait 18 menu makanan sudah tersajikan atau belum sama sekali, namun ia hanya mendapati bi Lijah yang tengah membersihkan kitchen set seorang diri.
"Bi, loh kok bi Lijah sih yang ngerjain semua ini? Salwa mana?" ucapnya mulai terdengar kesal.
"Aah..tuan! non salwa baru saja istirahat, kasian non Salwa pasti kecapean seharian ini memasak semua makanan ini, kalo bibi mah cuma bantu apa yang bisa bibi bantu aja tuan" ucap bi Lijah sedikit menjelaskan kondisi yang sebenarnya.
Merasa percaya dengan penjelasan bi Lijah, mas Qiyaspun meneruskan langkahnya ke kamar, namun ia tertegun seketika saat melihat ruang TV yang sudah tertata rapih dengan terdapat beberapa wadah prasmanan disekitarnya, perlahan ia mulai menghampiri lalu membuka satu per satu tutup wadah tersebut yang didalamnya berisi 15 menu makanan yang sudah disajikan sesuai dengan keinginannya.
Saat ia menoleh ke sebelah kiri, terdapat sebuah meja bulat berukuran mini yang diatasnya sudah tersusun cantik tiga jenis cake yang sangat di sayangkan jika nantinya cakes itu harus dipotong dan dimakan hingga berubah bentuk menjadi tak beraturan, alangkah uniknya bila cakes itu hanya untuk dijadikan pajangan semata meski tidak mengenyangkan perut namun dapat mengenyangkan mata bagi siapa saja yang melihatnya, Qiyas lalu terdiam seketika kali ini hatinya seakan berbicara bahwa Salwa memang layak untuk menerima ucapan terimakasih meski kenyataannya nanti mulutnya mungkin tidak akan mampu mengutarakan hal itu.
Alih-alih Qiyas akan kembali ke kamarnya yang ada malah ia berbalik arah menuju kamar tamu, secara perlahan ia kemudian membuka pintu kamar itu, hanya dengan secelah pintu dari kejauhan ia memandangi Salwa yang tengah terlelap tanpa mengenakan hijab dikepalanya, betapa terkejutnya Qiyas saat pertama kali melihat seluruh kepala dan wajah isterinya itu tanpa balutan hijab, meski dalam keadaan tertidur Salwa tetap saja terlihat cantik plus imut "Plus imutnya itu pake banget sampai-sampai author sendiri sulit menjelaskan tingginya kadar kecantikan Salwa hehe" Qiyas yang tak ada bosan-bosannya memandangi wajah Salwa sampai-samapai ia tak sadar kalau sudah cukup lama ia mematung disitu.
"Aaam, tuan" seketika bi Lijah bersuara dari belakang, Qiyas yang begitu terkejut mendengar sapaan bi Lijah, langsubg saja menarik nafas dalam dan memejamkan matanya sekejap, hingga tubuhnya mulai stabil iapun mulai bersuara pada bi Lijah.
"Iya ada apa bi?"
__ADS_1
"Air hangatnya sudah siap tuan"
"Handuk saya?"
"Handuk tuan juga udah bibi simpan di kamar mandi tuan"
"Ok bi, saya kesana sekarang" ujarnya sembari berlalu meninggalkan bi Lijah yang masih berdiri didepan kamar, bi Lijah yang sempat menyaksikan Qiyas berdiri didepan pintu tadi, sejenak ia mulai berfikir entah apa yang hendak dilakukan majikan lelakinya itu disini, karena selama pernikahan mereka baru sekali Qiyas menjajakan kakinya dikamar itu, apatah lagi hanya untuk melongo dan membuang-buang banyak waktu di depan pintu, sepertinya bukan banget tipe seorang Qiyas Fathir Anugerah.
*****
Setelah sholat maghrib kulihat mas Qiyas yang duduk di ruang tamu, tengah sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, terlihat juga ada beberapa tumpukan dokumen bersampulkan warna biru diatas meja, saat ini aku berniat untuk menemaninya namun sebelum itu kubuatkan dulu segelas teh untuknya.
"Kamu lagi ngapain sih? Mau aku bantuin gak?" ucapku lagi sedikit memberikan perhatian padanya, namun lagi-lagi ia sama sekali tidak menyisakan celah untuku meski hanya sekedar bilang "Iya silahkan" atau bahkan sekalipun hanya anggukan kepala saja sudah membuatku sedikit merasa bahagia.
"Aam sebenarnya makanan sebanyak itu tuh untuk apa sih? Atau kamu memang ada hajatan?" tanyaku lagi dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Untuk tamu spesial" jawabnya cukup singkat,
__ADS_1
"Haa? Tamu spesial?" gumamku dalam hati, namun pembicaraan kita berhenti sampai disini, tak ingin lagi kulanjutkan pembahasan itu kalau ujung-ujungnya nanti, aku lagi yang merasakan sakit hati.
Saking penasarannya, ku coba intip dari kejauhan keterangan sampul yang masih sulit ku baca dari dokumen itu, sesekali ku kecilkan ke dua bola mataku, terkadang kulebarkan lagi agar bisa kubaca tulisan dari sampul dokumen itu, hingga akhirnya terjawab sudah rasa penasaran ini, dokumen itu ternyata rekam medik dari beberapa pasien di rumah sakit tepat diamana suster Kiran bekerja, mengetahui hal itu serasa aku hampir kehabisan tenaga untuk bernafas.
"Trinding..!" seketika itu terdengar bunyi bel pintu dari depan sana, akupun mulai segera terperanjat dan membukakan pintu.
Secara perlahan ku buka pintu itu, layaknya sebuah sinetron dengan menggunakan efek slow motion betapa lambannya kubuka daun pintu dengan kedua tanganku menggenggam erat pegangannya, namun saat pintu itu terbuka ku lihat pemandangan creepy di depan mataku saat ini, hingga tanganku layu dan terjatuh menimpali ke dua sisi pahaku, bagaimana tidak saat ini terlihat delapan wanita cantik yang mengenakan dress dengan motif yang berbeda-beda layaknya mereka akan menghadiri sebuah party di hotel bintang lima, salah satu dari delapan wanita tersebut ialah suster Kiran yang mungkin saja dialah yang disebut-sebut mas Qiyas sebagai tamu spesial.
"Hai, cantik banget sih kamu, kamu pasti adiknya Nuge ya?" terdengar salah satu temannya yang mulai menyapaku dengan ramah, akupun hanya menyuguhkan senyuman seadanya saja.
"Helloo...Nuge anak bungsu kali, mana mungkin dia punya adik!" teriak salah satu dari mereka yabg tubuhnya kelihatan lebih gendut dari yang lain.
"Berarti dia ini yang pernah kamu ceritain ke kita waktu itu ya?" yang lainnya pun turut bersuara sambil menatap wajah Kiran, sekilas Kiran kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu, satu demi satu wajah mereka berubah menjadi sinis padaku, bahkan dengan sengaja mereka memonyongkan bibir ke segala sisi agar aku tau betapa bencinya mereka terhadapku, sontak ku tarik dalam nafasku yang mulai habis ini, rasanya aku hampir tak kuat jika harus berhadapan lebih lama lagi dengan mereka.
"Eh kalian kok masih berdiri disni sih? Ayo masuk ke dalem" tiba-tiba terdengar suara mas Qiyas yang datang menghampiri, saat ia berdiri tepat disampingku saat itu pula ku soroti wajahnya dengan tatapan kesalku namun sayang tak sedikitpun ia mengarahkan pandangannya ke wajahku.
"Gimana mau masuk, dari tadi juga belum disilahkan masuk sama tuan puteri" lagi-lagi wanita bertubuh gendut itu bersuara jengkel pada mas Qiyas, aku sangat hapal wanita ini, karena dari tadi dialah yang paling sering menonjolkan kebenciannya terhadapku.
__ADS_1
"Haii..Nuge, waduuh aku kangen banget sama kamu, udah lama loh kamu gak penah lagi maen-maen ke rumah sakit" teriak girang salah satu dari mereka sembari menerobos masuk ke dalem, hingga yang lainnya pun turut menerobos masuk, tanpa sungkan mas Qiyas segera memboyong mereka menuju ruang TV, tak lama kemudian merekapun mulai tertawa terbahak-bahak, berteriak sesuka hati, bahkan beberapa dari mereka juga terlihat berani memasuki beberapa ruangan yang seharusnya tidak boleh mereka masuki, aku hanya terdiam disini sambil berguman "betapa kesalnya aku melihat tingkah mereka"