
*Lima syarat Perceraian
Hampir separuh malam terlewati, tetap saja aku masih sulit untuk terlelap, meski saat ini kita meringkuk di ruangan yang sama namun bukan berarti aku di izinkan untuk berjarak dekat dengan raga nya, ia yang tanpa beban pikiran apa-apa tengah terlelap di atas tempat tidur, sementara aku masih saja termenung di meja komputernya.
Hingga akhirnya aku mulai terfikir untuk mengaktifkan komputernya, saat loading tampilan awal terlihat foto mas Qiyas bersama suster Kiran yang dijadikannya sebagai walpaper dekstop. Semakin penasaran aku pun mulai membuka setiap folder yang ada di semua disk komputer itu, hingga aku mendapati banyak koleksi foto-foto mereka, namun hal yang paling mencengangkan saat ku temukan sebuah folder dengan nama QiKi yang sudah pasti kependekan dari nama mereka berdua, kulihat sebuah design undangan pernikahan bertuliskan nama mereka berdua serta beberapa foto rancangan dekorasi pernikahan.
"Ya allah! allahu akbar" gumamku, dengan tubuhku yang cukup gemetar, tanpa sepengetahuanku, ternyata sejauh ini sudah banyak yang mereka persiapkan untuk pernikahan mereka nantinya.
*****
Saat sarapan pagi, terus saja Umi menatap wajahku, aku yang berusaha mengalihkan pandangan Umi dengan terus menunduk, namun tetap saja rasa penasaran Umi makin bertambah, hingga akhirnya ia pun melontarkan pertanyaan padaku.
"Salwa mata kamu kenapa nak?"
"Aam! ini..ini kelilipan aja kok Umi"
"Masa sih kelilipan sampe bengkak kek begitu"
"Bener kok Umi!" Umi terdiam seketika, sambil menatapku aneh, selang beberapa saat ia lalu menatap mas Qiyas, tersadar akan tatapan Umi, mas Qiyas lalu bersuara.
"Aam! ada apa Umi?"
"Benar, mata Salwa kelilipan?" tanya Umi dengan tatapan yang aneh.
"Aaam..itu, a.." mas Qiyas mulai kebingungan untuk memberi alasan pada Umi, sementara Umi terus saja menunggu jawaban dari mas Qiyas, seketika ku potong ucapan mas Qiyas.
"Umi! Salwa cuman kelilipan kok, Salwa gak mati!"
"Salwa! kamu kok ngomong seperti itu sih Nak?"
"Habisnya Umi terlalu berlebihan rasa khawatirnya"
*****
Usai sholat dzuhur, seperti biasa aku dan Umi masih saja bergelut dengan persiapan toko cake yang sebentar lagi akan diresmikan itu, pun bi lijah juga turut menyiapkan minuman dan cake nastar sebagai cemilan peneman lelah.
"Asalamualaikum!" sudan terlihat Arief didepan pintu yang baru saja memberi salam, lagi-lagi tanpa sepengetahuanku Umi masih saja mengundangnya untuk mampir ke rumah, meski mas Qiyas tidak pernah mempermasalahkan tentang Arief, namun tetap saja aku sedikit sungkan untuk menyilahkan laki-laki lain masuk kedalam rumah ini, ditambah lagi saat mas Qiyas tidak sedang di rumah.
__ADS_1
"Ayo! ayo semangat dikit lagi beres" ujar Umi yang mulai kegirangan.
"Aam! pak Arief, silahkan diminum dulu cemilannya, itu minumannya juga" cetus bi lijah malu-malu.
"Hehe iya bi, makasih ya!"
Satu jam telah berlalu, akhirnya segala persiapannya dapat terselesaikan juga, ku coba meregangkan tangan-tangan ku yang mulai pegal ini sambil menikmati cemilan nastar yang sudah disiapkan oleh bi lijah, sesaat setelahnya, Arief pun berpamitan untuk pulang, namun tepat didepan pintu ia berpapasan dengan mas Qiyas yang akan masuk ke dalam rumah.
"Hai!" terdengar Arief menyapa mas Qiyas, iya sempat tertegun sambil sesekali menatap Arief dan menatapku, namun yang terjadi ia malah mengabaikan sapaan tulus Arief itu, lalu berjalan masuk ke kamar.
*****
"Iya bi, ini Umi lagi siap-siap, iya..wa'alaikumussalam!" tutur Umi menutup telponnya.
"Umi kenapa gak besok aja sih pulangnya, ini kan udah sore Umi!" tukasku merayu pada Umi.
"Gak bisa nak! jemputan Umi bentar lagi udah mau sampai" kemana Umi melangkah, kesitupun ku ikuti belakangnya dengan wajah murung rasanya belum puas amu bercengkerama dengan Umi.
"Umi!"
"Umi! Salwa masih kangen sama Umi" tak henti-hentinya aku merengek manja dihadapan Umi, seketika Umi bersimpuh dihadapanku sambil mengelus-elus ke dua pipiku yang setengah cubby ini.
"Hei..lihat Umi! kalau Salwa kangen sama Umi, ikuti apa nasehat abi dan Umi, yah?" seketika ku anggukkan kepalaku, tanpa berkata apa-apa lagi. Rasanya berat hati ini, melihat Umi akan meninggalkan rumah ini.
Saat jemputan nya sudah sampai, aku dan mas Qiyas lalu menyalami tangan Umi, tanpa lupa menyelipkan kalimat hati-hati dijalan pada Umi.
"Aam! Umi? ini oleh-oleh buat Umi sama abi" sesegera mungkin mas Qiyas menyedorkan sebuah parsel pada Umi.
"Ini oleh-oleh apa nak?"
"Itu cuman baju kok Umi, yang Qiyas beli di turki kemaren"
"Waduh! makasih banyak ya nak! ow iya kalian jaga diri ya, jaga Salwa"
"Iya Umi"
*****
__ADS_1
Usai sholat maghrib, dengan pakaian kokohnya Qiyas melangkah ke dapur, saat ia membuka kulkas, ia melihat segulung brownis mete kesukaannya tanpa bertanya lagi, ia lalu menyantapnya seorang diri di meja makan.
"Gimana rasanya tuan?" tanya bi lijah yang tengah mendapatinya menyantap cake tersebut.
"Umm! enak, ini kesukaan aku banget bi" ujarnya bersemangat.
"Emang enak buatan non Salwa!"
"Uhuuk, uhuuk! jadi ini dia yang buat?" ia menyoroti bi lijah dengan tatapan kaget. aku yang mendengar suara mas Qiyas, seketika menghampiri mereka di dapur.
"Iya tuan, bibi aja sampe nambah berapa kali"
"Uhuweek, Uweek! kok bibi gak bilang-bilang sih dari tadi kalo dia yang buat" di depan mataku, ia memuntahkan lagi cake yang sudah ia makan itu.
"Loh! memangnya kenapa tuan?" tanya bi lijah.
"Kamu pikir cake itu aku taroh racun? kalo aku taroh racun maka orang pertama yang akan mati sudah pasti aku dan bi lijah" ia hanya menatapku sesaat, kemudian ia bergegas menuju kamar, tak puas ia mengabaikan ku begitu saja, ku ikuti langkahnya sampai ke kamar, rasanya aku hampir muak dengan segalanya, mungkin memang benar, membuat kesepakatan adalah jalan terbaik untuk kita berdua.
"Ngapain kamu masuk ke kamar aku?" dengan sinisnya ia melempari ku pertanyaan itu.
"Ayo kita buat kesepakatan"
"Hmm?"
"Kita akan bercerai, tapi dengan empat syarat"
"Ok! sebutin aja apa syaratnya"
"Yang pertama kita akan bercerai setelah ada keputusan dari RS yang menyatakan kalau kak Hilwa sudah siuman atau..atau meninggal dunia, yang ke dua selama kita belum bercerai kamu harus makan masakan aku tanpa alasan apapun, yang ke tiga setiap malam sebelum kamu tidur aku wajib membasuh ke dua kaki kamu, yang ke empat aku akan mencubit pipimu kananmu disaat aku sedang merasa bahagia"
"Syarat yang ke lima, jangan pernah mencampuri urusan pribadi masing-masing" ia turut menambahkan satu syarat dari empat syarat yang sudah ku sebutkan tadi.
"Ok!" ujarku pelan, sembari bergegas dari
kamar ini.
To be continue!
__ADS_1