
*Sahabat Tanpa Batas
"Kamu gak suka wortel kan?" tanya Salwa pada Arief yang tengah menepihkan potongan-ptongan worel di sisi piringnya.
"Aahm..iya"
"Sini buat aku aja"
"Tapi inikan udah kecampur ama ikan bekas gigit aku"
"Gak apa-apa, gak apa-apa siniin wortelnya"
"Beneran kamu gak jijik?"
"Ya ampun kamu kok gitu sih, kan dari SMA dulu juga aku suka makan bekas kamu" sahutnya sembari menyendok wortel-wortel itu dari piring Arief, sementara Qiyas yang melihat ke duanya mulai terlihat risih atas percakapan dua orang sahabat itu.
"Hehe kamu masih ingat aja kalo aku gak suka wortel"
"Iyalah meskipun IQ aku di bawah rata-rata, setidaknya hal-hal kek begitu gak mungkin lah aku lupa"
"Aam...Salwa tolong ambilin ayam semur itu tuh" kini Qiyas mulai bersuara seraya menunjuk mangkuk ayam yang berada sedikit jauh dari hadapannya, tentu saja langsung di turuti oleh Salwa.
"Mau yang mana lagi mas?"
"Umm...tempe oreknya juga tapi dikit aja ya"
"Iya...iya"
Setelah semuanya mulai menyantap makan siang, kini giliran Salwa yang mulai bersuara lirih pada Qiyas.
"Kamu ngapain ke sini? kok dateng gak berkabar?"
"Humm...memangnya kenapa? kamu pikir aku kesini mau ketemu kamu? gak usah kepedean deh" Salwa hanya terdiam mendegar sahutan Qiyas barusan, jelas saja ia lumayan tersindir atas ucapannya itu.
"Ada apa sih ni, bisik-bisik berdua?" potong Umi.
"Ahm...gak ada apa-apa kok Umi" tutur Qiyas.
*****
Usai makan siang ke empatnya masih stay duduk disitu, dengan beberapa obrolan ringan terkait keberhasilan toko cake Salief yang baru di resmikan beberapa bulan itu, hingga percakapan mereka mulai meruncing ke arah yang lebih serius dan bersifat pribadi.
__ADS_1
"Aam..Rief?"
"Iya Umi?"
"Umi pengen ngobrol bertiga dulu dengan Salwa dan Qiyas, boleh?"
"Oh iya boleh Umi, ini juga aku mau langsung ke kantor pusat Umi"
"Ow gitu? ada apa? kok buru-buru mau kesana?"
"Iya Umi, ini aku baru dapet kabar dari sekretaris aku kalo disana sedang ada tamu penting"
"Ow ya udah kamu hati-hati ya nak"
"Iya Umi"
Disinilah bu Salma memulai percakapannya dengan menyedorkan dua buah amplop putih pada Qiyas, yang tentunya langsung di buka oleh bapak pilot itu, ke duanya cukup tercengang saat mengetahui isi amplop tersebut.
"Ini tiket pesawat buat apa Umi?" tanya Qiyas dengan tatapan kaget.
"Itu hadiah untuk kalian"
"Maksud Umi?" masih saja Qiyas di terpa kebingungan.
"Maksudnya hadiah pernikahan?" pun Salwa terlihat turut kebingungan.
"Yah...sudah saatnya untuk kalian liburan lah, Qiyas kamu juga butuh waktu untuk refreshing, ow yah seingat Umi kalian kan belum bulan madu ya?" sontak Qiyas dan Salwa bertatap kilas dengan tingkah yang tak karuan.
*****
"Ouw...jadi yang kamu bilang urusan penting itu, ini?" tiba-tiba terlihat sosok Kiran dengan suara lantangnya ia bersuara di depan sana, yang tengah menegap seraya menyambut langkah kaki ke tiganya untuk saling berhadapan lebih dekat lagi, melihat hal se creepy ini tentunya Qiyas di serbu rasa panik yang bertubi-tubi, bagaimana tidak saat ini Kiran sangat berani menampakkan diri di hadapan bu Salma ibu mertua dari Qiyas.
"Itu..itu siapa?" tanya Umi dengan tatapan kebingungan ia menyoroti ke tiganya.
"Dia itu sahabat mas Qiyas Umi" jawab Salwa terlihat meyakinkan, sontak saja Qiyas mulai berlari kecil menghampiri Kiran yang tengah meneteskan air mata di depan sana.
"Tapi kok dia nangis? ini...ini ada apa sih sebenarnya Salwa?" lagi-lagi sang Umi seakan masih berkabung berbagai terkaan di dalam benaknya, hingga iapun mulai berjalan maju untuk menghampiri Qiyas dan Kiran yang tengah berbincang lirih didepan sana, namun dari sini Salwa mencoba untuk menghalang-halangi niat Uminya itu.
"Umi...mau kemana sih?"
"Umi mau denger aja, apa sih yang sedang mereka obrolin di depan sana? kamu kenapa nahan-nahan Umi?"
__ADS_1
"Umi...jadi Umi gak percaya kalo dia itu sahabat mas Qiyas?"
"Sahabat itu ada batasannya!" sontak nada suara bu Salma mulai meninggi tepat di hadapan wajah anak perempuannya itu.
"Umi gak pernah ngajarin kalian berasahabat dengan lawan jenis harus sedekat itu, dan kamu Salwa, kamu itu isteri dia nak, kok kamu biarin aja wanita itu pegang-pegang tangan suami kamu?" tambahnya lagi, seraya berjalan menghampiri Qiyas an Kiran di depan sana.
"Maaf anda ini siapa ya?" langsung saja mertua dari bapak pilot itu melontarkan pertanyaan yang tajam pada Kiran, pun Kiran yang cukup terkejut kala itu sontak melepaskan genggaman tangannya yang sejak tadi melingkar di lengan Qiyas.
"Ahm...dia ini temen aku Umi!" sahut Qiyas, sontak saja Kiran menatap tajam wajah kekasihnya itu, seraya meneteskan air mata sambil sesekali ia menyekanya lagi, ia merasa kata "temen" yang baru saja terlontar dari mulut Qiyas itu bagaikan pukulan yang beruntun dalam keadaannya yang seperti ini.
"Ow gitu...bentar..bentar sepertinya Umi kenal dengan dia" begitu jeli ia memerhatikan wajah Kiran yang tengah menunduk itu.
"Kalo gak salah, kamu ini perawat yang merawat anak saya kan?" hanya sebatas anggukan kepala yang di tampilkan oleh Kiran, sontak orang sesabar Umi saja bisa memjit keningnya seraya menghela nafas dalam, rasanya ia hampir tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Umi cuman gak habis pikir yah, ternyata seperti ini cara pertemanan orang-orang kota? bahkan di tempat umum seperti ini kalian berani pegang-pegangan tangan"
"Kamu juga sebagai perempuan, seharusnya kamu tau batas-batas berteman dengan lelaki itu seperti apa? apa lagi kamu taukan kalo Qiyas ini sudah menikah?" terus saja bu Salmah menyemburkan ungkapan-ungkapan yang semakin menyudutkan posisi Kiran, hingga Salwa mulai angkat bicara.
"Umi..."
"Apa lagi? kamu jangan bela-belain mereka, Umi ngomong kek begini biar Qiyas dan perempuan ini tau, seperti apa batas-batasnya kalau menjalin pertemanan dengan lawan jenis"
"Umi...Qiyas bener-bener minta maaf, tapi ini gak seperti yang Umi pikirkan dia hanya..." tiba-tiba sang mertua memenggal ucapannya.
"Ya sudahlah...kamu selesaiin aja urusan kamu dengan perempuan ini, biar Umi sama Salwa pulang duluan" tegasnya, seketika itu juga Ia lansung menarik paksa tangan Salwa yang masih saja mematung disitu.
"Ayo Salwa kita pulang"
Baru saja Salwa dan Umi berpindah dari situ, kini Qiyas tampak mengusap seluruh wajahnya sembari bersuara tegas dengan Kiran.
"Lagian kamu ngapain sih pake dateng ke sini?"
"Jadi kamu nyalahin aku?"
"Aku gak nyalahin kamu, masalahnya kamu tuh..."
"Masalahnya apa?"
"Kiran, sebelunya akukan udah bilang sama kamu, jangan pernah memunculkan wajah kamu di hadapan orang tua aku dulu apalagi sama mertuaku"
"Emang bener yah kata papah, semakin kesini kamu tuh semakin berubah tau gak?" masih dengan tirihan air mata ia berlalu begitu saja meninggalkan Qiyas dari situ.
__ADS_1
"Kiran? Kiran? kamu mau kemana?" panggil Qiyas yang sama sekali tak di gubris oleh Kiran.