
*Maksud Yang Sulit Diungkapkan
Dengan kostum yang berbeda, Salwa kembali di giring oleh Erin menuju stage, Salwa hampir tak berani menatap semua mata yang tengah mengaguminya saat ini, ia berjalan dengan dada yang cukup berdebar-debar, terlebih lagi di depan sana ia menyaksikan mas Qiyas yang tengah duduk seraya memandanginya begitu dalam, melihat sang isteri yang begitu anggun, mungkinkah Qiyas mulai terpesona? ia bahkan menatapnya cukup lama, begitu detilnya ia memerhatikan penampilan Salwa dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Menyadari sorotan mata sang suami yang tak beralih itu, Salwa semakin risih dan salah tingkah dibuatnya, berulang-ulang kali ia memejamkan mata, berasa malu sampai ke ubun-ubun, sampai-sampai ia tak memerhatikan lagi langkah kakinya.
"Auuuhch...." sontak kaki Salwa sedikit terkilir, melihat hal itu Qiyas langsung terperanjat dengan mimik wajah yang sangat khawatir rasanya ingin sekali ia berjalan menghampiri Salwa, namun Qiyas tertegun lagi saat Erin yang ada di sebelahnya segera menopang lalu memeriksa kaki Salwa.
"Bu Salwa gak apa-apa?" tuturnya.
"Umm...iya gak apa-apa, gak apa-apa kok.." keduanya kembali berjalan hingga sampai di atas stage, Erin mulai melepas rangkulannya.
"Ok, bu Salwa sudah siap?" tanya Endi, Salwa langsung mengangguk iya.
Sesi pengambilan videopun segera di mulai, beberapa staf mulai memperbaiki pakaian Salwa, juga menyeka tipis keringat Salwa di bagian dahi dan menambahkan sedikit make up, beberapa staf lain mulai mengatur produk cake, setelah itu semuanya turun dari stage, dan hanya tersisa Salwa dengan produk yang akan di promosikannya.
"Siap? camera rolling action..." teriak Endi menandakan takingan video telah dimulai, Salwa menghela nafas lalu memulai.
"Kali ini cake Salief hadir dengan tiga varian rasa....."
"Stop..stop...stop" Gita memotong, ia yang juga bertugas sebagai pengarah, kemudian maju kedepan, sembari mencontohkan ekspresi yang benar pada Salwa.
"Bu Salwa, di saat ibu bilang...'kali ini cake Salief..' disitu bu Salwa harus senyum lebar, giginya harus keliatan semua, senyumnya jangan ditahan-tahan biar suasananya tuh lebih hidup..." Salwa menyimak kritikan itu, lalu mengangguk-ngangguk membenarkan ungkapan Gita, setelah itu ia kembali memulai.
"Kali ini cake Salief hadir dengan tiga varian rasa, ada vanilla...strawberry...dan juga cokelat,....."
"Oke cut...." tandas Endi.
"Ulang lagi?" dengan polosnya Salwa bertanya pada Endi, Qiyas yang ada di seberang sana, segera tertawa kecil melihat tingkah lucu isterinya itu.
"Hehehe, gak ngulang, kalo aku bilang 'Cut' berarti part yang itu udah selesai, lanjut lagi part berikutnya" tutur Endi seraya nyengingiran.
"Owwh..." Setidaknya Salwa bisa sedikit bernafas lega, setelah itu mereka kembali melanjutkan part berikutnya.
__ADS_1
"Ok camera rolling action..."
"Waoow, lapisannya begitu tebel....Hmmm creamnya..."
"Stop..stop" Gita kembali mengarahkan.
"Setelah bu Salwa bilang 'Hmmm...' disitu bu Salwa gigit cakenya, sembari menunjukkan ekspresi yang kalo bu Salwa itu benar-benar menikmati cake itu... "
"Ow iya aku lupa, harusnya digigit yah cake nya..." wajah polos Salwa tiba-tiba mengubah suasana sembari mengundang tawa semua orang yang ada disitu termasuk Arief dan juga Qiyas suaminya sendiri.
"Salwa harus tetep fokus sayang..fokus..." dari kejauhan Umi terlihat menyemangati.
"Humm...Bismillah..." Salwa kembali memulai.
"Waoow, lapisannya begitu tebel....Hmmm creamnya juga begitu lumer, meleleh di dalam mulut, dan pokonya bikin nagih....tunggu apa lagi? cake Salief kini hadir di kota anda!"
"Cut...."
"Yeaaay...." semua kompak berteriak happy melihat Salwa berhasil memainkan karakternya sesuai dengan gambaran script.
Di ruang ganti terlihat Salwa yang tengah duduk menikmati makan siang yang tadi dibawa oleh Qiyas, di sebelahnya tampak Qiyas yang juga turut menemani sang isteri menikmati makanan tersebut, keduanya duduk bersama tanpa obrolan, hingga tiba-tiba kedatangan Arief disitu mulai mengubah suasana.
"Ahm...Wa?" seketika Qiyas menatap Arief begitu dingin, sebaliknya Salwa langsung menoleh dengan mulutnya yang terus mengunyah makanan.
"Iya Rief?"
"Nanti kalo udah selesai makan, kita short meeting dulu ya?"
"Ok..."
Sebelum beranjak pergi, Arief sempat menyapa Qiyas seraya menyuguhkan senyuman kecil pada sang Captain yang tengah berwajah muram itu.
"Hai..." tak ada jawaban, melainkan masih saja tatapan wajah dingin yang ia dapatkan dari Qiyas, sontak Arief menghela nafas sembari berkata pada Salwa.
__ADS_1
"Ahm...Kalo Qiyas juga mau ikutan short meeting, gak apa-apa ya Wa, ajak aja ke dalem"
"Iya...iya Rief" selangkah ia beranjak dari situ, tiba-tiba Arief kembali mengingat sesuatu.
"Ow ya, makasih ya Wa kamu udah kerja keras hari ini" tandasnya, seraya tersenyum lebar sebaliknya Salwapun ikut tersenyum sembari menganggukkan kepala, sementara Qiyas terlihat makin muak dengan tayangan yang ada dihadapannya saat ini.
Setelah Arief pergi dari situ, sejenak Qiyas menghela nafas lalu mulai mengeluarkan unek-uneknya.
"Kalian kelihatan akrab bangat yah?" tuturnya dengan nada yang sedikit kesal, sementara Salwa yang tidak mengerti dengan suasana hati Qiyas hanya menanggapi pertanyaan suaminya itu dengan jawaban yang benar-benar polos.
"Iyalah, kita kan temenan dari dulu, lagian di sini dia kan bos aku, jadi ya harus deket lah..."
Makin panas saja daun telinga Qiyas mendengar itu, ia kembali menghela nafas lalu mengubah topik pembicaraan.
"Aham...setelah short meeting kamu ada acara apa lagi?" tanya Qiyas ragu-ragu.
"Uhmmm...kayaknya udah gak ada, kenapa emang?"
"Ammm...aku...Umm....." Qiyas terlihat kebingungan bagaimana harus menyampaikan maksudnya pada Salwa.
Sambil menunggu Qiyas yang tengah berpikir, rupanya Salwa sudah selesai menikmati makanannya, ia mulai mengusap kedua telapak tangannya pakai tissu basah, lalu meneguk sebotol air mineral, namun tak sengaja titihan-titihan air yang diminumnya itu berceceran dari mulutnya, Qiyas yang menyadari hal itu langsung meraih tissu seraya menyeka pelan bibir Salwa.
Awalnya Salwa biarkan saja, namun lama-lama ia merasa tak enak dengan Qiyas hingga iapun mengambil tissu yang dipegangi Qiyas lalu menyeka sendiri mulutnya.
"Gak apa-apa mas aku bisa sendiri kok, mas mau ngomong apa tadi?"
"Ammm...iya tadi, aku...." Qiyas kembali terbata-bata, dihadapannya Salwa terus menatap Qiyas seolah menunggu apa sebenarnya yang mau dikatakan oleh suaminya itu.
Hingga dengan kata yang secepat kilat Qiyas memberanikan diri menyampaikan maksudnya.
"Aku mau ngajakin kamu nonton, tapi kalo kamu gak mau gak ap.." Salwa langsung memotong.
"Aku mau...."
__ADS_1
Jawaban Salwa tentu membuat Qiyas bernafas lega, sontak ia tersenyum kecil sambil sesekali menatap wajah Salwa, maklum saja orang seperti Qiyas memang sangat sulit untuk mengutarakan hal-hal seperti itu, takut jadi serba salah, karena introvert king memang lebih takut dengan judgement dari orang-orang sekitar.
Tak lama kemudian Salwa mulai mengajak Qiyas untuk masuk ke ruang meeting, namun sang suami lebih memilih menunggu saja di luar, daripada harus masuk ke dalam dan harus berpapasan lagi dengan Arief, yang anggapnya kalau ketemu Arief bawaanya seperti mau perang tiba-tiba.