
*Peresmian Toko Cake Umi
"Yeaay!" sontak terdengar suara girang para tamu sambilan tepuk tangan yang meriah saat menyaksikan pita panjang itu telah terputus menjadi dua bagian, Umi yang berkabung rasa haru tak tanggung-tanggung ia meneteskan air matanya dihadapan semua orang pun Abi yang melihatnya dari sini turut berbalas senyum dan rasa haru, Arief yang menyaksikan hal itu, kemudian memeluk Umi layaknya ibunya sendiri dengan mulutnya mengucap sesuatu pada Umi yang aku sendiri tak tau pasti apa yang diucapkannya itu, yang membuatku enyuh lagi ku saksikan dengan tulusnya Arief menyeka air mata Umiku.
Mas Qiyas yang duduk tepat di hadapanku namun karena posisi kita menyerong menghadap kedepan sehingganya kami seperti dalam posisi menyamping satu sama lain, meski saat ini pandanganku sepenuhnya menyoroti Umi dan Arief, namun diujung kelopak mataku masih bisa ku lihat raut wajah mas Qiyas yang tersenyum sinis atas sikap Arief pada Umi, ya meski tak pernah di ucapkannya namun aku tau kalau mas Qiyas sama sekali tak menyukai Arief.
Satu demi satu para tamu mulai menghampiri Umi dan Arief untuk memberikan ucapan selamat atas diresmikanya toko cake dengan label toko "Bakeri Cake Salief" dengan slogan nikmat dimulut betah dirasa, ow yah yang aku tau kata "Salief" itu terinspirasi dari gabungan dua nama yaitu nama Umi sendiri yakni Salma dan juga nama Arief.
"Selamat yah" terdengar lagi beberapa tamu yang terus memberikan ucapan selamat pada Umi tak terkecuali Arief yang saat ini tengah mendampingi Umi di depan sana, mereka juga di dampingi oleh beberapa orang rekan kerja samanya yang berasal dari cabang perusahan lain yang juga turut menyaksikan peresmian toko cake ini.
Waktu bergilir waktu kini saatnya para tamu di berikan kesempatan untuk menikmati hidangan cake dan minuman yang sudah tersaji di atas meja, segera saja ku rapihkan tempat duduk ku sembari bersuara pada mas Qiyas.
"Mas kamu mau makan cake yang mana ? biar aku ambilin yah?" tanyaku, ow ya sengaja ku panggil dia dengan sebutan mas, karena saat ini kami tengah duduk semeja dengan Abi, kak bela dan juga ke dua mertuaku, pokoknya di hadapan mereka sebisa mungkin ku tampilkan acting terbaikku, meski aku tau mungkin saja saat ini asam lambungnya tengah meningkat saat mendengar sebutan mas yang baru saja ku layangkan untuknya.
"Gak usah aku bisa ambil sendiri" sahutnya.
"Kamu kenapa sih Nuge?" seketika itu kak Bela mulai bersuara tegas dengannya, sontak aku mulai panik kalau-kalau hal sekecil ini akan menjadi perdebatan panjang hingga menarik perhatian Abi dan juga mertuaku yang saat ini tengah bercengkrama dengan obrolan kecil mereka.
"Hmmm? kenapa apanya?" jawabnya lagi dengan raut wajah yang santai.
"Pake nanya lagi, bisa gak sih sedikit aja, kamu menghargai isteri kamu?"
"Ohoow! dia udah ngadu apa aja ke kak Bela?"
"Kamu pikir Salwa itu suka menyambung mulut? tanpa dia jelasin apa-apa juga kakak udah bisa tau seperti apa kamu perlakukan dia"
__ADS_1
"Huum...baguslah"
"Kamu bener-bener ya!" kali ini suara kak Bela terdengar sedikit keras hingga tak sengaja ibu mertuaku pun melihat perdebatan kecil mereka saat ini.
"Eeiih..Ini pada ngomongin apa sih bedua? Bela? Nuge?"
"Gak ada apa-apa kok mah" sahut kak Bela.
"Halo jeng?" seketika itu terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah menghampiri ibu mertuaku, akupun tak memerhatikan sosok wanita itu lagi segera saja ku lanjutkan memotong cake untuk ku taroh di piring Abi, namun percakapan mereka masih jelas terdengar di kupingku.
"Iya jeng, kirain gak jadi dateng?" sahut ramah ibu mertuaku, seketika itu terjadi beberapa obrolan pendek dari keduanya, hingga akhirnya mamahpun menyuruh wanita itu untuk duduk bergabung di meja kami, kebetulan tersisa satu kursi kosong disini, yang tadinya disediakan untuk kak Sheila, namun karena satu dan lain hal kak Sheila tidak bisa menghadiri acara ini.
"Salwa?" tiba-tiba wanita paruh baya itu menyapaku, akupun sangat terkejut bila wanita paruh baya itu mengenaliku, dengan tekun ku perhatikan lagi wajahnya yang tertutupi polesan make up hingga akhirnya akupun mengenali wanita itu.
"Jadi jeng kenal sama Salwa?" tanya mamah pada bu Giska.
"Iya jeng dia mantan siswi saya dulu, waktu dia masih duduk dibangku SMA"
"Ow yah?"
"Iya udah berapa tahun ya Salwa kamu lulusnya?" tanya bu Giska.
"Aaah..udah sekitar 5 tahun yang lalu bu" kali ini sekujur tubuhku mulai terasa dingin, suarakupun mulai berubah seperti orang yang tengah gerogi, bagaimana tidak aku sangat takut kalau nanti mantan guruku ini menceritakan semuanya pada ibu mertuaku, ya semua tentang kebodohanku waktu itu.
"Ya 5 tahun, bener...bener!" dengan girang bu Giska menimpali ucapanku.
__ADS_1
"Udah 5 tahun tapi jeng masih ingat aja ya sama Salwa" balas ibu mertuaku dengan tawa kecilnya.
"Iyalah jeng gimana saya bisa lupa, orang dia waktu sekolah dulu selalu saja bikin sakit otak semua guru-guru, karena hampir tiap semester nilai-nilainya tuh di bawah standar kelulusan! untung saja guru-guru masih memberikan kompensasi biar dia tuh bisa naik kelas, yang saya tau juga dia pernah menjadi siswa privat dari Qiyas Fathir kan ya?" benar saja apa yang aku takutkan kini terlontar semua ditelinga mamah dan papah mertuaku, kali ini wajah semringah mamah berubah menjadi datar, ia hanya terpaku dan sekilas melihat wajahku dengan tatapan menjijikan, sementara papah tak bereaksi apa-apa saat mendengar semuanya.
Ku lihat lagi wajah Abi yang hanya membungkam saat ini, namun raut wajahnya menunjukkan rasa malu yang bertubi-tubi atas omongan bu Giska barusan, sementara kak Bela hanya terdiam, ku alihkan lagi pandanganku pada mas Qiyas, Aaach..wajahnya sangat sulit ditebak.
"Ow ya jeng sama Salwa ini...ada hubungan apa ya? kok bisa deket?" bu Giska kembali melontarkan pertanyaan.
"Aam..dia ini, dia ini menantu saya" dengan ragu-ragu mamah mengakuiku sebagai menantunya.
"Menantu?"
"Iya dia isteri adik saya, Qiyas!" sambung kak Bela sedikit judes mungkin kak Bela juga sedikit tak menyukai kehadiran bu Giska disini.
"Ow...ya ampun Salwa, bagus banget nasib kamu ya, bisa menikah dengan siswa unggulan seperti Qiyas, Pilot lagi pekerjaannya"
"Hum, sebenarnya tujuan bu Giska kemari tuh mau makan....atau mau menghina ipar saya sih?" kak Bela kembali bersuara.
"Aam, maaf saya gak ada maksud untuk menghina siapa-siapa disini, apa yang saya ceritakan tadi pure bener-bener itu yang terjadi" balas bu Giska.
"Coba deh, ibu bayangin anak perempuan ibu ada di posisi Salwa sekarang, diceritakan semua kekurangannya, di hadapan ayah mertua, ibu mertua, di hadapan kakak ipar, di hadapan suaminya, ibu sempat mikir gak sih?"
"Bela!" tegur papah seketika.
"Mah, pah, semuanya...aku balik duluan ya" seketika itupun Bela segera berlalu dari situ.
__ADS_1