Quality Love

Quality Love
Episode 53


__ADS_3

*Tragedi Berujung Malu


"Ada dia gak yeah?" pekiknya ragu-ragu, sambil sesekali ia mengintip ke kamar Qiyas, ya seperti itulah ritualnya sehabis mandi saat ada Qiyas di rumah, merasa situasi aman-aman saja ia pun segera melanjutkan langkahnya menuju kamar namun ia tertegun seketika saat Qiyas tiba-tiba membuka pintu kamarnya lalu berbalas kalimat dengan lawan bicara yang tengah di telponnya itu.


"Iya...nanti saya ke sana, ok waalaikumusalam!" tuturnya, sampai disitu saja obrolan mereka, namun Qiyas masih saja berdiri di depan pintu sambil memerhatikan layar handphone lalu berbalas pesan entah sama siapa, sesekali ia juga merapihkan kerah dan lengan bajunya.


Melihat Qiyas yang tengah menggulung lengan kemejanya, pun Salwa mengendapkan langkahnya berjalan mundur ke belakang, namun tak sengaja ia menendang wadah stainlis yang di taroh bi Lijah tepat di sisi pintu kamar mandi, mendengar bunyi-bunyian itu tentu saja Qiyas segera mengalihkan pandangnnya ke arah situ, tepat dimana Salwa masih berdiri hampir tak tegak hanya mengenakan sepotong handuk dan beberapa lembar pakaian kotor yang tengah dipeganginya saat ini, sontak ke duanya saling tatap-tatapan kaget.


Dari rambut sampai dada bagian atas hingga 15 centi diatas lutut menurun sampai mata kaki, dengan tekunnya Qiyas menatap bagian tubuh Salwa yang tak terbaluti itu, tampak ekspresi wajahnya berubah seketika menjadi tak biasa seakan ia tengah terhipnotis dengan apa yang baru saja di lihatnya itu.


Sebaliknya meski tak bersuara, namun ekspresi wajah Salwa sangat menunjukan betapa malunya ia saat beberapa bagian tubuhnya itu sudah di lihat oleh Qiyas, dengan segera ia membelakangi suaminya lalu dengan langkah yang terburu-buru ia kembali masuk ke kamar mandi namun sialnya lagi Salwa malah terpeleset hingga ia benar-benar kesulitan untuk terperanjat, pun pakaian kotor yang dipeganginya tadi terpental jauh kemana-mana, melihat hal tersebut, Qiyas pun segera berlari kecil menghampirinya.


Dengan sekuat tenaga Salwa berupaya merangkak sebisanya untuk menjauhi Qiyas yang tengah menghampirinya itu, namun tiba-tiba ia membelalakan kelopak matanya saat melihat Qiyas yang hanya berjarak beberapa centi lagi dari tubuhnya itu tengah memungut pentalan pakaian kotor tadi, bukan apa-apa sedikit yang bikin kepalanya runyam ialah saat Qiyas dengan santainya memungut sebuah bra berwarna abu-abu dengan motif polkadot, bukan main Salwa bererang jengkel di dalam hatinya, ia yang tak kuasa menyaksikan hal itu, sontak lalu menutup kepalanya dengan sebuah ember kosong yang baru saja di raihnya, rasanya Salwa benar-benar kehabisan nyali untuk berhadapan dengan suaminya saat ini.


"Huuph....huuph..huuph..." terdengar hembusan nafas Salwa yang memantul di dalam ember, seketika itu juga Qiyas lalu menarik ember itu namun dengan tanggapnya Salwa pun mencoba menahan ember tersebut.


"Boleh minjam embernya gak?" tutur lembut suaminya namun tak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut Salwa.


"Buat nyimpan pakean dalem kamu nih" lagi-lagi Salwa tak memberikan respon apa-apa hingga akhirnya Qiyas mulai melirihkan suaranya dengan mengucapkan beberapa kalimat yang cukup melebarkan ke dua bola mata Salwa.


"Atau...kamu memang suka ngeliat aku megang-megang pakean dalem kamu?"


Seketika itu juga ia melepaskan ember yang ada di kepalanya lalu merampas pakean dalam dan beberapa lembar pakaian lainnya lagi yang saat ini di genggam Qiyas, lalu di taroh di dalam ember tadi, sementara Qiyas masih saja berusaha untuk membendung tawanya yang hampir kelepas itu.


Sakit bercampur malu, itulah dua kata yang saat ini tengah bersemayam di kepalanya, Salwa kembali mengikat erat gulungan handuknya, sembari terus berusaha untuk berdiri namun lagi-lagi Qiyas mencoba melerai usaha isterinya itu seraya merunduk lalu mengulurkan tangan kanannya di hadapan Salwa, alih-alih menggapai uluran tangan suaminya, dengan ekspresi jengkel Salwa malah menghempas tangan Qiyas.

__ADS_1


"Mau di bantu gak?"


"Gak usah, aku bisa sendiri!" sejenak ia biarkan saja Salwa dengan kemauannya namun tiba-tiba Qiyas dikejutkan dengan titihan darah yang mengucur di kedua betis isterinya itu, saat diperhatikan dengan jeli ternyata kucuran darah itu berasal dari luka lebam yang ada di lutut Salwa.


"Lutut kamu kenapa kok berdarah?" sontak Qiyas lalu menyentuh betis Salwa, seketika itupun terpatik-patik kejengkelan di benak Salwa, ia kemudian meninggikan suara di hadapan Qiyas.


"Hiish...gak usah pegang-pegang" ketusnya sembari menghempas tangan suaminya itu.


Semakin di lerai, Qiyas semakin tak perduli, dengan segera ia membungkuk lalu menggendong paksa tubuh Salwa yang tengah terluka betapa histerisnya kembaran Hilwa itu saat di gendong Qiyas.


"Hei...kamu apa-apaan sih, turunin aku, turunin, cepet turunin sekarang" teriaknya, sambil berkali-kali ia melayangkan kepalan tangannya tepat di dada Qiyas, namun Qiyas hanya terdiam sembari terus berjalan masuk ke kamar.


Kini mata Salwa kembali terbelalak saat Qiyas membawanya masuk bukan ke kamar tamu melainkan ke kamar pribadinya sendiri, seketika itu Salwa kembali memberontak di gendongan suaminya.


"Turunin aku...turunin sekarang!"


"Kenapa kamu bawa aku kesini?" timpanya lagi dengan nada suara yang semakin melunjak, namun kali ini Qiyas mulai menindih ucapanya isterinya itu dengan suara tegas.


"Huusstt...bisa diem gak sih, dari tadi teriak-teriak mulu, gak malu apa sama bi Lijah?"


"Aku bawa kamu kesini karena kaki kamu perlu di obatin"


"Ow ya satu lagi, mulai hari ini kamu akan tidur di kamar ini" tambahnya, sembari mengambil kotak obat yang ada di atas lemari.


"Gak...aku mau keluar"

__ADS_1


Melihat Salwa yang mulai terperanjat dengan segera Qiyas mendahuluinya berlari ke arah pintu, lalu mengunci rapat pintu kamarnya itu, tak lupa ia mencabut kuncinya lalu di selipkan ke dalam saku celananya.


"Buka pintunya, aku mau keluar dari sini"


"Gak..." segera saja ia menghampiri Qiyas lalu berusaha mengambil kunci yang ada di saku celana bapak pilot itu.


"Mana kuncinya...mana haa..? mana kuncinya?" amuknya sembari menumbuk-numbuk dada Qiyas, ia yang semakin tak kuasa menghadapi amukan Salwa, kini memilih jalan pintas dengan mengekang ke dua tangan isterinya itu sembari bersuara pelan padanya.


"Oke...oke, aku akan buka pintunya, tapi setelah kaki kamu di obatin dulu yah?"


Dengan ragu-ragu ia menganggukan kepalanya, tidak lama kemudian Qiyas pun segera memboyong Salwa menuju bed, ia hanya duduk terdiam tanpa suara sementara Qiyas mulai bersimpuh untuk mengobati luka memar yang ada di lutut isterinya itu.


"Auuh....hiiis" erangnya kesakitan, saat lutunya di baluri betadin cair oleh Qiyas.


"Sorry...sorry" sahut Qiyas.


"Kamu kok mandi, bukannya semalam kamu masih demam yah?" tanya Qiyas namun Salwa tidak memberikan jawaban apa-apa atas pertanyaan itu.


"Ok udah selesai...nih kuncinya kamu boleh keluar sekarang!" tuturnya sembari menyedorkan kunci kamar pada Salwa, dengan senang hati wanita berusia 22 tahun itupun segera terperanjat dari situ, lalu membuka pintu kamar, tepat dimana ia akan melangkah keluar tiba-tiba Qiyas berlari kecil menghampirinya seraya menghalang-halangi jalan Salwa untuk keluar dari situ.


"Apa lagi?"


Tiga langkah ia berjalan maju mendekati Salwa, tanpa permisi ia kemudian menyentuh pelan ke dua bahunya yang cukup membuat Salwa kebingungan, secara perlahan ia memeramkan ke dua matanya sembari menunduk sejajar dengan kepala Salwa, tak berfikir panjang lagi ia lalu mengecup lembut bibir mungil isterinya itu, bagi Salwa hal ini benar-benar terjadi di luar dugaan akal sehatnya, seketika itu ia hanya bisa melebarkan ke dua bola matanya sambil menikmati kecupan bergairah dari bibir pria tampan tersebut, betapa jantungnya berdegub kencang saat ini sampai-sampai ia kebingungan harus bagaimana untuk menormalkan suara nafasnya yang mulai mendesah itu, saking suasanannya begitu deg-degkan serasa kandung kemihnya mulai penuh hingga akhirnya ia terpaksa mendorong tubuh Qiyas.


"Ahm...ma..maaf, aku pengen pipis!"

__ADS_1


"Ouw...sorry aku...aku benar-benar di luar kendali" sahutnya sembari mengambil kunci mobil di atas meja lalu beranjak pergi dari situ, sementara Salwa berulang-ulang kali mengedip-ngedipkan kelopak matanya berasa masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Gak apa-apa Salwa, gak apa-apa...dia kan suami kamu, udah halal kok" gumamnya lirih sambil sesekali ia menyentuh bibirnya yang masih sangat basah itu.


__ADS_2