
*Kehebohan Bu Denay
Siang itu Zen dan mamahnya dalam perjalanan menuju rumah, namun di tengah perjalanan sang mamah segera meminta Zen untuk menepih di salah satu toko yang sudah beberapa bulan ini menjadi langganannya.
"Zen kita mampir ke situ dulu yah.."
"Mampir kemana Mah?"
"Tuh toko cake itu" tutur bu Denay seraya menunjuk toko cake tersebut, tanpa Zen ketahui toko tersebut ialah toko cake "Salief"
"Tumben Mamah makan cake sekarang.."
"Iya soalnya cake dari toko itu tuh enak banget, nanti kamu coba deh"
"Tuh..tuh..liat pelanggannya banyak amat" tutur sang Mamah bersemangat.
Setelah memarkir mobil, keduanya bergegas masuk ke dalam, seperti biasa mereka langsung di sambut hangat oleh staf penyambut tamu, setelah itu mereka bergegas ke ruang VIP lalu mengorder beberapa box cake dan minuman.
Sambil menunggu orderan, Zen dan Mamahnya mengambil tempat duduk di salah satu meja yang terletak di bagian sudut, Zen kemudian membuka handphonenya seraya berbalas pesan dengan seseorang.
"Dimas....?" Tiba-tiba terdengar suara Umi yang tengah memanggil salah satu stafnya.
"Iya bu..." Dimas berlari kecil menghampiri.
Sontak bu Denay langsung menoleh, saat tau itu adalah Umi, tampaknya bu Denay mulai penasaran dan terus memerhatikan obrolan Umi dan Dimas saat itu, tak mau kepo seorang sendiri, bu Denay turut mengajak Zen.
"Zen..Zen..?"
"Huumm..."
"Ibu yang itu tuh, katanya yang punya toko cake ini"
"Ibu yang mana?"
"Yang sana...yang lagi ngobrol sama pegawainya tuh..."
"Owh..." begitu saja Zen kembali menengok handphonenya, bu Denay yang merasa di acuhkan kini kembali bersuara pada Zen.
"Zen....?"
"Iya Mah..." Zen menyahut dengan lembut.
"Kamu denger gak sih, mamah ngomong apa?"
"Iya Mah Zen denger, tadi Mamah bilang ibu itu yang punya toko cake ini kan?"
"Iya..."
"Ya terus kenapa Mah? kalo ibu itu yang punya toko cake ini"
"Gak sih, Mamah cuman pengen kenal aja sama dia" Zen menghela nafas seolah tak habis pikir dengan tingkah mamahnya saat ini.
__ADS_1
"Ayo temenin Mamah kesana" bu Denay segera terperanjat sembari merangkul tangan Zen.
"Kemana?"
"Ketemu sama ibu itu..."
"Ya ampun Mah, ngapain....?"
"Ya Mamah mau kenalan sama dia.." Zen hanya bisa menggeleng-geleng heran pada mamahnya
"Mamah ada-ada aja deh"
"Ayolah Zen..." melihat bu Denay yang terus memaksa, mau tidak mau Zen pun harus menemani sang Mamah untuk bertemu dengan Umi.
*****
Bertepatan dengan Umi yang baru saja selesai berbincang bersama Dimas, kini Umi harus meladeni kedatangan bu Denay dan juga Zen hanya untuk sekedar berkenalan.
"Hai....saya Denay" bu Denay menyapa dengan akrab seraya menyedorkan telapak tangannya.
"Ow iya, saya Salma...selamat datang di toko cake kami..." sahut Umi.
"Iya...saya itu sering kesini loh...jujur saya suka banget dengan kue-kue kamu..." tutur bu Denay makin akrab.
"Wah...makasih banyak, makasih banyak ibu sudah sering mampir kesini.."
"Hiss...jangan panggil Ibu, panggil Denay aja" melihat tingkah mamahnya yang sok akrab, Zen disebelahnya hanya bisa menahan muka seraya senyum-senyum tak enak pada Umi.
"Ini anaknya?" tanya Umi saat melihat Zen.
"Iya ini anak saya..."
"Zen tante..." di sebelahnya Zen turut mengenalkan diri.
"Masya Allah...berarti kemana-mana Zen yang nganter?"
"Ya gak juga sih, malah jarang banget dia bisa nganter jemput aku, kebetulan dia lagi free yaudah aku suruh dia aja jemput tadi di kantor, pas lewat sini ya sekalian aja mesan cakenya..."
"Ow gitu? memangnya Zen kerja apa kok gak ada waktu buat mamahnya?" Zen hanya tersenyum.
"Maklumlah Salma, dia inikan Pilot jadi yah....begitulah"
"Ow pantes...sama, menantu saya juga Pilot dan bener sih, mereka itu jarang banget punya waktu buat keluarga"
"Ow, Pilot juga..." baru saja bu Denay kegirangan, tiba-tiba seorang staf memotong obrolan mereka.
"Permisi?"
"Iya.." sahut bu Denay.
"Orderan atas nama Zen Anderson?"
__ADS_1
"Iya bener itu orderan kami" seketika itu juga bu Denay meraih orderannya, dari samping Umi segera bersuara lirih pada Staf tadi untuk memberikan extra 2 box cake lagi pada bu Denay.
"Ya ampun Salma, makasih loh udah ngasih extra" tuturnya malu-malu.
"Gak apa-apa, nanti jangan bosan-bosan maen kesini ya...."
"Pasti...pasti..."
Tak lama kemudian Dimas masuk bersama beberapa orang pekerja yang hendak membawa bingkai gambar berukuran cukup besar, di dalam gambar tersebut terdapat foto Salwa yang tengah mempromosikan cake Salief, Umi yang melihat itu segera berpamitan pada bu Denay dan Zen.
"Umm...bentar yah!"
"Iya, silahkan...silahkan..." sahut bu Denay.
Umi bergegas menghampiri Dimas.
"Bu, ini mau dipasang di dinding bagian mana?" tanya Dimas.
"Mungkin disebelah situ aja kali ya.."
Dari kejauhan Zen sedikit menyoroti percakapan Umi dan Dimas, hingga tak sengaja ia melihat gambar tersebut, sontak Zen terdiam cukup lama seraya menerka-nerka siapa wanita yang ada digambar tersebut, pikirnya wajah itu sangat tidak asing di ingatannya.
"Siapa ya?" Lirih Zen.
*****
Italy merupakan salah satu Negara dengan julukan "The Boot" yang ada bagian Eropa, tentunya banyak menyimpan keindahan yang tak kalah jauh dari Negara-negara yang berada di belahan benua lainnya.
Saat ini Qiyas dan Salwa sudah sampai di Italy, mereka tengah diantar oleh seorang driver menuju sebuah hotel terdekat, di dalam mobil Qiyas yang terlihat sangat lelah mulai memejamkan mata, sementara Salwa yang duduk tepat disebelahnya saat ini tengah menikmati pemandangan kota Roma di sore hari, ia lalu menurunkan setengah kaca jendela mobil seraya menghirup udara yang ada dibalik jendela tersebut.
Salwa terus saja menatap bibir jalan, hingga ia dikejutkan dengan pertanyaan sang driver yang tampaknya dari tadi ia ingin membuka obrolan dengannya.
"Where are you from mam?" (kamu orang mana bu?) tanya si driver.
"Hah?"
"Where are you from? Korea...? Japan..? Or....?" (Kamu dari mana? Korea? Jepang...atau...?)
"Ahmm...I am not english...not..not english" Salwa menutur tak beraturan dengan akswn yang sulit dimengerti seraya menyilangkan kedua tangannya, si Driver mencoba menelaah apa yang dimaksudkan Salwa saat ini, merasa mulai paham kalau clientnya ini tak paham dengan bahasa inggris iapun kembali berucap.
"Ow, ok I understamd, but why your boyfriend can speak english very well and you can't?" (Ow, iya saya paham, tapi pacar kamu bahasa inggrisnya bagus banget, kenapa kamu gak bisa?)
"Umm...not english...not english" hanya itu saja yang bisa Salwa lontarkan
"Hahaha Ok..ok.." sang driver pun hanya tertawa kecil sembari memaklumi keadaan Salwa.
*******To be Continue*******
*Jangan lupa tinggalkan komentar ya..🥳🥳
ow ya, Author nguploadnya 9 episode dulu ya sisanya nnti cloter berikutnya...
__ADS_1