
*Americano Mengubah Suasana
Setelah selesai mengikuti short meeting, Salwa langsung buru-buru keluar menemui Qiyas yang sejak tadi menunggunya, hampir 1 jam sudah Qiyas duduk seorang diri di meja pelanggan VIP dan hanya bertemankan segelas juice anggur, dari belakang Salwa lalu berjalan menghampiri seraya menyentuh pundak sang suami.
"Hai...maaf ya mas agak lama!"
"Gak apa-apa, Udah meetingnya...?" tanya Qiyas seraya mendongak.
"Iya...."
Keduanya segera keluar menuju mobil, sesuai kesepakatan, mereka langsung melaju ke Cinemax XXX.
*****
Beberapa menit menghabiskan waktu diperjalanan akhirnya mereka sudah sampai, Qiyas segera memarkir mobil lalu menggiring Salwa masuk ke dalam.
"Kita kesini mau ngapain?" Salwa sedikit ragu-ragu saat mendapati suasana yang ada disekelilingnya tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Mau nonton kan?"
"Di mall ini?" Qiyas hanya mengangguk seraya tersenyum kecil pada Salwa, namun tetap saja Salwa masih merasa aneh dan bertanya-tanya sendiri dalam hati "Mungkinkah Qiyas menjebakku lagi?", wajar saja karena ia sama sekali tak pernah menyambangi ataupun diajak nonton ke bioskop sebelumnya.
Setelah beberapa meter berjalan, dari tadi ia hanya melihat toko-toko pakaian saja disekelilingnya, dengan risih Salwa kembali mengajukan pertanyaan pada Qiyas.
"Ahhm...Bioskopnya dibagian mana mas?"
"Ada disana, kita pesen cemilan dulu ya.."
"Duuh...." Salwa melirih tak nyaman.
Saat sampai di salah satu resto, mereka langsung di sambut hangat oleh seorang pelayan disitu.
"Halo selamat malam...bapak, ibu, silahkan di pilih-pilih menunya" tutur seorang pelayan seraya menyedorkan dua buku menu pada Salwa dan Qiyas.
Salwa langsung keliyengan mau pesan apa, saat melihat buku menu yang disedorkan pelayan tadi, salwa malah bertambah pusing karena bahasa menu disitu semuanya menggunakan bahasa inggris, hanya tulisan pop corn saja yang terlihat sedikit familiar baginya, meski tak tau apa menu-menu selanjutnya Salwa juga tak berani menanyakan itu pada Qiyas ataupun sang pelayan.
"Kamu mau mesen apa?" sontak Salwa terkejut dengan pertanyaan Qiyas, iapun segera beracting seolah-olah mengerti dengan apa yang tengah dibacanya saat ini.
"Aam...bentar aku lagi nyari-nyari"
"Ammm mbak, aku mau pesen pop corn butter sama Iced coffee americanonya satu ya..."
"Baik pak, mbaknya mau pesen apa?"
__ADS_1
"Uhm.. ya udah samain aja sama pesanan suami saya mbak..." tuturnya gelagapan, Qiyas lalu mengernyit heran.
"Yakin? Americano?" tanya Qiyas.
"Hu'uumm..." ekspresi Salwa tak benar-benar meyakinkan Qiyas.
"Baik pak, pop cornnya jumbo atau middle?"
"Yang jumbo mbak, ow ya sama tambahin air mineralnya satu"
"Baik pak, ini saja pesanananya?" Qiyas segera mengangguk iya.
"Semuanya 550 ribu ya pak! mau bayar cash atau debit?"
"Debit..."
"Baik pak, silahkan..." tutur sang pelayan sembari menyedorkan mesin EDC pada Qiyas, setelah selesai melakukan transaksi pelayan tersebut kembali bersuara dengan sopan.
"Baik pak, bu, silahkan menunggu disana sebentar ya, pesanannya akan datang dalam waktu 5 menit"
"Ok, makasih ya mbak...?" tutur Salwa.
"Sama-sama bu!"
"Ini pesanannya ya pak, bu, enjoy your meal!" tutur pelayan tersebut seraya bergegas dari situ, pun Qiyas langsung meraih ke dua parsel tersebut, melihat Qiyas yang mungkin kesulitan dengan parsel-parsel itu salwapun menawarkan diri untuk membantunya.
"Gak apa-apa sini aku pegang yang satunya"
Qiyas tak menghiraukan niat baik Salwa, saat terperanjat tanpa ngomong A dan B, langsung saja ia menggandeng tangan isterinya itu untuk bergegas masuk ke ruangan kebetulan beberapa menit lagi film yang akan mereka tonton segera di tayangkan.
Selama ia digiring masuk ke dalam ruangan, Salwa selalu fokus pada tangan Qiyas yang terus menggandengnya, sambil senyum-senyum sendiri ia berjalan di samping Qiyas dan tak terlalu menghiraukan keramaian yang ada di sekitarnya, sesekali ia juga menatap wajah Qiyas dari samping, sambil malu-malu dan semringah sendiri ia memejamkan mata dengan gemesh, layaknya orang yang sudah tak waras dibuatnya.
Saat sampai di dalam, ke duanya langsung mengambil tempat duduk sesuai urutan, Qiyas segera menyedorkan parsel pesanan Salwa, dengan senyuman Salwa membuka satu persatu isi parsel itu, ia lalu memangku pop corn jumbo sembari menggenggam se cup iced coffee americano yang dipesannya tadi, begitupun sebaliknya yang dilakukan Qiyas.
Di menit-menit awal mereka menikmati tayangan film itu dengan damai, namun tiba-tiba Salwa dikejutkan oleh seseorang yang duduk dibelakang yang tengah menendang-nendang kursinya.
"Duk...duk...duk...!" tubuh Salwa sedikit bergetar maju, sekali dua kali Salwa masih bisa menahan diri, fikirnya mungkin ia akan berhenti setelah ini, namun makin dibiarin orang itu makin keasyikan dengan tingkahnya yang sedikit tak sopan itu anggap Salwa, saat itu juga Salwa langsung menoleh ke belakang, ternyata dia adalah seorang wanita muda yang kira-kira berusia 17 tahun.
"Mbak?"
"Hum...?" Sahutnya santai, begitu saja ia kembali mengabaikan Salwa, namun kakinya masih saja menendang-nendang kursi Salwa.
"Mbak? bisa gak kakinya jangan nendang-nendang kursi saya?" wanita itu hanya menatap Salwa sekilas, dengan ekspresi wajah yang tak merasa bersalah sama sekali, iapun kembali mengunyah pop corn seraya melanjutkan tontonannya, namun masih dengan kaki yang terus menendang-nendang kursi Salwa.
__ADS_1
"Mbak?" lagi lagi wanita itu tak menghiraukan ucapan Salwa.
Qiyas yang sedari tadi turut menyimak pun lama-lama dibuat geram juga oleh sikap kurang ajar wanita itu, hingga iapun ikut menoleh kebelakang seraya menatap wanita itu dengan datar, namun saat melihat wajah Qiyas nyali wanita itu langsung ciut seketika, spontan ia berhenti menendang-nendang kursi Salwa, padahal Qiyas belum juga berkata apa-apa dengannya.
"Sini kita tukeran, aku yang disitu, kamu duduk disini" pungkas Qiyas pada sang isteri.
"Gak apa-apa mas, dia udah gak nendang-nendang kursi aku lagi kok"
"Gak apa-apa aku yang disitu" akhirnya Salwa dan Qiyas saling bertukar tempat duduk, disaksikan juga oleh wanita tadi, entahlah apa yang terjadi dengan wanita minus etika itu, wajahnya benar-benar malu saat Qiyas tadi menoleh ke arahnya.
Akhirnya Salwa bisa menikmati filmnya dengan tenang, meski sesekali ia sempat khawatir kalau-kalau wanita tadi akan berulah lagi pada Qiyas, namun sebaliknya wanita tersebut terlihat tenang dan sama sekali tak melakukan hal itu.
"Hahaha..." beberapa kali Salwa tertawa terbahak-bahak saat mendapati scene lucu dari film tersebut, Qiyas segera menoleh memandangi wajah Salwa, tak lama kemudian iapun ikut tertawa kecil seraya terus menatap wajah isterinya itu dari samping, saat tiba-tiba Salwa menoleh ke arahnya, Qiyas langsung buru-buru memalingkan wajahnya ke depan sana.
"Lucu kan?" tutur Salwa yang sama sekali tak menyadari sikap Qiyas barusan, dengan ragu-ragu Qiyas hanya mengangguk menanggapinya.
Kali ini Salwa mulai menyeruput minumannya namun tiba-tiba.
"Aarghhh..." Salwa histeris seraya memejamkan mata begitu lama, disebelahnya Qiyas yang tak tahu apa-apa langsung ikutan panik.
"Kenapa? kenapa?"
"Uhmm, Uhmmm, Ummm....."
"Kamu kenapa?" Salwa menggeleng-geleng sambil terus menunjuk mulutnya yang ia kunci, merasa paham dengan isyarat yang ditunjukkan Salwa, Qiyaspun segera mengambil beberapa helai tissu dari tasnya, ia lalu tumpuk di atas telapak tangan setelah itu, ia ulurkan telapak tangannya tepat dihadapan Salwa.
"Udah..keluarin..keluarin" tandas Qiyas, namun Salwa masih menggeleng, berasa tak tega jika ia harus meludah di atas telapak tangan suaminya, meski itu sudah berlapis tissu.
"Udah gak apa-apa keluarin aja..." tutur Qiyas tak keberatan, akhirnya dengan terpaksa Salwa pun langsung meludah di atas telapak tangan Qiyas.
"Uhm...minumannya pahit banget" keluhnya.
Meski Qiyas terlihat biasa-biasa saja, namun Salwa benar-benar merasa malu dan sedikit tak enak pada Qiyas, sesaat setelahnya Qiyas segera mengeluarkan air mineral yang sempat ia pesan tadi dari parselnya.
"Nih minum dulu!"
"Maaf ya mas, aku ngeludah di tangan kamu tadi"
"Udah, santai aja..."
"Aku gak tau kalo kopi itu rasanya pahit"
"Lagian bukannya dulu kamu pernah kerja di coffee shop ya? Kok gak tau kalo americano itu pahit?" lanjut Qiyas.
__ADS_1
"Yah aku kan cuman pelayan bukan baristanya"