
*Sibuk Melepas Rindu
"Iya Nak, Wa'alaikumussalam!" umi menutup panggilangnnya.
"Apa kata mas Qiyas Umi?" tanyaku penasaran, sambil menyajikan beberapa lauk diatas meja.
"Katanya gak usah nungguin, dia lagi sibuk sekarang, udahlah kita makan aja"
Mendengar alasan mas Qiyas, aku hanya bisa menghela napas, iyalah saat ini dia tengah sibuk, sibuk melepas rindu dengan suster Kiran, gumamku makin kesal.
Usai sholat isa, seperti biasa, kami bertiga berkumpul lagi di ruang TV, aku dan Umi kembali melanjutkan rancangan design yang belum terselesaikan, sementara bi lijah tanpa suara ia pun turut membantu kami dengan melipat dus-dus cake yang belum terbentuk itu.
"Kalo seperti ini gimana Umi?" cetuhku sembari menunjukkan bentuk design yang hampir rampung itu pada Umi.
"Umm! tambahin warna ijo lah, biar makin cantik lagi"
"Ok!"
"tok! tok! tok!" terdengar suara ketukkan pintu.
"Pasti mas Qiyas, biar aku aja yang buka" pungkasku sangat bersemangat, seketika ku taroh laptop di atas meja, dan bergegas membukakan pintu.
"Hai!" sapaannya terdengar sangat ramah, namun bukannya mas Qiyas, malah yang terlihat jelas di pandanganku saat ini hanyalah Arief.
"Kamu ngapain ke sini? tau alamat rumah saya dari mana?" belum sempat ia menjawab pertanyaan ku, tiba-tiba dari belakang Umi langsung menindih ucapan ku.
"Eh! Nak Arief, ayo sini, masuk, masuk!" panggilnya sangat ramah, Arief yang di silahkan masuk oleh Umi, tanpa kata lagi, lantas ia pun bergegas masuk ke dalam.
"Kirain nak Arief gak jadi dateng" ucapan ramah Umi padanya, benar-benar menggelikan di telinga ku.
"Gak kok Umi, aku kalo udah janji pasti aku akan tepati"
"Ini Umi!" seketika Arief menyedorkan sebuah parsel pada Umi.
"Ini apaan nak Arief?"
"Itu snack Umi, biar gak jenuh nanti kita kerjanya"
__ADS_1
"Ya ampun, makasih ya nak, kok repot-repot segala sih"
"Gak repot kok Umi"
"Hehe! coba nak Arief lihat dulu design yang sudah dibuat sama Salwa" ia lalu mengamati design itu beberapa saat, sambil sesekali ia tersenyum kecil, yang semakin risih saja aku dibuatnya.
"Umm! bagus Umi, keren banget designnya, ternyata kamu pintar membuat design juga ya?" seketika ia mengalihkan pandangannya ke arahku, namun pujiannya itu, ku sambut dengan wajah yang tak berekspresi.
"Aam! Umi, aku boleh minjam toiletnya bentar?"
"Boleh, boleh, toilet ada di belakang!" saat Arief berjalan ke belakang, sekilat mungkin ku dekati Umi, rasanya ini saat yang tepat untuk ku lontarkan semua unek-unek yang sedari tadi terus berputar-putar di kepalaku.
"Umi! Umi ngapain sih ngajak dia kesini?" ucapku lirih, dengan ekspresi yang sangat mengesalkan.
"Loh, Salwa kok nanya nya kek begitu, ya bantuin kita lah, buat ngedesign semua ini"
"Umi, kalo masalah design biar Salwa aja yang urus, gak perlu minta bantuan sama dia!"
"Salwa kenapa sih, tiba-tiba marah-marah seperti ini?"
"Umi, Salwa bukannya marah, Salwa hanya takut kalo nanti mas Qiyas pulang, terus dia ngeliat ada Arief di rumah ini, gimana Umi"
Baru saja aku akan bersuara, tiba-tiba Arief nongol dihadapan kami, aku sampai tak menyadari kehadirannya disini, untung saja mulut ini masih bisa ku kontrol, kalau tidak habislah sudah cerita tentang cake dan hubungan kerja sama ini.
"Mana yang bisa aku bantu Umi?"
"Aam! nak Arief bantu buat yang ini aja"
Sekitar dua jam-an kita mengurusi segala sesuatuya, aku yang dengan tekun menyelesaikan tugas ku, tanpa kata dan tawa sebagai selingan dikala jenuh, sementara Umi dan Arief malah lebih banyak bersuara bahkan sesekali mereka juga sempat tertawa terbahak-bahak, menertawai beberapa design yang mungkin menurut mereka itu adalah hal yang lucu.
setelah semuanya terselesaikan, Arief pun berpamitan untuk pulang, aku yang juga tengah kelelahan segera masuk ke kamar mas Qiyas, awalnya sih, aku hanya sekedar berpura-pura, namun saat kubuka pintunya sama sekali tidak terkunci, entah kebetulan ataupun lupa, aku tak sempat lagi memikirkan hal itu, yang ada di benakku saat ini, mungkin saja ia memang sengaja tidak mengunci pintu kamarnya karena tau Umi ada disini.
"Bi, Umi tidur duluan yah, ini nanti besok ajalah dibereskan"
"Gak apa-apa kok Umi, ini biar bibi aja yang bereskan, lagian juga gak akan lama kok buat ngeberesin ini semua" mendengar ucapan bi lijah, umi hanya mengangguk pelan sembari bergegas menuju kamar.
*****
__ADS_1
Tidak lama kemudian, tepat pukul 24.15 WIB mas Qiyas pun kembali ke rumah, namun langkahnya terhenti seketika saat mendapati bi lijah yang tengah membereskan serakan dus-dus cake yang belum sempat dirapihkan tadi.
"Loh, bibi kok belum tidur?"
"Belum tuan, lagi nyusun ini dulu" jawab bi lijah sambil terus menyusun dus-dus itu.
"Itu dus apaan?"
"Ini dus-dus cake Umi!"
"Mau dibawa kemana dus-dus ini nanti?"
"Besok mau dibawa ke toko cake Umi, tuan!"
"Ha? Umi punya toko cake?"
"Iya, tapi belum diresmikan, rencananya sih, dalam waktu deket ini, makanya mereka harus cepet-cepet nyelesaiin persiapannya, sampai-sampai bosnya dateng kesini tadi buat bantuin juga"
"Bos?" tanyanya lagi, kali ini ekspresi wajahnya terlihat sedikit terlihat berbeda.
"Iya bos, namanya pak Arief, orangnya cuaakep banget, sampe-sampe jantung bibi tuh langsung dug-dug gitu, pertama kali ngeliat dia, masya allah udah cakep baik lagi" jawaban bi lijah terdengar cukup semangat, terlihat jelas saat bertemu dengan Arief bi lijah seakan salah tingkah dan matanya sesekali mencuri-curi pandang terhadap Arief, serasa jiwa mudanya tengah naik daun.
"Huuftt! ya udah bi, aku mau masuk tidur dulu yah" pamitnya mengakhiri pembicaraan, sepertinya ia sedikit merasa tak nyaman saat mengetahui pria yang sering disebut-sebut bi lijah sebagai bos cakep nan baik hati itu baru saja menyambangi kediamannya.
Saat ia memasuki kamar, diatas tempat tidurnya terlihat Salwa yang tengah tertidur pulas, ia pun meneruskan langkahnya menuju meja komputer, disana ia merebahkan pundak dan kepalanya untuk terlelap.
*****
Tepat jam 10 pagi, dibalik kaca polos jendela kamarnya, sangat terasa hangatnya sinar matahari yang tengah menyoroti wajahnya saat ini, hingga ia pun mulai terbangun, dengan mengusap-usap kedua bola matanya, ia lalu melihat ke arah tempat tidur, ternyata sudah terlihat rapih dan bersih.
"Bi, Salwa mana?" tanyanya pada bi lijah yang tengah merapihkan kitchen set.
"Non Salwa udah keluar tadi"
"Keluar kemana?"
"Ke toko cake Umi, dijemput sama pak Arief barusan"
__ADS_1
Tak ada pertanyaan lagi yang ia lontarkan, seketika ia duduk terpaku dengan tatapan kosong, bi lijah pun segera menyiapkan sarapan pagi untuknya.
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗