
*Dia Hanya Teman
Di saat aku, Arief dan Umi tengah berbenah-benah toko cake yang dalam beberapa hari ini sudah akan diresmikan itu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat bi lijah yang tengah berlari kecil menghampiri kami, dengan beberapa tentengan dus cake yang belum sempat kami bawa tadi pagi.
"Lah, aku kan udah bilang bibi dirumah aja!, kalo kek begini kan ngerepotin bibi jadinya" tuturku sedikit tak enak pada bi lijah.
"Gak apa-apa kok non, habis nganterin ini bibi langsung pulang"
"Terus bibi kesininya naik apa?"
"Di anterin sama tuan Qiyas, non!"
"Ouw yah? lalu mas Qiyas nya mana?" tanyaku sambil mencari-cari keberadaan mas Qiyas yang sedari tadi tak terlihat olehku.
"Ada di mobil!" sahut bi lijah, sontak ku arahkan pandanganku pada beberapa mobil yang terpakir di depan halaman bangunan ini, terlihat jelas mobil mas Qiyas terpakir di ujung sana, ku lancipkan senyumanku, lalu berjalan menghampirinya.
Hampir berjarak 1 meter lagi rindu ini akan tertumpah dari wadahnya, namun tiba-tiba saja ia memutar arah mobilnya sembari berlalu meninggalkanku.
"E eeh! tuan..tuan, tuan Qiyas mau kemana? tuan?" terdengar teriakan bi lijah dari belakang berlalu mengejar mobil mas Qiyas yang sudah melaju itu, namun tetap saja yang didapat hanyalah nihil semata.
Hatiku seakan meluruh saat menyaksikan tingkahnya yang tiba-tiba berlalu begitu saja, seketika langkah yang tertegun ini mulai mematung bahkan mulut ku tak bisa berkata apa-apa lagi, selain mataku yang mulai berkaca-kaca.
"Yaah! tuan Qiyas kok malah pergi, terus bibi pulangnya naik apa dong?" ku dengar lagi keluh kesah bi lijah yang semakin menyesakkan dadaku saja. Sontak ku tenangkan ke dua bola mata ini, agar bi lijah tak menyimpan kecurigaan dengan aku yang tadi hampir saja menangis.
"Houuftt! bi? bibi ambil uang ini, nanti bibi pulangnya naik grab car aja yah?" pungkasku buru-buru, dari depan toko terlihat Arief yang berdiri memandangi ku, mungkin saja ia sempat menyaksikan kejadian tadi.
"Siapa tadi? suami kamu?"
"Houuftt, ya!" sahutku pelan
"Kenapa dia pergi begitu aja?"
"Hum! mungkin dia lagi sibuk, ya udah aku masuk ke dalem dulu ya, masih banyak pekerjaan yang belum di bereskan!" ujarku menghindari pertanyaan Arief, yang semakin membuatku sakit hati saja.
*****
"Salwa?" seketika Umi mengejutkanku
"Haa?" tanyaku kaget.
"Makan! makanan didepan mata kok hanya di liat-liat aja sih!"
"I..iya Umi!" ucapan ku yang gelagapan itu semakin membuat Arief terus mecurigaiku.
"Salwa mikirin apa?"
"Gak! gak ada apa-apa kok Umi, yuk kita makan"
"Nih..!" dengan ragu-ragu Arief akan menuangkan lauk di piringku namun dengan cepat ku tepis sikap perhatiannya itu.
__ADS_1
"Aam! gak apa-apa, aku bisa ngambil sendiri kok, makasih!"
"Ow yah! setelah ini Salwa pulang bareng nak Arief ya?" cetuh Umi tiba-tiba.
"Umi!" sahutku, dengan ekspresi wajah menjengkelkan.
"Di rumah kan ada nak Qiyas, Salwa tuh gak boleh keluar terlalu lama, Umi masih mau ngurus beberapa lagi yang belum sempat beres tadi!"
*****
Sejauh ini, tak ada percakapan yang terjadi antara aku dan Arief, terus saja kupandangi jalanan yang macet ini hingga akhirnya terdengar Arief yang mulai bersuara.
"Aam! Salwa?" panggilnya sedikit ragu-ragu.
"Umm?" sahutku tak bertenaga.
"Kamu masih marah ya sama aku?"
"Arief tolong jangan bahas masalah itu lagi!"
"Aku minta maaf kalo emang kamu masih marah sama aku"
"Huufftt! gak ada yang perlu di maafin dan gak ada yang perlu minta maaf"
"Tapi Salwa aku..." seketika ku penggal ucapannya.
"Ok, ok!"
Kini Arief tengah menepihkan mobilnya di halaman parkir, sudah terlihat mas Qiyas yang berdiri di depan pintu sambil memerhatikan mobil Arief.
"Tumben-tumbennya jam segini mas Qiyas ada dirumah, duuh gimana nih!" gumamku yang mulai panik, rasanya paru-paru ku mulai kehabisan oksigen lagi, kenapa keadaan ini begitu runyam untuk ku hindari.
"Ayok turun!"
"Aam! tunggu beberapa menit lagi ya!" seketika Arief menatapku aneh, namun ia mulai paham saat melihat mas Qiyas yang ada didepan sana.
"Ouw! seberapa lama kita akan berdiam diri disini?"
"Sampai dia masuk ke dalem rumah"
"Kamu yakin dia akan masuk ke dalem? yang aku liat sih, dia cukup penasaran dengan orang yang ada di dalam mobil ini" seketika ku suguhkan tatapan mengesalkan padanya.
"Kenapa kamu tatap aku kek begitu?" tak ada jawaban apapun masih dengan tatapan yang sama.
"Aku sih gak masalah, cuman yang aku takutkan nanti dia malah mikir yang macem-macem kalo kita berlama-lama didalam sini" ucapan Arief kali ini, seketika menyeret tubuhku untuk keluar dari mobil, dengan hati yang was-was aku dan Arief berjalan menghampirinya.
"Hai! aku Arief" seketika mas Qiyas menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki
"Qiyas!" jawabnya sangat datar.
__ADS_1
"Ahm! mau minum dulu gak didalem?" dengan ragu-ragu ku tawari Arief untuk berkesempatan meneguk segelas minuman.
"Hmm! gak apa-apa, aku langsung balik aja"
"Ouw ok, makasih ya udah nganterin aku!" iya hanya tersenyum sembari berlalu meninggalkan kami.
Ku lihat wajah mas Qiyas yang sejak tadi tak ada senyum-senyum nya sama sekali, semakin membuatku beratanya-tanya, apakah ia tengah marah ataukah biasa-biasa saja.
"Aam, di..dia itu temen aku" ucapku ragu-ragu.
"Terus?"
"Gak, takutnya nanti kamu salah paham"
"Bhuuws!" sontak ia melepaskan tawa sinisnya.
"Aku sih gak peduli ya, mau dia temen kamu, pacar kamu, atau bahkan suami sirih kamu sekalipun, gak ada masalah buat aku!" ia lalu beranjak masuk kedalam rumah.
Tak ingin berlama-lama terpaku seorang diri dlijah, segera saja ku hampiri bi lijah yang ada di dapur.
"Bi! mas Qiyas udah makan?" tanya ku lirih, takut kedengaran oleh mas Qiyas yang tengah bersantai di ruang TV.
"Iya sudah non!"
"Okey!" sahutku pelan.
*****
"Aam! kapan lagi jadwal fly kamu?" pertanyaan ku ini bagaikan semburan angin di telinga nya, hingga ia tak berespon apa-apa terus saja ia menatap layar televisi itu seperti tak bertemankan manusia yang tengah duduk berjarak di sampingnya saat ini.
"Aku ini isteri kamu, aku wajib tau jadwal fly kamu kapan aja" lagi-lagi aku semakin jengkel saja dibuatnya.
"Kalo kamu kesini hanya untuk menggerutu, mending kamu keluar dari ruangan ini" jawabnya datar.
"Apa kamu gak bisa, sedikit aja menghargai aku?"
"Kamu sendiri aja gak bisa menghargai diri kamu, apa lagi orang lain!"
"Maksud kamu apa?"
"Wanita berharga gak akan pernah menjual dirinya demi uang" terus saja ia berbicara tanpa melihat wajahku, aku yang mulai emosi atas tingkah dan ucapannya yang sangat keterlaluan itu, seketika aku mulai terperanjat dan berdiri di hadapannya.
"Aku gak pernah jual diri aku!"
"Kamu pikir menikah karena uang, itu bukan jual diri namanya? heh asal kamu tau yah, aku bisa dengan bebasnya nyentuh kamu kapan aja, tapi sialnya sedikitpun aku gak suka sama kamu, bahkan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, kenapa papah aku membeli wanita seperti kamu yang gak nafsu untuk ku pakai sama sekali"
Mendengar kalimatnya yang amat pedih itu, aku lalu tersimpuh lemah di atas lantai, tak ada yang bisa ku katakan lagi, betapa sakitnya hati ini, tanpa keraguan ia torehkan sayatan diatas luka lama, aku yang hampir putus asa dengan tatapan dan pikiran yang kosong, hanya menyisakan bulir-bulir air mata yang terus menggelinding di wajahku, serta secercah harapan ingin segera bertemu dengan sang malaikat Izrail, namun secuil akal sehatku berbisik bahwa aku harus tetap kokoh dan bertahan.
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗
__ADS_1