
*Dada yang berdebar-debar
Saat ini di ruang kerja Umi, terlihat salwa yang tengah menyelesaikan beberapa ketikan laporan kerja yang ada di meja, selang beberapa menit Umipun menghampirinya dengan membawa segelas teh Umi lalu duduk berhadapan dengan Salwa seraya menyuguhkan teh tersebut untuknya.
"Nih, minum dulu nak"
"Eh, iya Umi makasih"
"Umi yang makasih, karena Salwa udah mau repot-repot bantuin pekerjaan Umi"
"Gak repot kok Umi" Salwa menatap Umi sembari tersenyum kecil, lalu iapun segera melanjutkan ketikannya.
"Gimana nak Qiyas? dia tidak marahkan kalo Salwa pulang agak telat?"
"Gak kok Umi, tadi juga Salwa udah izin sama dia"
"Ya iya seharusnya dia tidak boleh marah, ngapain dia mau marah, orang Salwa kesini kan buat kerja, bukan mau nemuin laki-laki lain, pegang-pegangan tangan, atau apalah..." tiba-tiba Salwa menindih.
"Umi..."
Ungkapan Umi barusan, Cukup membuat Salwa menghela nafas, ia tau saat ini Umi tengah menyindir sikap suaminya bersama kiran beberapa hari lalu yang sempat tertangkap mata olehnya, di sebelahnya Umi turut menyadari tidak seharusnya ia berbicara seperti itu di depan Salwa, hingga dengan acap Umi langsung mengganti topik pembicaraan.
"Emm...kemaren Umi jenguk Hilwa" tutur Umi ragu-ragu.
"Ow ya? Gimana keadaan kak Hilwa sekarang Umi?"
"Alhamdulillah, kata dokter sekarang kondisi Hilwa sudah mulai ada perkembangan" sontak Salwa menghentikan aktivitasnya, ia terpaku menatap layar komputer, pikirannya tengah berkecamuk di dalam sana, entahlah mendengar kabar itu ia tak tahu harus berekpresi bagaimana, yang ada dipikirannya saat ini, itulah garis finis dari perjuangannya untuk mempertahankan tembok rumah tangganya yang sudah retak sejak awal.
"Kemaren aja waktu Umi manggil namanya, Tau gak apa yang terjadi dengan Hilwa?" tambah Umi sangat excited, sementara Salwa hampir tak bisa menyimak semua ucapan Umi, iya hanya berusaha berespon dan berpura-pura turut penasaran dengan apa yang tengah diceritakan Uminya.
"Apa yang terjadi Umi?"
"Dia sudah bisa berespon dengan menggerak-gerakkan jari telunjuknya, Umi gak nyangka Allah mulai mengabulkan do'a-do'a Umi"
"Terimakasih ya Allah, syukur Alhamdulillah..." ketika Umi akan mengusap wajah seraya meng-Amini ucapannya, tiba-tiba ia terhenti, saat menyadari Salwa yang tak menunjukkan reaksi apa-apa.
"Nak kamu kenapa?"
"Hah?"
"Kamu kecapean?"
"Gak kok Umi, gak ada apa-apa"
*****
Tepat pukul 22.00 WIB, suasana di dalam toko cake SALIEF sudah terlihat sepi, hanya tersorot beberapa petugas kebersihan dan para pelayan yang tengah berbenah-benah meja, berhubung jam kerja hampir usai, satpam yang berjaga di luar mulai menurunkan setengah roling door di beberapa sudut toko.
Tidak lama kemudian mobil Qiyas mulai menepih di area parkiran, melihat sorotan cahaya mobil yang menepih itu, seorang staf yang bertugas untuk menyambut tamu segera berlari ke arah pintu masuk, saat melihat Qiyas ia lalu tersenyum dan memberikan sambutan hangat pada captain pesawat tersebut yang ia fikir adalah seorang pelanggan.
"Selamat datang pak! maaf sekali toko kami sudah tutup datang lagi besok ya pak, toko kami buka dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam pak" tuturnya dengan sopan.
"Iya saya tau, saya cuman mau jemput isteri saya" sahut Qiyas sedikit dingin.
__ADS_1
"Ow isteri bapak, tunggu sebentar ya pak saya konfirmasi dulu"
Saat staf itu berlalu, Qiyas masih saja menegun di depan pintu, seraya mengarahkan pandangannya kemana-mana, hingga tak lama kemudian, pun staf tadi datang dan mengonfirmasi kembali padanya.
"Ow iya pak silahkan..." Qiyas mengangguk iya lalu bergegas masuk ke dalam.
Meski toko ini di Direkturi oleh mertua sendiri namun tetap saja Qiyas selalu menunjukkan sikap sungkan dan patuhnya atas segala prosedur yang berlaku layaknya para pelanggan lain, karena faktanya memang Qiyas tau bagaimana caranya menamu dan bersikap seharusnya, ditempat yang bukan ranahnya, terlebih lagi ketika ia menegap di gedung 3 lantai ini yang jelas-jelas ia tau Owner dari toko roti tersebut ialah Arief.
Di sela-sela tatihan langkah kaki, Qiyas mulai menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang tengah mengintainya saat ini, namun ia mecoba untuk mengabaikan wajah-wajah itu dengan terus berjalan menuju kursi tunggu sembari pandangannya mencari-cari keberadaan Salwa.
"Eeh..eh siapa tuh?" tanya salah satu pelayan yang tengah menyeka-nyeka meja pelanggan kala itu, bukan hal yang lazim jika sebagian besar para pekerja disini tak mengenalinya, hal ini dikarenakan Qiyas yang jarang sekali menyambangi toko cake Umi.
"Gak tau, aku juga baru liat" sahut pelayan lainnya, sementara disebelahnya tampak Riri seorang pelayan yg umurnya paling muda disitu, yang juga turut penasaran atas obrolan mereka.
"Mana?"
"Itu..." pelayan tersebut menunjuk ke arah Qiyas.
"Ih..sumpah cakep banget" Riri menjinjit gemes.
Tiba-tiba bu Eva yang ditunjuk sebagai kepala pelayan, datang mengejutkan mereka, untung saja ia belum sempat menyimak apa yang tengah di bicarakan oleh pelayan-pelayan muda itu.
"Eh..eh ini pada ngomongin apa sih ini, pake acara bergerumbul segala"
"Eh bu Eva, hehe" jawab Riri nyengingiran.
"Biasalah bu obrolan anak muda" tambah pelayan lainnya.
"Udah, kerja...kerja...kerja, biar cepet beres pekerjaan kita, biat cepet juga kita pulangnya"
*****
Beberapa menit sudah terlewati, tak sengaja pandangan bu Eva kini mengarah ke tubuh Qiyas yang saat ini tengah duduk seorang diri di kursi tunggu, merasa kenal dengan pria tampan tersebut, bu Eva pun bergegas untuk menghampirinya.
"Gak apa-apa bapak masuk aja, ibu Salwanya ada kok di dalem" tandas bu Eva sedikit mengejutkan Qiyas.
"Gak apa-apa saya tunggu saja sampai dia keluar"
"Atau mau saya panggilin?"
"Gak usah, saya tunggu aja"
"Tapikan kasian bapak nunggunya disini, mending masuk aja ke dalem pak"
"Gak apa-apa, gak apa-apa" kali ini Qiyas mulai menampilkan sikap tak nyamanmya pada bu Eva.
Wajar saja karena faktanya disini cuman bu Eva yang mengenali Qiyas, sebaliknya ia malah tak mengenali siapa wanita paruh baya yang tengah menyapanya ini, padahal maksud bu Eva sangat ibah karena sejak tadi ia memerhatikan Qiyas cukup lama berada disitu seorang diri.
"Ow...kalau gitu bapak mau minum apa? biar saya buatkan" tambah pelayan tersebut.
"Gak usah, saya tadi habis ngopi juga di rumah"
Merasa memang ia tak membutuhkan apa-apa bu Eava pun segera berbalik badan mengambil tas dan minumannya yang ia simpan di atas meja lalu bergegas keluar dari toko.
__ADS_1
Satu demi satu para pegawai mulai bergegas meninggalkan toko, Qiyas sendiri juga kelihatanya mulai gelisah, sesekali ia hanya bisa menatap ragu pemandangan tersebut dari tempat duduknya, kali ini matanya tak bisa berbohong, ada rasa sedikit was-was untuk menghabiskan banyak waktu lagi disitu, apalagi sekarang ia benar-benar sendiri, rasanya ia ingin meneriaki salah satu pelayan yang baru saja meninggalkan toko namun egonya seolah berkata "Kamu gak butuh siapa-siapa, kamu adalah orang hebat dan kuat"
Tidak lama kemudian Qiyas terperanjat lalu berjalan beberapa langkah menuju sebuah lorong yang tadi ditunjuk oleh bu Eva, Qiyas mematung cukup lama, namun lorong itu masih saja terlihat sepi, yang ia tahu lorong itu ialah pintu masuk menuju kantor, tatapannya terus menyoroti jejeran lentera hias yang menempel di dinding lorong tersebut, cahaya remang-remang dari lentera itu membuat fikiran Qiyas berhenti beberapa detik, hingga ia mulai terkejut sendiri saat mendengar samar-samar suara percakapan beberapa orang.
"Haha ada-ada aja kamu Wa!" terdengar suara Arief.
"Iya aku tuh takut banget sama kelinci, tanya Umi kalo gak percaya" Sahut Salwa.
Mendengar suara Salwa, Qiyas segera berlari kearah kursi tunggu, dengan buru-buru ia segera duduk lalu memasang penampilan coolnya, agar tak ada rasa curiga di benak Salwa, kalau ia baru saja mengintai di lorong tersebut.
"Bener Umi haha?" lagi-lagi Arief terdengar makin meledek Salwa, obrolan mereka kini semakin jelas terdengar menggema di sekitar lorong.
"Iya, soalnya dulu Hilwa pernah digigit sama kelincinya Abi, eh herannya Hilwa yang digigit kok malah dia yang nangis"
"Ow gitu Umi haha?"
"Iya, jadi mulai dari situ tuh dia gak suka sama kelinci" tambah Umi menceritakan kronologi kejadian itu sembari menahan tawanya yang hampir meluap.
"Hahaha..." terus saja Arief tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai ia terpaksa harus memegang perutnya yang mulai kesakitan.
Saat mereka bertiga keluar dari lorong, dengan segera Qiyas mulai menghampiri, namun ketiganya masih belum menyadari kehadiran Qiyas disitu, hingga tak sengaja Salwa berbalik badan hanya sekedar iseng melihat kearah sekeliling namun ternyata ia melihat Qiyas yang tengah berjalan menuju ke arahnya.
"Mas?" Salwa menyapa kaget, disebelahnya terlihat Umi yang juga langsung menatap Qiyas namun ia tak mengucapkan apa-apa.
Arief yang hampir menapaki anak tangga basement kini harus berbalik badan setelah mendengar sapaan Salwa barusan, saat tau kehadiran Qiyas, Arief hanya bisa tertegun beberapa detik lalu tersenyum kilas namun kali ini ia terlihat sedikit berbeda, persis dengan Umi Arief sama sekali tak menyapa Qiyas seperti biasa, melainkan langsung berpamitan pulang lebih dulu pada Umi dan Salwa.
"Ahm..Umi, Salwa, aku pamit ya"
"Iya nak Arief...hati-hati ya"
"Iya Rief, kamu hati-hati ya?" Arief mengangguk sembari menatap Qiyas penuh maksud.
"Umi..." Qiyas menyapa sedikit ragu-ragu, ia kemudian berjalan mendekati Umi, seperti biasa Qiyaspun langsung mencium punggung tangan Umi sembari bertanya kabar namun ia hanya mendapati jawaban datar dari sang mertua, sejalan dengan ekspresi wanita paruh baya itu yang terlihat sedikit berbeda, seolah ia tak menyukai kehadiran Qiyas disini.
"Ahm...Umi aku anter yah?" ajak Qiyas sedikit mengambil hati, dengan cepat Umi segera menghindar lalu bersuara yang terdengar sedikit menyindir menurut Qiyas.
"Gak usah Umi ada sopir kok"
Qiyas yang mulai mengerti dengan sikap mertuanya itu, hanya bisa terdiam lalu menarik nafas dalam untuk menenangkan hatinya, pun Salwa yang turut menyadari sikap Umi sedikit merasa tak enak pada Qiyas, dengan ragu-ragu ia sedikit mendongak ke arah Qiyas seketika itu jantungnya langsung menguncup hebat karena baru kali ini ia melihat wajah Qiyas sesedih itu.
"Ya sudah, Salwa Umi pamit yah?" tuturnya seraya bergegas masuk ke dalam mobil.
"Iya Umi, Umi hati-hati ya?" dengan senyuman Salwa lalu melambai pada Umi, pun Umi membalas dengan senyuman.
Tak beberapa lama ia kemudian mendongak lagi ke arah Qiyas namun ia masih mendapati tampilan wajah yang sama, Salwa lalu bergegas mendekati Qiyas, tepat di samping suaminya itu ia berdiri tanpa ragu lalu memulai dengan menarik napas yang sangat dalam ia kemudian meraih tangan Qiyas lalu menggenggamnya dengan erat, Qiyas yang cukup terkejut saat itu langsung mengarahkan pandangannya kebawah, tepat dimana tangan Salwa yang tengah menggenggam erat telapak tangannya saat ini.
Dengan mode slow motion, tatapan Qiyas perlahan-lahan kini mulai menyoroti wajah Salwa yang tengah menyuguhkan senyuman lebar di hadapannya, empat pasang mata yang saat ini saling menatap cukup membuat dada Qiyas sedikit berdebar-debar, hingga dengan cepat Qiyas langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
"Yuk..." ajak Salwa di sebelahnya, namun Qiyas masih menegun seraya menanyakan perihal sikap Umi yang menurutnya agak berbeda.
"Umi kenapa?"
"Umi? Umi gak kenapa-napa kok"
__ADS_1
"Kelihatannya Umi kek marah sama aku" Qiyas menutur sangat datar.