Quality Love

Quality Love
Episode 75


__ADS_3

*Perdebatan


"Aah...lampu merah lagi" mas Qiyas melirih dengan wajah jengkel, seraya menginjak rem secara mendadak, untung saja mobilnya tidak membentur pengemudi yang lain.


"Gak usah buru-buru, emang kamu mau kemana lagi? "


"Kita langsung pulang ke rumah kan?" aku kembali mendongak namun pertanyaanku yang serius itu sama sekali tak digubris olehnya, ya sudahlah aku juga harus mengerti kalau saat ini suasana hatinya sedang tidak Baik-baik saja.


Seketika ku soroti ramainya jalan raya di balik kaca mobil yang kini telah menempel titihan gerimis di permukaannya, namun sebelah otakku tengah memikirkan keadaan kak Hilwa sementara sebelahnya lagi tengah memikirkan nasib rumah tanggaku bersama mas Qiyas.


Malam ini perasaanku begitu rumit, tak tahu harus mengutarakan apa pada mas Qiyas, dari samping ku tatap wajahnya begitu dalam seolah-olah besok aku tak lagi bisa untuk bertemu denganya.


"Kenapa ngeliatin aku?" tatapannya tak beralih ke arahku, namun ia mampu mengejutkanku dengan pertanyaan itu.


"Ahm...hehe, gak" ku paksakan bibir ini untuk lebar dihadapannya namun sialnya nada suaraku mulai berubah seiring dengan bola mataku yang mulai berkaca-kaca, mas Qiyas yang menyadari itu kini langsung menoleh ke arahku.


"Kamu kenapa?" Qiyas menutur namun masih dengan tatapan dan suara yang datar.


"Gak sih, aku cuman...." aku berhenti sejenak seraya menarik nafas cukup dalam, rasanya aku belum siap untuk menceritakan semua pada mas Qiyas, namun dia juga berhak tau kalau kebebasan yang dia tunggu-tunggu selama ini, tak lama lagi akan terealisasi, dan mungkin saja saat mendengar berita ini juga ia akan kembali moody dan melupakan semua hal yang membentuk wajah sedihnya saat ini.


"Kapan kita akan ke Italy?" tanyaku sekedar memastikan.


"Minggu depan"


"Amm..tadi Umi cerita ke aku, kalau saat ini kondisi kak Hilwa sudah mulai ada peningkatan"


"Ow ya? bagus dong" ia menyahut tanpa rasa penasaran.


"Iya, kata Umi walaupun dia belum bisa membuka mata, tapi setidaknya kak Hilwa sudah bisa merespon saat dipanggil namanya"


"Merespon gimana? Udah bisa ngomong, gitu?"


"Kata Umi sih, baru bisa gerakkin jari-jari tangannya aja, kalau nanti satu dua hari ini kak Hilwa udah siuman..." aku terdiam lagi seraya meyakinkan hatiku, kalau semuanya akan baik-baik saja nantinya.


"Gak apa-apa kamu pergi ke Italy-nya bareng Kiran aja" sontak mas Qiyas langsung menoleh ke arahku dengan tatapan yang sangat tajam.


"Tiket sudah di booking atas nama kamu, gimana ceritanya Kiran yang mau pergi"


"Kan bisa di batalkan" aku mendongak sedikit tak yakin ke arahnya tepat saat mas Qiyas tengah memelototi ku, Oh tuhan saat melihat tatapan datar mas Qiyas itu membuat air mataku langsung menitih tanpa sempat ku jelaskan apa-apa padanya.


"Gak usah pake nangis kali" sontak dengan tingkah yang sangat kaku, mas Qiyas langsung mengambil beberapa lembar tisu yang ada dihadapannya.


"Sini...sini" tuturnya sedikit mendekat, lalu tangan kanannya stand by memegang setir mobil sedang tangan kirinya tengah menyeka air mataku, kali ini tubuhku  benar-benar layu dibuatnya, seakan tak bernadi lagi aku terpaku menyaksikan hal ini, bola mataku tak mau berkedip beberapa detik, hingga ia selesai melakukan hal termanis itu, iapun kembali duduk normal dan fokus untuk menyetir.


"Kalo memang kamu gak mau pergi, yaudah kita batalin aja, tapi nanti kalo mamah sama papah nanya kenapa batal, kamu yang harus jawab pertanyaan mereka" wajah kesal mas Qiyas itu semakin membuatku merasa bersalah, ku pikir mas Qiyas akan senang mendengar berita itu, rupanya malah semakin membuatnya naik pitam saja.


"Aku bukannya gak mau pergi..." belum selesai aku berucap, tiba-tiba mas Qiyas menindih dengan suara yang meninggi.


"Ya terus?" aku benar-benar melongo melihat sikapnya ini, entahlah aku semakin merasa serba salah di buatnya.


"Apa kamu lupa? syarat perceraian kita akan berakhir dimeja hijau kalau kondisi kak Hilwa beralih dari kata 'Koma' ?" aku berusaha menjawab pertanyaannya itu dengan tetap tenang, namun ekspresi wajahnya langsung berubah kaget seolah ia baru mengingat sesuatu yang sempat tak terfikirkan olehnya.

__ADS_1


"Aku sadar, di posisi kita, aku juga gak boleh egois dengan nyamanku atas perlakuan yang kamu lakukan untukku namun kamu sendiri tak menyukainya" Mas Qiyas mengerti dengan apa yang kumaksud dari ucapan itu, aku kembali melanjutkan.


"Aku juga sadar kalau jatuh cinta sepihak itu adalah hal tersulit yang sudah ku jalani selama 6 bulan ini, dan kamupun sama, sejauh ini aku cuman kagum aja sih dengan hati kita yang cukup kuat, melewati semuanya"  mendengar ungkapan puitisku itu, mas Qiyas masih terdiam dengan sorotan matanya terus terfokus di depan sana seraya berfikir entah apa yang tengah di fikirkannya saat ini, namun tiba-tiba ia mulai membuka suara.


"Kelihatannya sekarang kamu pengen buru-buru cerai dari aku, padahal kondisi kakak kamu juga belum siuman, kenapa?"


"Apa karena kamu dan Umi kamu merasa sudah punya cukup uang untuk membiayai rumah sakit kakak kamu?"


"Atau karena kamu sudah punya dua target lagi untuk dimanfaatkan?"


Ucapan beruntunnya ini bagaikan pukulan tinju yang membuat jantungku mengempis cukup lama, aku hampir tak bisa bernapas normal lagi olehnya.


"Apa maksud kamu ngomong kek begitu?"


"Iyalah Zeyn kan Pilot, Arief juga Owner perusahaan roti, rasanya mereka cukup mampu kok untuk menggantikan posisi aku nantinya"


"Hum..terserah kamu lah, dari dulu sampai sekarang memang gak pernah berubah penilaian kamu tentang aku"


"Kenapa? kamu bangga karena banyak laki-laki yang suka sama kamu?"


"Apah? bangga?" bola mataku mulai terasa perih lagi, seketika itu juga air mataku terus berjatuhan membasahi ke dua pipi dan juga kerudungku, tanpa isakan ku coba tersenyum di hadapannya lalu berakata-kata sebisa mungkin.


"Apa yang perlu di banggakan dengan semua itu? kenapa aku harus bangga karena banyak laki-laki yang menyukaiku? sementara kenyataannya seorang laki-laki yang ada dihadapan ku saat ini, seorang laki-laki yang sudah berstatus sebagai suamiku ini malah tak mencintaiku sama sekali"


"Gak ada yang perlu di banggakan dari semua itu!" ku tegaskan sekali lagi, dari sebelahnya ku terus tatap wajah pria es batu ini, hingga tak tau kenapa tiba-tiba mas Qiyas segera menepih di bibir jalan, bebebrapa menit setelahnya mas Qiyas masih saja terdiam, namun aku kembali berceloteh padanya.


"Jadi terserah kamu, mulai saat ini sampai kita bercerai nanti, berkata dan berbuatlah sesuka hatimu, karena akan terus ku bungkus hatiku dengan kalimat semuanya akan baik-baik saja"


"Dan jangan pernah merubah pikiranmu tentang aku"


Hal yang kusesali adalah sejak tadi ku coba menahan segala perasaan yang tak enak untuk menenangkan hatinya namun kenapa, selalu saja ada celah yang terbuka hingga obrolan kita pun selalu berakhir dengan perdebatan-perdebatan yang ada.


Kita berdua membungkam cukup lama, sudah berpuluh-puluh kendaraan yang melewati kita namun mas Qiyas tak berniat sama sekali untuk menyalakan mobil lalu berpindah dari sini, hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk menelpon Umi, menyadari tanganku yang tengah menempelkan handphone di telinga segera saja mas Qiyas beralih ke arahku, namun ia tak menanyakan apa-apa, sesaat setelahnya Umipun langsung menjawab.


"Halo assalamualaikum Umi?"


"Waalaikumsalam, nak? ada apa nelpon Umi malem-malem?" Umi melirih.


"Umi belum tidur ya?"


"Ini udah mau tidur, bentar...bentar ya Umi keluar dulu, soalnya Abi udah tidur, takutnya nanti berisik"


"Iya Umi..." saat obrolan kita terjedah saat itu juga mas Qiyas mengajukan pertanyaan padaku.


"Kenapa nelpon Umi?" aku tak mau menjawab dan berusaha mengabaikannya.


"Halo nak?" Umi kembali menyapa.


"Iya Umi, Umi boleh gak telpon pak mamang nyuruh jemput aku disini, di jalan jendral Ahmad Yani deket mall Umi" mendengar itu, mas Qiyas lalu terbelalak dan berusaha meraih handphone yang tengah ku genggam ini, akupun berusaha melerainya sekuat tenaga.


"Loh kenapa, kok jam segini kalian belum nyampe rumah, memangnya nak Qiyas kemana? bukannya tadi pulangnya sama nak Qiyas?"

__ADS_1


"Malam ini aku mau pulang ke rumah Umi, mas Qiyas gak ikut Umi..."


Dari samping ku lihat mas Qiyas dengan wajah tegangnya tengah berucap sesuatu, meski hanya sekedar gerakan bibir namun aku mengerti kalau saat ini ia tengah meleraiku untuk pulang ke rumah Umi, namun sekali lagi tak ku hiraukan ia, dan terus fokus berbicara pada Umi.


"Halo Umi?"


"Iya nak, tapi kenapa kok tiba-tiba mau pulang ke rumah Umi? memangnya Salwa sudah izin sama Qiyas? terus Qiyas kemana? kok dia malah ninggalin kamu?"


Belum sempat Salwa menyahuti, tiba-tiba terlihat Qiyas mulai memaksan tubuhnya mendekat ke arah Salwa, berkali-kali tangannya berotasi kemana-mana mengikuti arah tangan Salwa yang melayangkan handphone untuk menghindari gapaian Qiyas, hingga tak lama kemydian Qiyas berhasil merebut handphone itu dari Salwa.


"Halo Umi? ini Qiyas" kali ini Qiyas yang tengah berbicara dengan napas yang engap-engap.


"Iy..iya...halo, kalian baik-baik aja kan?"


"Iya Umi, ini tadi mobil kita tiba-tiba mogok, makanya Salwa minta di jemput, hehe tapi sekarang udah bener lagi mobilnya Umi"


"Ow gitu, kirain kenapa, ya sudah kalian cepetan pulang ke rumah, ini sudah larut malam, Umi juga mau cepat-cepat tidur soalnya besok mau ke toko lagi"


"Iya Umi"


*****


Setelah Qiyas menutup telpon, ia tak langsung menyerahkan handphone itu pada Salwa, segera ia menyimpannya di dalam saku celana, beberapa detik ia melihat Salwa yang tengah menatap kaca jendela yang ada di samping seolah ia tak mau melihat wajah Qiyas saat ini, wajah marah itu seolah tengah menampar Qiyas sampai-sampai Qiyas kebingungan harus berbuat apa saat ini.


"Hei?" Qiyas menyapa dengan ragu-ragu, namun Salwa tak mau beralih.


"Salwa? Salwa lihat aku"


"Ok, aku minta maaf" Salwa masih saja terdiam dengan posisi yang sama.


"Salwa?"


"Antar aku ke rumah Umi sekarang" tegasnya.


"Gak..." Qiyas menentang dengan tegas, hingga tak lama kemudian Qiyas menarik paksa tangan Salwa lalu memeluk tubuh isterinya itu dengan erat.


"Apa sih...lepasin" berkali-kali Salwa berusaha melawan dan membuka kekangan Qiyas namun tetap saja ia tak bisa.


"Lepasin aku...lepasin..."


"Gak...."


"Griur...griur..." tiba-tiba perut Salwa mulai berbunyi, akibat suara keroncongan itu Qiyas terpaku seraya memikirkan sesuatu, lalu perlahan-lahan ia mulai melepaskan tubuh Salwa.


Tanpa pamit Qiyas kemudian turun dari mobil tak lupa ia mengunci mobilnya buat jaga-jaga jangan sampai Salwa nekad untuk kabur dari situ, hingga beberapa menit terlewati, kini Qiyas kembali ke mobil dengan membawa beberapa parsel makanan.


"Nih kamu makan dulu" Qiyas menawarkan sembari menyajikan makanan itu untuk Salwa, dengan malu-malu Salwa memerhatikan menu makanan yang di beli Qiyas, jelas saja wanita cantik itupun langsung ileran saat melihat kepiting merah dengan kuahnya yang begitu menggugah selera makan.


Tak ada kata A dan U lagi, segera saja Salwa meraih nampan makanan yang ada di tangan Qiyas, lalu menyantapnya dengan lahap, dari samping Qiyas tersenyum kecil menyaksikan tingkah Salwa.


"Auuh...." kali ini Salwa terlihat sangat kesulitan saat membuka kulit kepiting, Qiyas yangelihatnya langsung mengambil kepiting itu lalu membukanya untuk Salwa, ia kemudian mencoba untuk menyuapi Salwa sebaliknya Salwa tak menolak ia malah tersenyum kecil lalu menyumut isi kepiting yang ada diujung jari suaminya itu.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya?" tutur Qiyas sembari menatap tulus wajah Salwa, kali ini Salwa merasa ungkapan maaf Qiyas mulai terlihat gentle, hingga iapun mengangguk seraya terus menyumut makanan yang tengah disuapi Qiyas.


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap berangkat ke Italy, bareng kamu, bukan dengan wanita lain" Salwa menatap malu seraya terdiam mendengar penegasan Qiyas, namun tetap saja Salwa belum bisa menyimpulkan apa-apa atas ucapan Qiyas barusan.


__ADS_2