Quality Love

Quality Love
Episode 31


__ADS_3

*Triliyunan Penyesalan


Di dalam kamar yang sepi ini, tatapanku masih saja kosong, memandangi setiap sudut ruangan berukuran 3x4 meter ini, yang hanya disinari sebuah lampu tidur dengan cahaya yang remang-remang semakin mengundang air mataku untuk menitih jika ku ingat lagi lima syarat perceraian yang baru saja ku sepakati bersama mas Qiyas tadi.


"Kring...kring...kring" tiba-tiba dering terponku berbunyi, tubuhku sangat terkejut dengan deringan tersebut yang ternyata panggilan masuk dari Umi, aku semakin tertekan dibuatnya, jujur saja aku tak punya keberanian untuk mengangkat telpon dari Umi.


Dengan perasaan takut dan hati yang was-was aku hanya terpaku menatap layar handphoneku, hingga beberapa saat ku mulai tepis sedikit keraguan ini untuk menggenggam handhpone mini yang sedari tadi tak pernah berhenti untuk berdering itu, dan kuberanikan diri untuk menjawab telpon Umi.


"Halo, Assalamu'alaikum Umi?" ucapku pelan dengan terus menahan air mataku.


"Waalaikumusalam nak"


"Aam, ada apa ya Umi?"


"Loh, Salwa kok nanyanya kek begitu? Ya sudah pastilah Umi rindu dengan Salwa"


"Ow gitu ya Umi, soalnya gak biasanya sih Umi nelpon malem-malem makanya Salwa nanya!"


"Iya, malam ini tuh gak tau kenapa, tiba-tiba Umi rindu aja dengan Salwa, Abi pun begitu selalu aja kepikiran sama Salwa"


"Hiikss...!" suara tangisku kelepas tiba-tiba, jantungku serasa menguncup mendengar ungkapan Umi barusan, sontak akupun memalingkan wajahku menjauhi hendphone yang saat ini kugenggam, kututup erat mulutku dengan telapak tangan kiriku sembari sesenggukan menangis tanpa suara, agar umi tak menyadari kalau saat ini aku tengah menangis sejadi-jadinya.


"Salwa sama nak Qiyas gimana? Sehatkan?" Lanjut Umi yang tak bisa ku jawab, aku hanya terdiam sembari mengatur nafas dan suaraku.


"Salwa? Halo?"

__ADS_1


"I..iya Umi, kita alhamdulillah sehat kok, ow ya Umi nanti besok Salwa telpon balik ya, Salwa mau kedapur dulu" segera saja ku akhiri percakapan ini, rasanya aku benar-benar tak sanggup mendengar suara Umi, semakin mendengar suaranya maka semakin rapuh hati ini, dalam keadaan seperti saat ini suara Umi bagaikan tancapan berpuluh-puluh anak panah yang terus membuatku merasa bersalah.


"Ya allah! Salwa apa yang sudah kamu lakukan Salwa? Ya allah!" terus saja ku jedot-jedotkan dahi ini dengan kepalan tanganku, kalimat itu tak ada habisnya ku lirihkan berkali-kali, aku sangat menyesali atas kesepakatan bodoh yang baru saja kulakuan itu.


"Umi...Abi, maafin Salwa! Hiiks..hiiks" ungkapku dengan triliyunan penyesalan yang terus saja menghujani kepalaku, saat ini aku benar-benar butuh payung agar aku tak terlalu basah atas kejadian ini.


*****


Masih pagi-pagi aku sudah sibuk didapur untuk menyiapkan sarapan pagi, karena hari ini sampai waktu yang telah ditentukan nanti, 5 syarat perceraian yang sudah kita sepakati itu mulai diberlakukan, pun bi Lijah mulai sibuk merapihkan rumah dan mencuci semua pakaian kotor yang ada di kamar mandi.


Setelah selesai menyajikan sarapan di atas meja, ku lihat mas Qiyas mulai membuka pintu kamarnya, namun kali ini penampilannya terlihat sangat rapih dengan kacamata riben yang menempel dimatanya seperti ia akan bepergian di suatu tempat.


"Assalmu'alaikum!" ucapku dengan senyuman kecil sembari menghampirinya, namun ia terus saja berjalan menuju pintu depan, tanpa menjawab salamku sama sekali, meski diabaikan ku coba kuatkan lagi hatiku.


"Kamu ingatkan kalau hari ini 5 syarat perceraian kita sudah diberlakukan? dan kamu harus memenuhi tuntutan syarat ke dua dari 5 syarat itu, yaitu kamu harus makan semua masakan aku tanpa alasan apapun, didapur sudah ku sajikan sarapan pagi" sekilas ku ingatkan lagi padanya tentang syarat ke dua perceraian kita, setelah itu akupun bergegas kedapur.


Benar saja, mas Qiyas bukanlah tipe orang yang suka ingkar janji, dengan wajah datarnya itu ia kemudian berjalan menuju meja makan, tanpa percakapan lagi aku dan mas Qiyas mulai menikmati sarapan pagi ini dengan suasana yang begitu hening.


*****


Jam dinding yang terus berdetak itu, kini mulai menunjukan waktu pukul 14.00 WIB, di waktu yang hampir senja ini, sementara aku dan bi Lijah tengah santai menonton TV, aku yang kelelahan karena menyiapkan makan tadi kini meminta bi Lijah untuk memijit ke dua bahuku.


"Tuh kan akhirnya non jadi kecapean kek begini, seharusnya non gak usah masak, kan bibi bisa ngelakuin semuanya non!" tukasnya sambil terus memijat ke dua bahuku.


"Gak apa-apa kok bi, lagian menyiapkan makan untuk suami kan termasuk kewajiban seorang isteri!" ucapku santai.

__ADS_1


"Iya sih, tapikan bibi jadi gak enak kalo non sampe kecapean kek begini" sahutnya lagi dengan wajah merasa bersalah.


"Hehe gak apa-apa kok bi, nanti juga kalo aku udah biasa gak bakalan pegel lagi kok, ouw yah bi..bibi tau gak mas Qiyas keluar kemana tadi?"


"Gak tau non, mungkin ke rumah si suster Kiran itu" aku mulai terdiam mendengar jawaban bi Lijah sambil kulanjutkan tontonanku.


*****


Di hari ke dua setelah kesepakatan itu, aku menyiapkan sarapan lebih awal lagi, karena aku tau hari ini adalah hari keberangkatannya untuk fly ke Amerika, saat semuanya sudah ku sajikan dengan berbagai kreasi potongan sayur dan tomat didalam sebuah kotak makanan akupun mulai menunggunya di meja makan, namun ia belum juga keluar kamar hingga pukul 08 pagi.


"Dia kok belum keluar-keluar juga sih! Apa jadwal flynya diganti siang hari?" gumamku dalam hati.


Hampir 4 jam sudah aku terpaku menunggunya seorang diri, akhirnya terdengar suara pintu kamarnya terbuka, segera saja aku terperanjat dan menoleh ke arah kamarnya namun yang aku lihat saat ini, ia masih mengenakan baju kaos putih polos dengan celana pendek selutut layaknya ia tak terikat dengan jadwal apapun hari ini, ia kemudian berjalan menghampiriku.


"Nih..!" ia menyedorkan selembaran kertas padaku, tanpa penjelasan apa-apa ia kemudian berbalik arah dan mengayunkan langkahnya namun seketika itu, ku lontarkan pertanyaan padanya yang saat ini mulai terlihat jauh dari pandanganku.


"Ini apa?" sudah kuduga bersuara pelan sejauh ini takkan menimbulkan efek kaget pada patung bernyawa itu fikirku yang mulai kesal, ku tarik dalam nafas yang mulai terengah-engah ini lalu ku ikuti langkahnya dari belakang.


"Aku tanya ini apa?" sekali lagi aku bersuara padanya, dengan santainya ia kemudian berbalik badan dengan ekspresi datarnya ia mulai bersuara.


"Itu daftar menu makanan yang harus kamu masak besok malam" jelasnya.


"Sebanyak ini?" ia hanya memelototiku, setelah itu ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Kamu nyuruh aku masak makanan sebanyak ini untuk apa? Apa mamah sama papah mau kesini? dan bukannya hari ini kamu ada jadwal fly?" aku yang sekuat tenaga berteriak disini sementara disana mas Qiyas terus saja mengabaikanku, hingga dengan keras ia menutup pintu kamarnya yang sedikit membuatku terkejut.

__ADS_1


__ADS_2