
*Malam Yang Panjang
Jarum jam semakin berpindah ke angka selanjutnya, berotasi seiring dengan bergantinya warna bumi siang dan malam, kali ini jarum pendek jam alarm yang ada di atas meja sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, mas Qiyas yang sudah berbusana piyama kotak-kotak itu, kini tengah merebah di atas tempat tidur sambil sesekali ia mengganti channel TV.
Sebaliknya, aku masih saja mematung disini sembari beralih tingkah dengan menyobek-nyobek kecil dus pizza itu, hingga akhirnya akupun mulai terperanjat untuk mencuci tangan, sesuai isi dari syarat perceraian kita nomor ke 3 akupun segera menyiapkan wadah berisi air untuk menyeka punggung kakinya, dengan ragu-ragu ke dekati ia yang terus membungkam sejak melontarkan kata maaf tadi.
"Aam...aku mau nyuci kaki kamu" tuturku sangat ragu-ragu.
Tanpa menyahutiku lagi, mas Qiyas segera terbangun lalu menurunkan kakinya ke bawah tempat tidur tepat dimana aku menaroh wadah air tersebut, dengan pelan ku mulai mecuci ke dua telapak kakinya, tak ada percakapan yang terjadi di antara kita, hingga 15 menit sudah akupun menyelesaikan tugasku seraya bergegas ke kamar mandi untuk membuang air sisa yang ada di dalam wadah tadi, tampak mas Qiyas hanya kembali merebah dengan sorotan matanya yang terus menengadah ke arah TV.
"Apa aku salah ngomong yah tadi?" gumamku masih terlilit kebingungan.
Setelah itu, aku kembali berjalan mendekati sisi ranjang yang kosong di sebelah mas Qiyas, bukannya berniat lancang untuk berbaring disitu, melainkan aku hanya mengambil sebuah bantal dan guling yang tersusun rapih seraya membentang mini karpet di atas lantai sebagai pengalas tubuhku malam ini, seketika itu juga mas Qiyas mengamati gerak-gerikku dari atas tempat tidur.
"Ngapain tidur di bawah?"
"Ini kan kamar kamu" sahutku seolah-olah ingin menjelaskan kalau aku adalah wanita yang tau diri.
"Tidur diatas" cetuhnya sembari mengarahkan lagi pandangannya ke layar TV.
"Maksudnya aku sama kamu tidur sama-sama gitu? seranjang?" ku coba pastikan ucapannya barusan barangkali ia tengah khilaf atau mungkin keseleo lidah menyuruhku tidur seranjang dengannya, seraya mendepetkan ke dua jari telunjukku aku terlihat seperti memberikan gambaran menggunakan bahasa tubuh, sontak ia menyorotiku dengan tatapan yang sudah cukup membuatku mengerti apa maksudnya.
__ADS_1
"Ok...ok aku tidur di atas"
Akupun segera melipat mini karpet yang sudah ku bentangi tadi, lalu mengambil lagi bantal untuk di taroh di atas tempat tidur.
"Ini...ini aku naroh batas ya disini" ujarku seraya menyusun beberapa bantal guling di tengah-tengah tempat tidur untuk di jadikan pembatas, melihat kekonyolanku itu, mas Qiyas tak ambil pusing atasku ia hanya terdiam dan terus menatap layar televisi.
Melihat tatapan mas Qiyas yang begitu serius menyerapi alur film yang tengah di tontonnya itu, pun aku turut penasaran di buatnya, saat ku tengadahkan wajahku kedepan sana hal yang mengejutkanpun mulai terjadi.
"Auuhh..." tiba-tiba aku berteriak histeris mengekspresikan rasa kagetku sambil menutup mata, seraya merangkul lengan kanan mas Qiyas yang tengah duduk tepat di sebelahku, betapa takutnya aku melihat penampakan hantu yang tiba-tiba muncul dari film horror yang tengah di tontonnya itu.
"Hiss...apa-apaan sih" tuturnya merasa tak suka, ia lalu melepas kasar rangkulan tanganku yang baru saja memita di lengannya itu.
"Halaah...kalo takut ya gak usah nontonlah" cetusnya datar.
Sontak ku manyunkan bibirku, lalu bergegas merebah, alih-alih menutup mata namun yang ku lakukan malah senyum-senyum tak menentu saat memaku menatap tekun wajah mas Qiyas yang tengah menyerapi alur film horror yang hampir usai itu, hal yang tak terfikirkan di benakku ialah tentu saja di ujung pelupuk matanya, mas Qiyas sangat menyadari kalau saat ini ia terus saja di intai oleh tatapanku yang tengah terhipnotis itu.
"Ngapain sih, kamu liat-liat aku?"
"Haah aku?" sahutku, lumayan kaget.
"Gak...siapa yang liat-liat, orang dari tadi liatin jam dinding kok" kilahku, namun ia tak lagi menanggapi apa-apa, mas Qiyaspun kembali melanjutkan tontonannya.
__ADS_1
Tiba-tiba bibirku mulai melancip lagi di buatnya, tak tau muasalnya kenapa aku bisa segila ini, pelan-pelan ku tatap setiap lekuk wajahnya dari samping, tak mengabaikan rasa kagum bahkan di setiap sisi mata ini memotretnya, hanya ada satu kesimpulan yang bisa di tafsirkan yaitu "Tampan"
"Kenapa senyum-senyum?" rupa-rupanya mas Qiyas kembali menyadari garis bibirku yang mulai menyabit ini, namun aku hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi pertanyaannya barusan, seraya terus menatap wajahnya, hingga tak beberapa lama ku lihat mas Qiyas mulai salah tingkah atas tatapanku itu, terus saja ia memencet-mencet semua tombol remot TV hingga chanel berganti chanel namun seperti tak ada yang bisa di tontonnya lagi sesaat setelahnya iapun turut merebah di sebelahku.
Ia lalu berbalik membelakangiku, namun tak lama kemudian ia kembali telentang lagi seraya diam-diam melirik ke arahku berharap ke dua mataku tak lagi menyorotinya, namun tatapanku yang sejak tadi tak pernah beralih ini semakin membuatnya di boikot perasaan risih, hingga akhirnya ia kembali terbangun dan bersuara jengkel padaku.
"Kamu kenapa sih?"
"Berhenti natap aku kek begitu, kamu pikir aku suka?"
"Stop ngeliat aku seperti itu" tuturnya semakin jengkel.
"Aku bilang sto..." belum sempurna ucapannya untuk meleraiku sontak aku terbangun lalu mengecup pipi sebelah kanannya, mendapati hal itu, mas Qiyas terbelalak hampir tak berkedip seraya menatap kilas wajahku dengan tatapan kaget, pun aku semakin menyeringai dibuatnya, tak ada lagi yang bisa di ucapkannya selain membungkam lalu terperanjat menuju kamar mandi, cukup lama ia berada di dalam sana terdengar juga suara air yang megucur dari keran entah apa yang tengah di lakukannya akupun hanya bisa menatap pintu kamar mandi dari sini.
Tanpa ku ketahui, hal yang terjadi saat mas Qiyas berada di dalam kamar mandi ialah ia tengah berusaha untuk menenangkan dirinya, sembari berulang-ulang kali mas Qiyas membilas wajahnya yang mulai memerah itu seraya bergumam di dalam hatinya.
"Huwaaah gila, ingat Qiyas dia itu hanya wanita gadaian, dia bukan wanita yang baik-baik seperti Kiran"
Perlahan mas Qiyas lalu meraih handuk kecil yang ada di dekatnya kemudian ia mengusap seluruh wajahnya yang sangat basah itu, sambil sesekali ia menyentuh dada kirinya, tepat dimana menempel jantungnya yanh tengah meletup-letup kencang di dalam sana, dengan tatapan kosong ia kembali menyortoti tajam wajahnya pada pantulan cermin.
"Huuuph...huuuuph..." hembusan nafasnya, seakan mencermikan betapa geroginya ia atas kejadian barusan.
__ADS_1