RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
Bab 06. Menginap di Villa Daniel


__ADS_3

Setelah Fransiska tenang, Daniel hendak mengajaknya pulang ke rumah. Namun, Fransiska tidak ingin pulang. Hatinya masih sangat sakit, sampai-sampai ia ingin mengakhiri hidupnya sendiri.


Melihat Fransiska terlihat putus asa dengan wajah sangat pucat. Hari juga sudah semakin larut, Daniel memutuskan untuk mengajak Fransiska untuk tidur di villa miliknya berada di kota Perapat.


Suasana alam mungkin akan membuat Fransiska tenang dan damai. Itulah yang ada di pikiran Daniel saat mengajak Fransiska.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam sekaligus macet di jalan karena hari ini adalah hari weekend, akhirnya mobil mereka sampai juga di gerbang villa milik Daniel. Seorang pria tua membuka pintu gerbang, Daniel memasukkan mobil miliknya.


"Apa ini apartemen milik kamu?" tanya Fransiska setelah turun dari mobil.


Fransiska menatap lurus ke bentangan luas pesisir danau Toba. Lampu warna-warni perahu terlihat jelas di bentangan danau Toba terlihat cukup gelap malam itu. Villa tidak terlalu mewah milik Daniel berada tak jauh dari tepian danau.


Sungguh pemandangan cukup indah.


"Sudah cukup memandangnya, jika masih terus bertahan di sini kamu bisa masuk angin. Mari masuk," ajak Daniel menggenggam tangan Fransiska.


"Tapi aku masih betah di sini. Udara dan pemandangan malam begitu sangat tenang di sini," ucap Fransiska tenang.


"Baiklah, aku akan mengajak kamu berkeliling sebentar di sini."


"Benarkah?" tanya Fransiska semangat.


"Benar," angguk Daniel.


Daniel pun mengajak Fransiska berkeliling dengan berjalan kaki menelusuri kota Perapat cukup indah malam itu. Alam terlihat begitu bersahabat malam itu, seolah ingin menghibur Fransiska malam dengan keindahan yang di ciptakan di langit gelap.


Puas berjalan selama 2 jam lamanya, Fransiska memutuskan untuk pulang, ingin beristirahat karena matanya sangat mengantuk.


Kini Daniel dan Fransiska sudah berada di dalam kamar.


"Kamu tidur duluan," ucap Daniel sembari menyelimuti tubuh Fransiska.


"Kamu mau kemana?"


"Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu tidak takut tidur sendirian 'kan?" tanya Daniel.


"Tidak," sahut Fransiska menggeleng.


"Kalau gitu sebentar, ya!" pamit Daniel tanpa sadar memberi kecupan di kening Fransiska. Fransiska langsung menutup keningnya.

__ADS_1


"Ke-kenapa kamu mencium kening ku?"


"He he...maaf, aku kebiasaan deh. Terbawa kebiasaan dari budaya luar," maaf Daniel berbohong.


Sejujurnya ia ingin berbuat lebih kepada Fransiska. Melihat Fransiska tersakiti dan terpuruk seperti ini, membuat Daniel ingin menghabisi Andreas dan wanita itu, Anissa.


Daniel pun pergi, perlahan ia tutup pintu kamar. Tak lama ponsel milik Fransiska berada di meja lampu tidur berdering, terlihat nama panggilan "Husband 💕💕".


Sejenak Fransiska menoleh, merasa terganggu dengan panggilan telepon dari Andreas, Fransiska langsung mematikan ponsel miliknya.


"Maaf Mas, biarkan aku tenang untuk beberapa waktu. Ku harap setelah aku pulang, kamu sudah mendapatkan pilihan," gumam Fransiska, ia pun kembali tidur.


.


.


Di ruang kerja Daniel.


Daniel terlihat duduk di kursi besar dengan kedua kaki diletakkan di atas meja, tangan seperti menerima panggilan telepon.


📲 "Aku akan membunuhmu!" ancam Daniel kepada seseorang.


Setelah memberi ancaman kepada orang itu, Daniel langsung menutup panggilan teleponnya. Menyandarkan tubuhnya di kursi besar, lalu memijat lembut pelipisnya terasa tegang.


Tok tok!


"Sebentar," sahut Daniel, ia berdiri, membuka pintu.


"Apakah saya mengganggu Bos?" tanya penjaga villa.


"Tidak, kenapa Pak Xander?"


"Aku beli tuak terlalu banyak. Mau tidak Bapak temani ku minum? hitung-hitung menghangatkan badan," ajak Xander sembari menggaruk kepalanya tak gatal.


"Eh....bapak ini, mari. Kebetulan sekali aku sudah lama tidak mencicipi minuman itu," sahut Daniel sembari merangkul bahu Xander.


Xander dan Daniel berjalan menuju teras rumah. Mereka pun duduk, lalu meminum tuak berada di dalam ceret. Tak lupa Xander memetik tali gitar dan memainkan beberapa lagu hingga tuak berada di dalam ceret habis tanpa sisa.


Xander dan Daniel pun berpisah, Xander yang mabuk tertidur di kursi teras rumah dengan sarung menyelimuti seluruh tubuhnya. Daniel berjalan masuk dengan terhuyung, tak lupa sebuah nada terlontar dari bibirnya.

__ADS_1


Daniel membuka pintu kamar Fransiska, lalu menutup pintu dan berjalan mendekati ranjang.


"Siska, izinkan aku untuk menghibur mu. Aku tahu hatimu sekarang pasti sangat sakit. Lelaki tua itu memang tidak tahu diri dan bersyukur sudah memiliki istri sebaik kamu. Rasanya aku ingin merebut mu dan menjadikan mu milikku seutuhnya malam ini," gumam Daniel, ia pun masuk ke dalam selimut, memeluk Fransiska dari belakang.


Fransiska membuka matanya saat merasakan ada sentuhan hangat seseorang dari belakang. Perlahan ia melirik ke belakang, melihat wajah polos Daniel saat ini sedang tertidur dengan dagu menopang ke bahunya.


'Jangan buat ku menjadi nyaman dengan perlakuan yang kamu buat saat ini,' batin Fransiska, ia kembali memejamkan kedua matanya.


.


.


Di rumah mewah milik Andreas.


Andreas dan Anissa berada di ruang kerja. Wajah Andreas terlihat begitu memerah, emosi benar-benar berada di puncak kepalanya. Anissa sendiri hanya tertunduk dengan wajah terlihat tidak suka.


"Ini semua gara-gara kau! kenapa datang secara tiba-tiba ke rumahku, membawa anak haram itu! Apa kau ingin menghancurkan rumah tangga ku?!"


"Vika bukan anak haram. Vika itu adalah anak hasil cinta kita," sahut Anissa menepis ucapan kasar Andreas.


"Alaaaah! iya kalau dia itu hanya anak saya seorang. Kalau anak itu adalah dari hasil pria lain, gimana? Apa kau masih ingin terus menyangkal. Lihat....lihat atas perbuatan mu, Siska jadi pergi dan sampai sekarang saya tidak tahu dimana dirinya!"


"Sudah seharusnya istri kamu tahu. Sudah cukup 10 tahun kamu menyembunyikan kami. Aku ingin kamu menikahiku," pinta Anissa, ia berlutut di hadapan Andreas, "Aku mohon, jangan buat Vika besar tanpa seorang Papa di sampingnya," lanjut Anissa memohon dengan derai air mata.


"Saya tidak mau. Sampai kapan pun istri saya hanya FRANSISKA! bukan KAU! wanita rendah!"


Anissa terdiam, perlahan ia berdiri, menatap wajah Andreas.


Plaak!


Anissa menampar Andreas.


"Berani sekali kau menamparku!" teriak Andreas membalas tamparan Anissa.


Plaakk


"Aku tidak akan pernah membuat kamu bahagia sebelum kamu menikahi ku, Andreas!" ancam Anissa dengan setiap kalimat penuh penekanan.


"Dan saya tidak akan pernah mau menikahi mu!" tegas Andreas, ia pun beranjak pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Anissa menggeram, berteriak sekuat-kuatnya di dalam ruang kerja kedap suara milik Andreas.


"DASAR LELAKI EGOIS. Kau pikir kau akan bebas dengan mudah dari jeratan ku. Sampai kapan pun kau akan menjadi milikku, Andreas. Harta milikmu juga adalah harta milikku. Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil harta itu dariku. 10 tahun sudah cukup lama bagiku menunggu momen ini. Bersiaplah untuk kehancuran mu!"


__ADS_2