Quality Love

Quality Love
Episode 43


__ADS_3

*Pengorbanan Luar Biasa


Seketika itu akupun duduk menepih di sisi tempat tidur, dengan topangan dagu ku tatap wajah tampan mas Qiyas yang tengah terlelap itu, sontak akupun tersenyum malu di buatnya, mas Qiyas bener-bener keterlaluan bahkan dalam keadaan tertidurpun ia masih saja membuatku terkesimah akan segala sesuatu yang ada pada dirinya, pungkasku sedikit berlebihan.


"Masya allah, betapa tampannya manusia kulkas ini, andaikan sikapnya bisa semanis wajahnya mungkin akulah satu-satunya semut lucu yang akan di izinkan untuk terus menempel di pundaknya kemanapun ia berkelana, hehe" gumamku sedikit lirih, rasanya sudah cukup lama ke dua bola mata ini berkabut polusi penderitaan hidup, saat ini adalah kesempatan yang bener-bener briliant untuk membilas mata ini dengan terus memandangi wajah mas Qiyas yang masih saja terlelap itu.


Lalu secara perlahan ku perhatikan lagi batas tegas kedua bola matanya, alis matanya yang sangat lebat itu juga semakin memperindah susunan wajahnya, bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung, dan juga kulit wajahnya yang mulus itu bahkan hampir tak kelihatan lubang pori-porinya semakin memacu kegemasan yang haqiqi saja di raut wajahku ini.


"Kring....kring...kring.." seketika itu terdengar nada dering pesan masuk di handphoneku, sontak saja aku terkejut lirih dibuatnya, tak berlama-lama lagi segera ku buka pesan tersebut yang kebetulan pesan itu berasal dari suster Kiran.


"Yang pertama cuci lukanya dengan antiseptik, ow antiseptik..." Gumamku dengan tatapan yang cukup serius ku lanjutkan lagi membaca isi pesan itu, sembari mulut ku terus saja komat-kamit tak menentu.


Satu demi satu sudah ku lakukan sesuai dengan arahan suster Kiran yang ia kirimkan lewat pesan padaku, namun sebagai orang awam yang benar-benar awam ku baca lagi isi pesan itu, untuk sekedar memastikan tidak ada kekeliruan atas apa yang sudah ku lakukan.


"Cuci luka udah, balut tekan secara lembut udah, obat?" ku jedah waktu sejenak untuk berfikir, berasa tau akan jawabannya akupun kembali bergumam lirih.


"Ow yah...tinggal obatnya aja berarti, duuh mana persediaan obat gak ada, berarti aku harus ke apotek lagi nih" gumamku lirih dengan tubuhku yang terus gelisah sembari mondar mandir di sekitar tempat tidur, seketika itu akupun bergegas ke apotek untuk membeli antibiotik dan juga antipiretik untuk mas Qiyas.


*****


"Ini obatnya ya mbak" dengan senyuman petugas apotek itu menyedorkanku sebuah kresek bening yang didalamnya sudah terisi semua obat yang ku sebut tadi.


"Ahm iya, jadi semuanya berapa ya mbak?" sahutku sambil meraih kresek itu.

__ADS_1


"Bentar ya mbak, saya cek dulu" seketika ia pun mulai menghitung total belanjaanku di layar monitor kassir.


"Jadi total pembayarannya Rp. 45.000.00, mau bayar cash atau secara debit mbak?" sahutnya lagi dengan suara yang masih konsisten terdengar halus.


"Haa? 45 ribu? mana uang yang aku bawa cuman 20 ribu, duh gmana nih" seketika itu hati dan fikiranku pun mulai berkecamuk, terus saja aku mematung di hadapan petugas apotek itu.


"Mbak?" panggilnya lagi.


"Aam..mbak, kurangin aja deh obatnya, uang saya cuman 20 ribu, hehe" ucapku nyengingiran dengan menggenggam beribu rasa malu di wajahku, mendengar jawabanku barusan ia pun mulai terlihat naik pitam.


"Loh, mbak gimana sih, ya gak bisa seenak mbaknya aja dong, mbak pikir ini toko obat mbak? semua obat-obat ini udah kita gunting-gunting loh mbak jadi gak bisa dibalikin lagi ke boxnya"


"Ow gitu yah...tap...tapi......" merasa kesal denganku iapun tiba-tiba beralih tempat untuk melayani pelanggan yang lain dengan mulutnya yang masih saja mengomeliku, terlihat juga beberapa pelanggan yang mulai memerhatikanku dengan tatapan yang menyebalkan, duuh hanya masalah obat kok urusannya jadi panjang kali lebar kek begini sih anggapku yang mulai putus asa.


"Ada apa sih ngomel-ngomel? gak enak tau di denger pelanggan" tiba-tiba salah satu pegawai dengan seragam yang berbeda turut memperingatinya.


"Biarin aja dia denger, gitu kan lebih baik, biar tau diri dia" sahutnya lagi.


Aku yang hampir tak ada muka masih saja berdiri disini, menunggu bagaimana jalan penyelesaian obat dengan nominal 40 ribu ini, hingga akhirnya pegawai dengan seragam yang berbeda tadi mulai menghampiriku.


"Aam..mbak?"


"Ya..." sahutku masih dengan hati yang was-was, akankah wanita tomboi ini juga akan ikut mengomeliku seperti tadi pegawai sebelumnya.

__ADS_1


"Gak apa-apa mbak ambil aja obat ini, nanti sisanya biar saya aja yang bayarin"


"Aaa..gak usah...gak usah mbak"


"Gak apa-apa mbak, mbak membutuhkan semua obat ini kan?" sontak ku berikan anggukan kecil padanya.


"Nih mbak ambil aja, gak usah mikirin sisanya, saya bisa ngerti kok posisi mbak saat ini, saya juga dulu punya ibu yang sakit-sakitan mbak" dengan senyuman ia tak lagi melanjutkan ucapannya yang mulai mematik rasa tanya di benakku saat ini, segera saja ia meraih uang 20 ribu dari tanganku dan iapun menindih dengan uanga 25 ribu yang baru saja di ambil dari saku celananya.


"Makasih ya!" hanya itu yang bisa terlontar dari mulutku, iapun membalasku dengan senyuman yang tulus.


"Geleduk...geleduk....geleduk.." terdengar beberapa kali gemuruh petir di atas sana.


"Ayo pak jalan" ujarku pada seorang bapak ojek online yang sedari tadi masih menungguku di luar.


"Tapi neng ini udah mau hujan, bapak gak bawa jaket hujan, takutnya nanti eneng basah diperjalanan"


"Gak apa-apa pak, basah juga gak apa-apa" ujarku terburu-buru, seketika itupun kami segera beranjak dari situ, selang beberapa meter di perjalanan benar saja kini tetesan hujan mulai membasahi tubuhku.


Setelah 30 menit diperjalanan sudah terdengar adzan subuh mulai di kumandangkan, pun hujan ini semakin deras saja mengguyur bumi hingga tubuhku mulai terasa menggigil, dan juga ke dua bibirku yang mulai gemetar kedingingan sesekali kucoba menyalurkan sedikit kehangatan dengan meniup ke dua telapak tangannku yang sangat basah ini.


"Ini rumahnya ya neng?" tanya bapak ojol itu sembari menepihkan sepeda motornya di depan halaman rumah mas Qiyas.


"Iya pak, makasih ya pak!" ujarku pada bapak ojol tadi, tak berlama-lama lagi setelah bapak ojol itu pergi akupun segera masuk ke dalam rumah, namun saat aku menapaki anak tangga ke dua di teras rumah tiba-tiba aku terpeleset jatuh ke bawah, hingga ke dua lututku menimpa sisi tajam anak tangga yang menyebabkan luka memar di ke dua lututku saat ini.

__ADS_1


"Aauuhh...hiiis" seketika itu akupun menguatkan diri untuk terperanjat dan segera masuk ke dalam rumah.


__ADS_2