
Wanita memegang tangannya dan berdiri di hadapannya dengan pakaian bikini itu adalah Vika.
“Kamu kenapa terus menutup mata seperti itu?” tanya Vika bingung melihat ekspresi wajah Brady.
“Nggak beres. Kakak ternyata juga ikutan tidak beres!” ceteluk Brady, dengan mata tertutup dirinya membuka baju kaos oblong miliknya dan memasangkannya ke tubuh Vika.
Mendapat perlakuan spontan, Vika hanya bisa menjadi patung, menatap tubuh mungilnya tenggelam memakai baju kaos oblong besar milik Brady.
“Nah, kak Brady memang is the best!” puji Clay.
Vika masih diam menjadi orang bodoh, menatap dirinya dari atas sampai bawah. Kesal baju pantainya tertutup baju kaos oblong milik Brady. Vika hendak membuka baju kaos itu. Namun segera di tahan oleh Brady.
“Seorang wanita yang baik tidak boleh membuka terlalu banyak auratnya di depan lawan jenis puluhan ribu di sini,” ucap Brady sambil menahan tangan Vika.
“Halo! Saat ini kita tidak di tanah air. Saat ini kita lagi di negeri luar. Gaya pakaian ke pantai di sini memang seperti itu. Kamu lihat ke semua arah!” tunjuk Vika ke sepanjang tepian pantai, terlihat banyak wanita memakai bikini berjemur di sana.
“Aku tahu kak. Tapi, apa salah jika kakak berpakaian sopan tanpa menunjukan semua hal penting yang harus di jaga,” Brady melepaskan tangannya dari genggaman tangan Vika. “Kalau kakak masih ingin membuka baju kaos milikku dari tubuh kakak. Maka baiklah, aku tidak keberatan. Kakak bisa bersenang-senang di sini tanpa adanya aku,” lanjut Brady sedikit kecewa.
“Kakak mau pulang?” tanya Clay cemas.
Brady mengangguk dengan wajah kecewa.
Menyadari niat baik Brady. Vika meminta maaf atas ucapannya.
“Maafkan aku,” maaf Vika terlihat menyesal.
“Jadi, kakak tidak jadi pulang, kan?” tanya Clay pada Brady.
“Tentu saja tidak. Sudah sampai di sini, kita harus berenang menikmati air pantai di sini,” sahut Brady semangat.
“Baiklah, kalau gitu kita akan berenang!” teriak Vika sambil berlari menuju air laut.
“Tunggu, jangan lari seperti itu kak!” teriak Brady takut Vika tenggelam.
“Mari kita pergi berenang!” sorak Clay semangat, kedua kakinya berlari menuju pantai, lalu melompat ke dalam air.
Byur!
__ADS_1
Vika dan Clay sudah masuk ke dalam air pantai.
“BRADY, AYO MASUK!” teriak Vika melambaikan tangannya.
“Baiklah!” sahut Brady, kedua kakinya berlari kencang dan menyeburkan dirinya ke dalam air.
Seperti anak kecil, Clay yang tidak pernah ke pantai kini berenang bebas ke sana kemari. Pesona tampan terpancar dari raut wajahnya membuat banyak wanita mulai berenang mendekatinya. Namun, memiliki sikap dingin kepada orang lain kecuali saudaranya, membuat Clay terus menjauh dari wanita-wanita itu.
Lelah berenang Brady dan Vika memutuskan untuk duduk di pinggiran pantai, membiarkan deburan ombak menghempas ke tubuh mereka.
Mendapat kesempatan berdua, tanpa menunda lagi Brady mencoba untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vika.
“Kak,” panggil Brady, kepalanya menunduk.
“Iya, ada apa Brady?”
“Jika ada salah satu dari kami ada yang benar-benar menyukai kakak. Apakah kakak ingin menerimanya?” tanya Brady memberanikan diri menatap wajah terkejut Vika.
“Ah, kamu bisa aja. Aku sama kalian semua, kan cuman bercanda. Jadi mana mungkin kalian benar-benar menyukaiku. Kamu harus ingat, aku ini adalah wanita tua,” ucap Vika di kalimat terakhir berbisik di telinga Brady.
“Aku menyukaimu, kak!” ungkap Brady membuat Vika terdiam.
Sejenak dalam diam. Vika pun akhirnya membuka suara.
“Brady, kamu masih terlalu dini mengungkapkan perasaan pada wanita yang telah berumur sepertiku. Aku yakin perasaan yang kamu miliki saat ini hanya sebuah rasa kasihan kepadaku,” ucap Vika tidak ingin membuat dirinya sendiri kecewa, dan sebenarnya pria yang Vika sukai itu adalah Ezra, anak pertama Fransiska dan Daniel.
“Apakah saat ini aku sedang di tolak secara tidak langsung?” tanya Brady mengambil kesimpulan.
“Maaf ya, Brady,” maaf Vika memberikan senyuman tulus.
Clay sudah balik dari keliling dan saat ini pura-pura membawa burger dengan ukuran jumbo. Mendengar penolakan Vika, melihat raut wajah kakak keduanya terlihat sangat kecewa, Clay lansung melangkah cepat, dan memaksa duduk di tengah mereka.
“Mau burger,” ucap Clay dengan wajah datarnya mengulurkan burger ke Brady dan Vika. Membuat suasana suram perlahan hilang.
“Kebetulan sekali. Saat ini aku sangat lapar,” sambut Vika mengambil burger dari tangan Clay.
“Wanita tua sepertimu memang cocok untuk makan banyak agar tidak terkena penuan dini dengan cepat,” cetus Clay, wajahnya berubah dingin melihat wajah senang Vika.
__ADS_1
“Kamu ini ternyata sangat perhatian padaku,” puji Vika menyikut lengan Clay.
Brady hanya menatap burger jumbo di tangannya. Raut wajahnya yang dari tadi terlihat begitu ceria kini berubah menjadi murung.
“Makan, ayo di makan, kak!” paksa Clay memasukkan burger jumbo ke dalam mulut Brady.
“Hem, ternyata burger ini sangat enak,” puji Brady sambil meniteskan air matanya, mulutnya terus melahap burger jumbo sampai sesekali terdengar suara cikukan.
Benar-benar di luar dugaan. Kali ini Clay benar-benar kasihan melihat Brady harus menutupi rasa kekecawannya dengan melampiaskan dirinya menikmati makan burger pembeliannya.
‘Apakah sesakit itu di tolak seorang wanita?’ tanya Clay dalam hati, pandangannya masih terus mengarah pada wajah ceria Brady sedang menutupi kesedihannya.
Vika melirik Brady, dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya. Karena ulahnya Brady benar-benar menyukai dirinya.
“Kakak, minumlah,” ucap Clay menyodorkan minuman soda kepada Brady.
Brady mengambil minuman soda itu. Saat hendak meminumnya, Brady melihat Vika cikukan, ia pun memberikan minumannya pada Vika.
“Minumlah kak,” ucap Brady berusaha bersikap biasa saja di depan Clay.
“Kakak ku yang satu ini memang sangat baik!” puji Clay merangkul Brady.
“Lepaskan Clay. Genggaman tanganmu itu sangat kuat, membuat leherku tercekik!” protes Brady sambil memukul-mukul lengan Clay melingkar di lehernya.
Seolah tak ingin larut dalam suasana. Vika juga ikut merangkul Brady.
“Memang benar, adikku yang satu ini sangat baik. Aku harap suatu hari nanti dia akan bertemu dengan wanita yang baik!” doa Vika.
Sejenak Clay melirik dingin ke arah Vika, lalu kembali bersenda gurau pada Brady. Lain halnya dengan Brady, dirinya saat ini benar-benar yakin jika Vika tidak menyukai dirinya, dan harus segera mengubur dalam-dalam perasaannya.
‘Mungkin benar yang diucapkan oleh kak Vika. Aku menyukainya karena mungkin aku merasa kasihan dan tidak ingin melihatnya terus sendirian di sini. Meskipun seperti itu, tetap saja cintaku padanya cukup besar dan sosoknya mungkin tidak bisa aku gantikan,’ batin Brady, pandangannya mengarah pada Vika masih terus tertawa dengan canda-candaan random nya.
Lelah terus bermain di pantai hingga membuat kulit mereka bertiga memerah akibat terkena sinar matahari di pantai. Gerah karena tubuh terasa lengket terkena air pantai. Vika memutuskan untuk mengajak Brady dan Clay kembali pulang ke rumah.
.
.
__ADS_1
Bersambung