
*Hidangan Pertama Untuk Sang Mertua
Hari ini mamah memintaku untuk menyiapkan makan siang, tidak hanya sekedar menyajikan diatas meja saja tetapi juga semua jenis bahan makanan harus ku olah sesuai dengan resep ku, untung saja stock bahan makanan didapur tersedia lengkap sehingga memudahkanku untuk berkreasi tanpa batas, yang terbesit difikiranku saat ini mungkin saja mamah ingin menguji sampai dimana kemampuanku dalam hal masak-memasak.
"E..eeh mau kamu apakan panci mahal saya!" terdengar suara kaget kak sheila yang seketika itu menghampiriku.
"Ini kak, mau masak sayur bening" sahutku pelan, meski jantungku saat ini seakan tak bisa ku kontrol lagi.
"He gak usah, gak usah! Saya gak suka ya, liat kamu nyentuh-nyentuh perabot saya" lagi-lagi pelototan mata sinisnya itu, semakin membuatku merasa tertekan.
"Kamu pikir saya suka ngeliat kamu tinggal dirumah ini" lanjutnya, semakin menggebu-gebu saja ia lampiaskan amarahnya terhadapku.
"Hei! hei! Sheila? ada apa ni ribut-ribut?" seketika mamah yang mendengar riweuhnya suasana dapur langsung saja ia menghampiri kami.
"Mah bi Iyem mana? kenapa bukan dia yang masak hari ini?" mungkin sudah menjadi tipikal kak sheila dengan sifat temperamennya itu bahkan sedang berbicara di hadapan mamahpun ia cenderung terlihat kasar.
"Bi iyem libur, mamah sengaja liburin dia hari ini, memangnya kenapa kalau salwa yang masak?"
"Mah! kita gak tau kan gimana cara dia mengolah makanan? tangan dia steril atau gak? bisa-bisa kita malah diare kalo makan masakan dia, terus tuh mama lihat panci-panci mahal aku, kalau dia ngerusakin gimana mah?"
"Sudah sudah, kalo kita diare nanti kita ke rumah sakit, terus kalo panci kamu rusak tenang aja nanti mamah yang ganti, ayo! ayo temenin mamah nonton, Salwa? lanjutin lagi masakan kamu yah?" tak ingin memperpanjang silatan lidah, mamah pun terus menggiring kak sheila untuk bergegas ke ruang TV.
Kini jam dinding telah menunjukkan pukul 11.00 WIB, dimana seluruh anggota keluarga saat ini tengah menyantap makan siang, dengan beberapa menu sederhana yang telah tersaji diatas meja.
"Umm! enak masakan kamu Salwa!" seketika papah memuji masakanku sontak saja senyumanku mulai melebar namun disamping papah terdengar mamah yang turut bersuara.
"Kalau menurut mamah, sayurnya sih masih sedikit keasinan, terus terongnya kalo boleh jangan terlalu matang"
__ADS_1
"Iya, ayamnya juga terlalu hangus jadi terkesan kek ada rasa pahit gitu dan kuah kaldu juga masih sangat kurang bumbunya" sambung kak Bela yang sedikit aku tahu tentang latar belakang profesinya, sejak dua tahun lalu ia bekerja sebagai seorang mentoring chef di salah satu hotel papah, yah tentunya masukan-masukan itu sangat berharga untuk dijadikan referensi.
Berbeda dengan mas Qiyas, ia terkesan membungkam dan hanya menikmati masakanku tanpa ekspresi apa-apa, mungkin bukan ranahnya untuk mengomentari persoalan bumbu dan rasa dari setiap masakan yang notabenenya lingkup dari profesi inti seorang wanita atau bisa jadi ia tak mau berkomentar karena masih kesal terhadapku atas kejadian semalam.
"Nih, nanti kalo ada waktu senggang, kak bela akan ngasih kursus masak untuk kamu" ujar mamah, yang tentunya langsung ku sambut dengan anggukan dan senyuman sumringah, kak Sheila yang menyaksikan tingkahku itu langsung terperanjat dari tempat duduknya seakan nafsu makannya hilang seketika.
"Loh! Sheila udah kenyang?" tak merespon pertanyaan mama, ia bahkan langsung bergegas meninggalkan ruang makan.
"Lagi diet kali mah" sahut kak Bela.
*****
"Ya allah, aku kangen banget sama kamu Salwa!" suara girang Fasya dan pelukan erat tangannya semakin membuat mataku mulai berkaca-kaca lagi, entah ada angin apa yang berani menyeret tubuhnya untuk berkunjung kemari.
"Kok sepi, orang-orang rumah pada kemana?" tanya Fasya, seketika itu akupun menyedorkan secangkir coffe non cream dihadapannya, karena yang aku tau cofee adalah minuman favoritnya.
"Loh! terus suami kamu kemana?"
"Gak tau sya, dia keluar tanpa pamit, huufftt, mungkin dia masih marah sama aku"
"Emang kalian bertengkar?" dengan mata yang mulai berkaca-kaca, akupun menceritakan perihal kejadian semalam, betapa dramatisnya aku dan mas Qiyas beradu mulut sampai-sampai kata ceraipun mulai terlafadzkan dari mulutnya.
"Haah!! Cerai..?"
"Ya allah pernikahan kalian tuh baru seumur benih udah berani nyebut-nyebut kata cerai! Hisss…aku makin geram aja sama laki-laki itu" saking geramnya, Fasya seakan terasa najis untuk menyebut nama mas Qiyas.
"Salwa, jika dia seniat itu ingin mengakhiri rumah tangga kalian, maka kamu harus bermental baja untuk mempertahankan rumah tangga kalian, tidak ada cara lain"
__ADS_1
"Entahlah sya, rasanya dinding hatiku mulai retak, aku baru mengerti sekarang, ternyata jatuh cinta sepihak itu rumit yah?"
"Salwa! jangan biarkan dinding itu sampai pecah, jika masalahnya karena jatuh cinta sepihak, maka kamu harus membangun tembok lebih besar lagi, kamu paham maksud aku kan?" sontak akupun menkepalakan kepala atas ucapannya.
"Fasya, kalau aku udah pindah ke rumah dia nanti kamu sering-sering jenguk aku yah?"
"Aku gak bisa janji Salwa, kamu sendiri kan tau, aku sekarang udah kerja, tapi yang pasti aku akan kesana, terus mamah mertua kamu gimana? masih judes?"
"Sebenarnya mamah tuh gak seperti apa yang aku pikirkan diawal, mamah tu orangnya baik cuman sedikit tegas aja sih, bahkan ke anak-anaknya pun mamah bersikap tegas"
"Syukurlah kalo seperti itu"
Setelah beberapa jam bercengkrama, akhirnya Fasya pun berpamitan untuk pulang, dari tatapan matanya ia seakan bisa merasakan betapa tertekannya aku saat ini.
*****
Di kamarnya yang mewah ini, aku hanya berbaring di sebuah ayunan yang sengaja ia buatkan untuk tempat tidurku sementara waktu, tak ada perbincangan apa-apa yang terjadi hanya terdengar suara TV yang sesekali menghiasi suasana heningnya malam ini, bahkan seharian tadi ia sama sekali tak bersuara padaku, namun apapun itu, tiada hal lain yang membuatku gelisah selain suhu kamar ini yang terlalu dingin, aku yang tak terbiasa dengan semburan angin AC tentu akan merasakan menggigil disekujur tubuhku.
"Boleh gak matiin ACnya?" ujarku namun lagi-lagi ia mengabaikanku dengan tatapan angkuhnya seolah-olah aku ini sedang melucu dihadapannya, entah kenapa pria sejenius ini terlalu bodoh untuk menghargai perasaan wanita yang lemah sepertiku.
"Kamu mau lihat aku mati membeku disini?"
"Hei! ini kamar aku, yang buat aturan aku bukan kamu, masalah batiniah kamu, itu bukan urusan aku, paham?"
Seperti tak ada solusi, hanya sekedar membuang energi saja saat berbicara dengannya, akupun meneruskan posisi rebahanku hingga mata dan tubuhku mulai sepakat untuk terlelap.
**********To be Continue**********
__ADS_1