Quality Love

Quality Love
Episode 56


__ADS_3

*Di Tindih Rasa Canggung


Sejak tadi, mas Qiyas seperti enggan untuk keluar dari kamarnya, bahkan waktu sudah selarut ini, aku masih saja bolak-balik dari dapur ke kamarnya layaknya satpam yang tengah mengintai keadaan, namun seperti tak ada tanda-tanda kalau patung bernyawa itu akan keluar dari kamar, pun makanan yang ku sajikan ini sudah tak terlihat lagi uapan yang mengudara di atasnya.


"Houuftt..." hembusan nafasku semakin menunjukkan betapa jenuhnya aku menunggu di luar sini sembari menopang dagu diatas meja, lalu menatap sajian makanan yang mulai dingin itu, sesekali juga pandanganku kuarahkan di depan sana, berharap ia akan muncul lalu menikmati hidangan ini, ah hanya lintasan angan yang sia-sia, anggapku.


Tak puas hati akupun beranjak lagi ke kamarnya, tepat di depan pintu kamar, aku mulai gelisah bertabur rasa canggung yang tak menentu, sampai-sampai aku tak berani untuk menyapa atau hanya sekedar mengetuk pintu kamar, ada saat ketika sedikit keberanian itu muncul untuk mengetuk pintu kamarnya namun ku urungkan lagi dengan alasan yang sama aku masih belum berani menatap wajahnya dikarenakan rasa malu yang masih mengabuti pikiranku saat ini.


15 menit sudah aku mematung di depan pintu, bolak-balik mengitari lebarnya pintu, seraya menggigit jari lalu memutar otak memikirkan solusi lain, namun tiba-tiba terdengar suara gagang pintu yang tampak mulai bergerak sontak sorotan mata ini menajam ke arah gagang itu dalam benak mulai menyimpulkan "sepertinya mas Qiyas akan keluar dari kamar" dengan segera aku berlari sekuat yang aku bisa untuk berpindah dari situ lalu bersembunyi di samping meja, saking tergesah-gesahnya aku, kepala ini jadi korban kejedot meja.


"Duuuh..." pekikku yang mulai kesakitan lalu merunduk sembari memerhatikan gerak-gerik mas Qiyas yang baru saja keluar kamar dan sepertinya ia tengah mencari-cari sesuatu.


"Bi...bi Lijah?"


"Iya tuan!"


"Buku aku yang kemaren disini, dimana ya?"


"Buku? buku apa tuan?"


"Ya buku yang biasa aku baca"


"Ouw yang sampulnya itu ada gambar-gambar pesawat yah tuan? kalo gak salah sih tadi sore non Salwa yang baca buku itu tuan" sontak ku belalakan lagi ke dua bola mataku sambil mengingat-ngingat namun aku masih saja di landa kebingungan, tadi sore memang aku sempat membaca buku itu tapi sekarang aku lupa lagi naruhnya dimana.


"Terus dia narohnya dimana?" lanjut mas Qiyas dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Nanti aku tanyain tuan"


"Kok nanti? aku kan mau baca buku itu sekarang, dia dimana sih? kelayapan lagi sama laki-laki itu?" tuturnya tanpa menunggu lagi seruan bi Lijah ia pun berjalan masuk ke kamar, meskipun aku sudah terbiasa mendengar tuduhan-tuduhannya namun tetap saja hal yang manusiawi jika hatiku terbesit meluapkan kejengkelan atasnya.


*****

__ADS_1


Masih berkabung kekesalan kini fikiranku mulai memendek, dengan langkah yang terburu-buru kuberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya.


"Tok..tok...tok!"


"Masuk" terdengar suara mas Qiyas menyahuti dari dalam, tiba-tiba jantungku mulai mengencang lagi degupannya, jangan bilang nyaliku akan menciut saat melihatnya, ku coba mengatur pola nafasku yang mulai terengah-engah ini lalu bersuara tegas dari luar.


"Gak usah, aku cuman mau ngasih tau aja kalo makan malam udah aku siapin di atas meja"


Baru selangkah aku melonjakkan kaki ini untuk bergegas dari situ, tiba-tiba ia bersuara lagi dari dalam.


"Aku bilang masuk, masuk!"


Sejenak ku pijat ke dua sisi tulang pelipisku sembari bergumam kesal seorang diri.


"Duuh...ngapain lagi sih, dia nyuruh aku masuk, kalo mau marahin aku, please jangan sekarang, aku masih malu untuk bertatapan dengan wajah kamu mas..."


Rasanya ke dua kakiku mulai menyatu dengan permukaan lantai, bagaimana tidak, berat sekali terasa ke dua kaki ini mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam sana, pun aku hanya berdiri tegap dengan segunung harap-harap cemas yang mulai melilit panjang di benakku, tidak lama kemudian iapun membuka pintu, sungguh rasa kejutanku kali ini layaknya disambar geluduk berkali-kali, sontak ku alihkan pandanganku ke arah lain sembari memejamkan mata, menyetel kuda-kuda dikedua telingaku kalau-kalau ia akan melampiaskan amarahnya saat ini juga.


"Aku...aam..."


"Masuk!"


Seketika itu akupun melangkah masuk ke dalam kamar, ku lewati ia yang masih menegap di depan pintu lalu berdiri membelakanginya, pun dari belakang mas Qiyas segera menutup pintu, mendengar bunyi-bunyian pintu tersebut mataku mulai terbelalak lagi, pikiranku melayang kemana-mana, sesekali ku gerakan kepala ini untuk menepis pikiran kotor yang tengah berkeliaran di ingatanku, jujur saja aku masih trauma atas kejadian tadi siang.


"Nih..." cetuhnya seraya menyedorkanku sekotak pizza, di saat yang sama, segera ku raih kotak itu tanpa melihat wajahnya.


"Malam ini aku gak makan nasi" tuturnya lagi sembari berjalan ke meja mini yang ada di sudut kamarnya, mas Qiyas kemudian membuka gorden yang menutupi jendela kaca di sudut tersebut lalu ia menaruh kotak pizza dan juga botol minumnya seraya terduduk disitu sambil menikmati pemandangan kota di malam hari, sementara aku dengan beribu kecanggungan yang mulai menempel ditubuhku semakin mengontrol fikiranku untuk tetap mematung disini, melihatku tak kunjung beralih, iapun kembali bersuara


"Heh...kamu ngapain masih berdiri disitu?"


"Oh hiya aku...aku ke belakang dulu ya..." sahutku salah menanggapi, dengan gestur tubuh yang sedikit salah tingkah, aku mengayunkan langkah menuju pintu, namun lagi-lagi mas Qiyas bersuara kesal atasku.

__ADS_1


"Heh...sini..."


"Haah?" lirihku kebingungan.


"Duh...cerewet banget sih, apa iya dia gak ada malu-malunya sama sekali atas kejadian tadi?" gumamku dari hati yang paling dalam.


Dengan ragu-ragu ku hampiri mas Qiyas di depan sana, lalu mengambil tepat duduk tepat berhadapan dengannya, yah mau gimana lagi emang set mejanya sudah seperti itu, saat aku mulai duduk dan meletakkan kotak pizza di atas meja, mas Qiyas lalu menyedorkanku segelas muniman pepsi tanpa sepatah kata di ucapkannya.


Tak ada kalimat pembuka hanya terdengar lirih ucapan "Bismillah" yang terlontar kamipun memulai makan malam hanya dengan sekotak pizza yang di belinya tadi, sesekali ku perhatikan wajah mas Qiyas yang sesuap dua suap ia lalu mengalihkan pandanganya ke arah jendela tepat di samping meja dimana kami duduk menyantap makan malam saat ini, saat wajahnya beralih ke arahku saat itu juga ku arahkan pandanganku ke tempat yang lain, meski mungkin saja ia tak berniat memandang wajahku namun pelupuk matanya bisa menerawang betapa kakunya aku saat ini.


"Aku..." entah kenapa tiba-tiba aku bisa bersuara kompak dengannya.


"Ya udah kamu yang ngomong duluan" pungkasnya sembari mengicip potongan pizza yang ada ditangannya kala itu.


"Gak apa-apa kamu aja dulu"


"Okeh, aku..." ia berhenti sejenak, terlihat mas Qiyas seakan ragu-ragu untuk menyempurnakan ucapannya.


"Aku mau minta maaf soal kejadian tadi" tambahnya.


"Hmm...?" sontak aku bererang kaget di buatnya, jujur saja ini adalah kali pertama mulut berliannya itu mengucapkan kata maaf padaku, seketika itu juga hatiku mulai tersenyum tersinkronisasi dengan bibirku yang mulai melancip ini, rasanya kecanggungan itu berangsur-angsur mulai keluar dari tubuh ini.


"Uhum...kenapa harus minta maaf? yang kita lakukan tadi siang itu bukan suatu kesalahan, malah dicatat sebagai pahala sama allah jadi gak ada yang perlu meminta maaf dan gak ada yang perlu dimaafkan" mas Qiyas hanya terdiam tanpa melihatku, merasa masih ada yang perlu di jelaskan akupun kembali bersuara.


"Okeh jika dulu kamu pernah bilang kamu gak akan mampu memberiku nafkah batin, namun aku tetap bersyukur kamu masih mampu memberiku nafkah lahir, yang perlu kamu ingat, itu semua gak akan merubah kewajiban apapun yang melekat pada diriku sebagai seorang isteri"


Seperti tengah kerasukan tiba-tiba aku tersadar betapa luar biasanya kalimat yang baru saja terlontar dari mulutku itu, entah muncul dari otak sebelah mana hingga terangkai begitu sempurna anggapku, aku sendiri cukup kaget kenapa aku bisa se PD ini berkata-kata dihadapan mas Qiyas, setelah kecanggungan demi kecanggungan yang sulit berdamai dengan fikiranku sejak tadi.


Namun tak ada tanggapan apa-apa dari mas Qiyas, setelah menyelesaikan makan malamnya iapun segera terperanjat membuang kotak pizzanya di tong sampah lalu berjalan ke washtafel untuk menggosok gigi, sementara aku masih melanjutkan kunyahannku seraya bergumam kebingungan.


"Apa iya tak ada satupun kata-kata yang tersirat di benaknya atas ucapan puitisku barusan?"

__ADS_1


__ADS_2