
*Rumah Mas Qiyas
Terhitung lima langkah dari luar menuju ruang tamu, seketika ku tegunkan kedua kakiku untuk melangkah, kupandangi rumahnya yang sangat luas ini, segala sesuatunya mulai memancing ke dua mataku untuk terus menyoroti semua barang mewah yang ada disekelilingku saat ini, dengan rasa lelah yang sedari tadi mengikat tubuhku, juga terdengar nafasku yang masih terengah-engah, menarik jiwa acuhku untuk mengabaikan lelah ini, sambil sesekali ku seka peluh yang sedari tadi bercucuran membasahi kulit yang melapisi tulang pelipipisku, tiba-tiba saja terdengar mas Qiyas yang mulai membuka suara dihadapanku.
"Ini kamar kamu, yang sebelah sana kamar aku, ow ya besok kamu jangan kemana-mana, soalnya bi lijah udah mau kesini besok"
"Bi lijah itu siapa?" tanyaku dengan tatapan membingungkan.
"Asisten rumah tangga!" sahutnya sangat datar.
"Kita disini kan cuman tinggal berdua, kenapa harus pakai asisten rumah tangga sih? aku kan bisa ngurusin semuanya"
"No, no, no aku gak mau berutang budi sama kamu" mendengar ucapannya itu berasa mataku seketika menjadi sipit , bahkan otakku dengan bobot IQ yang pas-pasan ini mulai menyerah untuk menanggapi sikap lelaki jenius ini.
"Berutang budi gimana? lah itu semua kan kewajiban aku sebagai isteri"
"Kamu memang susah ngerti ya, kalau aku ngomong? nih, aku tekankan sekali lagi, pakaian kotor aku, piring kotor aku, makan dan minum aku semuanya biar bi lijah yang handle, kalau kamu terserah"
"Terserah gimana maksud kamu?" kali ini mas Qiyas benar-benar terlihat emosi atas pertanyaanku barusan.
"IQ kamu berapa sih? dari tadi aku ngomong kamu tuh gak ada paham-pahamnya sama sekali"
"Emang harus yah? yang menjadi lawan bicaramu itu IQnya diatas rata-rata?"
"Kamu berani ngebentak aku?" kini tatapannya mulai terlihat sinis lagi, ia lalu berjalan selangkah lebih dekat denganku, namun sesegera mungkin ku alihkan pandanganku untuk tidak melihat tatapannya yang sangat menakutkan itu.
__ADS_1
"Maaf! aku hanya terlalu lelah" ucapku dengan penuh rasa was-was.
"Lelah? emang kamu kerja apa? yang pantas ngomong lelah tuh seharusnya aku bukan kamu, Ini kan yang kamu inginkan! menikah dengan aku, biar hidup kamu bisa senang?"
"Kamu pikir mudah menjadi aku? kamu pikir gampang masuk dan bergabung dalam keluarga kamu? kamu gak bakalan ngerti apa yang aku rasa!" atas ucapan ku itu, ia terdiam lalu menatapku dengan wajahnya yang penuh tanda tanya, segera saja aku berjalan menuju kamar sembari mengunci pintu rasanya ingin ku luahkan semua kekesalan ini dengan kata-kata kasar yang bisa menyakiti telinganya, namun lagi-lagi itu hanyalah angan yang sangat mustahil untukku lakukan. Tiba-tiba saja dari luar terdengar langkah kakinya yang berjalan mendekati kamarku, tepat didepan pintu kamar langkah kakinya mulai terhenti, seketika ia bersuara dari luar.
"Aku hidup bukan untuk mengerti perasaan kamu, begitupun sebaliknya, jadi jangan pernah menganggap bahwa kamulah satu-satunya korban atas pernikahan ini"
Jika ia menganggap pernikahan ini hanyalah sebuah permainan, mungkin garis startnya sudah diciptakan sejak ia mengikrarkan ijab kabul di hadapan abi waktu itu, mungkin dianggapnya hanya sekedar kata-kata yang sama sekali tak ada faedahnya, bahkan aku sangat penasaran seperti apa garis finisnya nanti, namun apakah sempat terlintas di fikirannya kalau janji yang diucapnya itu, sama sekali allah tak menganggapnya sebagai permainan.
Jatuh cinta ibarat sebuah masakan, tidak ada yang salah dengan resepnya, begitupun bahan dasarnya, mungkin cara pengolahannya yang belum benar, karena untuk menciptakan rasa yang di inginkan, butuh ketekunan dan kesabaran yang luar biasa.
*****
Sesaat sebelum menjelang maghrib, ku sempatkan waktu untuk merapihkan beberapa bagian lemari yang ada diruang tamu, tak lupa ku pajangkan dua buah bingkai foto pernikahanku dengan mas Qiyas, meski selalu saja di sebut-sebutnya sebagai benda formalitas namun bagiku foto itu adalah hal yang paling berharga yang sudah ku miliki saat ini.
"Allahu akbar! allahu akbar!" terdengar suara adzan maghrib
"Assalamualaikum!" beberapa kali ku ucapkan salam di depan pintu kamar mas Qiyas yang sudah terkunci rapat itu, namun tak ada respon apa-apa darinya, ia seakan pamali untuk menjawab salamku, padahal jelas-jelas beberapa kali kudengar suara pijakan kakinya didalam sana.
"Tok! tok! tok!" ku ketuk lagi pintu kamarnya sampai ia benar-benar risih dan mulai terperanjat untuk membuka pintu, benar saja sesaat setelahnya ia lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa sih? kalo aku udah gak buka pintu, berarti aku lagi sibuk di dalem!" lagi-lagi pelototan matanya selalu saja membuatku takut.
"heh! ini peringatan terakhir ya? besok-besok aku gak mau denger kamu berisik didepan kamar aku lagi"
__ADS_1
"Udah waktunya sholat maghrib sekarang!"
"Ya terus?"
"Ayok kita sholat berjamaah" pungkasku sangat polos.
"Huuuft! aturannya sekarang, kamu sholat dikamar kamu, aku sholat dikamar aku paham?"
"Tapi sholat berjamaah itu lebih banyak pahalanya" seketika ia memotong ucapan ku, padahal masih semangat-semangatnya aku yang menjelaskan tentang keuntungan sholat berjamaah.
"Huusttt! kamu gak usah ngajarin aku soal agama ya! kalau aku butuh, aku bisa manggil ustadz buat ngajarin aku, bukan kamu!" rasanya saat ini,minggat dari hadapannya adalah trik terampuh sebelum ia semakin naik pitam.
Tak mau repot dan berutang budi padaku mending ia mengeluarkan rupiahnya untuk memesan online dua kotak nasi goreng yang saat ini tengah ku santap seorang diri di meja makan sambil sesekali termenung jauh entah apa yang sedang ku lamunkan, sementara mas qiyas lebih nyaman menikmati makanannya didepan televisi
"Gak suka nasi goreng? masa sih orang kampung gak suka nasi goreng" ujarnya sambil berjalan menuju wastafel lalu mencuci piring kotornya.
"Huuuftt! kenapa sih, kamu membuat segala sesuatunya terasa asing?"
"Humm! asing?"
"Bukankah dengan pernikahan kita bisa lebih dekat satu sama lain? kenapa kamu membuat semuanya seolah-olah....."aku mulai kehabisan kata-kata untuk meluapkan semua unek-unek ku
"kenapa? gak suka? ya udah kalau kamu gak suka kita tinggal cerai aja, gampang kan?" tanpa menunggu sahutanku iapun bergegas menuju ke kamarnya, jika berkehendak, jujur saja aku ingin menggigit sebelah daun telinganya namun aku tak punya daya untuk bertarik suara dengan mas Qiyas, harus sesimpel itu kah ia melayangkan kata cerai.
"haauw! ya Allah, kenapa hatiku semakin sakit begini!" gumamku sambil terus menyeka air mataku yang tiada henti-hentinya untuk menetes.
__ADS_1
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗