
*Hati Yang Mulai Gundah
Terlihat wajah lesuh Salwa yang baru saja keluar dari ruangan, ia lalu berjalan tertatih menghampiri sebuah meja kosong di area pelanggan VIP, Salwa terduduk dengan muka layu sambil menatap seliwaran para pelanggan di balik kaca pembatas, di sudut sana terlihat Umi dan Arief yang tengah berbincang-bincang santai dengan beberapa tamu perusahaan.
Tidak lama setelah perbincangan itu usai, Umi mulai terperanjat lalu bergegas mengantar tamu-tamu itu sampai ke halaman depan sementara Arief masih mengarahkan beberapa staf atas pertemuan barusan namun tak sengaja tatapan Arief beralih ke arah Salwa yang tengah termenung seorang diri.
"Ada lagi pak?" tanya Edi, sang staf yang seketika mengejutkan Arief.
"Ah...? apa tadi?"
"Ada lagi yang mau diselesaiin selain yang ini pak?"
"Udah, itu aja, saya tunggu laporan kamu secepatnya ya?"
"Baik pak" setelah itu, Arief lalu bergegas ke meja order.
"E eh eh ada pak Arief dateng tuh" celetuk seorang pegawai terburu-buru, beberapa pegawai yang mendengar itu, langsung berlari kalang kabut mengambil posisi bersiap siaga atas kedatangan Arief.
"Selamat malam pak!" ucap seorang pegawai yang berpapasan dengan Arief.
"Malam" Arief turut menyahuti.
"Ren?"
"Iya pak"
"Tolong siapkan dua cup cokelat panas sama cake yah"
"Baik pak"
Setelah beberapa menit menunggu, peasanan Ariefpun langsung di suguhkan, tak berlama-lama lagi segera saja ia berjalan menghampiri Salwa dengan membawa dua cup minuman serta satu box cake Salief untuknya.
"Eh Rief?" sapa Salwa sangat terkejut melihat kedatangan Arief yang cukup tiba-tiba itu.
"Hai..gimana Wa hari ini ?" tuturnya seraya menyajikan minuman dan cake yang di bawanya itu.
"Lumayanlah..." Salwa menyahut dengan separuh tenaganya.
"Ya udah nih, minum dulu" sembari Arief membuka box cake yang masih tersegel itu, dari samping Salwa menatapnya penuh ragu, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu namun ia masih sungkan untuk mengutarakanya, namun di sisi lain ternyata Arief menyadari hal itu.
"Kenapa Wa?"
"Eem gak..."
"Ngomong aja, gak usah sungkan" Salwa terdiam sejenak seraya menatap tingkah Arief, namun tidak lama kemudian ia mulai bersuara.
"Rief..."
"Hmmm?" Arief masih saja fokus membuka box cake.
"Kamu tau kan aku orangnya kek gimana?"
__ADS_1
"Huhum kamu cantik" kelihatannya Arief memahami arah pembicaraan Salwa, namun ia sengaja mengabaikannya, sebaliknya pujian itu cukup membuat Salwa menghela nafas dalam-dalam, bukannya tersipu yang ada Salwa malah menanggapinya sebagai pengalihan topik.
"Rief, aku serius loh"
"Udah kamu gak perlu khawatir, semuanya akan berjalan baik-baik aja kok"
"Serius aku gak bisa Rief" Arief lalu menatap Salwa beberapa detik kemudian ia tersenyum seraya memberikan semangat pada Salwa
"Kamu bisa"
"Dari dulu kamu tau kan yang namanya hafalan aku bener-bener gak bisa"
"Kamu pasti bisa, lagian Scriptnya juga gak panjang kok"
"Tapi Rief..." tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan Umi yang berdiri didepan pintu lalu memberi isyarat ke Arief kalau saat ini mereka kedatangan tamu lagi dan tentu saja Arief sebagai CEO harus ada disana untuk menemani tamu-tamu tersebut.
"Ya udah nih, kamu makan cake nya aku mau ketemu ama klien kita dulu ya" seketika itu juga Arief terperanjat, namun sekali lagi Salwa berusaha memohon pada Arief.
"Rief!"
Arief yang hampir berpindah dari situ, kembali berbalik ke arah Salwa, lagi-lagi ia hanya menyuguhkan senyuman kecil, lalu berkata dengan lembut.
"Udah, gak usah di anggap beban, aku percaya kamu pasti bisa"
Salwa hanya bisa menghela nafas dalam seraya menyeruput minumannya.
*****
Sementara di rumah, tampak Qiyas yang tengah duduk di ruang TV dengan tumpukan buku-bukunya ia menulis sebuah laporan, seraya beberapa kali ia memerhatikan jam dinding yang saat ini tengah menunjukan pukul 20.15 WIB, tidak lama kemudian bi Lijah pun datang menyuguhkan secangkir kopi di mejanya.
"Belum tuan"
"Dia sempat nelpon ke rumah gak tadi?"
"Iya tuan"
"Terus dia ngomong apa?"
"Cuman nyuruh bibi masak aja, soalnya kata non Salwa dia pulangnya agak telat nanti tuan" Qiyas terdiam, namun dibenaknya mengutip banyak tanda tanya.
Setelah itu ia tetap melanjutkan tulisannya hingga 15 menit kemudian Qiyas kembali menengadahkan sorotan mata ke arah jam dinding, sejenak ia terdiam lalu meraih handphone dengan segera ia membuka kontak dan mencari kontak Salwa, namun saat ia melihat kontak Salwa, ia kembali berfikir dengan ragu-ragu ia memencet tombol "Back" lalu menaruh kembali handphonenya di atas meja.
Setelah itu ia berusaha tetap fokus untuk melanjutkan tulisannya, huruf demi huruf sudah tertuang di atas kertas putih itu, hingga hampir genap sudah satu paragraf ia menulis, tiba-tiba ia kembali terdiam lalu menyetop jari-jemarinya seraya berfikir sejenak, sesaat kemudian Qiyas mulai meraih handphone lalu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, namun saat kontak Salwa sudah terbaca ia masih saja terus berfikir.
Hingga tiga menit mulai berlalu, Qiyas masih saja berfikir, tampaknya begitu sulit bagi Qiyas untuk mendamaikan rasa ingin dan ego yang tengah bertengkar hebat di benaknya saat ini, hingga akhirnya Qiyas pun terpaksa memberanikan diri untuk menghubungi Salwa.
"Halo Assalamualaikum mas?" jawab Salwa.
"Wa..Wa'alaikumsalam" sahut Qiyas terdengar sedikit gerogi.
Qiyas kemudian terperanjat lalu berjalan mundar-mandir mengitari luasnya ruang TV, meski tak berhadapan langsung dengan Salwa, tatapan mata dan tingkah Qiyas cukup menjelaskan kalau tubuhnya begitu kaku hingga obrolan mereka terjeda beberapa menit, di karenakan ia mulai kebingungan entah apa yang akan diucapkannya lagi, sampai Salwa kembali bertanya.
__ADS_1
"Mmm...ada apa ya mas?"
"Ow...ini..ahm...kamu dimana? kok kamu gak masak?"
"Aku di toko cake Umi, akukan udah bilang tadi sama mas, loh emangnya bibi gak masak ya?"
"Ya masak sih tapi..."
"Salwa?" Qiyas tiba-tiba menyetop ucapannya, saat mendengar samar-samar suara seorang pria yang tengah memanggil Salwa.
"Iya.." jawab Salwa pada pria tersebut, dibalik telpon Qiyas terdiam seraya mendengarkan dengan jeli suara pria yang menurutnya seperti tak asing lagi di telinganya kala itu.
"Ini script kamu ya Wa, kamu hanya perlu ngapalin yang ini...ini...sama yang ini" tutur pria tersebut.
"Ini kok panjang-panjang semua Rief?" mendengar nama pendek itu di ucapkan Salwa, Qiyas hanya bisa mengehela nafas seraya manyun 2 centi, tebakannya memang tak pernah salah soal Arief. namun Qiyas tak memotong obrolan mereka ia masih saja terdiam sembari terus menyimak obrolan itu.
"Aku yakin kamu bisa kok, semangat yah"
"Iya Rief"
"Ow ya jangan lupa makan, jaga kesehatan dan stamina oke? aku gak mau kalo kamu sampai sakit, tuh dihabisin cakenya" tambah Arief dengan suara lembut, sontak Qiyas langsung mengernyit alis berasa ia hampir muntah mendengar kata-kata Arief barusan, namun tidak lama kemudian wajah tampan bapak Pilot itu mulai terlihat kesal, siapa sangka perhatian tulus dari Arief mampu mengguncang fikiran Qiyas menjadi tak karuan.
Sementara Salwa dengan telpon genggamnya yang masih menempel di telinga tetap bersikap natural di hadapan Arief, ia tersenyum kecil lalu mengangguk berkali-kali mengiyakan ucapan Arief barusan, bagi Salwa tak ada yang perlu di khawatirkan karena benaknya saat ini terus menyampul kalimat "apapun yang terjadi antara dia dan Arief tentu tak akan diambil pusing oleh seorang Qiyas Fathir Anugerah"
"Ahm...mas?" Salwa beralih ke Qiyas, tiba-tiba dengan spontan Qiyas menyahut.
"Aku jemput sekarang ya..."
"Hah? " pun Salwa terkejut seraya membelalakkan mata, fikirnya obrolan mereka baru saja dimulai dan sejak tadi seingat Salwa tak pernah meminta Qiyas untuk menjemputnya, lalu kenapa tiba-tiba ia berkata seperti itu.
"Mas tadi ngomong apa?" ia kembali memastikan ucapan Qiyas, yang mungkin saja ia salah menanggapi, anggapnya.
"Ahm..." pun Qiyas yang mulai menyadari ucapannya, mencoba menjelaskan pada Salwa namun sayangnya obrolan mereka tiba-tiba terputus.
"Tuut..tuuut...tuut.."
"Hal...halo?" merasa tak ada jawaban.
Qiyas lalu memeriksa handphonenya dengan segera ia mencoba menelpon lagi namun hanya terdengar suara operator yang menyatakan "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi"
"Yakh...mati lagi" erangnya semakin jengkel.
"Bi?"
"Iya tuan" dari kejauhan Bi Lijah menyahut seraya berlari menghampiri Qiyas.
"Tolong ambilin kunci mobil bi, di atas meja"
"Meja? meja dimana tuan?"
"Di kamar bi, di meja komputer ya"
__ADS_1
"Baik tuan"
Qiyas tampak terburu-buru, terlihat ia yang sedang berjalan ke arah ruang tamu mengambil jaket yang ia taroh sebelumnya di sofa, bertepatan dengan Bi Lijah yang datang menyedorkan kunci mobil, Qiyaspun segera mengenakan jaketnya lalu bergegas ke luar.