Quality Love

Quality Love
Episode 61


__ADS_3

*Kekecewaan Mendalam


"Druukh!" terdengar keras suara pintu, yang baru saja di buka oleh Kiran.


"Astaghfirullah hal'adzim!" sontak dari dalam, mamahnya beristighfar lirih lalu terperanjat dari sofa seraya mengelus dadanya.


"Kiran kamu kenapa sih? Gak bisa apa buka pintu pelan-pelan?" tegas mamahnya, namun Kiran hanya menatap kilas wajah sang mamah tanpa mengutarakan kalimat apapun, sembari menutup kembali pintu ruang tamu dengan kasar, alih-alih hati bertaut tenang yang ada malah bu Wiyah malah makin naik pitam dibuatnya.


"Hei, kamu di bilangin malah..." tak sampai sempurna ungkapan jengkel bu Wiyah di luapkannya, hal itu karena terpotret jelas bagaimana sikap kiran yang beracuh kata serta pandangan pada sang mamah.


Seketika batin yang mulai terpatik bagaikan emosi yang tengah membuih di kepala bu Wiyah, kini dengan rapatan gigi dan tatapan tajam bu Wiyah berjalan terburu-buru menghampiri Kiran lalu memukul ke dua telapak tangan anak tunggalnya itu.


"Mamah...mamah apa-apaan sih?" teriak Kiran seraya memelototi mamahnya.


Tak langsung ia jawab pertanyaan spontan anaknya itu, sejedah dua jedah ia mengatur pola nafasnya yang sejak tadi terdengar engap-engapan, hingga mulai berirama stabil ia kemudian bersuara namun masih dengan nada yang kesal.


"Kamu kenapa?"


"Pulang marah-marah entah darimana ke mana"


"Kamu habis berantem lagi dengan Qiyas? ha?"


"Bukan urusan mamah" tuturnya singkat, ia kemudian berlalu meninggalkan bu Wiyah yang masih menabung berjuta tanya dikepalanya, beribu kesal yang tengah menjuntai, tak tau entah sampai kapan juntaian itu mulai memendek, dari tatapan mata bu Wiyah terlihat jelas betapa makan hatinya ia atas sikap Kiran barusan.


"Bener-bener gak bisa di atur, dasar anak keras kepala.." lirih bu Wiyah.


Di dalam kamar, Kiran segera mengunci pintu, lalu ia tersimpuh lesuh diatas lantai seraya menyenderkan kepalanya di daun pintu, ia kemudian menatap kosong langit-langit kamar yang bertabur cahaya lampu, hingga tak terasa kini air matanya mulai menitih lagi.


"Hiks...hiks...hiks...hiks..." isakan tangis Kiran kali ini, seolah menjelaskan betapa rapuhnya ia dengan keadaannya saat ini, dengan sikap Qiyas yang di anggapnya mulai berubah, dengan pekerjaannya yang terus mengekang waktunya,......


"Kenapa Qiyas? kenapa? kenapa kamu buat aku seperti ini? hiks...hiks.." tuturnya seorang diri seraya mengetuk keras tulang pelipisnya.


Sontak ia kemudian berjalan terburu-buru menuju meja rias, disitu ia berkaca perlahan ia mulai menyentuh ke dua pipinya, juga mengedip-ngedipkan ke dua bola matanya, tampak ekspresi wajahnya seolah takut akan sesuatu, beberapa kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya menafikkan apa yang tengah terlintas difikirannya saat ini.

__ADS_1


"Gak...gak mungkin...gak mungkin" tuturnya seraya menutup mulut dengan telapak tangan lalu berjalan menjauhi kaca.


Tidak lama kemudian, ia kembali berjalan lagi mendekati kaca, Kiran kemudian memandang jeli wajahnya sembari mengusap beberapa kerutan yang mulai membekas di bawah kelopak matanya, tiba-tiba ekspresinya berubah lagi.


"Apa karena aku udah tua? makanya Qiyas gak mau nikahin aku?"


"Gak...aku masih muda.."


"Aku belum tua...aku masih muda"


"Ya...aku belum tua...aku masih muda" tuturnya berulang-ulang kali dengan wajah yang penuh ketakutan.


*****


Sementara di ruang tamu, terlihat Pak syarief baru saja pulang dari kantor, yang langsung di sambut datar oleh bu Wiyah, tak beberapa lama bu Wiyah kemudian mulai menceritakan sikap Kiran tadi sore yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


"Ya sudah mungkin dia sedang kesal, seharusnya mami juga gak perlu mukul tangan dia, emang dia anak kecil" tutur pak syarief menengahi.


"Tuh kan, papah masih aja belain dia, gimana gak makin melunjak Kiran itu ke orang tua" tutur bu Wiyah berapi-api.


"Anak kalo lagi stres gitu ya ditenangin bukannya malah balik marah" tambahnya lagi.


"Hum...Tunggu aja nanti kalo dia kurang ajar ke papah, papah masih tetep ngomong kek gitu lagi gak?"


"Mah..."


"Puufh...." tiba-tiba pecakapan kecil itu terhenti seketika, saat terdengar teriakan Kiran di ikuti bunyian keras yang berasal dari kamar Kiran.


"Kiran..." ungkap spontan bu Wiyah sembari menaikan jari telunjuknya.


"Bunyi apa itu?" tanya pak Syarief, sementara bu Wiyah hanya menanggapi dengan gelengan kepala.


"Kayaknya dari kamar Kiran deh mih" seketika itu juga, keduanya berlari terburu-buru menuju kamar Kiran.

__ADS_1


Tepat di depan pintu kamar, pak Syarief mulai terlihat panik, beberapa kali ia mengetuk hebat pintu kamar dan berteriak kencang memanggil-mangil nama Kiran, namun tak ada sahutan apa-apa yang terdengar dari dalam, pak Syarief kemudian mendekatkan daun telinganya ke pintu, dengan jeli ia mencoba menyerap suasana yang terjadi didalam sana namun sesekali yang terdengar hanyalah isakan lirih yang keluar dari mulut Kiran.


"Kiran...buka pintunya Kiran!"


"Kiran...."


"Kiran...buka pintunya sayang, kamu masih marah ya sama mamah?" tambah bu Wiyah yang juga semakin panik.


"Awas mih" cetuh pak Syarief, seraya menggeser isterinya menjauh dari pintu, ia kemudian berusaha untuk mendobrak pintu kamar.


"Puuffh...." Pak Syarief berhasil membuka pintu kamar hanya dengan sekali dobrakan, namun ke dua pasangan paruh baya itu cukup tercengang melihat penampakkan kamar anak perempuannya itu.


"Kiran....kamu apa-apaan sih" teriak histeris bu Wiyah, perlahan ia mengamati apa yang sudah terjadi di dalam kamar, sesaat setelahnya dengan pelototan mata yang sangat menjengkelan ia kemudian berjalan mendekati Kiran lalu mengambil bilahan cermin yang tengah dipeganginya saat ini.


Sejak tadi tiada habisnya, Kiran mengundang kekesalan, lantas bu Wiyah kemudian melayangkan sebuah tamparan ke wajah Kiran atas tingkah bodohnya itu, bagaimana tidak, sebuah cermin berukuran 21 inchi itu sengaja ia pecahkan hingga seluruh beling-beling berhamburan di atas lantai, hal yang membuat shock ke dua orang tuanya ialah nyaris saja Kiran mengakhiri hidupnya dengan potongan kaca yang sempat di genggamnya tadi.


"Kamu kenapa Kiran? kamu kenapa?" tutur mamahnya sangat gemetaran.


"Kiran Istighfar nak...."


"Kiran liat mamah..liat mamah, hei.." berulang-ulang kali ia mengguncang pundak anaknya itu, pun sesekali ia menepuk-pelan ke dua pipi Kiran, hingga tatapan kosong itu mulai berubah menjadi efek kaget, perlahan ia juga mengamati kedua telapak tangannya yang tengah berlumuran darah, pun ia lalu menangis sekencang-kencangnya, seolah menyesali apa yang sudah terjadi.


"Hiiikks...hiiiks...hiiiks...mah? pah?" tuturnya tak berdaya, dengan guraian air mata ia lalu menggapai tangan bu Wiyah yang juga tatapannya mulai terlihat berkaca-kaca.


"Kiran, kamu kenapa sih sebodoh ini? ha?" tambah papahnya yang juga mulai terlihat kesal.


"Papah gak percaya loh, kamu hampir ngelakuin hal yang...." pak Syarief tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya.


"Pah...mah...? maafin Kiran, hiiks...hiiks.."


Mendengar, suguhan maaf sang puteri, rasanya dada pak Syarief semakin terhimpit, berulang-ulang kali ia mencoba untuk menenangkan hatinya seraya beralih pandangan ke arah yang lain, dari sebelahnya bu Wiyah tambah panik melihat wajah Kiran yang semakin pucat.


"Udah pah...mami cukup trauma dengan kejadian ini, mending kita bawa Kiran ke rumah sakit sekarang"

__ADS_1


Tak berlama-lama lagi, keduanya pun bergegas memboyong Kiran ke rumah sakit.


__ADS_2