Quality Love

Quality Love
Episode 47


__ADS_3

*Hati Yang Terkabuti Ego


"Pak belum mau turun?" tanya pak Reindra pada Qiyas yang sejak take of sampai landing bertugas sebagai co pilot di sebelahnya.


"Aam...belum, duluan aja pak nanti entar aku nyusul"


"Ya udah pak Capt. aku turun duluan yah! nanti kalo ada apa-apa tinggal calling aja"


"Iya...iya"


Saat pak Reindra berpamitan, Qiyas masih saja stay duduk di ruang cockpit sembari mencari-cari kontak suster Kiran untuk di telponnya, setelah lima detik panggilan video terhubung, pun langsung di jawab oleh suster Kiran.


"Halo sayang!" sapa semringah suster Kiran.


"Hai..."


"Udah nyampe?"


"Udah, 15 menit yang lalu, kamu ngapain?"


"Ini aku lagi dinas malam sayang, kenapa masih di ruang cockpit?"


"Yaah lurusin kaki aja bentar pegel-pegel soalnya, kamu udah makan belum?"


"Udah sayang, kamu jangan lupa makan ya?"


"Oke..."


"Oke, bye..bye!"


Setelah obrolan mereka selesai, Qiyaspun segera mengeluarkan tas yang sering di bawanya ketika fly, namun tak sengaja ia menjatuhkan box makanan yang disiapkan Salwa untuknya, ia terdiam sejenak menatap box itu hingga terbesit lagi ucapan bi Lijah di ingatannya "Sekarang non salwa sedang sakit tuan"


Ia kemudian merunduk untuk mengambil box makanan itu, lagi-lagi omongan bi Lijah masih saja mengiang di kepalanya "Jadi kemaren subuh waktu hujan-hujan itu, ternyata non Salwa dari apotek katanya sih beliin obat-obatan untuk tuan, eh tau-taunya pas di tangga depan itu non Salwa jatoh jadinya ke dua lututnya itu memar gitu tuan"


Qiyas kembali termenung, sejenak ia mengambil beberapa waktu untuk duduk di kursi, matanya terus menyoroti box makanan yang tengah digenggamnya itu, setelah ia membukanya ternyata berisi roti panggang isi keju dengan motif smile yang mulai tak beraturan hingga membuat wajah seorang Qiyas Fathir Anugerah tersenyum kilas dibuatnya, tak beberapa lama Qiyaspun mulai menyantap roti itu.


*****


"Haaaah...mas Qiyas?" aku mulai terbengak serasa badanku mulai kaku semuanya, saat melihat nama "Suamiku" terlampir di layar handphoneku yang tengah dialling video call via whatsapp.


"Duh..kok tumben banget yah mas Qiyas video call sama aku?" gumamku dengan tatapan kosong seperti orang yang tengah mengigau.


Masih saja ku pandangi layar handphone yang terus berdering itu, bagaimana tidak, ini adalah kali ke dua ia menghubungi nomorku, jelas saja setelah kami menikah memang masing-masing dari kami sudah saling bertukar kontak namun hanya sebatas menyimpannya saja, tidak ada komunikasi yang terjadi diantara kita.


"Apa dia tau kalau aku tengah sakit?" belum pupus semua pertanyaan di benak ini, ku simpan lagi handphone ini di atas tempat tidur lalu dengan semangat akupun tereranjat untuk mengenakan hijab, tak lupa ku pandangi wajahku yang pucat ini di cermin rias, sambil memakai sedikit lipstick dan mencopot beberapa tempelan koyo yang masih melekat di dahi ku, setelah itu akupun kembali meraih handphoneku namun panggilan itu berakhir begitu saja.


"Yaaakh..mati lagi, duuh..dia mau nelpon lagi gak yah?" pungkasku dengan sedikit penyesalan kenapa dari tadi tak ku jawab telpon itu.


Dengan wajah lesuh aku kembali terduduk di sudut tempat tidur sambil ku lihat lagi nomor mas Qiyas dengan tangaku yang terus memijat lembut dahi ini.


Tak selang beberapa menit, kini mas Qiyas kembali melakukan dialling video call lagi, sumpah betapa kagetnya aku bukan main-main, kutarik nafasku seketika sambil ku elus-elus dada ini, getaran Hp yang saat ini ku genggam seakan tengah membumi hanguskan organ tubuhku didalam sana, spontan akupun terperanjat lagi, dengan ekspresi gemesh aku sampai tak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


"Dia menelpon lagi!"


"Duuh..kok aku deg-degkan gini yah?" aku masih saja menatap dialling itu, tanpa berani aku menjawabnya, ku arahkan lagi tubuhku ke meja rias, ku pandangi wajahku sekilas sembari memperbaiki beberapa kerutan yang ada di hijabku, maklum saja ya didepan suami haruslah terlihat cantik hehe.


Namun lagi-lagi aku masih saja belum berani untuk menjawab telpon itu, beberapa kali ku gigit ibu jari tanganku sembari terus menatap panggilan masuk mas Qiyas yang hampir berakhir itu, hingga akhirnya akupun memberanikan diri untuk menjawab telponnya.


"Bismillah..." ucapku sangat ragu-ragu.


Setelah ku jawab panggilan video call itu, ternyata mas Qiyas belum lagi memfokuskan pandangannya ke sini, sepertinya ia tengah sibuk mencari sesuatu, kulihat suasana di sekitar sepertinya mas Qiyas tengah berada di ruang cockpit, mungkin saja saat ini mereka baru landing di bandara tujuan, entahlah aku sendiri juga tak cukup paham dengan pekerjaan suamiku.


Terlihat juga ada beberapa pramugara yang tengah berbicara dengannya saat ini, beberapa obrolan pendek mereka hanya sekedar ku simak saja tanpa mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh mereka hingga akhirnya ia pun mulai mengarahkan pandangannya ke sini, namun mas Qiyas sedikit terkejut saat melihat aku yang sudah standby dari tadi di kamera, baru saja aku tersenyum padanya tiba-tiba ia memalingkan wajahnya dari kamera hingga hanya terlihat setengah bahu dan lengan kirinya saja.


"Halo? kamu lagi sibuk ya?" ucapku, yah seperti biasa pertanyaanku itu hanya menggelinding begitu saja tanpa di jawab sedikitpun olehnya.


Namun saat kuperhatikan dengan jelli, terlihat gerakan tangan dan tubuhnya seperti ia tengah berkaca disisi pesawat dan memperbaiki sisiran rambutnya entahlah mungkin hanya sekedar anggapanku saja, karna faktanya meski ia tak memperbaiki penampilannya saja ia memang lelaki tampan dari sonohnya.


"Ya udah kalo kamu sibuk, nanti aja yah telponya" tiba-tiba ia mulai mengarahkan wajahnya ke kamera, sembari bersuara padaku.


"Udah makan belum?" pertanyaanya terdengar cukup to the point, ya allah benar-benar di luar dugaan, ku pikir ia akan memulai percakapan ini dengan sedikit kalimat pembuka yang basa-basi gitu, namun ternyata tidak sama sekali, yaah mungkin sudah seperti itu kali yah tipikal manusia kulkas.


"Udah" sahutku


"Okeh, entar dokter pribadi aku dateng buat meriksa kesehatan kamu, jangan tidur dulu ya?" aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya itu, pelan-pelan ku mulai topang dagu ini sembari menatap wajah mas Qiyas yang hampir memenuhi layar ponselku.



bahkan aku yang mulai kehilangan akal saat ini hampir tak pernah luput senyuman ini ku suguhkan untuknya.



"Cubit pipi kiri kamu sekarang" pintaku sedikit manja dengannya.


"Apaan sih"


"Cubit pipi kiri kamu, cubit..." ucapku lagi dengan nada suara yang mulai meninggi, namun ia hanya menatapku dengan seribu kejengkelan yang masih ia pendam.


"Kamu lupa ya syarat yang ke empat?" lagi-lagi ia hanya menatapku dengan wajah jengkelnya itu.


"Sekarang tuh aku lagi bahagia, karena kamu jauh aku gak bisa nyubit pipi kamu, makanya biar tangan kamu aja yang mewakili tangan aku untuk nyubit pipi kamu" mas Qiyas kemudian terpaksa harus mencubit pipi kirinya


"Pasti bi Lijah kan? yang ngasih tau ke kamu kalo aku sakit, udah kamu gak usah khawatir, aku cumam demam pilek doang kok hehe nanti juga sembuh"


"Kamu gak usah kepedean deh, aku kek begini juga karena terpaksa" baru saja hatiku mulai melayang-layang di atas sana kini merosot kembali akibat ucapannya barusan.


"Kamu apa kabarnya?" tanyaku, sengaja ku ubah topik pembicaraan agar tak berlarut-larut kuserapi omongannya yang mulai mengandung cabai itu.


"Aku sehat!"


Ia kemudian berjalan keluar dari pesawat, sambil mendorong kopernya, percakapan kami terjedah beberapa menit hingga tepat di lobi ia mulai memesan mobil untuk mengantarkannya di sebuah hotel.


"Kamu mau oleh-oleh apa nanti?" pertanyaan ini ia lontarkan sesaat setelah ia masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Humm...oleh-oleh?"


"Gak usah, kamu kembali disini dengan selamat tanpa lecet sedikitpun, itu sudah menjadi oleh-oleh terbaik untuk aku"


"Gak usah lebay deh" dengan gayanya yang cool ia kemudian melonggarkan ikatan dasi yang tengah melilit kerah bajunya itu.


Tiba-tiba aku terkejut melihat bi Lijah dengan kerasnya ia membuka pintu kamarku, dengan terburu-buru ia kemudian menghampiriku yang tengah merebah disini, aku hanya melongo bercampur bingung melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang tengah bahagia tak ketulungan.


"Non..ada pak Arief di depan!" dengan semangatnya bi Lijah bersuara padaku sambil menyebut-nyebut nama Arief, sontak akupun memberikan kode dengan menempelkan jari telunjukku dibibir seraya menyuruh bi Lijah untuk tidak bersuara dulu, apalagi menyebut-nyebut nama direktur Umi itu, karena saat ini aku tengah mengobrol dengan mas Qiyas, ia yang mulai memahami maksudku kini segera bergegas keluar dari kamar.


"Ngapain dia dateng ke rumah malem-malem?" mas Qiyas kembali bersuara padaku, sudah ku duga teriakan bi Lijah barusan pasti di dengar oleh mas Qiyas, dengan hati yang carut-marut ku pejamkan mata ini sekuat-kuatnya sembari menyesalkan ketidaksengajaan bi Lijah atas ucapannya tadi.


"Aku rasa kamu dengar dengan jelas pertanyaanku barusan" mas Qiyas kembali bersuara dengan nada yang sedikit meninggi.


"Aham..aku..aku nitip beliin vitamin sama dia"


"Mana bi Lijah?"


"Bi Lijah lagi sama Arief di depan"


"Kasih Hp kamu sama bi Lijah, aku mau ngomong sama laki-laki itu"


"Emangnya kamu mau ngomong apa sama dia?"


"Kasih aja Hp kamu sekarang" tanpa pertanyaan segera ku panggil bi Lijah lalu kusedorkan Handphone ini padanya, dengan semangat yang berapi-api iapun mengantarkan Hp itu ke Arief.


"Pak?"


"Ya?"


"Nih..tuan Qiyas mau ngomong sama bapak"


"Aku?" tuturnya sembari menunjuk dirinya sendiri, mungkin Arief sedikit kaget kalau mas Qiyas mau bertukar kata dengannya, tak bertele-tele lagi segera saja Arief meraih handphone yang disedorkan bi Lijah itu.


"Kamu tau gak etika bertamu di rumah orang?" mendengar pertanyaan mas Qiyas, Arief kemudian tersenyum kilas lalu bersuara padanya.


"Wah! maaf yah pak captain, saya rasa saya tidak perlu les tambahan untuk belajar etika, saya kesini hanya sekedar mengantarkan vitamin saja untuk Salwa karena kondisi kesehatannya sekarang sedang menurun" Jelasnya lagi.


"Lah kok jadi kamu sih yang lebih khawatir dengan isteri saya?"


"Saya rasa sebagai seorang sahabat, wajar-wajar saja kalau saya turut khawatir dengan Salwa!"


"Bhuwws! sahabat" sontak mas Qiyas melepaskan tawa remehnya, seraya mengejek Arief saat menyebut-nyebut kata sahabat, namun Arief sendiri masih terlihat santai dalam menanggapi ejekan mas Qiyas itu.


"Memangnya kenapa? ada yanga salah?" tutur lembut seorang Arief.


"Kamu berniat mau ngambil dia dari saya?"


"Maksud pak captain apa yah? kok sampai kesitu pembicarannya, apa pak captain sedang cemburu?"


"Apa cemburu? haha kamu pintar ngelucu juga yah ternyata?"

__ADS_1


"Baguslah kalau pak captain gak cemburu, setidaknya kalau nanti saya berubah pikiran untuk merebut salwa dari kamu, sudah tidak ada lagi yang perlu saya takutkan" mendengar ucapan santai Arief barusan tiba-tiba wajah bapak pilot itu mulai berubah datar hingga obrolan merekapun usai begitu saja.


__ADS_2