Quality Love

Quality Love
Episode 65


__ADS_3

*Membeku Sangat Lama


Qiyas segera melaju tanpa arah ia akan kemana, karena saat ini, rumah bukanlah tujuannya, namun tidak lama kemudian ia berhenti di sebuah warkop, ia lalu berjalan masuk dan memesan secangkir cokelat hangat, sambil menunggu minumannya datang, Qiyas lalu membuka handphonenya, akan tetapi ia tiba-tiba di alihkan dengan suara seorang pria yang duduk di sebelah mejanya.


"Penting bagi kalian untuk ketahui dan kalian ingat bahwa, sebaik-baik kalian memperlakukan isteri maka isteripun akan berlaku baik pada kalian, dan seburuk-buruk kalian memperlakukan isteri maka jangan salahkan isteri jika ia juga akan berlaku buruk pada kalian"


"Astaghfirullah hal adzim" sahut beberapa pria yang duduk bergabung bersama pria yang baru saja berbicara tadi, merasa sedikit penasaran Qiyas sedikit melirik ke meja mereka, rupanya ada seorang ustadz yang kelihannya tengah memberikan nasihat pada jama'ahnya, namun secara tidak langsung nasihat itu juga seolah menampar pribadi Qiyas.


"Akan tetapi..." Lanjut sang ustadz, Qiyas yang masih dirundung rasa penasaran, masih memasang daun telinganya atas obrolan orang-orang shalih itu.


"Jika kalian memperlakukan isteri dengan buruk dan isteri masih saja berlaku baik pada kalian, maka jangan pernah sia-siakan isteri yang seperti ini"


"Masya allah ustadz" sahut kompak beberapa pria itu, menimpali ucapan sang ustadz, sontak jantung Qiyas seolah menguncup dan tubuhnya mulai gemetaran mendengar ucapan ustadz barusan, sepintas wajah Salwa muncul di benaknya seolah gambaran wanita sholehah yang di jabarkan ustadz itu melekat di diri Salwa.


"Iya...isteri sholehah seperti ini sangat jarang di temukan, memang dalam Al-Qur'an menjelaskan wanita yang baik-baik akan bertemu dengan pria yang baik-baik begitupun sebaliknya, karena jodoh adalah cerminan diri, namun tidak semuanya berlaku seperti itu" lanjut sang Ustadz.


"Maksudnya tadz?" tanya salah satu pria.


"Ada juga wanita yang baik-baik namun di takdirkan berjodoh dengan lelaki yang tidak baik, untuk apa? untuk ujian bagi wanita sholehah tersebut, dengan kesabarannya menghadapi suami maka allah akan melipat gandakan pahala untuknya"


"Masya allah..." sahut ke tiga jama'ah tersebut, Qiyas yang hampir tak berkedip menyerap ceramah pendek ustadz itu, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan pelayan cofee yang tengah menyajikan cokelat panasnya.

__ADS_1


"Ini pesanannya ya pak, silahkan dinikmati" tutur pelayan tersebut seraya bergegas melayani pelanggan yang lain, alih-alih akan meneguk minumannya, yang ada Qiyas malah beranjak menghampiri kasir lalu membayar tagihan minumannya, setelah itu iapun keluar dari situ menuju parkiran mobil.


*****


Di tempat yang berbeda, terlihat aku baru saja selesai mencuci piring setelah tadi sudah menghabiskan sepiring nasi goreng, dengan langkah yang berat karena kekenyangan akupun memaksakan diri berjalan menuju sakelar lampu, lalu ku padamkan semua lampu, hanya tersisa beberapa lampu orange saja yang sengaja ku biarkan untuk tetap menyala sebagai penererang seadanya.


Hingga saat tubuhku menapaki ruang tamu tiba-tiba langkahku mulai tertegun saat mendengar bunyi gagang pintu yang ditarik seseorang dari luar, sontak pikiranku langsung menebak "Itu pasti mas Qiyas" setelah pintu itu terbuka, ku lihat mas Qiyas berjalan masuk dengan wajah yang datar, tak ada salam, tak ada juga sapaan yang di ucapkannya saat melihatku mematung disitu.


Ia lalu merebahkan setengah tubuhnya di atas sofa, akupun berniat untuk mengabaikannya namun tiba-tiba teringat lagi kunci kamar yang di berikan bi Lijah tadi.


"Nih kunci kamar kamu" tanpa suara mas Qiyas lalu mengambil kunci itu, dengan segera ia terperanjat dari sofa lalu berjalan menuju kamar, tepat di depan pintu kamar ia terhenti untuk membuka pintu, sementara aku yang berjalan di belakangnya terus saja berjalan melewatinya dengan niatan aku akan pergi ke kamar tamu namun tiba-tiba ia meraih pergelangan tanganku seraya melontarkan pertayaan.


"Mau kemana?" sebelum ku jawab pertanyaan tiba-tiba itu, ku soroti dulu jari-jemarinya yang tengah melingkar di pergelangan tanganku.


"Ya udah, aku juga mau tidur di kamar tamu" ia kembali mengunci pintu kamar itu, lalu berjalan bersamaku menuju kamar tamu, malam ini aku di buat banyak berpikir atas tingkah anehnya ini.


"Ada apa dengan pria Es Batu ini?" gumamku bertanya-tanya.


Jujur saja sebenarnya aku masih marah dengan mas Qiyas, namun saat ia menggandeng tanganku tidak tau mengapa hatiku seakan terenyuh melenyapkan seluruh amarah di hati ini hingga melupakan semua kesalahannya padaku, jelas saja ku biarkan moment ini terus berjalan hingga nanti akan berhenti dengan sendirinya.


Tibalah kami di kamar tamu, di mana mas Qiyas kini melepas genggamannya lalu berjalan ke arah gantungan baju, sementara aku langsung bergegas merapihkan tempat tidur, sembari mengatur bantal dan tak lupa seperti biasa ku taroh lagi guling sebagai pembatas tempat tidur kita, saat pandanganku menengadah ke arah mas Qiyas tiba-tiba akupun terkejut saat melihatnya yang mulai melepas kemeja, sontak kepanikan ini mulai bersarang di tubuhku, tak banyak berfikir lagi akupun langsung berbalik badan untuk membelakanginya.

__ADS_1


Sesaat pun berlalu, kini ku rasakan spring bed mulai bergetar, kedua mataku melotot hebat menatap gorden yang ada di hadapanku, namun pikiranku melayang kemana-mana, sudah pasti mas Qiyas tengah bersiap-siap entah untuk tidur ataupun untuk hal yang lain, anggapku takkaruan.


"Ackhh..." Lirihku sembari menggeleng ketakutan, segala pikiran kotor mulai berkeliaran menghantui benakku saat ini, pun ke dua belah otak ini mulai bertanya-tanya dengan pertanyaan yang sama "Mas Qiyas mau ngapain? mas Qiyas mau ngapain?"


"Kring...kring...kring..." tiba-tiba ponselnya berdering, ini adalah kesempatan untukku merebahkan badan ini lalu berpura-pura terlelap, beberapa kali ku dengar dering telponya terus berbunyi, namun mas Qiyas sama sekali tak berniat untuk menjawabnya, bahkan aku sampai penasaran siapa sih yang terus-terusan menelpon di waktu selarut ini.


"Mngkinkah Kiran yang baru saja menelpon itu?"


"Tapi gak mungkin Kiran, kalau Kiran pasti mas Qiyas langsung menjawabnya"


"Terus kalau bukan Kiran siapa?"


Pertanyaan-pertayaan itu sedikit mengalihkan kepanikanku, namun aku juga sangat penasaran sejauh ini tak ada yang terjadi, apakah mas Qiyas sudah terlelap? atau jangan-jangan ia masih mencari waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, aah gila pikiran macam apa ini, sudahlah hal yang pasti adalah dia sama sekali tidak mencintaiku titik.


Hampir saja aku bernafas lega, namun tiba-tiba "Salwa?" beberapa kali ia menyapaku dengan lembut, namun dengan semua ketakutan ini tak kusahuti sapaan itu, dengan pejaman mata yang kuat ku coba tenangkan pikiranku, entahlah malam ini serasa aku tengah bertengkar dengan seluruh organ tubuhku.


"Aku boleh meluk kamu gak?" oh tuhan pertanyaan jenis apa ini, yang tiba-tiba saja membuat seluruh lapisan kulitku berubah suhu menjadi panas dingin.


Bahkan aku sampai tak tahu harus menjawab apa, mataku yang baru saja terpejam, sontak melotot lagi, aku hanya bisa terdiam cukup lama seraya menggigit ibu jariku, aku tidak tau harus berbuat apa, tidak lama kemudian ku pejamkan lagi ke dua mata ini, seolah-olah aku tengah tertidur pulas, tapi aku tau mas Qiyas pasti menyadari acktingku yang konyol ini.


Melihatku yang tak berespon, mas Qiyas kemudian memindahkan bantal guling yang sengaja ku taroh sebagai pembatas tadi, hingga tiba-tiba tanpa seizinku ia segera memeluk tubuhku, sumpah bertindih sumpah aku hampir saja dibuat sakaratul maut olehnya.

__ADS_1


"Maaf ya...aku sudah buat kamu menangis" lirihnya tepat di dekat telingaku, dengan pelan ia kemudian menyenderkan kepala di leher belakangku seraya mengeratkan pelukannya, hembusan nafasnya terasa begitu hangat menyembur leherku, fikiranku seakan terinstal hingga tak adalagi yang bisa ku bayangkan saat ini, selain membeku sangat lama dengan sikap mas Qiyas, tanpa sadar aku dan mas Qiyas pun mulai terlelap


__ADS_2