
*Runyam Tak Menentu
"Mau kemana lagi kamu?" sapa bu Wiyah mamanya Kiran.
"Mau ke acara ulang tahun Ratih mah" sahut Kiran sembari mengambil tempat duduk bersebelahan dengan sang mamah, dengan senyum semringah ia meraih selembar roti tawar lalu diolesinya seleai cokelat, bu Wiyah yang terlihat mulai carut-marut itu kini mulai menatap jengkel Kiran.
"Mau pergi sama siapa?"
"Sama Qiyas lah mah, ya mau siapa lagi"
"Kamu tuh, mau sampe kapan sih nungguin si Qiyas itu? mamah bahkan udah mau bertumbuh uban kamu masih belum-belum aja nikah ama dia" lanjut sang mamah dengan nada suara yang mulai kesal.
"Mamah kenapa sih? kok ngomongnya kek begitu?"
"Memangnya kenapa dengan omongan mamah kamu?" tambah papahnya.
"Gak sih pah, cuman Kiran gak suka aja hampir setiap hari mama tuh ngomongnya kek begitu, telinga Kiran nih hampir meledak tau gak pah"
"Ya wajarlah kalo mamah ngomong terus kek begitu, ingat umur kamu Kiran, sekarang kamu itu udah gak muda lagi, malu sama adek-adek kamu yang udah nikah lebih dulu" tegas sang mamah.
"Tuh liat si Era, baru umur 19 tahun udah nikah, si Ida baru umur 20 tahun udah nikah, si Imel temen se angkatan kamu dulu, sekarang dia udah punya tiga anak tuh, lah kamu..." lanjut bu Wiyah semakin naik pitam.
"Mah...please deh, Kiran tuh mau sarapan bukannya mau berdebat sama mamah, kalo adek-adek Kiran udah nikah dan aku belum memangnya kenapa?" pun Kiran turut bersuara tegas.
"Lah...pake nanya lagi memangnya kenapa, nih...nih..muka mamah nih mau taroh dimana? mamah malu tau gak sama teman-teman mamah yang selalu bilang kalo kamu itu perawan tua lah, gak laku-laku lah" tutur bu Wiyah sembari menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri, sementara Kiran hanya terdiam seraya menatap tajam wajah mamahnya itu, tampak pola napasnya juga mulai terengah-engah.
"Kiran? apa kamu masih yakin dengan Qiyas?" tutur papahnya dengan lembut, seraya menengahi ucapan ke duanya yang mulai memanas itu.
"Yakin pah, Kiran tetap yakin dengan Qiyas, yakin 100%"
"Hallaaah, yakin" tambah mamahnya sedikit meremehkan.
"Ok, papah juga harap seperti itu, tapi yang papah lihat makin ke sini kok dia makin banyak berubah!"
"Gak kok pah, dia gak berubah dan dia gak akan pernah berubah sampai kapanpun"
"Huum...yang papah tau dia dulu sering banget mampir ke rumah, tapi sekarang, udah beberapa bulan ini dia udah gak pernah lagi mampir kesini"
__ADS_1
"Dia...dia kan lagi sibuk pah" tuturnya sedikit terbata-bata.
"Kiran...kamu kan udah berkali-kali di tolak ama keluarganya, jujur papah juga cukup malu dengan semua ini, mau sampai kapan lagi Kiran akan terus di perlakukan seperti ini?"
"Kiran akan tetep sabar nungguin Nuge, Kiran udah terlanjur cinta dengan Nuge pah" tuturnya sepenuh hati, tersadar Kiran sedikit terkejut dengan tatapan mamahnya.
"Mau sampai kapan? 7 tahun udah berlalu, dan itu bukan waktu yang pendek nak!"
"Kiran...kalo emang keluarganya udah gak suka dengan kita, ya udahlah Kiran kan bisa cari laki-laki lain yang lebih baik dari dia" lanjut sang papah.
"Halah udahlah pah, dari dulu juga mamah udah capek ngomong begitu sama dia, emang dasar dianya aja tuh yang gak punya urat malu, jadi perempuan kok gak malu ngejar laki-laki" tutur bu Wiyah semakin emosi, tak tahan berlama-lama iapun segera bergegas dari situ, sedangkan Kiran cukup tersindir atas ucapan mamahnya barusan, pun sang papah hanya bisa menghela nafas atas ucapan isterinya barusan.
*****
"Happy birthday...happy birthday...happy birthday to you" terdengar sorakan meriah teman-teman Qiyas di sebuah hotel mewah, di sela-sela berakhirnya pesta terlihat para tamu mulai menyantap hidangan cake yang sudah di sajikan tak terkecuali dengan Kiran saat ini yang juga tengah sibuk memilih potongan cake.
"Kamu mau cake yang mana sayang?" tuturnya yang sama sekali tak di respon oleh Qiyas.
"Nuge...?" tampak Kiran berkali-kali mengejutkan Qiyas yang tengah melamun di sebelahnya, hingga ia mulai terkejut atas sapaan Kiran barusan.
"Kamu kenapa sih? melamun mulu dari tadi"
"Gak..gak kenapa-napa kok, ini udah selesai kan? yuk kita pulang"
"Tuh...kamu gini lagi, ada apa sih sayang? dari tadi tuh kamu keliatan gelisah, gak tenang, kamu punya masalah apa sih? coba deh cerita ke aku"
"Gak...aku..aku cuman...." tiba-tiba Qiyas menyetop ucapannya, namun langsung di tindih oleh Kiran yang kelihatannya masih penasaran atas ucapan tambatan hatinya itu.
"Cuman apa?"
"Ak...aku ada urusan setelah ini" jawab Qiyas seraya memijat halus dahinya.
"Urusan apa lagi? kemaren katanya kamu free hari ini, terus gimana mau ketemu mamah sama papah aku? di tunda lagi gitu?"
"Kiran...kan ketemu sama mamah dan papah kamu bisa di hari-hari lain, hari ini aku bener-bener gak bisa sayang"
"Terus aja kek begitu" sahut Kiran tak bersemangat.
__ADS_1
"Sayang, jangan marah ya...aku bener-bener ada urusan penting hari ini, yah jangan marah yah?" tampak Qiyas mulai merayu Kiran dengan menggenggam kendua tangannya, sontak Kiranpun memberikan anggukan kepala pada Qiyas, seraya mengiyakan permintaan kekasihnya itu.
Berselang beberapa waktu, Qiyaspun segera bergegas dari situ, dengan terburu-buru ia mulai mengendarai mobilnya untuk beralih dari area parkiran yang terlihat cukup luas itu, hingga sekitar 30 menit-an sudah iaemacu kendaraannya, kini Qiyas mulai menepihkan mobilnya tepat di lahan parkiran sebuah toko, yah sudah pastilah toko itu ialah toko cake milik mertuanya, Ia kemudian turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke loby seraya menanyakan mertuanya pada seorang karyawati yang sedang berjaga disitu.
"Permisi..."
"Iya pak, selamat datang di toko cake Saleif, ada yang bisa kami bantu?" jawab ramah karyawati tersebut.
"Aam...saya Qiyas, menantu dari pemilik toko cake ini, boleh saya bertemu dengan beliau?"
"Sebentar ya pak, untuk saat ini bu Salma sedang ada rapat dan akan selesai sekitar 10 menit lagi pak, bapak bisa menunggu dulu di sebelah situ pak!" tuturnya dengan nada seraya menunjukkan kursi antrian yang ada dihadapannya.
"Owh gitu yah, iya makasih ya?"
"Iya sama-sama pak!"
Hampir 15 menit sudah Qiyas termenung di kursi antri, kini sudah terlihat bu Salma, Arief dan juga Salwa yang tengah berjalan beriringan di area loby seraya bercengkrama kecil sesekali juga mereka terlihat sangat akrab dengan tawa yang keluar dari mulut ke tiganya, sontak Qiyas mulai terperanjat lalu berjalan menghampiri.
"Umi?" seketika itu juga pandangan ketiganya beralih ke arah Qiyas.
"Eh...nak Qiyas?"
"Mas...? kamu kok..." Salwa yang sedikit terkejut itu seakan tak bisa berkata-kata lagi
"Hai...kita ketemu lagi" tambah Arief terlihat sangat cool, seraya menyedorkan telapak tangannya, niat hati ingin bersalaman dengan bapak pilot itu, tak ada sahutan apa-apa lagi Qiyas pun segera menyalami punggung tangan Arief.
"Nak Qiyas udah lama disini? dan bukannya nak Qiyas hari ini ada acara sama teman-temannya?"
"Aahm...aku baru 10 menit-an kok Umi, ini Qiyas baru pulang dari acara temen"
"Ow ya sudah, kalo gitu ayo ikut Umi kita makan siang dulu bareng Salwa bareng Arief, nak Qiyas belum makan kan?"
"Ow iya..iya Umi, kebetulan aku juga belum makan siang"
Setelah itu, ke empatnyapun segera bergegas ke ruang makan yang sudah disajikan makan siang disana, namun tiba-tiba Qiyas mulai menggenggam tangan Salwa, sontak wanita cantik itu mulai terkejut dengan ke dua bola matanya melwbar lagi, begitu hebatnya jantung Salwa berdenyut di dalam sana, saat mendapatkan perlakuan itu, namun tiba-tiba Qiyas mulai berbisik di telinganya.
"Kamu jangan kepedean ya, ini cuman ackting"
__ADS_1