
*Rapat Besar Di Toko Cake
Pagi ini sesuai janjinya, mas Qiyas bangun lebih awal dari biasanya, ia lalu bersiap-siap mengenakan pakaian yang rapih, namun sejak tadi ia hanya terdiam dan tak ada ucapan singgungan kalau ia akan mengantar ku ke toko cake, sementara aku yang sudah lebih dulu siap-siap, sedikit merasa tak enak hati untuk merepotkannya mungkin saja ia ada janji di tempat yang lain, karena melihat dari perawakannya aku hampir tak yakin kalau pria es batu ini akan mengantarku ke toko cake.
"Huuftt...." helaan nafasku lumayan terdengar di kuping mas Qiyas, namun tampaknya ia tak mengerti dengan kode halus yang baru saja keluar dari mulutkku ini, sekilas ku tatap wajahnya yang tak berseri itu lalu dengan ragu-ragu ku luapkan lagi kode yang nyata untuknya.
"Gak apa-apa, kalo kamu sibuk aku bisa naik taxi kok" sontak ia berbalik sedikit namun tatapannya tak langsung mengarah ke wajahku.
"Udah siap? ayo berangkat" pungkasnya sangat datar, ia lalu bergegas dari kamar, aku yang belum sempat berespon apa-apa hanya bisa mengambil tas lalu berjalan terburu-buru di belakangnya.
Masih dengan sesi yang sama, selama perjalanan, suasana di dalam mobil begitu hening hanya ada desiran angin yang mengelilingi daun telingaku, hingga toko cake Umi yang mulai kelihatan pun ia masih saja mengabaikan ku, perlahan ia mulai menepih di lahan parkiran lalu menyetop mobilnya, akupun langsung melepas seat bel lalu bersiap-siap untuk keluar dari mobil.
"Kamu gak mau ikut sekalian, masuk ke dalem?" ajakku.
"Gak, aku ada urusan" sahutnya.
"Ow...ya udah aku, aku masuk dulu ya" tanpa mengangguk lagi, mas Qiyas segera berlalu dari situ, aku cukup bertanya-tanya atasnya, namun tak berlama-lama lagi aku segera masuk ke dalam toko.
*****
"Selamat pagi semuanya!" pungkas Arief yang mulai membuka rapat pagi ini.
"Pagi pak!" sahut kompak para staf, yang berpartisipasi dalam rapat tersebut termasuk Umi dan Salwa didalamnya.
"Terimakasih sudah dateng tepat waktu, sesuai kesepakatan kita, hari ini kita akan mendengarkan laporan dari masing-masing team sekaligus kita akan melakukan evaluasi atas beberapa kegiatan kecil yang sudah kita lakukan minggu lalu, kita juga akan menyusun beberapa strategi terkait penjualan produk cake Salief ini" papar Arief sedikit menjedah ucapannya.
"Ok, yang pertama saya persilahkan Gea untuk melaporkan hasil kegiatannya"
"Baik terimakasih pak" Gea segera terperanjat dari duduknya lalu memaparkan hasil laporan pada sebuah map yang sudah ia ringkas di dalamnya.
"jadi kemaren saya sudah melakukan meeting online bersama Beberapa direktur dari tiga negara yang sudah menjadi target kita, Malaysia, China dan Singapura, dan alhamdulillah mereka setuju dengan kontrak yang sudah kita jabarkan, mereka juga sudah menandatangani kontrak tersebut"
"Good, Fandi" ia menunjuk staf yang lain
__ADS_1
"Baik pak, terkait casting dan promosi..." tiba-tiba Arief memenggal paparan Fandi.
"Ow yah aku lupa, untuk casting kita batalkan saja, saya sudah punya calon model untuk produk kita"
"Tapi pak saya sudah memilih 2 kandidat dari 15 peserta casting, dan saya juga bilang hari ini saya akan menelpon untuk memastikan salah satu dari ke duanya"
"Tidak perlu, katakan saja kita sudah punya model yang cocok untuk produk ini"
"Baik pak"
"Oke lanjut"
"Terkait promosi, kemaren saya bersama team sudah menghubungi beberapa stasiun televisi negeri dan swasta, setelah mereka liat budget yang kita tawarkan, mereka menyetujuinya namun dengan ketentuan durasi iklan hanya 3,5 menit saja, untuk waktu tayangnya 3 kali dalam 24 jam selama 3 bulan penuh"
"Ok, Bagus"
"Apriel?"
"Baik pak, mengenai ruangan untuk pengiklanan, saya bersama team sepakat memilih ruang sebelah, dan kami juga sudah membeli beberapa kain dan beberapa pernak-pernik untuk persiapan dekorasi nantinya"
"Iya pak"
"Loh ruangan itu kan..."
"Gak apa-apa pak, saya dan team akan membereskan ruangan itu dalam waktu dua hari saja"
"Ok, Hera!"
"Baik pak, untuk kostum dan make up, tiga hari yang lalu team kami sudah bertemu langsung dengan owner jasa MUA terbaik di kota ini pak, sedikit banyaknya kita sudah bincang-bincang mengenai budget, dan alhamdulillah mereka gak ada masalah dengan hal itu, nanti kita kontak lagi dua hari sebelum evennya untuk make sure aja jadi atau gak nya even kita ini" Arief lalu menganggukkan kepala seraya terus menyimak paparan Hera.
"Kalo soal kostum, saya dan team sudah menyiapkan beberapa kostum yang tentunya sangat matching dengan produk kita, baik motif maupun pilihan warna, hanya saja untuk memastikannya lagi kami perlu tau dulu berapa tinggi badan, berat badan dan juga lingkar pinggang dari calon model kita pak"
"Ok, kerja yang sangat bagus" pungkas Arief seraya menepuk ke dua tangannya, pun Umi dan Salwa turut memberikan tepuk tangan, diikuti tepuk tangan beruntun dari para staf lainnya.
__ADS_1
"Ow ya Rief, kalo Umi boleh tau siapa calon model kita?" semua mata langsung tertuju pada Umi, namun tidak lama kemudian beberapa pasang mata penasaran itu langsung mengarah ke Arief, ternyata mereka juga turut penasaran dengan calon model yang di sebut-sebut oleh Arief barusan.
Arief terdiam sejenak, namun dengan perlahan sorotan matanya menjajaki satu per satu wajah staf yang duduk membundar disitu, hingga akhirnya sorotan mata itu mulai berhenti di salah satu staf cantik yang saat ini tengah menyorat-nyoret kertas HVS di ujung sana, siapa lagi kalau bukan Salwa.
Semua mengernyitkan alis, terutama Umi, ia menatap Salwa begitu dalam seraya berfikir sejenak, mungkinkah simpulannya sama dengan apa yang ada difikiran Arief.
"Salwa?" tanya Umi sedikit kaget, pun langsung di sambut anggukan kepala oleh Arief.
Salwa yang juga ikut terkejut mendengar namanya yang baru saja disebut langsung menengadahkan wajahnya ke semua orang, namun ia sama sekali tidak menyadari maksud pembicaraan pendek itu, ia terdiam dengan tatapan bingung, menatap semua mata yang juga tengah menatapnya saat ini, suasana kala itu tiba-tiba saja berubah menjadi hening, namun dari sudut sana terdengar suara Nela yang mulai memecah suasana.
"Maksudnya...mbak Salwa yang jadi modelnya?"
"Iya" Arief menjawab tanpa ragu.
"Hah? ak..aku?" Salwa menimpali dengan dengan ekspresi yang terkaget-kaget.
"Iya..."
"Rief...aku...aku gak bisa" pungkasnya, sambil sesekali ia bergantian menatap Umi dan Arief.
"Kamu bisa Salwa"
"Rief, rasanya Umi kurang setuju kalau Salwa yang jadi modelnya" tambah Umi tiba-tiba, dari samping Salwa turut menatap Umi dan berharap Arief akan memikirkan ucapan Umi.
"Kenapa Umi?"
"Salwa tidak ada bakat di dunia entertein seperti ini"
"Kata siapa Umi? saya yakin Salwa bisa, yang perlu dia lakukan hanya menghapal beberapa script promosi setelah itu berakting sesuai dengan arahan, nanti akan ada team pengarah yang bakalan dampingi Salwa, dia tidak sendiri di lapangan Umi ada banyak team yang akan membantunya disana"
"Rief, aku gak bisa"
"Salwa..." Arief menindih dengan tegas.
__ADS_1
"Ini perintah saya, kamu disini sama dengan mereka, sama-sama staf saya, jadi apapun perintah saya, saya hanya mau mendengar jawaban 'Ya' dari kamu bukan jawaban tidak atau gak bisa"
Mau tidak mau Salwa hanya bisa pasrah atas keputusan Arief, setelah rapat usai Salwa di bawa ke suatu ruangan disana mereka mulai mengukur BB, TB dan juga lingkar pinggang Salwa, setelah itu juga mereka mulai mencocok-cocokan beberapa kostum untuk di kenakan Salwa pada saat pemotretan nantinya.