
*Perkara Jus Leci
"Kirain kamu udah berangkat kemaren" Kiran memulai pembicaraannya.
"Gak jadi, jadwal aku ditunda selama dua hari sayang"
"Kenapa bisa?"
"Ya karena maskapai belum mengizinkan aku untuk fly, alasannya sih karena cuaca yang buruk, mereka gak mau ambil risiko untuk itu, ya gak apa-apalah setidaknya aku masih punya waktu dua hari untuk kamu"
Aku yang berasa geli mendengar suara manja suster Kiran pada mas Qiyas, segera saja bergegas masuk ke kamar, setidaknya dikamar sesikit lebih baik untukku dari pada harus memekakan telinga diluar sana, baru saja ku rebahkan tubuhku tiba-tiba terdengar suara mas Qiyas memanggilku didepan pintu, ku coba beberapa kali untuk tidak menghiraukan suaranya.
"Salwa buka pintunya, aku tau kamu belum tidur, buka pintunya sekarang!" namun semakin lama ku abaikan maka mas Qiyaspun semakin meninggikan suaranya didepan sana, hingga akhirnya dengan terpaksa akupun membuka pintu.
"Ada apa sih?"
"Tolong buatin minum!" pintanya kali ini semakin membuat tatapan kesalku menajam padanya.
"Jus leci ya, jangan lupa dicampur madu" sambungnya, hanya sekedar menyuruhku membuat minuman setelah itu iapun beranjak lagi ke ruang TV, mas Qiyas sama sekali tak melihat betapa kesalnya aku atas semua ini, namun tetap saja aku sama sekali tak bisa melawan kekesalan ini.
Setelah selesai membuatkan secerek jus leci, dengan berat hati akupun harus mengantarnya lagi ke ruang TV, tepat dihadapan mas Qiyas aku berdiri sambil memegang cerek jus leci itu, terpaku dan melongo melihat mereka-mereka yang dengan asyiknya menyantap 18 menu yang sudah kusajikan dihadapan mereka, rasanya belum puas mas Qiyas menyuruhku ini itu, iapun kembali menyuruhku lagi untuk menuangkan jus itu digelas mereka masing-masing.
"Ayo tuangin!" kali ini mas Qiyas benar-benar kelewatan, tega-teganya ia membuatku terlihat seperti babu dihadapan suster Kiran dan teman-temannya namun dengan mulut yang tak mampu berkata apa-apa, ku ikuti lagi permintaannya, satu demi satu gelas mereka ku tuangkan jus leci, hingga wanita yang bertubuh gendut tadi mulai mengejekku lagi.
__ADS_1
"Kamu ini sebenarnya isterinya mas Nuge, atau pembantunya sih, hahah" bisiknya pelan ditelingaku, ku coba untuk tidak mengambil hati atas ucapannya barusan.
Terus saja kudatangi satu-satu dari mereka hingga semua gelas sudah terisi dengan jus leci, namun masih ada gelas yang terakhir yang belum sempat kutuangin jus leci, dengan kuat hati ku dekati suster Kiran dan meminta gelas kosong yang ada dihadapannya itu, dengan senyuman iapun menyedorkan gelas itu, namun saat kutuangkan jus leci ke dalam gelasnya tiba-tiba ia merampas kembali gelas itu hingga baju dan rokku yang aku kenakan mulai basah akibat tumpahan jus leci tersebut.
"Aaam! Maaf, aku...aku gak suka jus leci" tukasnya, sedikit tak merasa bersalah.
Seketika ku tarik nafasku dalam-dalam sambil kusuguhkan senyuman sinis padanya, namun tetap saja aku masih bersikap santai dan tetap menghargainya, meski aku tau hatinya sedang tertawa melihat kondisiku saat ini.
"Ouw gitu, jadi kamu mau minum apa?" tanyaku dengan sopan.
"Aam, gak apa-apa biar aku aja yang buat sendiri" saat Kiran mulai terperanjat dari tempat duduknya, tiba-tiba mas Qiyas menahan langkahnya, aku tau saat ini dia hanya sedang berekting dihadapan mas Qiyas, mungkin dia hanya ingin menunjukkan padaku betapa perhatiannya mas Qiyas atas dirinya.
"Aam! Kiran...kamu duduk aja, malam ini biar dia yang menyajikan semuanya untuk kita"
"No! Salwa bukan babu dirumah ini" tiba-riba Arief bersuara menyambung ucapan mas Qiyas, tidak ada tanggapan apa-apa dari mas Qiyas melainkan tatapan kaget saat melihatnya bahkan semua mata yang ada diruangan ini pun mulai tertuju padanya.
Ia kemudian menatap tajam mas Qiyas dan suster Kiran tanpa berkata apa-apa lagi dengan segera Arief menggiringku keluar dari ruang TV bahkan selarut ini ia berani membawaku keluar rumah tanpa pamit dari mas Qiyas, akupun hanya mengikutinya kemanapun ia membawaku, pun aku sendiri sama sekali tak ingin menanyakannya. Hingga kami tiba disuatu tempat, yang ternyata tempat itu ialah toko cake umi
"Kenapa kamu mebawaku kesini?" sejauh perjalanan, baru kulontarkan satu pertanyaan padanya.
"Kamu akan tau jawabannya setelah masuk kedalam" jawabnya sambil tersenyum kecil padaku.
*****
__ADS_1
Beberapa menit setelah aku dan Arief meninggalkan rumah, kini timbul beberapa tanda tanya besar di benak suster Kiran dan teman-temannya mengenai sosok Areif yang baru saja mereka lihat malam ini.
"Itu tadi siapa? Pacar isteri kamu?" tanya Kiran pada Qiyas, namun tak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut Qiyas, ia kemudian duduk lalu meneguk segelas jus leci yang baru saja dituangkan oleh sang isteri.
"Sudah pastilah pacarnya, mana mungkinkan dia berani merangkul perempuan itu kalo mereka gak ada hubungan apa-apa" sigendut itu membantu memecahkan pertanyaan Kiran sesuai presepsinya sendiri, namun nada bicaranya terdengar sedikit memanas-manasi suasana.
"Waah dia hebat yah, dalam satu waktu dia bisa memiliki dua pria tampan sekali gus, hihi" terdengar suara girang dari salah satu temannya lagi.
"Sumpah ke dua mataku mengeluarkan lope-lope saat melihat cowok tadi hiiii gemesh banget deh" tambah salah satu temannya yang mulai bucin dengan Arief.
"Hehe kalian ini unik yeah, kamu punya pacar dan isteri kamu juga punya pacar! Huum rumah tangga yang sempurnah, aku belum pernah liat rumah tangga seperti ini sebelumnya, satu-satunya hanya ada di Indonesia, yaitu rumah tangga kalian" Kiran pun mulai mengeluarkan kalimat puitisnya namun atas ucapannya itu Qiyas terlihat semakin murka padanya.
"Kalian boleh pulang sekarang! Aku mau istirahat, aku capek!" Kiran yang mendengar ucapan Qiyas barusan, terheran-heran atas keputusannya untuk mengakhiri party ini.
Sementara satu per satu dari teman-teman Kiran mulai menghentikan aktifitas kunyahannya, perlahan-lahan mereka mulai menaroh gelas dan piring yang digenggamnya ke atas meja, berasa sudah ada hard code dari mulut tuan rumah untuk segera beranjak pergi dari sini.
"Gak bisa gitu dong, sayang kamu apa-apaan sih?" bantahnya, Kiran merasa tak terima atas keputusan Qiyas barusan, ia mencoba melerai niat pacarnya itu namun sayang, hanya dengan tatapan mata Qiyas, tanpa bersuara lagi, Kiran dan teman-temannya pun akhirnya beranjak pergi meninggalkan rumah.
*****
Di dalam toko cake Umi, Arief menyeduh segelas kopi hangat untukku, aku yang masih seidkit trauma atas kejadian tadi masih belum bisa berbicara banyak dihadapan Arief hingga akhirnya lagi-lagi Arief selalu mampu mencairkan suasan menjadi lebih bersahabat.
"Gimana sekarang, udah agak enakan?" akupun tersenyum mendengar pertanyaan Arief pun ia juga tersenyum hangat padaku, sambil sesekali kuteguk segelas kopi hangat buatannya.
__ADS_1
Di salah satu meja customer kita berdua sempat berdiskusi mengenai rancangan undangan untuk peresmian toko cake Umi nantinya, mengingat dua hari lagi toko cake umi sudah akan menggunting pita sebagai tanda resminya toko ini dibuka.
Detik-detik waktu semakin berpindah ke angka selanjutnya, takaran kopi yang ada di hadapanku mulai berkurang, tak terasa hampir dua jam sudah aku dan Arief bertukar fikiran mengenai rancangan toko cake Umi kedepannya dan juga marketingnya nanti akan seperti apa, hingga akhirnya Ariefpun mengakhiri diskusi malam ini, ia lalu berniat akan mengantarku lagi pulang ke rumah.