
*Ipar Yang Di Abaikan
Siang itu Qiyas dan Salwa sama-sama tengah duduk di meja makan, dihadapannya duduk sang suami dengan sorotan mata yang terus mengarah padanya, risih sih iya salah tingkah apa lagi, namun Salwa coba berusaha untuk mengabaikan sikap aneh suaminya itu menurutnya, dengan telaten Salwa menuangkan nasi serta mengambilkan lauk untuk Qiyas, setelah itu ia tersenyum kecil lalu menyilahkan Qiyas untuk memulai makan.
"Siang ini kamu mau kemana?" tanya sang suami, baru saja Salwa akan menjawab, tiba-tiba sudah terlihat bi Lijah yang tergopoh-gopoh menghampiri ke duanya.
"Tuan, non Sheila ada di depan" Mendengar nama Sheila di sebut-sebutnya, Salwa langsung berubah wajah menjadi low mody, seketika batinnya mulai tertekan lagi dengan kehadiran Sheila disini.
"Owh suruh kesini aja bi"
"Baik tuan" segera bi Lijah bergegas ke ruang tamu, hingga beberapa saat setelahnya dari kejauhan sudah terlihat Sheila dengan stelan mahalnya yang tengah berjalan menuju dapur.
"Duk..duk..duk" bunyi hak sepatu Sheila mengiang di telinga Salwa yang memacu detakan jantung Salwa memompa semakin cepat, ia begitu takut melihat penampakan Sheila saat ini.
"Hai Nuge, gimana kabar kamu?" tuturnya sembari menunduk cipika-cipiki dengan Qiyas.
"Aku sama Salwa baik kok, ada apa nih tumben banget kak Sheila maen kesini"
Alih-alih mau menyapa adik iparnya, yang ada Sheila malah menarik kursi tepat di sebelah Qiyas untuk didudukinya, spontan Salwa langsung beranjak mengambilkan piring kosong untuk Sheila, setelah itu ia lalu menyedorkan piring tersebut untuk Sheila sebaliknya Sheila menatapnya sedikit meremehkan, namun Salwa berupaya untuk tidak mencerna apa yang baru saja ia lihat dan mulai menuangkan air putih lalu di sedorkannya lagi di hadapan kakak iparnya itu.
"Nih kak, minum dulu" tuturnya sambil tersenyum, meski batinnya hampir menyerah, Salwa tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk Sheila, namun tetap saja dimata Sheila Salwa tetplah orang rendahan yang sudah berhasil merusak masa depan adik bungsunya, semakin ogah dengan sikap Salwa, Sheilapun mengabaikannya lalu mengubah posisi duduk sedikit lebih condong ke arah Qiyas, Qiyas yang saat ini juga menyaksikan sikap Sheila tak bisa berbuat banyak, ia hanya membungkam sembari menampilkan wajah yang tak enak pada Salwa, sayangnya Salwa tak sempat memerhatikan wajah Qiyas saat itu.
"Nih undangan dari Elda, dia juga nitip salam sama kamu"
"Elda? owh yang kemaren itu?"
"Iya, dateng yah...awas aja kalo gak dateng" Sheila mengancam dengan nada bercanda, setelah itu ia meraih nampan nasi lalu menuang sesendok di atas piringnya.
"Ini undangan apa?" Qiyas nyeletuk sedikit basa-basi seraya membuka plastik bening yang tengah membungkus undangan tersebut.
"Birthday"
__ADS_1
"Cuman satu? buat Salwa mana?" Selain Sheila, Salwa pun ikut terkejut atas pertanyaan Qiyas barusan, namun Salwa tak mau terlibat atas obrolan kakak adik itu ia lebih memilih diam saja dari pada harus menambah gaduh dari cengkerama mereka yang kelihatannya sudah mulai memanas, sejenak Sheila merotasikan bola matanya, berasa makin jengkel saja dengan Qiyas yang sudah mengajukan pertanyaan itu.
"Ya satu lah, orang dia cuman ngundang kamu doang kok" paparnya sembari menampilkan wajah tak suka pada Salwa.
"Eh dia sewa satu lantai loh hotel papah dan kita termasuk dalam daftar undangan VIPnya" lanjut Sheila dengan beda ekspresi, namun kelihatannya Qiyas sama sekali tak menaruh rasa penasaran atas bookingan hotel yang di ceritakan Sheila tersebut.
"Owh, nantilah di liat dulu, kalo aku punya waktu aku pasti dateng"
"Humm, ya elaah setau aku jadwal fly kamu kan udah off sekarang, jadi kamu punya waktu dong buat kesana"
"Iya, tapi aku kan mau prepare buat ke Italy" mendengar alasan Qiyas yang bertubi-tubi itu, Sheila sudah bisa menebak sudah pasti Qiyas tidak akan hadir di pesta tersebut, tak mau menambah denyutan kepala lagi Sheilapun melanjutkan kunyahannya, begitupun dengan Qiyas dan Salwa.
*****
Tepat pukul 21.30 WIB, seperti biasa Salwa berjalan lagi kekamar tamu, lalu menghafalkan beberapa paragraf script sembari mengatur mimik wajahnya.
"Di part yang ini tuh, kamu harus senyum Salwa, gigi juga harus kelihatan, kok aku lupa sih..." celetuknya seorang diri, seraya mengulang-ulangi part tersebut.
"Tok..tok..tok" tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar, sontak Salwa di buat terkejut lalu berbalik badan dan menyahuti.
Saat daun pintu terbuka, awalnya ia berfikir itu adalah bi Lijah, namun ternyata yang ia lihat di depan sana adalah suaminya dengan kemeja putih berbalut jas abu-abu matching dengan celana cingkrang kotak-kotak yang ia kenakan saat ini, Salwa hampir terhipnotis lagi untung saja Qiyas segera berucap yang langsung menyadarkan Salwa saat itu juga.
"Aku mau ke kantor maskapai, kemungkinan tengah malem aku balik, pintu depan jangan lupa dikunci ya..." Sudah, begitu saja Qiyas langsung bergegas pergi dari situ, namun Salwa kembali memaku dan mengernyitkan alis seraya bertanya-tanya.
"Tumben banget Qiyas berpamitan, lah selama ini dia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya, terlebih lagi saat mengetuk pintu kamar, biasanya juga kalau masuk kamar ya tinggal masuk saja tanpa perlu mengetuk, ahh ya sudahlah ngapain sih aku mikirin ini" Salwa kembali mempraktikkan scriptnya.
*****
Qiyas yang baru saja sampai di kantor maskapai langsung berjalan masuk ke dalam, disana sudah ada pa Xender yang menunggunya di ruangan.
"Hai, pak sorry agak telat"
__ADS_1
"Iya gak apa-apa, ayo duduk" pak xender mengambil sebuah map cokelat lalu di sedorkannya untuk Qiyas.
"Nih, surat cuti kamu, sudah ada tanda tangan saya disitu"
"Wah, makasih banyak ya pak"
"Iya, sama-sama"
"Ren? kopinya mana?" pinta pak Xender pada skretarisnya.
"Iya pak, ini lagi di buatin" Sesaat setelahnya Reni pun langsung mengantarkan kopi tersebut di ruangan pak Xender.
Beberapa menit berlalu, Qiyas dan pak Xender semakin tenggelam dengan dunia mereka dari berbagai obrolan yang sudah terjadi, di ketahui keduanya memang dikenal sangat dekat entahlah dimata pak Xender Qiyas tidak seperti bawahannya, malahan sudah ia anggap seperti adik sendiri, terlebih lagi Qiyas merupakan salah satu pilot yang selama ini sering di bangga-banggakan oleh beliau.
Malam ini, ada banyak topik yang tengah dibicarakan oleh mereka, terkadang obrolan mereka bisa menjadi serius terkadang juga obrolan itu meruncing ke arah yang lebih humoris hingga pak Xender tak mampu menahan tawanya.
"Hahah..." Pak Xender yang merupakan pemilik maskapai tertawa kecil menanggapi ucapan Qiyas.
"Eh Qiyas, by the way aku punya satu pertanyaan yang belum sempat kamu jawab sebelumnya" lanjut pak Xender.
"Hah? Pertanyaan apa itu pak?"
"Kenapa sih sampai saat ini kamu masih merahasiakan soal pernikahan mu?" Qiyas sedikit terkejut tiba-tiba pak Xender menanyakan hal itu.
"Ahm...aku cuman belum siap aja pak untuk go publik"
"Iya, belum siapnya itu kenapa?" Qiyas hanya memakasakan untuk tersenyum seraya terdiam menatap pak Xender.
"Bukan apa-apa sih, hanya saja para pramugari disini tuh pada naksir sama kamu, banyak dari mereka yang sering nanyain status kamu ke saya, ya sayanya serba salah harus bohongin mereka terus-menerus"
"Heheh bapak bisa aja..."
__ADS_1
"Bener loh Qiyas, Eh tapi isteri kamu pasti lebih cantik kan dari mereka?" Lagi-lagi Qiyas hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan pak Xender.
Setelah 3 jam berbincang-bincang dengan petinggi maskapai, kini sudah waktunya Qiyas akan berpamitan pulang, tak lupa Qiyas juga mengucapkan banyak berterima kasih pada pak Xender karena sudah bela-belain meluangkan waktunya untuk bercengkerama dengannya, padahal orang besar seperti pak Xender itu jarang sekali punya waktu untuk bisa bertemu langsung dengan captain-captainnya.