
*18 Menu Makanan
"'Shodaqallahul adzim!" perlahan ku tutup dengan rapat kitabullah ini, sembari kucium permukaannya yang masih menyisahkan bau kapur barus yang sering digunakan Umi saat dirumah dulu, akupun tersenyum kilas mengingat masa-masa kecilku dulu bersama Umi, entah kenapa setelah membaca al-qur'an aku merasakan kedamaian dalam hati dan fikiranku.
"Non, maaf ganggu" tiba-tiba bi Lijah bersuara dari depan pintu, ia cukup segan untuk melangkah masuk kedalam, pun aku yang masih dengan mengenakan mukenah mulai terperanjat dan berjalan sedikit terburu-buru menghampirinya.
"Iya ada apa bi?" tanyaku dengan pelan.
"Bibi cuman mau ngasih tau, tuh tuan Qiyas baru aja pulang, tapi diparkiran tadi bibi sempat liat ada cewek yang nganterin tuan Qiyas, udah gitu mereka juga cipika-cipiki non!"
"Huum...ya udah bi, makasih ya!"
Tak berlama-lama lagi, segera saja ku letakan al-qur'anku diatas lemari, lalu ku coba kuatkan hati ini dengan mengucap istighfar berkali-kali, setelah itu akupun keluar dari kamar untuk menemui mas Qiyas yang tengah melepas sepatunya di depan pintu.
"Kamu dari mana aja kok baru pulang? Udah sholat maghrib belum?" ia hanya fokus melepas kaos kakinya tanpa sepatah jawaban untuk menanggapi pertanyaanku barusan.
"Tadi mama sama kak Bela ke sini loh, mamah juga nanyain kamu cuman aku bilang ke mamah aku gak tau kamu kemana" ucapku lagi, kali ini ia mulai menengadahkan wajahnya ke arahku, setelah selesai melepas kaos kakinya ia kemudian berdiri tegap sambil terus manatapku dengan tatapan yang sinis, melihat ekspresi jengkelnya itu aku kemudian terdiam dan mengunci rapat mulutku.
Ia kemudian berjalan ke dapur, lalu membuka kulkas dan meneguk segelas air putih, secara perlahan ia melangkah ke meja makan, saat ia membuka tudung saji ia melihat hidangan boudin blanch dan stoemp yang sudah kusajikan diatas piring ceper dengan segala hiasan potongan dedaunan yang semakin menggugah selera makan, cukup lama ia terpaku menatap hidangan itu.
"Makanlah, itu aku masak untuk kamu, aku tau kok itu masakan kesukaan kamu kan?" ujarku saat menghampirinya, namun dengan cepat ia menutup kembali tudung saji itu lalu mengabaikanku dengan berjalan masuk ke kamarnya, aku hanya menghela nafas menyaksikan sikap dinginnya itu, tak kehabisan cara akupun berniat menunggunya untuk keluar kamar dan menyantap hidangan ini.
Sekitar 5 jam sudah aku tertidur pules di meja makan, kini akupun mulai terbangun dan mengusap-usap ke dua kelopak mataku sambil sesekali aku begitu kesulitan untuk membuka mata karena silau dengan cahaya lampu yang sangat benderang ini.
__ADS_1
"Haa?" ucapku sedikit terkejut saat melihat kitchen set, namun alih-alih berpindah tempat aku malah kembali terdiam dengan ke dua bola mataku yang hampir menutup lagi dan kepalaku yang mulai mengayun kekiri semakin membuatku tersadar dari rasa kantuk yang terus mengikatku saat ini.
"Astaghfirullah kok aku bisa ketiduran disini sih" gumamku lirih, ku buka lagi tudung saji yang ada didepanku saat ini, sajiannya tak ada yang berubah masih terlihat rapih seperti diawal aku menyajikannnya tadi siang, dengan wajah lusuh akupun berjalan ke kamar untuk melanjutkan tidurku yang masih ngegantung ini.
*****
Setelah menyiapkan sarapan pagi, akupun duduk sejenak sambil melihat lagi lembaran kertas yang dikasih mas Qiyas kemaren yang berisikan daftar menu yang harus ku masak malam ini.
"Duuh..dia nyuruh aku masak sebanyak ini untuk apa sih!" gumamku sambil melipat kembali kertas menu itu lalu menyimpannya ke dalam saku celanaku, tidak lama kemudian mas Qiyas pun berjalan menghampiri, pun aku yang masih menggunakan celemek memasak itu turut duduk manis menyantap sarapan pagi bersamanya.
Seperti biasa, jika Salwa dan Qiyas berada dalam satu ruangan, maka hal yang paling banyak mereka lakukan ialah diam-diaman, saking heningnya suasana akupun bisa mendengar suara hembusan nafas yang keluar dari hidungnya, hingga akhirnya akupun mulai bersuara.
"Karena semalam kamu mengabaikan syarat ke 2 maka hari ini kamu siap mendapatkan sanksi" sontak ia lalu menatapku, aku yakin ia sangat paham maksud ucapanku ini, apalagi kalau bukan soal makanan khas belgia kemaren yang tak tersentuh sedikitpun olehnya, aku yang sudah berusaha menyiapkan hidangan itu dengan susah payah namun tak ada apa-apa yang ia berikan atas kelelahanku itu, jangankan mengicipnya, bahkan hanya sekedar ucapan terimakasih aja hampir tak terlontarkan sama sekali dari mulutnya.
"Please deh..aku sedang tidak bercanda sekarang" sahutnya.
"Kamu pikir aku bercanda? dari awal kita udah sepakat kan, ada aturan ada sanksi, kalau hanya ada aturan tanpa adanya sanksi, maka salah satu diantara kita akan semenah-menah aja mengingkari aturan yang sudah kita sepakati bersama" lanjutku sedikit mempertegas.
"Ok, sekarang kamu maunya apa atas sanksi itu?"
"Kamu harus menemani aku membeli Ice cream chocholate siang ini, gak jauh kok cuman di simpang empat doang sekitar 800 meter dari sini" kali ini aku terlihat mulai bersemangat dengan senyumanku yang merekah-rekah kupandangi wajah mas Qiyas yang hanya terlihat datar itu.
"Sorry aku gak bisa, aku buru-buru sekarang, dan kemungkinan aku akan pulang nanti sore" jawabannya terdengar singkat, padat dan datar.
__ADS_1
"Aku gak peduli" akupun tetep kekeh dengan keputusanku
"Kamu pikir aku peduli?" ia menindih ucapanku dengan lantang, segera saja ia terperanjat dari tempat duduknya, ia lalu mengambil dompet dan menyedorkan uang sebesar satu juta rupiah di atas meja.
"Nih, ambil uangnya beli sendiri, so sanksi selesai kan?" ucapnya dengan santai sambil berlalu meninggalkanku seorang diri, dia pikir uang bisa menyelesaikan segalanya, padahal yang aku butuhkan saat ini bukanlah uang melainkan sosok seorang suami yang sebenar-benarnya suami.
*****
Siang ini, bi Lijah menemaniku ke pasar untuk membeli semua bahan-bahan makanan dan bahan cake yang sudah terlist di catatan mas Qiyas yang saat ini aku pegangi, bahkan bi Lijah juga turut membantuku untuk menyiapkan masakan setidaknya ada 15 menu makanan dan 3 jenis cake yang mas Qiyas tuliskan di selembaran kertas kemaren.
"Non kok masaknya banyak banget, ini mau ada acara hajatan ya?" tanya bi Lijah terheran-heran.
"Aku juga gak tau bi, perasaan gak ada hajatan apa-apa deh, ya udahlah ikutin aja apa maunya dia, bibi tau sendiri kan aku sama mas Qiyas tuh kek gimana, jangankan mau tau urusan dia, hum bertegur sapa aja kadang-kadang, kadang iya kadang gak"
"Tapi aku kagum sama non Salwa, sabar banget ngadepin sikap mas Qiyas" aku hanya terdiam mendengar pujian bi Lijah yang menurutku sangat berlebihan itu, sembari terus kukocok adonan cake yang hampir mengembang ini.
Cengkrama santai yang terjadi antara aku dan bi Lijah cukup menjadi penawar lelah hari ini, setidaknya kami hampir menyelesaikan semua masakan itu, hanya tinggal dua menu lagi yang saat ini masih on proses.
Saat ke dua kakiku mulai merasa pegal, kini aku memilih untuk beristirah sejenak sambil sesekali ku pijat ke dua betisku, berbeda dengan bi Lijah ia hampir tak mengambil jedah untuk istirahat, sejak tadi ia terlihat mondar-mandir menyiapkan semua sajian makanan itu.
"Bi, kalau capek istirahat kah dulu, gak usah dipaksain" ucapku sedikit tak bertenaga.
"Gak apa-apa non, bibi mah kalo perkara masak-memasak sangat semangat non, yang penting jangn nyuruh nyuci baju sebanyak ini heheh" cetuhnya, aku hanya tersenyum melihat kelucuan bi Lijah.
__ADS_1