
Nevada adalah tempat dimana harusnya ada makhluk hidup dan kota yang indah, tapi seperti nya ketika Yuri dan Charlotte sudah berada di Nevada semuanya hancur.
Hati Yuri hancur karena ia teringat anak bungsu nya, Wolfram. Jantungnya berdebar-debar berharap anaknya masih selamat dalam kejadian pembantaian ini, mungkin Wolfram tidak ada di sini dan di asuh oleh Grace, tapi mengingat dunia mereka sedang dibantai, Yuri merasa gelisah.
Hingga akhirnya kegelisahan nya buyar ketika ia mendengar suara yang tidak asing baginya. Awalnya Yuri mengira itu adalah halusinasi nya, namun tidak begitu. Kenyataannya adalah Charlotte juga mendengar hal tersebut dan ia menebak suaranya ada di salah satu batu besar yang tampak seperti goa mini.
Dengan segera Yuri dan Charlotte pergi kesana dengan perlahan, meskipun mereka bisa teleportasi, lebih baik untuk menyimpan kekuatan mereka untuk hal yang lebih penting.
*Tap.. Tap.. Tap. *
Langkah demi langkah Yuri menggerakkan kakinya kedepan dan saat itulah wanita berambut putih dengan mendadak keluar dari balik batu dan menodongkan Yuri pisau tepat di dahi nya.
"... Yang mulia?." Ucap wanita tersebut, wanita yang Yuri kenal sebagai Grace.
Grace terlihat lelah dan letih, kesedihan terlukis di wajahnya. Bajunya juga kotor dan berdebu, terlihat compang camping layaknya orang jalanan. Ia menurunkan pisaunya dan langsung duduk dengan sorotan mata ke bawah lalu diikuti oleh gerakan kepalanya.
Grace menangis, ia menangis. Dalam tangisannya terdapat ketakutan besar dan Yuri langsung merosotkan dirinya bergabung dengan Grace dan merangkul pundak Grace.
"Grace, apa yang terjadi." Tanya Yuri.
Grace menceritakan apa yang terjadi, ia selamat atas kejadian tersebut secara ajaib. Ia hanya bisa menyelamatkan Wolfram dan kehilangan gadis tercintanya,Sarah.
Ia menceritakan awal kejadian tersebut berawal dari kepala makhluk muncul di pertengahan aula umum dan saat kepala tersebut muncul menyebabkan banyak korban yang dimakan termasuk Sarah sebelum akhirnya makhluk tersebut secara utuh keluar dari portal dan tingginya setara dengan satu benua.
Grace teringat akan kejadian brutal tersebut dan panik serta membawa Wolfram kabur sampai ke Nevada.
Mendengar cerita Grace, Yuri hanya bisa terdiam. Ia merasakan kesedihan Grace dan Wolfram adalah orang yang cuma bisa ia bawa. Yuri kemudian menepuk pundak Grace tiga kali dan ia berdiri, berjalan ke arah Wolfram yang terbaring dengan damai sembari menghentak-hentakkan kakinya kedepan sambil mengoceh ala bayi.
Yuri kemudian meletakkan pedangnya di sampingnya dan mulai mengangkat Wolfram dan mencium pipi anaknya dengan kasih. Yuri kemudian memberikan susu asi kepada Wolfram yang terlihat kehausan, Yuri bersyukur Wolfram baik-baik saja.
__ADS_1
*Dummm... Dumm.. *
Tanah rasanya semakin bergetar dan Yuri langsung berhenti untuk memberikan Wolfram susu asi dan merapikan dirinya, ia mengambil kain panjang didekatnya dan sedikit merobek kain tersebut, melilitkannya di pinggang Yuri,membuat gendongan kecil dengan tubuh nya sebagai penopang nya dan meminta tolong kepada Charlotte untuk menaruh Wolfram di belakang punggung Yuri yang siap sebagai tempat gendongan.
Charlotte mengangguk dan dengan cepat meletakkan Wolfram sesuai yang Yuri katakan.
"Ahh, Namuh sti emit ot llik."
Suara yang besar terdengar, suara besar dan berat layaknya sebuah gemuruh, tak hanya itu saja, bayangan amat besar muncul dan menutupi sinar matahari dan tempat ini terlihat sangat gelap.
"Dia ada disini... Itu dia yang mulia." Dengan rasa takut, Grace
Yuri mendongak keatas, monster raksasa yang berwarna coklat tersebut sedang menatap mereka. Yuri memberikan mantra anti goyang kepada kain yang dijadikan tempat gendongan Wolfram dan ia juga memberikan sebuah perisai tak terlihat agar Wolfram aman.
Setelah itu Yuri mengeluarkan pedang yang di anugrahkan heavenly general, setiap inti pedang terbuka menunjukkan jati dirinya aura kuning emas keluar dan langit menjadi gelap di barengi oleh suara guntur.
Petir mulai menyambar dengan brutal kearah monster tersebut hingga akhirnya disaat Yuri membuka pedang dari sarung pedang seutuhnya, sebuah lonjakan energi petir yang besar muncul dari langit dan menciptakan ledakan besar saat mengenai monster raksasa tersebut.
"Charlotte..!! sekarang!. " Seru Yuri.
Charlotte mengangguk lalu dia merubah bentuk senjatanya menjadi pedang yang memiliki elemen es, petir dan tentunya salah satu kekuatan baru Charlotte yaitu void.
Dengan kecepatan kilat, Charlotte menembak dirinya mendekati monster besar itu dan dia menebas beberapa kali dengan mengandalkan kecepatannya.
Seolah-olah dimotivasi oleh ibunya saat melihat ibunya menggunakan kekuatannya, Charlotte mulai bergerak dengan lincah namun brutal pada saat yang sama, tidak peduli berapa kali tusukan dan tebasan Charlotte membuat bagian tubuh monster yang diserangnya membeku dan bola kosong muncul di atasnya. Seperti magnet, kehampaan bola terus menyerap Monster.
Charlotte menatap ibunya, Yuri sudah mengumpulkan energi untuk serangan pamungkas. Charlotte juga memberi jarak sambil meledakkan bola dengan jentikan jarinya yang menyebabkan tubuh monster itu berhenti sejenak. Pada saat itu, Yuri memanfaatkan ini, dia sedikit menusukkan pedangnya ke belakang sebelum menariknya ke depan.
"Haaaaa...!! "
__ADS_1
Yuri berseru, ia menghunuskan pedangnya sekuat tenaga, hunusan pedang yang menghasilkan gelombang energi penuh elemen yang melesat dan menghancurkan tubuh monster itu hingga menjadi abu.
"Berhasil dikalahkan.. Huft, akhirnya peliharaan Monologia dikalahkan..."
Yuri tidak merasakan aura jahat monster raksasa tersebut, kekuatan yang ia rasakan sekarang sangat besar dan mampu mengalahkan monster tersebut, luar biasa bagi Yuri ketika ia dan Charlotte berhasil mengalahkan monster tersebut. Bagi Charlotte, ia merasakan tubuhnya jauh lebih ringan dari biasanya dan merasakan bahwa ia bisa lebih cepat dari itu.
Apapun perasaan mereka berdua, peperangan sudah pecah. Perang antar dewa terjadi, Yuri merasakannya dan juga dalam perang ini manusia dan makhluk hidup lainnya yang masih tersisa ikut membantu mempertahankan dunia.
Tak hanya itu saja, Yuri merasakan pecahan waktu semakin melebar dan memang harus sesegera mungkin mengembalikan waktu dan menyelamatkan batang kehidupan, Yggdrasil.
"..!!. "
Baru saja Yuri merasa lega, ia merasakan rombongan makhluk tak dikenal bergerak kearah mereka berdua.
"Charlotte." Ucap Yuri, Charlotte pun mengangguk paham, Charlotte juga mempunyai indra perasa yang tajam, meskipun tidak selihai Yuri, tetapi Charlotte dapat merasakan warna yang tidak asing dalam melody yang dimiliki makhluk tersebut.
"Lotahs.. Ldtaktwam..."
(Look at that human's.. Lets defeat them and kill them without a mercy)
Setelah mereka semua mengepung Yuri, makhluk asing tersebut seperti sedang berkomunikasi satu sama lain. Suara mereka terdengar seperti TV menyala, tapi sudah rusak dan itu sungguh membuat telinga Charlotte tidak tahan dengan melody yang kacau tersebut, Charlotte berlutut sambil memegang telinganya.
"Charlotte..!!. " Seru Yuri dan tengkorak muncul di belakang Yuri tengkorak itu adalah Shadow dan tengkorak tersebut berevolusi menjadi aura kuning yang akhirnya memiliki kulit berupa besi-besi yang pada akhirnya bentuknya menyerupai sesosok robot yang hanya memiliki setengah badan.
Yuri menghunuskan pedangnya kebawah dan sebuah pelindung muncul di sekitar Charlotte, setelah itu sebuah energi besar muncul dari pedang milik bayangan Yuri yang ikut menghunus kebawah dan menghancurkan ribuan makhluk tersebut dalam sekejap. Setelah jeda beberapa saat untuk menarik nafas Yuri langsung melihat kondisi Wolfram, baik-baik saja dan ia merasa lega akan hal tersebut.
Pelindung yang dipasang ke Charlotte sudah tidak ada dan Yuri melihat Charlotte mendatangi Yuri.
Tanpa berbicara lagi, mereka mengikuti cahaya yang membimbing mereka hingga akhirnya mereka menerobos cahaya putih didepan mereka.
__ADS_1
...-Bersambung-...