Queen Of The Zodiac

Queen Of The Zodiac
Berani Seperti Singa , Kuat Seperti Garuda


__ADS_3

Yuri terbangun dan memegang kepalanya yang sakit, pandangan mata nya masih samar-samar dan sangat buram. Yuri menggelengkan kepalanya dengan keras lalu perlahan melihat kearah regu nya tersebut.


"Rasanya tubuh ku ingin meleleh" kata Yuri yang hampir berbisik.


"Aku akui, teknik mu dalam menyegel Ghidorah tidak bisa diremehkan" ucap Alethea.


Alethea membantu Yuri berdiri dan memberikan sebuah potion, dari aromanya yang tercium oleh Yuri dan sihir yang dikeluarkan potion tersebut tidak berbahaya.


Dengan perlahan Yuri mengambil potion tersebut.


"Terimakasih... emmm"


"Alethea, penyihir dari Akademi Sophia"


Yuri kemudian meneguk potion tersebut dengan satu tegukan panjang.


"ALETHEA!!~~"


Terdengar sebuah suara perempuan yang tak lama seorang gadis muncul dengan nafas yang terengah-engah, sepertinya dia adalah gadis dari Sophia Academy.


Gadis tersebut menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya perlahan.


"Alethea, para prajurit Sophia Kingdom seperti nya kwalahan menahan serangan Domonian" Kata Gadis tersebut.


"Dan kamu membutuhkan bantuanku.. Baiklah aku akan datang" Balas Alethea.


Alethea melihat kearah Yuri dan teman-teman nya, tersenyum lalu pergi hingga dirinya tidak kelihatan dimata Yuri dan lainnya.


"Maaf, aku tidak bisa melakukan serangan secara besar. Sihir Hydra memakan banyak Mana-" Kata Yuxuan.


Yuri tersenyum kecil, dengan perlahan mendatangi Yuxuan dan memeluk Yuxuan. Tidak apa apa, yang terpenting kamu selamat, itulah yang ingin dikatakan Yuri namun susah buat diungkapkan.


~RROOOAARRR! , GRRR~


"Ahh seperti nya, kita akan bertarung kembali" Kata Sara.


"Posisi kita hanya sebagai penahan, salah satu garda terdepan.." Kata Yuxuan.


Yuxuan melepaskan pelukan Yuri lalu melihat kearah para monster datang kearah mereka.


"Yuri, kau masih bisa bertarung?" Kata Yuxuan.


Yuxuan melihat kearah Yuri, lalu kearah Anna,Turin tentu dengan tatapan yang isinya pertanyaan yang sama dengan apa yang di lontarkan Yuxuan kepada mereka.


"Kita harus bertahan, ketua belum data--Eh?"


~Duaaaaarr!!!~


Ketika hendak melanjutkan kata-katanya, sebuah sihir melesat diatas mereka,sihir yang besar dan melesat menuju pasukan musuh tersebut.


"Kalian, maaf aku telat" Ucap seseorang yang dikenal sebagai Asterion.


"Asterion!! kamu datang juga" Balas Yuxuan dengan semangat.


"Humph, aku datang karena pengganti Kiyan dan Vane" Ucap Asterion.


Asterion kini mengambil sesuatu dari balik jubahnya, sebuah kertas. Bukan kertas peta, melainkan kertas apa yang terjadi 2 hari setelah pecahnya perang hingga masih perang saat ini.


"Kubu... terbentuk?" Tanya Yuri.


Asterion mengangguk, menunjukkan sebuah simbol dari masing-masing kubu.


"Kalian tau Han Academy adalah akademi terkecil yang kini sudah bubar akibat perang~" Lanjut Asterion.


Dengan mata dengan tidak percaya, Yuxuan melihat Asterion yang melihat dirinya dengan tatapan dingin.


"Kubu Esperia, Ternania dan Montghalia" Gumam Yuri.


"Kubu itu terisi dengan penyihir yang sudah mencapai mastery level yang bisa dibilang hampir mencapai master~" Jelas Asterion.


"Esperia...Aku jika tidak salah mendengar dari seorang pedagang, mereka adalah sekelompok penyihir yang bisa menggunakan sihir Esper"


Han dibubarkan? itulah yang ada dibenak Yuri. Biasanya jika suatu Akademi dibubarkan hanya tersisa 50 penyihir saja. Tapi, bagaimana bisa dalam waktu dua hari.


"..!"


Yuri teringat sesosok makhluk, yang hanya mereka yang dapat melawan satu atau dua akademi. Siapa lagi jika bukan Demon Amanda dan Belial.


"Aku menyarankan, kita lari. Kita tidak akan mungkin menang" Ucap Sara.


"Hah? lari? Sara, kamu tidak tahu, berapa banyak korban yang jatuh demi mempertahankan Terra?!"


Ucap Asterion, mendengus lalu menatap Sara dengan tatapan tajam. Tatapan yang cukup membuat Sara mundur selangkah demi selangkah ketika Asterion berjalan menuju kearahnya.


"Tenangkan diri kalian!..." Seru Yuri.


Yuri kini menengahi mereka berdua, kepribadian Asterion yang sesungguhnya terlihat disini. Yuri juga tidak mau mereka terpecah juga.


"Apapun yang terjadi. Kita harus berani seperti singa, kuat seperti Garuda" Lanjut Yuri lagi.


"Kalau kalian ingin berkelahi disini, bukan saat yang tepat, kalian jaga sikap ya!!"

__ADS_1


Yuri berseru, refleksi dari emosi keluar begitu saja, Asterion terlihat terpukul oleh kata-kata Yuri begitu juga Sara.


~Duaaaarrrr!!! Jdarrrr!!~


Tak lama suara ledakan terjadi dari tempat yang sangat jauh, suara guntur petir yang menyambar dengan hebat. Asterion membelalakkan matanya, mengumpat lalu pergi kearah sumber ledakan.


Perasaan Yuri tidak enak, Yuri takut bakal terjadi hal yang sama. Yuri tidak bisa mentolerir hal tersebut.


"Turin, ikut aku. Sara,Anna dan Yuxuan kalian disini" Kata Yuri.


Turin mengangguk lalu seperti biasa merubah wujudnya menjadi cincin. Yuri kemudian memasang cincin tersebut kejarinya.


"Tapi..YURII!!" Kata Yuxuan dengan suara besar.


Yuxuan mencoba menghentikan Yuri, namun Yuxuan tidak dapat bergerak lebih lama lagi, Mana nya benar-benar habis dan begitu juga tenaganya.


"Berani seperti singa, kuat seperti garuda..eh-" Gumam Anna.


Anna kemudian pergi melangkah, sepertinya ingin menyusul Yuri yang sudah pergi.


"Sara, kutitipkan Yuxuan padamu.. Kumohon ya!" Seru Anna.


Di perjalanan, Yuri dengan agresif menebas lawan-lawannya yang menghalangi nya, namun Yuri tetap berlari lurus kearah Asterion melangkah.


"Ai chan, Vision aktifkan" Kata Yuri.


Yuri kemudian mendapatkan pandangan Vision dimana pandangan tersebut menunjukkan jejak langkah kaki Asterion dan jejak elemental miliknya.


Yuri menonaktifkan Vision tersebut. Melanjutkan tebasan demi tebasan, kini yang menghalangi Yuri tidak hanya monster, namun para bandit yang sepertinya memanfaatkan moment ini untuk menikam bahkan menjarah.


"Rock Smash!"


Yuri berhenti sesaat, merapalkan mantra dan memunculkan batu yang tiba-tiba muncul dari bawah para bandit tersebut, menghantam mereka dengan keras.


"Ini adalah peperangan Yuri. Kau harus bertahan" Batin Yuri.


Yuri kini melepaskan mantra Javelin dan melesatkan tombak sihir tersebut kearah para bandit tersebut. Tombak tersebut dengan cepat melesat dan menusuk para bandit lainnya.


Yuri melihat darah dimana-mana, namun Yuri tetap melanjutkan perjalanan nya, walau Yuri takut dengan darah, namun tekatnya lebih kuat dari rasa takut nya sekarang.


"Uwaaaagh!!!"


~Dugggg!! Cracckkk~


Setelah sampai di tujuan Yuri melihat Asterion kini terpental sangat keras dan tubuhnya menghantam dinding sampai dinding tersebut retak.


"...!!!"


Yuri kaget, melihat pemandangan disekitar nya. Pemandangan yang sadis, tubuh tidak bernyawa, tubuh terpisah. Semua ini, sangat brutal dan Yuri kembali memandang suatu makhluk yang besar, bisa dikatakan setengah raksasa.


Yuri kemudian membentuk sebuah simbol dijarinya, lalu jari tersebut bercahaya. Kumpulan sinar beam dengan keempat elemen tetra sebagai unsur dari serangan tersebut.


Sinar belam yang sangat brutal tersebut berhasil mengenai makhluk besar tersebut, serangan yang bertubi-tubi Yuri berikan ke makhluk tersebut akhirnya membuat pegangan makhluk tersebut terlepas dan meraung, mengamuk hebat. Yuri kemudian meredakan serangannya, karena serangan tipe tersebut adalah tipe Continue Magic.


"...!! Phalanx II ..!!"


Yuri kemudian merapalkan mantra pelindung ke Moca yang mau diinjak oleh makhluk tersebut. Makhluk besar tersebut terjatuh akibat kakinya terpental oleh mantra pelindung Yuri.


Tak lama kemudian makhluk tersebut langsung bangun setelah terjatuh, melihat kearah Yuri dengan tatapan keji.


"Kau berani menyabotase makananku?!!!!"


Ucap makhluk tersebut dengan suara menggeram. Yuri menatap makhluk tersebut dan diam-diam mendeteksi bio dari makhluk tersebut dengan teknologi nya.


Monster Biodata


Ras : Ghig (Evolusi Troll)


Stats : Jendral perang The Great Demon Amanda


Element : Earth/Soil


"Kalau begitu seperti nya aku harus memakai elemental angin eh" Gumam Yuri.


Aura monster ini, melebihi Ghidorah. Lihat saja hasilnya, hasil yang Yuri lihat. Orang yang ia kenal di pertandingan mati dengan berani melawan jenderal dari pihak monster.


Yuri kemudian melihat Wendy, seperti nya kehilangan kesadaran namun nasib yang sama menimpanya. Tulang kaki dan tangannya dua- duanya sama-sama patah.


"Kau tidak tau siapa yang kau lawan hah!! jangan menghindari pertanyaan ku!" Bentak monster tersebut.


Yuri tersadar akan lamunannya dan melihat monster besar tersebut semakin meluap amarahnya.


"Ahh maaf, aku tidak dengar. Suara aneh berbisik padaku" Kata Yuri.


Yuri beralasan sedikit dengan unsur kebohongan, seperti nya monster ini tidak terlalu pintar bahkan memakan kata-kata Yuri dengan mudahnya.


"Hahaha, nah kau tau itu. Itu artinya kematianmu sudah dekat"


Ucap monster tersebut, mendengus. Melihat Yuri dengan tatapan rendah, sangat rendah.


Monster tersebut mengambil Gada raksasa miliknya. Sekiranya yang benar-benar seukuran tubuh besarnya.

__ADS_1


"Kau pikir begitu?" Balas Yuri.


Monster tersebut sedikit berlari kearah Yuri, menghantamkan Gada besarnya kebawah dan tentu saja,efek pukulan tersebut membuat tanah didepan nya naik dan merambat kearah Yuri.


"Wind Acceleration"


Yuri melakukan enhance pada dirinya, lalu kemudian sosok Yuri hilang dari pandangan monster besar itu. Gerakan yang sangat cepat, Yuri kini udah berada diatas kepala monster tersebut.


"Gaia Impact!!"


Dengan kecepatan merapal yang cepat, Yuri mengubah lengannya menjadi tangan golem, walau cuma sesaat. Yuri berhasil memukul kepala monster tersebut dengan keras, monster yang memiliki ras Ghig tersebut terhuyung mundur.


"Sialan kau!!"


Ghig tersebut menggeram, menggerakkan tangan kirinya untuk meninju Yuri sedangkan tangan kanannya berhasil menjaga keseimbangan dengan Gada nya.


~Syuuutt > Srett > Crinngggg... Duarrr!!~


Yuri menghilang lagi, bergerak secepat angin menghindari pergerakan pelan dari Ghig. Yuri muncul dari bawah Ghig posisi belakang, merapalkan mantra sihirnya lalu melesat kearah punggung Ghig menghasilkan ledakan yang amat besar.


"Tch.. Manusia kurang ajar!!"


Ghig tersebut mengeluarkan aura yang sangat kuat, membuat Yuri kini tidak bisa menghindari nya. Yuri kemudian terpental ke sebuah batu raksasa, Yuri kemudian melihat tinju raksasa yang berasal dari tangan Ghig tersebut kearah Yuri.


"...!"


Yuri berhasil menghindari tonjokan keras dari Ghig tersebut, namun mendarat tidak sempurna hingga Yuri tergulung sangat jauh.


"Haha, lihat siapa yang sudah kehabisan energi..!!!" Kata Ghig tersebut.


Ghig tersebut berjalan ke arah Yuri dan berhasil menggenggam tubuh Yuri.


"Ughh..."


"Sekarang, kamu sudah terpojok. Ada kata terakhir?" Kata Ghig.


Kini Ghig dengan penuh semangat melihat kearah Yuri, Ghig tersebut mengangkat tangannya yang menggenggam Yuri, lalu melemparnya dengan sangat kuat kearah batu raksasa lainnya.


"Aries"


Setelah melakukan lemparan, Ghig tidak tau, Yuri merapal kan mantra untuk menghindari tubrukan keras pada dirinya. Lemparan yang sangat keras hingga menimbulkan kerusakan parah dan seketika disekelilingnya Yuri adalah serpihan batu dan asap dari batu tersebut.


"Turin bersiaplah" Kata Yuri.


"Eh bersiap untuk apa?" Tanya Turin.


Yuri tidak membalas pertanyaan Turin, Yuri meredakan Aries miliknya lalu melesat dengan cepat kearah Ghig tersebut. Yuri sengaja bergerak cepat kearah belakang untuk melepaskan cincinnya lalu kearah depan, menghadap kearah Ghig.


"Guide by the light, brave like a lion. Strong and brave spirit, Leo. Lend me your power ~ Divine Roar"


Sebuah energi sihir besar muncul di tangan Yuri yang sudah bersiap untuk meninju lawannya, Yuri kemudian melesatkan tinju nya kearah Ghig tersebut. Ghig tersebut menahan serangan Yuri dengan Gada yang kini bercahaya kuning yang berunsur elemen soil.


"Beast Protection"


Di gadanya kemudian bercahaya lebih terang dan membentuk sebuah tament kecil yang menutupi Gadanya.


"sekarang aku tau apa yang direncanakan Yuri"


Batin Turin.


Turin kemudian merubah wujudnya menjadi bentuk asalnya, dengan cepat pergi keatas. Turin mengeluarkan sihirnya ke tombaknya, tombaknya kemudian mengeluarkan aura api dan angin.


"Flawin Ascend"


Kaget akan kehadiran Turin yang tiba-tiba diatasnya, Ghig mendongak keatas dan sudah telat baginya karena ia tidak bisa menghindari serangan tersebut.


"Uwwaaaaghh!!!!""


Api dan angin menyatu di senjata Turin, melakukan serangan yang sangat besar, Ghig mencoba bertahan dengan kekebalan tubuhnya namun serangan Turin sangatlah besar diatas kemampuan kekebalan tubuh Ghig tersebut.


"Smashhh!!!" Seru Yuri.


Ghig tersebut kaget dan sangat lengah kali ini, melihat Yuri berganti posisi tangannya lalu melesatkan pukulan yang kali ini sangat besar.


Serangan yang lebih berenergi bahkan pertahanan di Gada Ghig pecah. Keduanya pun berhasil menembus pertahanan Ghig.


"ughhhhh...Ghuaaa!!!"


Turin meredakan sihirnya lalu dengan cepat pergi kebelakang Yuri. Yuri dengan kekuatan penuh melontarkan Ghig dengan tinjunya. Tinjunya yang sangat kuat tak kalah dari sihir Turin.


Ghig yang bertubuh besar itu pun terpental dan kemudian terjatuh kedalam jurang terdalam yang ada di Terra.


"Hufttt..Hufttt.. hahhh.. hahh"


Yuri menarik nafasnya dengan perlahan, kekuatan besar seperti ini baru dia lakukan. Yuri berfikir dia harus melatih diri supaya meningkatkan jumlah Mana didalam dirinya.


"Kita berhasil Yuri" Kata Turin.


Turin memegang pundak Yuri dan mereka berdua pun mendarat dengan sempurna lalu Turin sedikit menggandeng Yuri yang hampir tidak bisa berdiri.


Namun, peperangan belum berakhir. Didepan mereka terdapat seseorang. Bukan, sosok makhluk yang Yuri sangat kenal. Pria berjubah itu Yuri tahu.

__ADS_1


Dibalik tudung nya pria tersebut tersenyum sangat jahat.


...~To Be Continued~...


__ADS_2