
*Hati Yang Mulai Sensitif
Qiyas yang baru saja masuk, langsung berpapasan dengan bu Lela yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Nuge?" bu Lela segera menghampirnya.
"Mah..."
"Nuge...sendiri aja?"
"Ada Salwa lagi di mobil" Qiyas kemudian melepas sepatunya, lalu bersama-sama bu Lela berjalan kecil menyusuri ruang tamu menuju ruang selanjutnya, seraya ke duanya bercerangkerama santai.
"Ouwh...Nuge dateng kok gak bilang-bilang, tapi gak apa-apa sih kebetulan ada Elda di dalem"
"Hmm? siapa itu mah?"
"Elda, anak temen mamah yang dulu pernah mamah ceritain ke Nuge, masa Nuge lupa sih?" Qiyas yang sama sekali tak menaruh rasa penasaran segera mengalihkan pembicaraan, kebetulan saat ini ia tengah di ikat rasa lapar.
"Mamah masak apa hari ini?"
"Coba kita ke belakang, gak tau bibi masak apa tadi, soalnya mamah makan siangnya di hotel"
Kini mereka sudah sampai di meja makan, disana terlihat Sheila dan Elda yang tengah menyantap makan siang, Sheila yang lebih dulu menyadari kehadiran Qiyas langsung menyapa adik kesayangannya itu.
"Eh...Nuge?"
Bukan main kagetnya Elda saat mendengar nama itu di ucapkan Sheila, perlahan-lahan ia mulai menatap Qiyas yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka, melihat wajah asli Qiyas yang begitu tampan di bandingkan dengan poster dan cover majalanya dulu yang pernah ia beli, tiba-tiba Elda merasa malu bercampur gugup, bahkan ia hampir tersedak di buatnya.
"Uhuk...uhuk...uhuk..."
"Da? kamu gak apa-apa?" Sheila kelihatan khawatir dengan Elda, iapun menuangkan air putih untuk Elda.
"Gak...gak apa-apa mbak"
"Ya sudah kalian ngobrol-ngobrol dulu yah, mamah mau nyelesaiin pekerjaan mamah di depan"
"Iya mah" sahut kompak Sheila dan Qiyas, sementara Elda hanya memberikan anggukan kepala.
"Ow ya itu Nuge, Nuge ini Elda" Sheila kemudian memperkenalkan ke duanya.
"Hai..." Nuge langsung menyapa Elda, pun Elda langsung menjawab sapaan itu dengan tubuhnya yang tampak gemetaran.
"Hai..."
Sesegera mungkin Qiyas mendekat ke meja makan lalu mengambil kursi di samping Sheila.
__ADS_1
"Bibi masak apa hari ini?"
"Ini bukan masakan bibi, ini masakan Elda, kamu harus coba, enak loh masakannya" sahut Sheila, Qiyas kemudian menatap kilas wajah Elda, Elda yang tak sanggup melihat wajah Qiyas segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, sambil tersenyum bangga atas pujian Sheila barusan.
"Nuge dateng sendiri?"
"Gak, ada Salwa"
"Mana dia? kenapa dia gak masuk?"
"Gak tau"
"Kalian bertengkar lagi?"
"Ya gitulah..." wajah datar Qiyas ini, semakin membuat Sheila tersenyum semringah, karena ia tau setiap konflik yang terjadi di antara Salwa dan Qiyas maka semakin membuka celah untuk Elda.
"Ya udah, Da boleh aku minta tolong gak?"
"I..iya boleh, minta tolong apa mbak?" masih saja Elda terlihat gugup.
"Tolong ambilin piring ceper lagi ya di belakang untuk Qiyas?"
"Owh iya mbak" saat Elda bergegas kebelakang, Sheila mulai merayu Qiyas dengan mengenalkan sosok Elda yang begitu sempurna di matanya.
"Hum...Lumayan" suara Qiyas masih saja terdengar datar
"Kok lumayan sih, yah cantiklah" kelihatan Sheila cukup kesal atas jawaban Qiyas barusan, namun ia tidak menyerah, sekali lagi ia mencoba menjelaskan sosok Elda lebih lanjut pada Qiyas.
"Dia itu lulusan S2 di Newyork, bahasa inggrisnya fasih banget, pokoknya smart deh kan anaknya, sekarang juga dia lagi merintis bisnis kuliner di Bali, jadi untuk mendalami bisnisnya, saat ini dia lagi ngejalanin program kursus masak, dan dia memilih kakak untuk jadi mentornya, kurang keren apa coba dia"
"Hai...eh Nuge kamu disini? Salwa mana?" tiba-tiba bela datang dan merusak suasana, seketika itu juga Sheila cemberut dan menatap Bela dengan wajah kesalnya, bertepatan dengan Elda yang datang membawa piring ceper.
*****
Salwa yang sudah berada di ruang tamu sedikit heran saat mendapati kondisi rumah yang begitu sepi.
"Assalamu'alaikum...mah? pah?" beberapa kali ia mengucapkan salam namun masih saja tak ada sahutan, hingga iapun segera masuk ke ruang tengah, namun saat ia akan menapaki anak tangga tiba-tiba ia mendengar suara ramai-ramai di belakang, dengan senyuman kecil Salwapun bergegas menuju dapur.
Tepat bertemu mata Salwa melihat sosok Elda yang begitu asing dimatanya mencoba menuangkan nasi di piring Qiyas, namun ia juga menyaksikan betapa gigihnya Qiyas menolak akan hal itu.
"Gak perlu saya bisa sendiri"
"Gak apa-apa mas" Elda tetap memaksa.
"Gak perlu" seketika itu juga Qiyas segera meraih nampan yang dipegangi Elda, lalu menuang sendiri nasi dipiringnya, Sheila yang turut menyaksikan hal itu tidak bisa berkata banyak, ia hanya tersenyum kecil pada Elda seolah ingin mengatakan semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Rasanya Salwa mulai berubah pikiran, mungkin sebaiknya ia tak perlu bergabung ke sana, apalagi mencari tahu siapa sosok wanita asing itu, karena ia tahu pasti ujung-ujungnya hatinya akan terluka lagi, saat Salwa akan berbalik badan tiba-tiba Bela menyadari kehadirannya.
"Salwa? ngapain berdiri disitu? ayo sini" kesalahan terbesar Bela, saat ia mengajak Salwa bergabung, tiba-tiba client penting hotel menelponnya sehingga ia harus meninggalkan Salwa seorang diri disiru, ya karena orang kedua yang peduli atas hidup Salwa ialah Bella setelah ayah mertuanya.
Dengan berpasrah hati, Salwa berusaha menahan semuanya, iapun segera menghampiri kumpulan kecil yang ada di meja makan kala itu, sekilas ia melihat tatapan Sheila yang begitu tajam padanya.
"Uhm...udah selesai urusannya di luar?" belum lagi Salwa duduk, Sheila langsung menamparnya dengan dengan pertanyaan itu.
"Akhir-akhir ini kelihatannya kamu sibuk banget ya dengan pacar baru kamu itu? siapa sih itu namanya, yang bos roti itu?" Kali ini Sheila turut menyeret Arief dalam rumah tangga adik bungsunya itu, Salwa yang semakin tertekan hanya bisa diam dan menahan air matanya.
"Suami kelaparan gak di urus, untung ada Elda"
"Ini siapa?" tiba-tiba Elda melontarkan pertanyaan, yang seharusnya pertanyaan itu berbalik padanya.
"Kamu tanya ini siapa Da?"
"Ini calon janda adik saya nanti"
"Cukup..." sontak Qiyas memukul meja, hingga mengejutkan semua yang ada disini, termasuk Sheila, ia yang tadinya bermuka masam dengan Salwa kini ekspresi itu berubah menjadi tatapan kaget atas tingkah Qiyas barusan.
"Nuge kamu kenapa sih?" pertanyaan panik itu tak di gubris oleh Qiyas, ia kemudian terperanjat lalu menggandeng tangan Salwa, menuju kamarnya, semetara dari belakang Sheila masih mengernyitkan kening seraya menduga-duga tingkah Qiyas yang baru saja di lihatnya itu.
*****
Di dalam kamar, begitu hebatnya Qiyas mengomeli Salwa, ia berjalan mundar-mandir dengan wajah yang tegang, sementara Salwa hanya terduduk lesu di atas tempat tidur menyerapi semua omelan Qiyas.
"Kamu tuh kenapa sih? diam aja setiap kali di hina sama kak Sheila?"
"Apa kamu gak punya mulut buat ngebantah semua hinaan-hinaan dia? hah?"
"Aku tuh sampai sakit telinga tau gak, dengerin dia ngehina kamu dari A sampai Z"
"Udah?" tanya Salwa hampir tak berdaya,ia kemudian meneteskan air mata.
"Udah puas marahin aku?" sontak Qiyas terdiam.
"Apa yang perlu aku bantah dari semua hinaan dia? dan kalaupun aku membantah apakah dia akan percaya?"
"Lalu apa bedanya dia dengan kamu?"
"Selama ini kamu juga menganggap ku menikah dengamu untuk jual diri, demi biaya rumah sakit kakak aku, berkali-kali aku membantah hinaan itu, tapi apa? pada akhirnya kamu juga gak percaya kan?"
"Lalu kenapa kamu harus marah? bukannya kamu bahagia sekarang? karena nyatanya dadu ini hampir retak di tangan kalian...hiiks...hiiks..hiiks.." tak tahan dengan tekanan yang ada Salwa kemudian meluahkan tangisannya di hadapan Qiyas.
Qiyas masih saja mematung di sana seraya menyerapi tangisan Salwa, hingga Qiyas yang sudah tak tahan lagi, iapun berjalan menghampiri Salwa, Qiyas lalu menegap tepat di hadapan Salwa, dengan ragu-ragu Qiyas menutup matanya begitu dalam kemudian ia meraih kepala Salwa lalu disenderkan diperutnya, dengan tangannya yang memita di punggung Salwa, dengan perasaan penuh bersalah tanpa berfikir ego dan malu berkali-kali Qiyas mencium ubun-ubun Salwa, hingga Salwapun mulai luluh dengan segera Salwa juga membalas pelukan Qiyas.
__ADS_1