
*Masih Tentang Intelegensi Question
Saat sampai di rumahpun mulutku masih saja manyun 3 centi lebih maju dari kondisi normal, segera saja aku menghampiri bi Lijah yang ada di dapur lalu menyedorkannya sekotak cake titipan dari Umi untuknya.
"Bi, nih cake dari Umi" ujarku tak bertenaga.
"Ya allah, Umi masih ingat aja ya sama bibi, hehe makasih banyak ya non, bilang ke Umi juga makasih" ucapnya sangat girang sambil meraih kotak cake itu.
"Aam non, bibi hampir lupa, ada titipan dari tuan Arief"
"Ha? titipan apa?"
"Bibi juga gak tau, katanya sih hadiah buat non" bi Lijah pun mulai mnggiringku ke tempat dimana ia menaroh titipan itu.
Saat aku membukanya ternyata, ternyata hadiah itu berisi sekotak Hp se type dengan Hp yang baru saja mas Qiyas ngasih gratis pada wanita yang ia temui di jalan tadi, dan terdapat beberapa kaset film animasi kesukaanku, selain itu juga ia menuliskan beberapa teks kalimat seperti ini :
"Aku dengar dari Umi kalau Hp kamu tak memiliki kamera, jadi sengaja aku hadiahkan Hp ini untuk mu, ow ya satu lagi, jangan sedih-sedih ya, bahagiakan hatimu sebisa mungkin dengan menonton film animasi ini"
Akupun tersenyum kecil membaca tulisannya, lalu ku masukan lagi semua kaset-kaset itu kedalam pembungkusnya tidak lama kemudian mas Qiyas mulai bersuara dari belakangku.
"Pemberian dari siapa?" sebenarnya aku masih malas untuk menanggapi pertanyaannya, entahlah masih saja terngiang kejadian tadi, betapa jengkelnya aku menyaksikan dia dengan ramahnya memberikan Hp baru tadi, pada orang yang sama sekali tak dikenalinya itu.
"Dari Arief"
"Ow pemberian dari pacar toh, pantes" ia kemudian duduk di sofa lalu mengganti chanel TV, rasanya pengen ku terjang dan ku cabik-cabik mulutnya yang seenak jidatnya itu mengeluarkan kata-kata, tak ingin menggubris tanggapannya akupun dengan beribu-ribu kekesalan segera beranjak kekamar.
*****
Kembali ke situasi di rumah pak Fahri terkini, rasanya belum puas hati bu Lela mengeluarkan semua unek-uneknya di hadapan pak Fahri tadi, sesampainya ia di rumah dengan keras ia mendorong pintu sekalian melampiaskan sedikit kekesalannya pada benda mati itu, Sheila yang menyadari kepulangan mamahnya segera saja ia menghampiri mamahnya yang hampir kehilangan moody itu.
"Mamah kenapa sih dorong pintu keras begitu, bikin kaget aja" cetus putri sulungnya itu.
"Mamah lagi gak mood sekarang"
"Gak mood kenapa mah, ow yah papah mana?"
__ADS_1
"Papah sama Bela langsung ke hotel, katanya ada rapat agenda hari ini, biasalah menantu kesayangan papah kamu itu yang ngerusak mood mamah" jawabnya sambil mementalkan tas mahalnya itu di atas sofa.
"Memangnya pelayan cofee itu abis ngapain lagi sih mah?"
"Ternyata menantu pilihan papah kamu itu dulunya anak yang bodoh mungkin juga sekatang dia masih bodoh, kamu tau bu Giska kan?"
"Iya tau"
"Bu Giska itu mantan gurunya dulunya waktu SMA, semua diceritakan bu Giska betapa bodohnya si Salwa itu"
"Sampai sekarang juga masih kelihatan sih mah kalo dia tu memang gak punya otak, toh kalo dia punya otak kan gak mungkin dia menjual dirinya pada Nuge"
"Hwuuwh makin geram aja mamah ngeliat dia" dengan rapatan gigi bu Lela meluapkan kejengkelannya.
"Kamu telpon Nuge sekarang, suruh dia cepat kesini"
Sheila pun menuruti perintah ibunya itu dengan menguhubungi kontak adik bungsunya itu, setelah beberapa menit berbicara dengan Qiyas, iapun mengakhiri pembicaraannya itu.
"Apa katanya?" tanya bu Lela.
*****
Di malam hari yang hampir larut ini, bu Lela masih menunggu kedatangan Qiyas, dengan kepalanya yang saat ini masih dipijat oleh Sheila.
"Tuh mah, Nuge udah dateng" cetuh Sheila.
"Nuge..." dengan suara lemahnya ia menyapa anak bungsunya itu.
"Mah...mamah kenapa sih?"
"Darah tingginya kambuh lagi, stress gara-gara isteri kamu" jawab Sheila.
"Mah...kan Nuge udah bilang, gak usah terlalu banyak pikiran, kalau stress kan bisa begini jadinya" balas Qiyas sembari memijat kedua sisi kepala ibunya.
"Papah mana?" tanya Qiyas pada kakaknya.
__ADS_1
"Belum pulang" tutur Sheila, seketika bu Lelapun memulai pembicaraannya pada Qiyas.
"Kenapa dari awal Nuge gak bilang ke mamah kalau Salwa itu mantan siswi privat kamu dulu"
"Mah, Nuge juga gak tau kalau Salwa pernah menjadi siswi privat Nuge dulu, yang menjadi siswi privat Nuge kan banyak mah gak mungkin lah Nuge bisa mengingat namanya satu persatu"
"Ceraikan dia Nuge, demi mamah" bu Lela kemudian menggengam kedua telapak tangan anak lelakinya itu.
"Mah...mamah istirahat aja dulu sekarang yah" tak mau menggubris permintaan bu Lela, ia pun mulai terperanjat, dengan merangkul sang mamah yang akan ia giring menunuju kamar namun tiba-tiba bu Lela bersuara lagi pada Qiyas kali ini permintaanya itu terdengar lebih serius.
"Mamah serius Nuge, lagian kamu juga gak cinta kan sama dia? kamu gak usah mikirin papah kamu Nuge, ini demi kebaikan kamu dan juga kebaikan kita"
"Mah, ayo Nuge anterin ke kamar, Nuge gak bisa lama-lama disini"
"Nuge! Nuge dengar gak sih apa yang mamah omongin"
"Iya mah Nuge denger, tapi bukan saatnya untuk ngebahas itu sekarang mah, nanti yang ada darah tinggi mamah malah makin naik, mah nanti kita bahas lagi ya kalau mamah udah sehat ok?" luluh dengan ucapan Qiyas, bu Lelapun segera masuk ke kamar dengan dirangkul putra semata wayangnya itu.
*****
Saat Qiyas kembali ke rumah, terdengar suara girang Salwa yang tengah melakukan vidio call bersama Umi dan Abinya.
"Ahaha, iya Umi jadi Hp ini tuh hadiah dari Arief dia juga ngasih Salwa kaset film kesukaan aku, mirip dengan kaset aku dulu yang waktu itu Abi jual ke CD second buat nambah biaya rumah sakit kak Hilwa"
Hampir satu jam saat kedatangan Qiyas yang tidak diketahuinya itu, Salwa lalu mengakhiri telponnya, berasa tenggorakannya mulai kekeringan Salwapun segera ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air putih, ia sempat melihat Qiyas yang tengah duduk tanpa aktivitas apapun diruang tamu namun kalimat sapaan tak lagi diucapkannya, Qiyaspun melihatnya hanya sekilas.
"Salwa...Salwa....Salwa..." Gumamnya lirih sembari terus mengingat-ngingat apakah ia pernah melihat nama itu ketika menjadi mentoring privat dulu atau kah semua omongan bu Giska tadi hanyalah karangan semata.
"Apa iya dia pernah menjadi siswi privat aku? tapi kok aku gak ingat apa-apa ya tentang dia!" lagi-lagi ia bergumam seirang diri.
Seketika itu Salwapun kembali dari dapur, terus saja ia melangkah menuju kamar, namun kali ini Qiyas menahan langkahnya.
"Ayo ikut aku"
"Gak ah, aku capek, aku ngantuk, dan aku pengen istirahat" cetuhnya namun saat ia berjalan selangkah, tiba-tiba Qiyas meraih tangannya.
__ADS_1
*To be continue....