Quality Love

Quality Love
Episode 62


__ADS_3

*"Kamu" Yang Menyakitkan


Saat ini, aku sedang berada di dalam Taxi bersama Umi, duduk diam-diaman tak saling bertukar suara, sejak kejadian tadi tampaknya Umi sedikit menghemat bicara padaku, aku sampai berasa canggung bercampur tak enak hati pada Umi, bahkan aku tak tahu harus menjelaskan apa lagi, biar Umi bisa percaya kalau Kiran dan mas Qiyas itu hanya sebatas "Teman" saja tak lebih dari apapun.


"Umi...?" sapaku sangat lembut seraya menyentuh punggug tangannya.


"Hmm...?" seketika Umi hanya sekedar berangan kesal menyahutiku.


"Gimana rancangan toko cake Umi kedepannya?" ku coba menepis moment menegangkan itu dengan membahas topik yang lain, namun kelihatannya Umi tak berespon apa-apa terhadapku, melainkan tatapan kesal dan wajah datar yang sejak tadi terlihat jelas membungkus wajahnya.


"Kalo menurut Salwa sih, cake- cake Umi itu sangat layak jika di pasarkan ke kanca internasional Umi, hanya saja kita perlu mencari model yang pas untuk mempromosikannya, dan kita juga harus siap budget yang besar juga dan...."


"Huum..." Sontak Umi langsung menghela nafas panjang sembari bersuara datar.


"Tidak perlu bahas masalah itu sekarang, Umi lagi pening dengan apa yang baru saja Umi liat"


Mendengar tanggapan Umi barusan, akupun mulai terdiam sejenak, namun sekali lagi ku coba tenangkan Umi atas simpulan yang tengah terlintas di benak Umi tentang Kiran dan mas Qiyas.


"Umi, Udahlah, Umi...gak usah pikirin yang macem-macem, mereka itu cuman temenan kok"


"Salwa?" sontak Umi sedikit meninggikan suaranya padaku, hingga sang driverpun sejenak turut memerhatikan perbincangan kami lewat kaca spion depan.


"Gimana kalau Abi kamu sampai tau?"


"Kamu juga akan bilang ke Abi kalau mereka itu cuman temanan? hah?"


"Kamu pikir Abi kamu akan percaya?" Bentak Umi seketika, sementara aku hanya bisa bermuka layu di hadapannya.


"Iya awal-awal mungkin kamu bisa bilang kalau mereka itu cuma temen, siapa yang tau nanti di belakang kamu mereka bisa lebih dari itu? Ingat Salwa...laki-laki itu bisa runtuh karena tiga hal, harta...tahta dan wanita" tambah Umi semakin bertanduk.


"Kamu liat kan Salwa, tingkah perempuan tadi ke Qiyas kek gimana? dan herannya Umi kamu biasa-biasa aja ngeliat itu semua!"


"Umi bingung dengan pemikiran kamu Salwa, dan jujur Umi makin tidak mengerti dengan kehidupan rumah tangga kalian saat ini"


Setelah Umi bersuara tegas, seketika aku hampir kesulitan untuk bernafas, bahkan bola mataku mulai berkaca-kaca lagi, entah kenapa sakit sekali hati ini mendengar kata "Kamu" yang beberapa kali di ucapkan Umi barusan, dan Ini kali pertama Umi menyapaku dengan sebutan itu.


Tak banyak yang bisa ku lakukan, aku paham saat ini Umi benar-benar kecewa denganku, bahkan mungkin dengan mas Qiyas, aku tau Umi itu ialah tipikal wanita yang lemah lembut, bahkan marahnya Umipun suaranya masih saja terdengar lembut, tapi kali ini aku sempat berhalusinasi dan bertanya-tanya, "Apakah yang ada di hadapanku saat ini benar-benar Umi?"


"Depan situ pak No. 39, langsung masuk aja" tutur Umi pada sang driver, rupanya kami sudah sampai di rumah, akupun langsung turun dari mobil, namun ku lihat Umi sama sekali tak bergeser dari tempat duduknya, seketika itu juga ku suguhkan satu pertanyaan kecil padanya.

__ADS_1


"Umi gak mau mampir dulu?"


"Gak usah..." pungkasnya sangat datar.


"Ya udah Umi, aku masuk dulu ya, assalamu'alaikum" pamitku seketika, seraya mengecup punggung tangan Umi.


"Waalaikumusalam!"


*****


Tepat di depan pintu, aku langsung di sambut oleh bi Lijah.


"Non? tuan Qiyas mana?" ku abaikan pertanyaan bi Lijah barusan, sembari terus berjalan masuk ke dalam kamar.


Dengan pelan ku rapatkan daun pintu, lalu ku taroh mini bag di atas ranjang, akupun mulai terduduk disitu, dengan tatapan tak berdaya ku ingat lagi ucapan Umi di dalam mobil tadi, yang sedikit tak mengenakkan anggapku, seraya menyesali semuanya, sontak akupun menangis lirih seorang diri.


"Hiiks...hiiks...kenapa aku ya Allah?"


"Kenapa aku yang Engkau uji sesakit ini?"


"Sampai kapan aku akan kokoh? sampai kapan aku akan menyulam rasa sakit ini seorang diri ya Allah? hiiks...hiiks...hiiiks"


"Haah? gimana nih...gimana nih!" ucapku sangat panik, seketika itu juga aku berlari masuk ke kamar mandi, disana ku coba membasuh seluruh wajahku biar mas Qiyas tidak curiga kalau aku baru saja menangis, ku coba mengulur sedikit waktu di dalam kamar mandi seraya mengusap-usap wajahku dengan handuk karena jujur saja aku belum siap untuk bertemu dengan mas Qiyas.


"Tok...tok...tok..." tiba-tiba saja ia mengetok pintu kamar mandi dari luar.


"Haah?" lirihku semakin panik.


"Salwa?" panggilnya.


"I...iya bentar" pikranku yang tak karuan semakin menyulitkanku untuk mencari alibi hingga sedetik beralih semenit, aku tak kunjung keluar juga, mas Qiyas yang sejak tadi berdiri di depan pintu, kini kembali bersuara.


"Salwa?"


"I..iya..iya" dengan menarik nafas dalam, ku beranikan diri untuk keluar, awalnya ku pikir mas Qiyas akan buru-buru untuk masuk ke kamar mandi, namun saat aku keluar, ia malah berdiri di hadapanku dengan tatapan yang cukup datar.


Aku yang berada di hadapannya terus menundukkan wajahku dengan sedikit rasa canggung ku silahkan dia untuk masuk ke kamar mandi namun sebaliknya mas Qiyas malah menyuguhkan pertanyaan yang semakin menghimpit tulang pelipisku saja.


"Umi ngomong apa tadi?" Tuturnya pelan sembari melangkah mendekatiku.

__ADS_1


"Umi? Um..Umi gak ngomong apa-apa" ucapku terbata-bata, dengan wajahku mengayun kesana kemari hal yang sangat ku takutkan ialah jangan samapai ia melihat bola mataku yang tengah berubah warna ini, setelah itu ku coba berpindah dari hadapannya, lalu berjalan menuju lemari pakaian, seraya membuka lemari namun aku kebingungan sendiri untuk apa aku membuka lemari ini seolah kehilangan tingkah.


"Gak mungkin Umi gak ngomong apa-apa?"


"Umi marahkan sama aku?"


"Kamu cerita apa aja ke Umi?" dari belakang mas Qiyas terus saja menyerbuku dengan pertanyaan-pertanyannya.


"Jangan bilang kamu cerita ke Umi kalau aku dan Kiran itu..." seketika itu juga ku penggal ucapannya.


"Aam...kamu mau makan apa? biar aku masak sekarang, nasi goreng? burger? atau...." sontak mas Qiyas menindih ucapanku.


"Aku serius..." kali ini tatapannya benar-benar serius menagih jawabanku, namun lagi-lagi aku tak kuasa untuk menjelaskan padanya, karena pasti aku akan menangis lagi, melihatku yang terus membungkam mas Qiyas kembali bersuara jengkel padaku.


"Kamu bener-bener keterlaluan yah" tuturnya seolah-olah ia telah menyimpulkan sendiri, kalau aku sudah mengadu banyak hal pada Umi.


"Bhuws...Keterlaluan?" seketika itu juga ku angkat kepalaku, dengan setengah tawa yang sangat menyakitkan.


Perlahan ku tatihkan langkah ini, hingga berjarak sangat dekat dengannya, ku tatap ke dua bola matanya, seketika itu juga bibirku mulai melancipkan senyuman senada dengan titihan air mataku, dengan bibir yang masih bergetar ku coba bersuara padanya.


"Iya kamu benar, aku emang keterlaluan!"


"Aku yang terlalu cinta sama kamu, terlalu sabar untuk kamu, terlalu banyak berharap sama kamu untuk mencintaiku, bahkan kali ini aku bener-bener menyesal, kenapa dulu aku terlalu lugu untuk berani mengatakan iya atas pernikahan yang sia-sia ini"


"Hal yang perlu kamu tau, jika aku cerita tentang hubungan mu dengan suster Kiran ke Umi, Mungkin malam ini kamu gak akan pernah melihatku berdiri di rumah ini"


"Aku..aku tau, selama 6 bulan pernikahan kita, aku hadir sebagai beban dalam hidup kamu, tapi aku janji, setelah kita pisah nanti, aku gak akan pernah muncul di hadapan kamu lagi" sontak mas Qiyas menatap tajam wajahku atas ucapanku barusan.


Setelah itu aku langsung bergegas keluar dari kamar, sialnya baru saja mas Qiyas akan menahan langkahku, namun niatan itu terurung saat bertepatan dering telponnya tiba-tiba berbunyi, ya sejak awal aku tau aku hanyalah beban untuknya, terjebak dengan dua kondisi seperti ini tentunya aku juga semakin mengerti aku masih saja bukan prioritas untuknya.


"Halo?"


"Halo...Nuge...hiiks..hiiks...hiiks..Nuge" terdengar suara Linda yang tengah sesenggukan.


"Iya Lind ada apa?"


"Nuge kamu ke rumah sakit sekarang..hiiks"


"Ha? ke rumah sakit? memangnya ada apa?"

__ADS_1


"Kiran...Nuge, Kiran di rawat di rumah sakit sekarang, kamu harus dateng sekarang ya?" mendengar sahutan Linda Qiyas hanya bisa memejamkan matanya


__ADS_2