
*Menjenguk Kiran
"Wiu...wiu...wiu" sirine mobil ambulan silih berganti meraung-meraung di pelataran rumah sakit yang berdiri kokoh di atas tanah seluas 5 Ha itu, Qiyas yang sudah memarkirkan mobilnya sejak 10 menit yang lalu, kini ia hanya bisa terdiam di dalam mobil seraya mengamati suasana ramai pengunjung yang berhamburan di sekitaran rumah sakit dengan berbagai ekspresi wajah yang menyedihkan.
Tiba-tiba dering ponselnya berbunyi lagi, ia cukup terkejut di buatnya, namun ia hanya memandangi layar ponselnya tanpa menjawab panggilan itu, terhitung sudah 15 panggilan dari Linda yang ia abaikan, rupanya ia terfikir untuk mengurungkan niatnya bertemu dengan Kiran, ada banyak hal yang tengah ia bimbangi saat ini, bagaimana nanti ia akan menyeting wajahnya saat ia bertemu dengan sejawat Kiran, pun tak kalah membuat jantungnya mengetuk hebat saat nanti ia harus bertemu dengan orang tua Kiran, sudah pasti sepenuhnya kesalahan ini di tumpahkan padanya.
Lagi-lagi Linda masih saja menghubunginya, tapi kali ini Qiyas langsung menjawab panggilan Linda.
"Halo? Qiyas udah dimana?" tanya Linda buru-buru.
"Ini aku udah di depan"
"Dari tadi aku nelpon kok kamu gak jawab-jawab sih?"
"Ow itu tadi lagi nyetir Lin..." tuturnya berkilah.
"Yaudah buruan masuk gih"
"Ahm...Lin?" serasa ada yang mau ia tanyakan, namun tiba-tiba ia berubah pikiran.
"Hmm...? kenapa?"
"Umm...gak, gak apa-apa, yaudah aku masuk sekarang"
Sesaat setelahnya, Qiyas lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam, namun ia terus memijat keningnya serasa ia belum punya keberanian untuk menjelaskan apapun kalau-kalau ia bertemu dengan orang tua Kiran, hingga akhirnya ia mendapati beberapa rute jalan menuju berbagai ruang rawat, Qiyas sempat kebingungan beberapa saat, beruntungnya ada satpam yang tengah berjaga disitu.
"Permisi pak?" tutur Qiyas pada satpam yang hendak di temuinya itu.
"Iya, ada yang bisa saya bantu pak?"
"Ahm...ruang perawatan Miracle satu sebelah mana ya?"
__ADS_1
"Oh disana pak, bapak lurus aja, nanti di depan ketemu ruang Bedah bapak belok kiri, disitu ruang miracle satu" jawab bapak satpam itu, seraya mengarahkan telapak tangannya.
"Ow iya makasih ya pak?"
"Iya sama-sama"
Sesuai arahan bapak satpam itu, Qiyaspun segera melanjutkan langkahnya, tidak lama kemudian ia sudah melihat papan penanda ruangan bertuliskan "Miracle 01" ruangan ini merupakan nama lain dari ruangan ICU yang tidak lain merupakan ruang dinas Kiran sebelum ia di pindah tugaskan ke ruang "Miracle 02", di sana sudah terlihat Linda yang menunggunya dengan tampilan wajah yang sangat semerawut, iapun berlari kecil menghampiri Linda.
"Lind...? sorry ya agak telat"
"Iya gak apa-apa, ya udah masuk yuk" tukasnya seraya membuka pintu.
"Permisi!" mendengar sapaan Linda,sontak semua mata mulai menyorotinya, beberapa penunggu pasien lain menatap Qiyas dengan tatapan kagum seolah benak mereka tengah melayang lalu berkata "Wah...pria tampan dari mana nih" sementara 3 orang perawat wanita yang duduk di nurse station kala itu, hanya memberikan tatapan yang berbeda tanpa penjelasan seolah mereka turut menyalahkan Qiyas atas apa yang sudah terjadi pada rekan sejawatnya.
"Eh Lind, kamu kok berani sih bawa suami orang, kesini?" tanya salah satu Perawat, sedikit menyindir.
"Gak apa-apa minjem bentar" Linda menanggapinya dengan ucapan santai.
Tentunya wajah Qiyas sudah tidak asing lagi bagi para perawat disini, jauh sebelum itu Kiran sudah banyak bercerita tentang hubungannya dengan Qiyas, terkadang Kiran juga memperlihatkan foto-foto ke duanya saat tengah duduk bersama, saat tengah candid dengan moment yang romantis, hingga tak banyak dari mereka yang memuji-muji hubungan ke duanya, bahkan beberapa dari mereka terlihat iri gemesh dan sangat mendukung hubungan ke duanya sampai ke pelaminan namun sayang takdir hadir di tengah-tengah mereka dengan menggandeng sebuah nama yang sudah dipilihnya.
Saat mereka hampir tiba di bed Kiran, Qiyas tiba-tiba berhenti sejenak seraya memerhatikan bed Kiran yang masih tertutup gorden itu, rasanya terlihat seperti tak siapa-siapa yang tengah menemani Kiran di dalam sana, Linda yang menyadari itu iapun turut tertegun.
"Kenapa?" tanya Linda sedikit bingung.
"Ahm...mama papahnya Kiran kemana?"
"Mereka lagi ngurus administrasi di depan"
Setidaknya Qiyas bisa sedikit lebih lega, akhirnya merekapun segera menghampiri bed Kiran.
"Kiran...? nih Qiyas udah dateng" mendengar ucapan Linda, Kiran pun langsung berbalik badan dengan senyuman lebar ia langsung menyoroti wajah Qiyas, Linda yang ingin memberikan waktu pada keduanya pun langsung bergegas dari situ.
__ADS_1
"Nuge? Kamu kemana aja?"
"Kamu udah gak sayang lagi sama aku?" ia bergerak dari tempat tidurnya, lalu meraih telapak tangan Qiyas untuk digenggamnya, kini Qiyas mulai naik pitam saat melihat lilitan perban berbercak sedikit darah di pergelangan tangan Kiran.
"Kamu ngapain sih ngelakuin hal bodoh seperti ini?" tutur Qiyas sangat datar.
Namun Kiran yang menanggapi ucapan Qiyas yang sedikit tak berbeda dengan ucapan ayahnya sebelumnya, kini kembali terdiam, lalu melepas genggamannya yang baru saja mengerat itu, dengan matanya yang mulai berkaca-kaca lagi, anggapannya saat ini semua orang terdekatnya memang sudah tidak peduli lagi dengannya.
Melihat ambekan Kiran, Qiyas kembali menyesali apa yang sudah di ucapkannya tadi, ia berjalan dua langkah mendekati bed Kiran, lalu dengan ragu-ragu ia mengusap kepala Kiran seolah tengah merayu agar moodnya kembali stabil.
"Aku emang bodoh Nuge, aku bodoh sudah menaruh kepercayaan sama kamu" Kiran kembali bersuara dengan balutan isak tangis ia menatap mata Qiyas
"Pernah gak sih, sudah sejauh ini, sekali aja kamu berfikir, kalau kita nyaris lapan tahun berkelana dalam hubungan yang sia-sia"
"Kamu selalu mengiming-imingku dengan kata nikah, tapi sampai kulitku mulai mengeriput, kata itu bahkan tak bisa ku genggam, hanya sebatas berotasi di ingatanku saja" paparnya dengan tubuh yang sesenggukan, Qiyas yang tak kuasa melihat kesedihan Kiran, tak berfikir panjang ia lalu memeluk tubuh Kiran.
"Kamu?" tiba-tiba dari belakang terdengar suara bu Wiyah yang sangat jengkel melihat kehadiran Qiyas saat ini.
"Ngapain kamu kesini? Ha?" timpalnya lagi, ia lalu melerai Qiyas, dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Qiyas untuk keluar dari situ
"Belum puas kamu nyakitin Kiran?" kini papahnya Kiran mulai bersuara, Belum sempat Qiyas melontarkan apa-apa, tiba-tiba
"Taprak..." sebuah tamparan keras melayang di pipi Qiyas, tamparan itu sebagai bentuk kemarahan pak Syarief atas kondisi anaknya saat ini, sontak Kiran berteriak kencang melihat ayahnya sampai berani melakukan hal itu pada Qiyas, namun teriakan itu seolah tak mematik rasa iba dari pak Syarief.
"Gara-gara kamu anak saya hampir kehilangan nyawanya, dan kamu masih punya muka untuk datang kemari?"
"Saya...saya minta maaf om, tante" tutur Qiyas.
"Maaf...?" bu Wiyah kembali menyahut
"Pergi kamu dari sini, pergi" bu Wiyah mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu, lalu kembali mendorong Qiyas untuk bergegas dari situ, hingga Qiyas benar-benar tak punya pilihan lagi iapun terpaksa harus pergi demi kebaikan semuanya.
__ADS_1
"Pergi dan jangan pernah ganggu anak saya lagi" peringatan itu kembali terluapkan dari mulut bu Wiyah, Qiyas hanya menatap tajam wajah Orang tua Kiran, tatapannya itu semakin membuat esal ke duanya, hingga Qiyas pun berlalu dari situ.