
*Sesi Pemotretan
"Sudah siap bu?" Erin meyakinkan Salwa.
"Insya Allah Rin, saya siap" tuturnya dengan suara yang mulai gemetar.
"Ya udah kita ke stage sekarang!"
"Ahm..Rin?"
"Iya bu?"
"Pak Arief marah banget yah sama aku?"
"Ammm...nanti ya bu, kita bahas soal ini, sekarang bu Salwa fokus aja dulu untuk sesi ini ok!" Salwa menghela napas tak lega seraya mengangguk kecil pada Erin.
Saatnya Salwa diboyong Erin menuju stage mini pengambilan Video, beberapa kameramen sudah standby di sana, staf yang bertugas sebagai pengarah, penata decor dan tata busana, bahkan Umi dan Arief sendiri juga sudah mengambil tempat untuk menyaksikan langsung bagaimana performa pertama Salwa di bidang Model, tentunya semua memilki ekspetasi yang sama yakni sama-sama berharap semoga penampilan Salwa tidak mengecewakan.
Gorden ruang tata rias mulai terbuka, disana tampak Salwa yang digandeng tangannya oleh Erin, keduanya berjalan perlahan menuju stage, gaun panjang berwarna coksu dengan renda bagian belakang yang terlihat sedikit menyapu lantai itu, begitu sangat cocok menempel di tubuh Salwa apa lagi di bagian brukatnya terdapat manik-manik yang menambah elegannya gaun tersebut saat berbiasan dengan cahaya.
"Waaw!!!" teriak kagum beberapa staf saat menyaksikan Salwa.
"Cantiknya...."
"Bu Salwa cantik banget yah..."
"Udah cantik dari sononya juga kan..."
"Bu Salwa gak dandan aja udah cantik, noh liat Uminya udah umur segitu juga tapi masih cantik kok..."
Semua mata yang hadir tentu mengagumi kecantikan kembaran Hilwa itu, tak terkecuali dengan Arief, diam-diam ia juga memerhatikan Salwa bahkan hampir tak beralih pandangannya, namun takut tingkahnya itu disadari yang lain, sesekali ia mencoba beralih memainkan handphone.
"Bu Salwa kita ambil gambar dulu ya, setelah itu baru kita masuk ke sesi pengambilan Video" tutur Endi sang pengarah sekaligus fotografer.
Salwa mulai di arahkan untuk duduk, sembari merangkul keranjang buah yang didalamnya terdapat beberapa bungkus produk cake Salief dengan tiga varian rasa, strawberry, vanilla dan cokelat.
"Bu, tangan kanannya pegang produk ya.."
__ADS_1
"Keatasin dikit produknya, ibu sambil senyum, oke tahan..1...2...3..cekreek"
"Kali ini senyumnya dilebarin lagi, giginya harus kelihatan, ok ok gitu bagus...."
"Itu tangan kirinya sentuh keranjang ya...siap, 1.…2....3....cekrek" Salwa hanya manut-manut saja dengan apa yang di arahkan untuknya, juga sejauh ini ia melakukan tugasnya dengan sangat profesional, di tahap ini tata busana mulai mengingatkan untuk mengganti kostum, Salwa kembali di giring ke ruang ganti.
Setelah beberapa kali mengganti kostum dan ngetake gambar, Salwa akhirnya menyelesaikan sesi foto dengan sempurna, sang fotografer terlihat puas dengan hasil fotonya, ia cepat-cepat menunjukkan hasil foto tersebut ke hadapan Arief sembari memberikan penjelasan editingnya nanti.
"Wah...disini vibesnya bu Salwa itu seperti model-model yang sudah profesional sih pak"
"Kalo sudah kek gini, editingnya nanti makin perfect jadinya" Arief hanya mengangguk-ngangguk menanggapi ucapan Endi, meski dalam hati ia juga ingin sekali memuji-muji kebolehan Salwa saat itu juga namun ia berusaha untuk menahan diri.
Waktunya break, Salwa di beri waktu 15 menit untuk istirahat, setelah itu ia harus ready lagi dengan sesi pengambilan video, di sana Umi terlihat menghampirinya sembari membawa sebotol minum untuknya.
"Gimana?" tanya Umi sembari menyedorkan minuman tersebut.
"Lumayan capek Umi..."
"Ya udah Salwa makan dulu ya?"
"Gak usahlah Umi, nanti sekalian aja kalo udah selesai..." tuturnya namun sesekali ia coba melirik ke arah Arief yang tengah berbincang dengan Endi di pojokan sana, tak sengaja sebaliknya Ariefpun terlihat sesekali menatapnya, namun saat mata bertemu mata Arief segera mengalihkan pandangannya ke Endi.
"Ow yaudah pak saya kesana dulu yah" Ujarnya sembari bergegas.
"Iya..iya.." sahut Arief.
Tanpa basa-basi Salwa yang sudah berhadapan dengan Arief, kembali menuturkan permintaan maafnya.
"Rief...aku...aku minta maaf ya...?" Arief masih saja terdiam sambil malu-malu menatap wanita cantik yang tengah berceloteh itu.
"Aku tahu aku udah membuat kesalahan besar hari ini, tapi..." tiba-tiba Arief memotong.
"Udah gak apa-apa...semarah apapun aku sama kamu, toh dua client itu juga gak bakalan balik lagi kesini"
"Hah? maksudnya dua client?"
"Ya gara-gara pengunduran schedule pemotretan ini, pak Bara dan pak Anton langsung membatalkan kontrak kerja sama, sama kita"
__ADS_1
"Ow yah...ya ampun!" Salwa benar-benar ditampar rasa bersalah setelah mengetahui semuanya, pantaslah jika Arief se marah itu padanya.
Tak beberapa lama dari obrolan mereka, disana terlihat pintu utama dari ruangan tersebut mulai di buka dari luar, orang-orang yang ada didalam segera mengamati, siapa yang ada dibalik pintu tersebut, saat pintu itu terbuka terlihat sesosok pria berpakaian rapih, berwajah tampan dan bergestur ideal yang tengah menenteng sebuah parsel putih ia masih menegap disitu seraya mengamati semua wajah yang ada di dalam sana.
"Umi..." tuturnya sembari bergegas mendekati Umi, ya dia adalah Qiyas sang menantu, mendengar itu posisi Salwa yang tengah membelakangi pintu utama, dan sejak tadi tak menyadari kedatangana suaminya itu, segera berbalik badan, sementara Arief yang menyadari kedatangan Qiyas hanya berekspresi datar tanpa menuturkan kalimat apapun.
"Salwa mana Umi?" pungkasnya.
"Itu Salwa!" Umi segera menunjuk posisi Salwa yang tengah duduk berhadapan dengan Arief, menyaksikan hal itu, Qiyas langsung bermuka datar sembari berjalan kecil menuju Salwa.
"Amm...Rief bentar yah" Sebaliknya Salwa bergegas menghampiri Qiyas yang juga tengah menghampirinya.
"Mas? mas ngapain kesini?" Salwa melirih, namun saat melihat penampilan Salwa hari ini tiba-tiba Qiyas di buat tak bergeming olehnya, ia menatap wajah Salwa sangat lama sampai-sampai Qiyas tak menyadari sudah beberapa kali Salwa mengejutkannya.
"Mas?" teriaknya.
"Hum? ap...apa tadi...?"
"Huuft...mas ngapain kesini? bawa-bawa parsel segala"
"Yaaa aku tadi keluar, terus lewat sini, ya udah iseng aja mampir kesini" Qiyas berusaha mencari-cari alasan, padahal sejak tadi niat awalnya memang mau ke sini.
Salwa hanya terdiam seraya menyimak alasan Qiyas barusan, kelihatannya Salwa menyadari kilahan Qiyas kali ini, pikirnya "Masa cuman iseng tapi niat banget bawain makanan?" namun ia berusaha untuk pura-pura percaya saja dengan omongan suaminya itu.
"Itu apa di dalam parsel?"
"Amm....ini makan siang untuk kamu, aku sengaja buatin ini karena...karena tadi pagi kamu kan gak sarapan" tutur Qiyas sedikit gugup, sontak Salwa terbelalak merasa tak percaya, ia segera meraih parsel itu dan benar saja setelah di intip, isinya adalah sebox nasi putih dengan lauk pauk yang dibuat oleh tangan Qiyas sendiri dan juga sebotol air mineral.
"Ini bener mas yang masak?"
"Ammm...iya, tapi resepnya nonton di youtube". pungkas Qiyas seraya menggaruk pelan alisnya.
"Ini kamu lagi ngapain? kok di dandanin gini?"
" Iya ini aku lagi syuting iklan"
"Owh..."
__ADS_1
Dari obrolan pasutri itu, tiba-tiba Reni datang menghampiri, untuk mengingatkan Salwa kalau waktu break tinggal 5 menit lagi, dan ia harus segera diboyong ke ruang ganti. Qiyas yang sudah paham dengan alur permodelan seperti itu, hanya bisa berkata iya saja saat istrinya diboyong sana sini, Qiyaspun segera mencari tempat duduk terdekat sembari menunggu penampilan Salwa selanjutnya.