
*Manusia Penikmat Hina
Siang ini kak Sheila berkesempatan untuk menyambangi rumah kami, atas kejadian yang sudah-sudah, sejujurnya aku sedikit tak nyaman jika harus bertatap muka lagi dengannya, namun sebagai isteri dari sang adik kesayangannya itu aku harus tetap melayani dan menghormatinya layaknya kakak sendiri.
"Kak Sheila mau minum apa? biar saya buatkan" ujarku seraya meraih simpati dari kak Sheila yang selama ini selalu sinis padaku.
"Gak perlu! saya kalo mau apa-apa, saya tinggal ke dapur aja, inikan rumah adik saya"
"Enak kan! nikah sama anak orang kaya? duduk dirumah tinggal mangku kaki, butuh apa-apa tinggal nyuruh asisten" terus saja ia menggemuruhkan suaranya di hadapanku, sambil sesekali ia melangkah memerhatikan beberapa foto nikahan kami yang sengaja ku pampang di ruang tamu, sontak saja ia melepaskan tawa sinisnya yang bermakna seperti sebuah ejekan yang sangat mengesalkan bagiku.
"Atau kamu emang gak punya malu? bersekongkol dengan orang tua sampai rela harus jual diri demi kesenangan semata!" terus saja ia menodongku dengan kata-kata tajamnya itu, aku bahkan kehabisan tenaga untuk membendung air mataku yang sedikit lagi akan menetes ini.
"Hwuaah!" tak ada kata-kata yang bisa ku lontarkan hanya terdengar suara hembusan nafasku yang tidak disadari oleh kak Sheila, serasa kalimatnya itu mengandung badai yang terus saja mengusir oksigen dari ruangan ini hingga menyulitkanku untuk bernafas.
"Kreeek!" tiba-tiba terdengar suara pintu, dari depan sana terlihat mas Qiyas
"Nuge! dari mana aja kamu?" tanya kak Sheila sembari menghampiri adik kesayangannya itu.
"Dari rumah temen!"
"Bener dari rumah temen?" sambungnya lagi, sengaja ia mengorek-ngorek jawaban mas Qiyas yang mungkin saja bisa membuatku sakit hati nantinya.
"Iyalah, kalaupun aku dari rumah Kiran emang kenapa? toh dia juga udah tau kalau sampai sekarang aku masih berhubungan dengan Kiran" ucapan mereka seolah-olah aku hanyalah manusia yang pantas menikmati hinaan mereka, rasanya ingin ku sulap hati ini berubah menjadi batu agar mata dan telingaku tak lagi sensitif dalam menanggapi aura negatif dari ucapan mereka.
"Ouw yah? jadi dia gak cemburu, kalau Nuge berhubungan dengan perempuan lain diluar sana, ya ampun!" kalimat kejutnya seolah-olah dirangkai sedemikian rupa, agar aku semakin tersudutkan di tengah-tengan mereka.
"Ow hiya! aku lupa, dia kan nikah ama Nuge karena uang, bukan karena cinta!" mendengar ucapan kak Sheila seketika mas Qiyas melayangkan senyuman kecil sambil menatapku.
"Sekalipun karena cinta, ngapain juga? toh aku juga gak suka sama dia" tutur Qiyas sangat sinis yang langsung di sambut suara tawa dari kak Sheila, aku yang sudah terlalu kesal atas olok-olokan mereka, dengan segera ku langkahkan kaki menuju kamar.
Apakah bumi benar-benar berbentuk bulat, tapi kenapa bagiku bumi seperti bergerigi, aku hidup di permukaan bumi layaknya berjalan tanpa alas kaki dengan menapaki duri-duri yang ada diatasnya, menangis percuma apatah lagi berteriak, karena nyatanya akulah penduduk tunggal dari bumi yang bergerigi itu.
__ADS_1
*****
"Allahu akbar! allahu akbar!" terdengar kumandang adzan subuh, dengan ragu-ragu kuhampiri kamar mas Qiyas.
"Assalamu'alaikum! bangun sholat subuh udah adzan tuh" teriakku dari luar sambil sesekali mengetok pintu kamarnya , sengaja ku berulah lagi didepan kamarnya, karena aku tau segala sesuatu yang tidak ia sukai pasti lebih memudahkan tubuhnya untuk terbangun, benar saja tiba-tiba terdengar derap kakinya yang semakin mendekat ke arahku.
"Wanita bodoh!" suara lirihnya masih sempat terdengar di telingaku, entah kenapa rasanya aku sangat tersindir bahkan jantungku ngilu seketika jika mas Qiyas yang mengatakan kalimat itu, dengan lagak kasarnya dari dalam ia membuka pintu lalu berbicara tegas sambil menujuk wajahku.
"Kamu memang gak ada paham-pahamnya ya kalau di kasih tau! apa perlu aku bayarin guru les untuk ngajarin kamu ini dan itu? atau kamu emang sengaja buat aku marah?"
"Wanita bodoh!" kalimat ini yang terus saja terngiang di ingatanku, kalimat itu juga yang membuat seluruh tubuhku lumpuh dihadapan mas Qiyas, saat ini aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya menatapnya dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Hallaah! nangis lagi, nangis" tak ingin memperpanjang masalah, mas Qiyas kembali menutup pintu kamarnya, tak peduli dengan aku yang masih berdiri didepan pintu kamarnya sambil bercucuran air mata, ia sama sekali tak berniat untuk membujuk atau hanya sekedar menanyakan kenapa aku menangis. Sesaat setelahnya, akupun bergegas kembali kekamar.
Usai sholat subuh, baru saja aku akan mulai berbaring kini handphone ku berdering lagi.
"Wa'alaikumussalam! Salwa ini umi nak" terdengar suara umi dibalik telphone, hatiku makin sedih saat mendengar suara umi.
"Ya Allah, umi! umi gimana kabarnya? Hiiks!" aku yang tak kuat harus berbicara dengan umi, tak sengaja aku meluapkan tangisanku.
"Salwa?"
"Halo! Salwa kenapa nak?" terdengar suara umi yang mencemaskan ku.
"Salwa kangen umi, hiikss...hiiiks..Salwa mau pulang umi, salwa pengen pulang..hiiks...hiiks" mendengar suara umi, aku seakan tak bisa menahan tangis ku lagi
"Lah, salwa kan sekarang udah jadi isteri orang, gak boleh sedih-sedih ya nak, umi juga dulu seperti itu kok, nanti lama-lama juga mulai terbiasa" rupanya umi tak memahami makna kesedihanku saat ini, ia hanya menganggapnya sebagai tangis rindu.
"Umi, salwa..hiiikss..hiiikss"
"Salwa kenapa? Ada msalah lain nak?" rasanya ingin ku ceritakan pada umi, tentang semua tekanan batin yang sedang menghimpitku saat ini, namun umi pasti akan cemas saat tau keadaanku yang sebenarnya.
__ADS_1
"Salwa? Salwa baik-baik aja kan sama nak Qiyas?" kini suara umi mulai terdengar khawatir lagi.
"Iya umi, kami baik-baik aja, hanya..hiiikss hanya salwa rindu sama umi hiiks..hiiks"
"Hehe! kamu harus kuat yah nak, Aahm! nih, dari tadi umi telpon-telpon nomor Salwa kok gak aktiv?"
"Nomor aku aktiv terus kok umi, umi baru beli Hp yeah?"
"Gak, ini dikasih sama nak Qiyas waktu kalian pamitan hari itu, nih tapi kok setiap umi mau video call an gak bisa katanya gak aktiv nomor kamu nak!"
"Hehe, iyalah gak bisa umi, orang Hp aku gak ada kameranya"
"Ouw! gitu yah nak, maklum umi kan baru megang Hp gaul kayak gini"
tiba-tiba dari luar mas qiyas membuka pintu lalu menghampiriku.
"Siapa yang nelpon?" terlihat mimik wajahnya yang mulai panik.
"Bisa gak sih, masuk kamar aku ketok dulu"
"Ini rumah aku, aku yang buat aturan disini, bukan kamu"
"Ya! wedding game, seorang pemain adalah pembuat aturannya, dan aku hanya dadunya, yang dengan bebasnya kamu lempar kesana kemari tak berperasaan, tapi ingat, dadu yang tinggal dalam rumah ini bukan benda mati" pungkasku tak bertenaga
"Huuuftt! kamu ngomong sama siapa tadi? umi atau abi?"
"Umi! memangnya kenapa? kamu mau buat aturan juga kalau aku gak boleh telponan sama umi dirumah ini?"
"Kamu ngomong apa sama umi?" terus saja ia mengabaikan pertanyaanku, rasanya terlalu egois jika aku saja yang terus menanggapi pertanyaannya.
"Aku bilang aku rindu sama umi, puas?"
__ADS_1
"Kalau sampe kamu ngomong macem-macem sama umi dan abi, liat aja akan ku lebamkan ke dua pipi kamu" terang saja ia mengancam ku dengan tatapan kebenciannya, aku sekarang tak habis fikir mas Qiyas yang dulu pernah hidup dalam anganku seakan berbanding terbalik dengan mas Qiyas yang telah nyata hidup disampingku saat ini.
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗