
Keesokan paginya.
Daniel sudah kembali subuh tadi, pagi ini dia berlari seperti biasanya, berharap bisa bertemu dengan Fransiska karena ia ingin memberikan oleh-oleh.
Cukup lama ia menunggu di bangku taman sekitar rumah mereka, batang hidung Fransiska tak kunjung terlihat. Hatinya pun mulai bertanya-tanya, ada apa dengan Fransiska? Apakah pujaan hatinya itu sedang jatuh sakit?
Tidak puas dengan hati terus bertanya tanpa menerima jawaban pasti. Daniel beranjak dari duduknya, ia pun berlari kecil. Kini Daniel menghentikan langkahnya di depan gerbang rumah Fransiska. Seperti seorang maling, Daniel terus mengintip melalui besi-besi gerbang, hingga akhirnya pintu gerbang terbuka. Seorang pria paruh baya dengan pakaian seragam hitam menghampiri Daniel.
“Ada apa ya? Dari tadi saya melihat tuan terus melihat ke dalam gerbang,” tanya pria paruh baya berseragam rapih, Pak Satpam.
“Oh, begini Pak. Biasanya Fransiska lari pagi, tapi kenapa pagi ini tidak. Aku kuatir, apakah ia sedang sakit?” sahut Daniel balik bertanya, pandangan melirik ke pintu rumah Fransiska sedikit terbuka.
“Mulai sekarang nona Frasiska tidak di perbolehkan keluar oleh tuan besar. Semua aktivitas yang sering di kerjakan oleh nona Fransiska sudah di sediakan di dalam ruangan khusus,” sahut pria baruh baya itu.
“Terimakasih Pak. Aku pamit,” pamit Daniel tak ingin banyak bertanya.
Daniel berbalik, ia terus melangkah menyebrang ke rumahnya dengan sesekali pandangannya mengarah ke pintu gerbang perlahan mulai tertutup.
Sesampainya di dapur, ia duduk di kursi, minum segelas air mineral sembari menekan nomor kontak Fransiska.
Tut tut tut!
Panggilan suara telepon masuk. Namun, Fransiska tak kunjung mengangkatnya. Daniel pun bertambah cemas dengan pikiran buruk mulai menghantuinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi. Perasaan kemarin masih baik-baik saja. Apa hubungan kami ketahuan. Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang menimpa Siska,” gumam Daniel sambil memijat kepalanya terasa berdenyut karena terus berpikir tiada mendapatkan jawaban pasti.
__ADS_1
Lamunan dan pikiran buruk itu terhenti saat sebuah pesan singkat wa masuk. Daniel melirik ke nomor pengirim wa, melihat nama pengirim pesan wa itu adalah Fransiska, Daniel langsung membukanya.
Wajah Daniel seketika berubah saat membaca isi pesan wa dari Fransiska.
...‘Maaf, sepertinya kita tidak perlu bertemu atau saling sapa lagi. Lupakan semua apa yang pernah kita lakukan, anggap itu hanya sebuah mimpi indah’...
Merasa aneh dengan isi pesan wa Fransiska, Daniel kembali menghubungi Fransiska. Namun, nomornya telah di blokir sehingga tak bisa menelepon dan mengirim pesan wa kepada Fransiska. Hal itu sangat-sangat membuat Daniel tidak puas.
Tubuh Daniel spontan mengajaknya untuk pergi ke rumah Fransiska. Dengan langkah lebar ia kembali menyebrang ke rumah Fransiska, pintu pagar kembali di buka oleh pria paruh baya itu. Walau tidak di izinkan masuk, Daniel langsung menerobos masuk dan berteriak.
“SISKA, SISKA, SISKA!” teriak Daniel sampai di depan pintu rumah. Terlihat wanita paruh baya keluar dari dapur dengan tergopoh-gopoh menghampiri Daniel yang sudah berada di ruang tamu.
“Tu-tuan Daniel, ada apa? Kenapa tuan marah-marah?” tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah cemas.
“Dimana Fransiska?!”
“Bohong, pasti Siska ada di rumah!” cetus Daniel meninggikan nada suaranya sehingga suaranya menggema di ruang tamu.
“Ti-tidak, ba-bagaimana mungkin....” ucapan bibi berhenti saat mendengar suara wanita begitu lembut dari belakang bibi.
“Kenapa, tidak senang? aku yang berpesan kepada bibi, jika aku tidak ada di rumah,” sambung wanita itu tak lain adalah Fransiska.
Fransiska menghentikan langkahnya di hadapan Daniel, wajah cantik itu terlihat tenang, meski hatinya saat ini ingin menangis, berlari, dan mengeluh kepada seorang pria bertubuh kekar yang ada di hadapannya.
Daniel memegang kedua lengan Fransiska, nanar mata mereka saling bertemu.
__ADS_1
“Siska, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Apa kamu sudah tak ingin bertemu denganku lagi?” Daniel menyerbu Fransiska dengan banyak pertanyaan.
“Tidak ada yang terjadi. Aku hanya muak dan merasa jijik melihat wajah kamu. Kamu pikir kamu siapa? Hanya seorang pria yang baru merintis sudah berani mengajak berteman dengan ku, seorang istri dari konglomerat ternama,” Fransiska berbalik, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu melanjutkan ucapannya meski dadanya terasa sesak. “Cih, tidak tahu malu. Berani sekali kamu datang dan sok akrab denganku. Oh, apa kamu ingin berteman denganku karena ingin merencanakan sesuatu untuk bisnis mu agar bisa berkembang pesat?”
Mendengar ucapan Fransiska, bola mata Daniel membulat sempurna. Ia tak percaya jika Fransiska yang di kenalnya lembut dan sangat baik berubah drastis hanya dalam satu malam. Kenangan saat melihat wajah murung dan tangisan Fransiska malam itu masih terngiang di kepala dan pelupuk matanya.
‘Ini bukan kamu, wanita yang berkata kasar kepadaku pasti bukan kamu Fransiska. Apa yang membuat kamu bisa berkata sekasar ini. Aku masih tidak percaya hanya dalam sekejap semuanya berubah. Pasti ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan,’ batin Daniel.
Daniel mengepal kedua tangannya dengan erat sehingga urat-urat di tangannya terlihat jelas. Tidak ingin membalas ucapan kasar Fransiska, Daniel memilih untuk meninggalkan rumah Fransiska dan kembali ke rumahnya.
Setelah Daniel pergi dari rumahnya, kedua kaki Fransiska mendadak lemah, ia terjatuh dengan derai air mata sedari tadi ia tahan menetes begitu derasnya membasahi lantai. Bibi masih berdiri di sana segera mendekati Fransiska.
“Nona, nona baik-baik saja?” tanya bibi cemas.
“Sakit bi, rasanya sangat sakit di sini,” keluh Fransiska, tangannya memukul pelan dada kirinya terasa sesak hingga kesulitan bernafas.
“Lagian kenapa nona berkata sekasar itu. Ucapan nona tidak mencerminkan kepribadian nona. Apa salah tuan Daniel?”
“A-aku hanya tidak ingin melihat Daniel di sakiti oleh mas Andreas,” Fransiska segera menyeka air matanya, memegang kedua tangan bibidan berkata, “Bi, aku mohon jangan katakan kepada Mas Andreas jika tadi Daniel ke rumah. Tolong katakan kepada Pak satpam dan yang lainnya juga. Aku mohon bi.”
“Kenapa bisa seperti ini non. Tuan besar berubah drastis semenjak wanita tak tahu malu itu datang ke sini. Ha.ah, baiklah, bibi akan bilang kepada mamang dan lainnya agar tidak memberitahu tuan besar atau siapa pun,” sahut bibi.
“Terimakasih ya, bi. Sudahlah kita tak perlu membahas wanita dan anaknya itu.”
“Sama-sama. Kalau gitu nona jangan menangis lagi, sebaiknya nona olahraga saja. Bukannya pagi ini nona tidak melakukan lari pagi,” ucap bibi mencoba menenangkan Fransiska dengan mengalihkan ke rutinitas harian.
__ADS_1
“Bibi benar, lebih baik aku meluapkannya dengan berolahraga,” sahut Fransiska mencoba menenangkan hati dan pikirannya agar tidak terlalu sedih.
Fransiska pun berjalan menuju ruangan khusus olahraga sudah di buat oleh Andreas. Sementara bibi kembali bekerja dan melakukan tugas sesuai permintaan Fransiska.