Quality Love

Quality Love
Episode 42


__ADS_3

*Turnament Hati


Sesaat setelahnya mas Qiyas segera menepihkan mobilnya di depan sebuah toko, sempat kulihat didepannya terpasang beberapa bunner yang didalamnya terdapat gambar seorang wanita yang hendak mempromosikan sebuah Hp dengan launchingan terbaru, seketika itu mas Qiyaspun menggiringku masuk ke dalem.


"Pilih aja mana yang kamu suka" ucapanya yang sangat datar itu, semakin membuatku merasa tak enak hati atas kejadian tadi, ku lihat lagi kebawah tepat dimana betisnya yang sempat di gigit seekor anjing, karena tertutupi celana jeansnya tak bisa ku pastikan saat ini kakinya tengah baik-baik saja.


"Aam, gak usah kita pulang aja!" sahutku sedikit tak bertenaga, seketika itu ku gandeng lengan atasnya tak ada maksud apa-apa hanya sekedar menarik tubuhnya untuk berpindah dari situ, namun tak ku sangka ia malah menatap sinis tanganku yang yang tengah melingkari lengannya itu, dengan ekspresi kaget sontak saja ku jatuhkan tanganku, seketika itu ia pun mulai bersuara lagi.


"Aku kalau ngomong cuman sekali, maksimal dua kali, karena kali ke tiga, kamu gak akan pernah menemukan jawaban atau pertanyaan atas ucapanku" sahutnya lagi, meski di hadapan pelayan toko itu ia masih saja bersikap sinis padaku hingga beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik, meski aku tak menuduh, namun aku sangat yakin kalau mereka tengah menaruh penilaiannya padaku, entahlah mungkin saat ini aku memang kelihatan sangat keterlaluan, anggapku.


Dengan tubuhku yang sesekali masih saja sesenggukan itu, ku tunjuk salah satu handphone dalam box kaca bening yang masih terbungkus rapih di dalam kotaknya, tak beberapa lama mas Qiyas kemudian melakukan pembayaran setelah itu kamipun segera beranjak pergi dari situ.


"Makah...sih ya!" ucapku yang lagi-lagi masih saja sesenggukan itu.


Bukannya ia memberiku jawaban atau sekurang-kurangnya kilas senyuman, ini malah ia hanya membungkam tanpa melihatku sedikitpun, mungkin saja situasinya sedang terbalik sekarang, akupun tak banyak bicara lagi segera saja ku rebahkan tubuhku yang sangat kelelahan ini pada sandaran kursi mobilnya yang sangat empuk itu, namun tak sengaja ku lihat beberapa goresan di punggung tangannya yang saat ini tengah menggengam setir mobil.


"Tangan kamu kenapa?" seketika itu juga ku coba untuk meraih tangannya, namun dengan sigap ia menghalau tanganku sambil berkata jengkel padaku.


"Aaah...apa-apaan sih?"


"Ya sudahlah! memang manusia ini tak membutuhkan ku sama sekali" gumamku di dalam hati, sambil kembali duduk dan hanya bersikap masa bodoh saja, karena sikap peduli dariku tak berarti apa-apa darinya bahkan hanya semakin mematik emosinya saja.

__ADS_1


*****


Tepat pukul 02.25 WIB, akhirnya kami pun tiba dirumah, dengan segera ia turun dari mobil tanpa menungguku lagi segera saja ia beranjak masuk ke dalam rumah, melihatnya berlalu begitu saja akupun masih mematung disini dengan segala unek-unek kekesalanku atas tingkahnya itu.


"Kenapa jadi dia yang marah-marah? seharusnya kan aku yang marah?" tanyaku seorang diri, dengan nafas yang engap-engap akupun bergegas masuk ke dalam rumah.


Saat aku membuka pintu kamar tiba-tiba terbesit ungkapan Arief "Jika kamu bersedih maka yang kamu lakukan ialah menonton film kartun" yang ia tuliskan di selebaran kertas waktu itu, dengan langkah yang paling cepat segera saja aku bergegas menuju lemari TV tepat di laci pertama ku simpan semua kaset-kaset itu, dengan segera ku putar film tersebut.


Dengan duduk bersila di atas tempat tidur, tatapanku mulai serius menikmati alur cerita film itu, hingga di menit ke 48 terdengar suara ketukan pintu kamarku yang kebetulan sejak tadi belum sempat kukunci.


"Siapa?" tanyaku seketika, dari sana terlihat mas Qiyas dengan jalannya yang tertatih-tatih mulai menghampiriku, aku hanya melongo tersirat seribu tanya di benakku "Entah ada hal sepenting apa sampai ia merelakan waktunya berjalan kemari"


"A...ada apa?" tanyaku mengalihkan suasana, betapa tak taunya ia kalau saat ini aku tengah berdebar-debar hebat saat berjarak dekat dengannya, mendengar pertanyaanku ia hanya menatapku sayu tanpa berkata apa-apa lagi, yaah pengabaiannya itu sudah menjadi cemilan garing untuk ku nikmati setiap harinya.


Saat ini kita berdua menyaksikan film itu tanpa perdebatan ataupun hanya sekedar obrolan ringan, selang beberapa detik tiba-tiba mas Qiyas menyenderkan kepalanya tepat di bahu kiriku, mataku melotot seketika mulutkupun terbuka sedikit lebar apatah lagi jantung dan paru-paruku seakan saling meninju didalam sana aku tak tau apa yang harus ku lakukan dengan kondisi se deg-deg ini.


"Huuufttt...." Hembusan nafasku itu seakan tak mempan untuk mendamaikan denyut jantungku saat ini.


Dengan niatan ingin menggeser kepalanya dari bahuku, takutnya aku dianggap "Terlalu kepedean" olehnya, seketika itu ku sentuh dahinya, namun tak sengaja ku rasakan suhu tubuhnya yang begitu hangat, kali ini rasa kagetanku mulai berubah menjadi rasa khawatir, kulihat matanya yang mulai menutup sayu seakan tak bertenaga.


"Qiyas kamu demam ya?" tanyaku padanya, namun ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya di atas pundakku.

__ADS_1


"Qiyas kamu demam loh, kita harus ke dokter sekarang" ujarku sambil terperanjat dari tempat dudukku, namun seketika ia terbangun sembari meraih tanganku.


"Gak perlu....." ucapnya tak bertenaga


"Aku hanya butuh istirahat" lanjutnya lagi dengan matanya yang cukup sayu.


"Kamu tuh ya, gak sakit gak sehat tetep aja keras kepala"


Malam ini ku biarkan mas Qiyas berbaring di tempat tidurku, sembari ku bawakan sebuah wadah berisi air hangat untuk ku kompres kepalanya, beberapa kali ku tempelkan handuk kecil yang sudah ku celupkan di wadah tadi, perlaha iapun mulai menutup matanya, teringat sesuatu, dengan segera ku gulung dmcelana jeansnya, terlihat bekas gigitan anjing tadi yang masih mengeluarkan darah, semakin panik aku dibuatnya saat itu juga ku beranikan menghubungi nomor suster Kiran.


"Halo siapa ni?" tanya suster Kiran dibalik telpon, sejujurnya aku sedikit takut untuk menghubunginya tapi...tapi bagiku mas Qiyas adalah prioritas jadi apapun harus kulakukan termasuk jika harus bersilat lidah lagi dengan pacarnya itu.


"Ini saya sahabat Nuge!" jawabku dengan ragu-ragu.


"Mmm..?" suster Kiran terdiam seketika, mungkin ia gak percaya atas ucapanku barusan, cukup lama ia berfikir tiba-tiba ia kembali bersuara.


"Ouw sahabat Nuge, iya ada apa telpon jam segini?"


"Ahmm..ini, Qiyas, eh Nuge sekarang demam, karena tadi sempat kakinya digigit oleh seekor anjing, mungkin suster Kiran tau apa obatnya untuk menyembuhkan mas Qiyas" tersadar ternyata suster Kiran mengamati bait per bait ucapanku hingga ia mulai menyadari dengan siapa ia tengah bersimbah telinga saat ini.


"Huum, nanti aku SMS aja obat-obatnya sekaligus apa yang harus kamu lakukan untuk menghentikan infeksi itu, Mrs. Salwa Jannatun Adwiyah" seperti sebuah skakmat untukku tanpa pamit iapun mengakhiri pembicaraan ini, aku hanya bisa menarik dalam nafasku setidaknya dalam semepet ini dia masih mau membantuku, meskipun dengan sebuah alasan "Demi mas Qiyas"

__ADS_1


__ADS_2